Foto Ilustrasi: shutterstock

Kenangan dan kelupaan ialah alat paling canggih sekaligus syarat mutlak untuk menstruktur terbentuknya pengetahuan. 

Untuk mengingat dan mengenang, kelupaan ialah syarat wajib yang harus hadir dan dirawat. Tahun berlalu dan berganti. Kenangan bergumpal dan bergulung dalam warna sevia, serba muram dan redup. Kenangan yang buram, masygul, memberi ruang kepada kita untuk mendatanginya dalam gaya kreatif.

Nah, melalui kelupaan, kenangan dibaca ulang dalam degub yang berbeda sekaligus menyenangkan [walau harus menjalani ‘siksaan baru’ dalam upaya merangkai]; dan sejarah pun terbentuk.

Pembacaan akan masa lalu [dan memasukinya] yang serba sayup dan jauh, kabur dan abu￾abu, mendorong seseorang untuk memanfaat kelupaan sebagai anugerah.

Membangun vibran baru, getaran yang tak sama ketika kejadian sebenarnya [cinta pertama]. Dia [kenangan] tak hadir dalam warna dan struktur yang utuh.

Jika dia tampil utuh, manusia akan berhenti mengelola kenangan. Peradaban akan terhenti. Dari sini sejarah diberi makna ulang.

Tersebab kelupaan dan kesalahan pula, tradisi dibangun. Bukan hanya disebabkan oleh kenangan dan kebenaran. Tradisi tak lebih dari juluran serambi salah dan lupa.

Maka, kenangan menjadi syarat wajib. Walau tampil dalam keburaman. Kelupaan bukanlah entitas defektif [cacat]. Dia sebuah inayah yang diperlukan manusia.

Lewat lupa dan melupa, manusia melakukan rekonstruksi demi memasuki istana kenangan dan menjarakkannya dengan sejumlah beban.

Bayangkan, sebuah kenangan yang hadir dan tampil utuh bak memori sebuah komputer yang kita panggil ulang [andaiannya, banjir era nabi Nuh].

Ketika kenangan [era Nuh] datang dalam senyap dan utuh, kita hari ini tak diberi ruang untuk melakukan pembacaan ulang secara kreatif dan membingkaikannya dalam sentakan imaji yang bergunung dan melembah ke atas bencana yang dialamatkan sebagai kiamat mikro itu.

Segala karya sastra menepi, bahkan orang tak menulis novel lagi, tak menggores puisi dan tak menyusun partitur indah. Imajinasi telah menemukan ‘rumah rehat” dan menghentikan operasinya.

Imajinasi yang beroperasi antara tembok masa lalu dan menabrak [sekaligus melampaui] tembok masa depan seakan menemukan resort rehat terindah.

Imajinasi berhenti, ilmu pengetahuan jua terhenti. Sains yang digiring secara rigid oleh kesadaran logis-matematis, secara tak sadar, dia dibingkai oleh nyanyian imajinasi mengenai kenangan yang mengendap dan terstruktur di masa lalu dan didemonstrasikan ke masa depan. Alias, secara tak sadar, ilmu pengetahuan selama ini berhutang budi pada imajinasi.

Teori holografi terhasil lewat imajinasi Dennis Gabor ketika menonton tenis. Dan dia pun menerima hadiah Nobel karena teori ini.

Tragedi ilmu pengetahuan, ujar Aldous Huxley, ialah membunuh hipotesis nan indah dengan data yang ledah. Data yang ledah, jorok dan dekil itu disebabkan oleh ketiadaan lupa.

Tersebab lupalah seseorang didorong dan terdorong untuk mengumpul kembali remah[1]remah data yang binar dan benar. Kelupaan menjadi jati dan kesejatian untuk menemu ulang, me-‘reka’ ulang dan menjahit ulang segala apa yang tertinggal dalam kenangan.

Jacques Lacan seorang psikoanalis dari Prancis berkeyakinan bahwa segala hasrat individu adalah hasil dari pola rekognisi [pengakuan dan pengenalan] yang salah yang terstruktur melalui bahasa [alam ketidaksadaran]; alias rekognisi lewat misrekognisi.

Fase mirror [bercermin] pada orang lain. Orang lain adalah cermin untuk identifikasi diri pribadi. Hasrat, keinginan dan cita-cita; ingin menjadi itu dan menjadi ini, beli mobil baru, sebenarnya adalah hasrat orang lain yang ditumpangkan kepada kita. Sehingga kita menjadi kemaruk untuk menggantikan status di media sosial [baik yang tetap maupun yang bertahan satu hari/ stories IG].

Kita membangun kenangan lewat status yang narsis dan bakal melupa pada sebuah ketika. Di sini, kelupaan adalah sosok pangeran yang ‘adil’.

Kesenangan dan kenangan sengaja dibangun pada suatu kala, dan dia bakal dihapus [delete] oleh cara kerja kelupaan abadi yang setia merayap dan bahkan berlari demi menggerakkan kehidupan, kebudayaan dan peradaban.

Kelupaan adalah syarat wajib bagi berlangsungnya peradaban yang besar sekalipun. Dia siap ‘mencegat’ dan menggertak segala kenangan yang pahit, indah, gelap, hitam, kelam, cerlang, binar, sejumlah kepintaran dan ketololan masa lalu.

Lupa dan kelupaan juga sebuah jalan untuk menghasilkan stylica kehidupan demi menyongsong masa depan yang menyentak. Lewat kelupaan, orang tak disuruh berbondong-bondong kembali ke masa lalu. Sebuah masa yang tak memberi ruang secuil pun bagi kita yang kembali itu untuk mengubah keadaannya.

Tahun berganti, kenangan terkubur dan tampil dalam palet warna serba redup dan kabus. Di dalam remang dan redup itulah kreativitas beranak-pinak bak kecebong [anak budu] sebelum dia membesar menjadi katak yang meloncat dan melompat.

Ruang-ruang lompatan dan loncatan itulah ‘ruang kelupaan’, di situ kita disuruh dan dibujuk untuk menghitung jarak lompatan sebagai alpa dan kealpaan.

Bahwa lupa, alpa adalah jalan jeda, tempat untuk tapa brata, tafakur, merenung, menarik dan meniup [ekspirasi], mengistanakan imaji [jinak bahkan liar sekalipun].

Lupa dan kelupaan adalah lompatan peradaban yang mesti diukur ulang, ditakar ulang dalam kesemestaan tindak dan laku[1]perbuatan, demi mengurut kenangan merayap yang tak datang dalam keutuhan sempurna.

Lupa bukan menolak sempurna, tapi mendorong reka ulang sejumlah imaji-kreatif demi kelahiran-kelahiran baru yang tak berulang secara siklik majal.

Lewat kelupaan, terjelma sensasi-sensasi baru dalam menukil kenangan serba buram dan murung. Kebenaran, keindahan selalu berselaput murung dan keburaman.

Demikian pula iman adalah safari mengenai lupa dan melupa. Sehingga lupa menjadi stylica terindah dalam kancah iman dan keimanan.

Tuhan mengambil posisi Sang Maha Pengujar [al Mutakallim] demi meraut lupa manusia menjadi alat untuk menukil kenangan… Selamat Tahun Baru