Seloka ‘Ruang Kurang Ajar’

Prof. DR. Yusmar Yusuf, M.Psi (F: dok. pribadi)

Carl Sagan, sebuah nama yang menggetar bibir kala mendaras nama ini. Dia seorang astronom ulung abad ke-20 yang dibesarkan sebagai anak mama.

Hari-hari masa kecilnya dihabiskan untuk mengeja langit dengan segala pernak-perniknya. Sang ibu adalah perempuan penyayang, sosok motivator prigel bagi terbentuknya onggokan pribadi Sagan yang memberontak tentang kehadiran bintang-bintang, makhluk langit tak terperi, tak bertepi. Dia dibesarkan dalam tradisi “gegar” yang agung di sebuah kota yang berstatus sebagai kota “kurang ajar” bernama New York.

Kota kurang ajar? Ya, begitulah Sagan yang menjadi sosok yang amat disegan ketika dia berada di puncak karier sebagai astronom agung dunia. Sampai akhir hayatnya. Sekali lagi  Sagan hadir berkat sulingan, stilasi sebuah kota yang  berstatus sebagai “kota kurang ajar”.

Kota kurang ajar? Ya. Kita pun meneruskannya menjadi bilahan-bilahan kecil bernama “ruang-ruang kurang ajar”.

Di kota-kota, di kampung dan desa-desa, selalu terbangun “ruang kurang ajar” yang mendorong manusianya berlaku dalam ‘kaidah jalan’ yang tak sama dengan jalan yang ditempuh oleh publik awam alias orang kebanyakan.

Sebuah ruang yang tak sok suci, namun melayani imajinasi, merawat sensasi, memajeliskan imajinasi ketuhanan dalam sisi yang lain, meladeni sisi spiritualitas tak bertepi, yang tak dialas oleh rasa takut, termasuk tidak dilakoni dalam gaya serba narcosis.

Ruang-ruang ini selalu dekat dengan alam; sungai, danau, rimba, hutan, kaki-lereng gunung, lembah, puncak gunung, segara samudera, pulau-pulau terpencil, yang dalam kaidah tasawuf dikenal sebagai “tanah-tanah liar”.

Namun, ‘ruang kurang ajar’ ini, juga tak sedikit pula tumbuh sebagai hasil buatan manusia; bisa bernama taman-taman kota, taman-taman tema, kebun, ladang, huma atau pun dusun. Termasuk jalanan perkotaan yang geometris dan serba zigzag, garis parit dan sungai dalam kota.

Kenapa gamang dengan kehadiran “ruang kurang ajar” itu? Kalau dia mampu menjadi pelayan imajinasi yang “melambung” bagi warganya? Kenapa alergi dengan sejumlah ruang-ruang kumuh, ruang tertata, ruang dengan dimensi yang tak disadai dan disauk dalam gaya-gaya maksa serba religius?

Padahal religiusitas juga parameternya amat banal dan lembab. Tersebab religiusitas adalah kenyataan terdekat sekaligus misteri tersayup (terjauh). Di sini kita hendak menghadirkan kisah seputar ihwal waris dan mewaris.

Kisah warisan (legacy, inheritance atau pun treasury) adalah sekumpulan kisah yang berawal dari imajinasi dan sensasi manusia yang menjalankan kehidupan ini dalam alur yang bergelombang.

Dengan tidak terpaksa saya nukil dari Sagan: “Imagination will often carry us to worlds that never were. But without it we go nowhere”. Imaji tentang warisan membuat kita akan ke mana-mana, mungkin saja ke arah dunia yang tiada (maya).

Di satu sisi, maya dan ke-maya-an adalah sebuah realitas yang belum aktual (in potensia). Ketika, satu generasi atau dua generasi diwajibkan memikul tradisi atau warisan nenek moyangnya tiada jengah dan tiada henti, maka generasi itu akan mengalami fase bantut (fire become ice).

Dia tak memiliki waktu dan ruang untuk menciptakan warisan bagi anak cucu mereka selanjutnya, dia hanya sebatas penikmat warisan.

Ketika saya pribadi, tersebab oleh kelasakan  imajinal ayah saya ketika dia muda; pada masa  itulah sang ayah mengumpul sejumlah warisan untuk diwariskan kepada anak-anaknya, berupa lahan, tanah, kebun dan seterus.

Setelah ayah wafat, beliau meninggalkan warisan itu kepada anak-anaknya, termasuk saya. Lalu, apakah saya harus menghentikan segala imajinasi pribadi, menghenti langkah dan usaha sendiri untuk mengumpul ‘kekayaan’ atau khazanah baru sebagai hasil jerih payah sendiri untuk diwariskan kepada anak cucu saya sendiri, tanpa membanggakan warisan dari ayah saya sebelumnya?

Tentu, saya akan memilih dan melayani imajinasi saya demi tautan batin antara saya dengan anak turunan saya berikutnya.

Saya harus mengumpul khazanah untuk diwariskan. Dan itu menjadi penanda bahwa saya pernah hidup dan berkarya di muka bumi ini.

Khazanah itu bukan semata dalam bentuk benda-benda laksana kebun, bisa pula dalam bentuk karya; tulisan, lukisan, hasil kriya, kraf tangan, dan segala jenis karya imaji lainnya (termasuk jenis karya orality, di luar pantun yang katanya telah menjadi warisan dunia itu).

Di sinilah perlunya kita akan kehadiran “ruang-ruang kurang ajar” itu. Kalau kita hanya menerima warisan dan diwajibkan menjalankan adat istiadat yang telah dibangun oleh pendahulu kita, lalu kita bisa berbuat apa? Toh hanya sebatas sebagai pemelihara. Bahasa kerennya ya, kurator. Sejatinya, adalah sekumpulan orang-orang kalah. Kalah menjalani kekinian, gamang berdepan dengan masa depan, sehingga disuguhkan lah segala ihwal yang bernuansa masa lalu yang gagah ranggi  menurut ukuran seorang pemalas.

Kita menekuni peran-peran selaku orang-orang kalah, tapi berbalut marwah, harkat, martabat. Semua kedunguan itu kita balut dengan busana marwah, baju martabat.

Padahal kita sendirilah yang tak menjalani kehidupan ini dengan penuh martabat kekinian dan martabat yang mengarah ke masa depan.

Maka, jangan heran sekumpulan tim sukses yang berbusana agama, hari ini mendesak-desak penguasa ingin mengecat ruang-ruang ‘kurang ajar’ itu dengan ragam hias serba religius, serba islami. Sampai-sampai terjadi pembuncahan keinginan untuk mengganti pusat budaya dan seni ditimpa dengan sejumlah penanda serba religi dan islami.

Padahal, pada sebuah ruang kota yang gemeretap, kota itu sendiri harus memiliki bangunan simbolik; era Sasaniyah dan Mesir kuno bangunan itu bernama Kuil Agung yang menjadi orientasi ruang utama; Kuil Agung era Sasanid dan Mesir Kuno itu dikelilingi oleh bangunan-bangunan pendukung yang berlapis-lapis dalam model lingkaran (ring) sampai mengarah ke sub urban.

Pekanbaru yang dirancang dalam kesadaran religi sejak awal berdirinya, bangunan simbolik itu adalah masjid Sultan yang tak jauh dari batang air Sungai Siak, lalu bergeser ke arah pusat simbolik era 60-an dengan kehadiran Masjid Agung An-Nur.

Inilah bangunan simbolik kota ini. Kalau kita ke Paris, maka bangunan simbolik kota itu adalah Eiffel Tower yang tak dipertengkarkan lagi bagi manusia satu planet ini.

Dalam ihwal waris dan mewaris, kita tetap juga harus menghormati “ketersambungan” dan “keterhubungan” historis, walau tidak dimaksudkan untuk membuat kita sebagai generasi yang bantut.

Sebuah kota, sebagai alam buatan, adalah sebuah ‘rumah tema’ yang melayani imajinasi orang-orang ramai dan beragam, bukan memaksa imajinasi satu kaum yang ‘merasa-rasa paling’… dan serba paling; satu kaum yang mendaku-daku. Karena warisan itu sendiri merindukan segala bentuk derivasi, tidak dalam bentuk serba tunggal.

Ingat, kerinduan untuk melahirkan warisan-warisan besar itu di dalam sains dikenal dengan istilah “entropi”; dalam teknologi disebut “disrupsi”, dalam ilmu sosial dikenal sebagai revolusi dan di dalam sejarah disebut dengan ‘patahan’ (fractal).

Yang mencipta warisan adalah mereka yang bersetia melayani imajinasi yang menghasilkan entropi di  labor-labor (makmal) sunyi; mereka yang mendedah  sistem dan struktur sosial menjadi revolusi; mereka yang mengumpul sejumlah ‘penyentak’ (disruption) dalam teknologi, dan mereka yang menyelesaikan bentuk-bentukan patahan (fractal) dalam sejarah.

Einstein, Newton, Nikola Tesla, Khawarazmi,   adalah sejumlah individu yang mewakafkan diri  bagi sejumlah entropi.

Selanjutnya; Max Weber, Ibn Khaldun, Durkheim, sampai Marx, Ghandi dan Ali Shariati, Nelson Mandela adalah nama-nama yang mencemplungkan diri di dalam kancah revolusi.

Selanjutnya berderet nama Steve Jobs, Mark Zukenberg, Jack Ma dan lain-lain menyiasati warisan dunia dalam model disruption; lalu yang menggelinding dengan patahan-patahan sejarah (fractal); ada Ibn Arabi, Foucault, Derrida, Gadamer, Ibn Rushd, As-Syahrastani, Annemarie  Schimmel.

Ruang-ruang “kurang ajar” itu adalah tautan lain  dari ruang serba teratur dan suci demi penyelenggaraan serangkaian riyadhah untuk ketersambungan hidup dalam majelis “penyelesaian-penyelesaian naratif” yang dirindukan setiap generasi yang disebut sebagai  warisan dan mewariskan.

Tak sekadar menerima warisan dari para pendahulu. Nama-nama yang disebutkan di atas tadi adalah sejumlah orang yang telah mewakafkan hidupnya demi warisan dan mewariskan. Lalu, kita?…