Ilustrasi: zoom.me

Hidup ini, kisah pacu goni jarak pendek antara persepsi dan imaji. Dua saudara kembar, bila segan menyebutnya saudara sepupu. Dua terma yang menolong dan menyelamatkan peradaban. 

Segala ihwal yang berada di luar diri, baru berupa onggokan obyek fisik atau nirfisik; manusia hanya mempersepsi ke atas obyek tadi. Berikutnya disebut realitas. Realitas belum jadi realitas, sebelum dia dipersepsi.

Para fenomenolog berkeyakinan bahwa pengetahuan yang terbentuk lewat persepsi berlangsung agak perlahan. Sementara pengetahuan yang dibentuk melalui imaji, berlangsung begitu lekas dan rimbun.

Bani fenomenolog agak berpihak pada imaji sebagai ikhtiar sintesis yang mempertaut gagasan konkrit, non-imajinatif dengan segala elemen secara demonstratif.

Tentang ingsutan angka dan tahun kalender; dua saudara kembar [persepsi dan imaji] mulai bekerja lekas.

Manusia mengoperasi kedua enjin ini untuk menanggapi peristiwa “tergelincir” dan “menggelincir”. Pergantian almanak dalam rezim edar matahari [solarium, shamsiah] terjadi tadi malam ketika jatuh pada angka jam berdetak 00.00.

Pembelahan waktu [penyeberangan tahun] terjadi pada tengah malam. Bukan pada siang hari kala matahari sedang bersinar. Tak ada drama kosmis yang terjadi [tiada aparat langit/benda alam yang menggelincir pada pukul 00.00].

Hanya sorak dan siutan trompet menyalak dan kembang api warna-warni. Di sini, sesuatu yang “tergelincir” itu ditafsir dalam persepsi alegoris.

Peristiwa siang [matahari] mengalami ingsutan dalam nukilan malam. Secara semantik dia sedang menjalani perintah pendakian semantika [semantic ascent].

Kita berbahasa sehari-hari lewat bahasa yang digunakan [use]; sesekali lewat penekanan dengan tanda kutip; ketika diberi tanda kutip dia tengah memanggul tugas ‘meta bahasa’.

Kata atau frasa yang dikepung oleh tanda petik, sedang menjalani tugas “mention” [disebut], bukan digunakan [not use].

Matahari yang terbit hari ini, sebagai matahari perdana [Ahad] yang jatuh pada hari Ahad dalam sistem kalender Gregorian.

Sebuah rute mempertegas Kalender Masehi [Anno Domini/ “Tahun Tuhan”] ialah hasil dari frasa yang disebut [mention], bukan jenis kata atau frasa yang digunakan [use].

Artinya, angka 1 pada kalender bulan Januari hari ini hingga angka 31 pada Desember kelak adalah angka sebutan/mention [bukan angka yang digunakan/use].

Dia hasil dari perjalanan persepsi yang dibubuhi tanda petik [tanda kutip; “…”, alias quotation mark]. Tanda ini digunakan sebagai upaya kita berbahasa dalam jalan “mengutip” perkataan, kalimat atau frasa yang disebutkan oleh orang lain, orang kedua, atau ketiga, malah Firman Ilahi [Wahyu]. Alias kalimat tidak langsung. Atau ingin memberi tekanan dengan makna yang ambigu.

Secara semantik dia tengah memikul tugas pendakian ke semacam bentuk meta bahasa. Bukan bahasa yang berlaku di bumi. Tapi bahasa yang bermarkas di tenda langit atau pun dalam tampilan forma-idea platonis.

Sebaliknya sistem kalender lunar atau peredaran bulan [qamariah] juga disapa sebagai kalender Hijriyah [Hageriya], merujuk pada drama kosmis sebagai penanda pergantian tahun [lama ke baru].

Drama kosmis itu adalah ‘pergelinciran’ siang ke malam. Maka ‘pergelinciran’ kosmik bagi penanggalan tahun Hijriyah itu terjadi pada senja kala [maghrib].

Di sini, kata atau frasa maghrib masuk dalam jenis kata atau frasa yang digunakan [use], bukan jenis mention [disebut]. Maghrib sebagai kata, tidak ditemboki tanda petik.

Dia digunakan [use]; sejalan dengan perbuatan visi langit-demonstratif; berdoa atau menegakkan shalat. Sekali lagi, kata ini digunakan [use].

Maghrib bukanlah makna analogis, tapi lebih sarat ke makna ‘anagogis’ [makna batini] dalam cengkeraman imaji-spiritual.

Tanpa sorak sorai dan kembang api yang mesti menjalani tugas pendakian untuk mendampingi kembaran perkataan dalam status ‘mention’ itu [pergantian tahun di tengah malam].

Tahun baru Cina juga merujuk pada peredaran bulan. Bercermin pada drama kosmis; jatuh pada musim bunga [Chunjie]. Setara tahun Hijriyah.

Salinan perayaan duniawi dengan visi spiritualitas. Secara eksistensial, Imlek adalah ikhtisar dari ‘tariqat’ [jalan] mengenai tabiat dan perilaku alam makro.

Tentang bunga, angin, hujan, badai, laut nan tenang dan segala perkakas langit yang tersambung dengan pencarian sehari-hari manusia. Dari fenomena ini, dentuman peradaban tani dengan visi duniawi yang disangkutkan ke langit spiritualitas Timur, lahir.

Kehadiran musim, merujuk pada kurikula klima. Hanya muncul satu kali. Tak boleh datang dan muncul dalam daras bersamaan.

Dalam kaidah berbahasa [tulisan] yang tinggi dan purna dikenal terma ‘pangram’. Kaidah ini menuntut keketatan dalam pemakaian kata, bunyi hanya boleh ditampilkan satu kali saja.

Bunyi, ayat dan perkataan yang sama tak boleh muncul pada bangunan kalimat dalam satu paragraf. Tidak boleh ada pengulangan bunyi dan kata pada satu paragraf [alinea].

Di sini dituntut kemampuan menguasai diksi [pilihan kata/bank kata] yang siap ditembakkan dari arsenal kata-kata untuk digunakan dalam suasana nir-repetisi. Hegel: “We learn from history that we do not learn from history” [kita belajar dari sejarah yang tak kita pelajari dari sejarah]

Tahun-tahun yang telah kita jalani hanya sebatas perbuatan “mention” yang dikepung oleh ‘tanda kutip’.

Kita hanya menyebut azam, janji, taubat, sumpah, visi, tindakan bajik dalam pesona “keakanan” [future ethic], yang disangkutkan pada gayutan selera dan frasa kekanak-kanakan, tanpa visi spiritualitas. Ekspresi keriangan festival ‘mention’ [sebatas menyebut], bukan ‘ratapan use’ [kesadaran].

Yusmaryusuf.com dalam semangat “use” mengucapkan Selamat tahun baru 2023.