Kejahatan Apa Lagi?

Foto Ilustrasi: pixabay.com

Sepintas, Tuhan hadir dengan kesemena-menaan. Di atas tumpukan kejahatan yang dibiarbiar itulah masyarakat berdiri: menafsir kesemena-menaan bak kebajikan filantropik. 

Alkisah seorang dokter “pada awalnya atheis”, tersentak kala memasuki ruang operasi: Duduk merebah seorang perempuan tua manis di atas meja operasi (tidak pasrah).

Sang dokter terhenyak dan memberontak atas ketidak-adilan Tuhan yang telah mengutuk makhluk yang amat sempurna dalam rundung malang, derita dan maut.

Freud datang dengan penjelasan alter ego relasi anak lelaki dan sang bunda; Oedipus Complex. Reaksi pertama seorang lelaki dalam gelungan oedipus complex adalah penolakan figur ayah. Karena diasosiasikan sebagai kehendak Tuhan yang semena-mena.

Ini level individual (mestinya ‘dividu’ alias bisa dipecah/dibelah). Level kolektif? Dengan senang hati Freud menyebut bahwa “masyarakat didirikan di atas kejahatan umum”.

Rerangkai kejahatan itu secara sadar (by design) dan masa bodoh (by ignorance) berlangsung dalam masyarakat perkasa, lalu menghasil sejumlah wira: para pendaku, paderi atau malah petarung muka tembok.

Mereka yang berakal mulia dalam sinar “kemalaikatan” terdiam dan memaku senyap. Terserang fase kantuk tanpa kenal lelap tidur.

Pada fase inilah terjadi penelikungan sejarah yang ditafsir sepihak oleh para pendaku dalam ilusi kesemenamenaan Tuhan.

Tuhan diajak berkompromi dalam peran-peran picisan. Sekaligus mendorong Tuhan itu tidak lagi akbar (maha besar) dan a’la (maha tinggi).

Kita sebatas memiliki pengetahuan tentang budaya. Tetapi tak memiliki ‘budaya yang hidup’. Kala bernafsu memanjangkan usia pengetahuan budaya, secara serempak kita melenyap dan membunuh makhluk-makhluk dalam sistem ko-habitasi (tumbuhan, lalu diubah menjadi tanaman).

Di sini segala “tumbuhan” (nature) berubah wujud jadi tanaman (nurture); homogenia sawit dalam model  monokultur. Hal ini tak semata merambat “tanah besar” ukuran terra (benua Sumatra), tapi menikam perut-perut pulau aluvial. Termasuk Rupat dan Bengkalis (dalam posisi pulau terluar).

Sepanjang gelinjang “kejahatan” masa bodoh (by ignorance) itu kita didesak dan digoda untuk memanjakan kaidah lokal, kearifan tempatan, melahirkan rerangkai folklore yang katanya masuk dalam rezim ‘local genius’ berperan anti-toxic kebudayaan.

Semua itu demi menjaga dan merawat sistem ko-habitasi. Pun disadarkan bahwa manusia selaku pendamping “tugas penciptaan” atas makhluk ko-habitasi: sampai dia layak dipanen untuk kepentingan sang khalifah (bernama manusia).

Konstruksi pemikiran ini (terkesan) hasil rekayasa sepihak, karena bawaan serba gede rasa (Ge Er) itu. Seakan-akan segala makhluk diposisikan bak hamba sahaya, pelayan manusia.

Relasi kuasa mendorong kesemenamenaan tindakan. Di sini, ledakan pengetahuan tidak melayani kehidupan.

Di awal perjanjian primordial, terjadi diskriminasi Tuhan mengenai sandangan abadi The Second Sex (perempuan). Kenapa Adam yang diciptakan lebih dahulu, baru kemudian Hawa (Eva)?

Adam mewakili transendensi dan Hawa menggelung  imanenitas. Dari sini, fenomena ‘tabrak’ dulu, ‘dirawat’ kemudian, bermula. Tuhan hadir dengan narasi diskriminasi perdana.

Sekilas, boleh dialamatkan sebagai upaya menghadirkan ‘ketergesaan’ dengan si ‘lemah’: sebuah juxtaposisi.

Petiklah arkian era Aechylus. Serombongan asing (Danaides) memohon masuk ke tanah Yunani dan boleh disambut di depan altar kuil Zeus. Mereka wajib melapakkan karangan bunga dan mendengar nasihat (dalam gaya khutbah) dari ayah mereka untuk menahan diri.

Begini kira-kira bunyi khutbah itu: “Jangan ada keberanian/ Berasal dari pandangan mata yang penuh hormat dan rendah diri/ Tidak bicara, atau bicaralah perlahan-lahan: /Keduanya akan menyinggung perasaan mereka. Ingat…Ingat! Senantiasa mengalah dan mengalah!: /Kau adalah orang buangan, orang asing yang terserang dahaga/ Dan ketergesa-gesaan tidak akan pernah sesuai dengan si lemah”.

Manusia, makhluk yang rajin dan gatal untuk meng-“ko-tempo” (menyegarkan) dalam kadar kekinian, disesaki tumpukan gunung prediksi ke masa depan.

Inilah era ‘silau’ cahaya neon (solarium) yang mengaburkan batas antara ‘jahat’ dan ‘bajik’ yang tidak perlu dipertengkarkan secara moral.

Sebuah sistem masyarakat purna obyektif, final dan mutlak, sama sekali tak mungkin hadir. Kehidupan bukan paradigma tunggal.

Bagi Berger, masyarakat selaku kenyataan obyektif amat dipengaruhi oleh lingkungannya. Sebagai kenyataan subyektif, manusia merupakan organisme khas di dalam lingkungannya.

Ketika bertindak sebagai organisme khas, manusia menjebakkan diri dalam zona ‘pilihan bebas’ dengan hajat ‘mempermalu’ Tuhan yang ‘semena-mena’.

Anda, kita, saya, kamu dan mereka boleh merangkai andaian spekulatif ke-Tuhanan walau dalam gaya semena-mena sekalipun. Namun, energi ke-Tuhanan itu hadir, merayap ruang semesta, dalam pembelokan-pembelokan tak terduga.

Dia seolah jadi sudut optik teropong selubang jarung mengenai lelaku kecerobohan, perbuatan, tindakan semena-mena yang berulang-ulang sebagai tafsir  kesemenaan Tuhan. Entah lah…

Saya percaya, kita percaya. Inilah bunyi sentakan credo. Kata ini penuh teki-teki sejarah dalam leksikon Eropa: *kred-oh.

Bunyi ini sudah ada dalam Weda (srad-dhati; “dia percaya”). Percaya itu ditampung di organ “hati”, bukan paru-paru atau ginjal, ujar Benveniste.

Monokultur perkebunan besar oleh organisme khas (manusia), kejahatan birokrasi, tata-kelola majanemen menyimpang dan tumpukan kejahatan bukanlah tafsir dari kesemenaan Tuhan di awal penciptaan kosmis dan perjanjian primordial.

Kita membelokkan “credo” dalam ijma gratifikasi. Di sini berlaku bidal: “Agama bukan doktrin di kepala, tapi cahaya di hati”.