Kompor Induksi; Ilusi Niscaya?

Foto Ilustrasi (cdn.com)

 

Selalu ada filsafat di tengah kemarau keberanian (there is always a philosphy for lack of courage), ujar Albert Camus. Dan, para durjana pun bersalin wajah bak darmawan sejak pagi-pagi buta. 

Ya, sang budiman di tengah gersang kalimat yang cenderung jadi abu. Gaya Santa Claus pun menari-nari di depan rumah si papa: Para oketai yang bertaruh nyawa di antara ada dan ketiadaan.

Negara tampil berjaya dalam deret ukur “sesuatu” (die Dingen). Tapi, gagal kala dinukil dalam lipatan ihwal. Tataran “sesuatu”, baru sebatas duga-dugaan permukaan bernada kamuflase.

Tapi, ketika masuk ke tataran ihwal (der Sachen), dia telah melampaui kelopak renjana, melompati hati yang pecah, kemiskinan berjenang.

Negara, lewat tangan Perusahaan Listrik Negara (PLN) bermurah hati melakukan ingsutan peristiwa dapur kalangan emak-emak. Peralihan dari kompor gas 3 [tiga] Kg ke kompor listrik alias induksi.

Daya hemat yang ditawarkan amat luar biasa. Induksi memberi kemungkinan penyerapan energi secara padat (mengumpul panas lebih cepat), tanpa ada sisa buangan energi yang selama ini melayari perilaku mubazir makhluk dapur. Green energy? Owww tunggu dulu.

Alasan gergasinya adalah demi menekan subsidi gas orang miskin yang selama ini membocori anggaran negara. Bak ludah kering. Juga penghematan atas ketersediaan gas.

Tapi, jadi aneh, kala sasaran utama adalah keluarga miskin yang bersandar pada belas kasih tangan putih gas 3 Kg saja yang seturut dengan realitas adalah pengguna daya listrik 450 KVA. Pun, tumbuh rencana penghapusan daya listrik golongan ini. Namun lekas-lekas dibantah.

Kompor induksi, KVA 450, menghapus subsidi gas 3 Kg. Kata kunci kah? Atau frasa rerangkai tanpa makna? Ada makna di balik tiga key words ini: Oversupply alias kelebihan pasok listrik yang terjadi pada PLN.

Kelebihan ini harus disalurkan selekas dan secepat mungkin. Dari mana kisah oversupply ini? Bersumber dari mega proyek 35 GW, membebani PT. PLN selaku penyedia listrik tunggal di negara ini. Kerjasama ini terikat dalam model “ take or pay”.

Wajib bagi PLN mengambil pasokan listrik itu dari pembangkit, sesuai jumlah yang disepakati. Kalau ingkar? PLN harus membayar penalti. Ha ha ha… dari sini segala rencana strategis dan program ikutan diluncurkan; maka didoronglah pengadaan kompor listrik (induksi) bagi orang miskin dan kenderaan listrik bagi instansi pemerintahan.

Green energy? Ooowww tunggu lagi sejenak. Apakah pembangkit (sektor hulu) listrik, sebagai pemasok, mengguna bahan baku fosil, batubara atau energi baru terbarukan?

Tambah menarik dan serba heboh, pembagian kompor induksi gratis itu berlangsung jelang masuk tahun politik dalam nisbah calon-calon Presidenan. Partai politik menari rancak di atas panggung, jelang pemilihan anggota Parlemen secara eskalatif.

Mereka mengalamatkannya sebagai masa-masa sosialisasi. Negara tengah menjalani sisi ketidaksadaran super kolektif. Santak suai aforisme dari Lacan mengenai ihwal ini: ”Kertidaksadaran itu terstruktur seperti bahasa”. Ketidaksadaran ini mengganggu diskursus komunikatif [bukan secara kebetulan], melainkan mengikuti unit keteraturan struktural.

Cuil kehebohan itu menusuk jantung birokrasi dalam ihwal “pengadaan” kenderaan listrik di instansi Pemerintahan Pusat maupun Daerah. Siapkah infrastruktur pengisian daya listrik di tempat umum? Atau mengandalkan daya listrik kantor dan domestik per seorangan ketika kenderaan listrik telah diproklamir sebagai kenderaan masa depan kepada bangsa ini?

Bagaimana ratio kehancuran lingkungan atau paling tidak perubahan iklim mondial disebabkan perilaku kamuflase penuh liur aforisme lunak, sementara tak ada upaya mengubah sumber energi yang digunakan unit pembangkit listrik dari sumber tak ramah lingkungan dan tak memenuhi kehendak pembangunan berkelanjutan dan keberlanjutan
energi?

Kita tengah berjalan di tengah lorong ‘ilusi niscaya’ yang memabukkan. Dia semacam sangkar imajiner, ya sebuah realitas ilusi di atas ilusi yang kemudian berubah maujud menjadi ‘ilusi niscaya’, mengikut Durkheim. Di sini, green energy; sebuah ‘ilusi niscaya’.

Kondensasi dan perpindahan kata Freud. Ooh ya… dia setara dengan pilihan Jakobson: “metafora” dan “metonimia”. Bagi Jakobson, metafora sebagai ikhtiar mengganti satu kata dengan kata lain [kompor gas dengan kompor induksi].

Selanjutnya metonimia ialah ‘hubungan kata per kata’ [kesinambungan kata: gas dan induski]. Dua ‘desa’ bahasa ini sebagai ‘keberadaan ketidak-sadaran’ dalam bahasa dengan pengaruh yang diakibatkan oleh metafora dan metonimia.

Inilah yang oleh Freud dalam “The Interpretation of Dream” dialamatkannya sebagai bukti, bahwa ketidaksadaran dalam mimpi lewat beroperasinya kondensasi dan perpindahan.

Sisi bulan madu Freudian-Durkheimian-Weberian; ketidaksadaran yang mengalami kondensasi dan perpindahan dalam selubung ‘ilusi niscaya’; mampu menggerakkan massa ‘ilusif’ yang dikenal sebagai agama dan birokrasi. Agama dan Birokrasilah yang punya daya letup menggerakkan massa ilusif secara bertingkat dan menjana.

Lalu, metafora dan metonimia Jakobson melontar program serba induksi listrik [kompor dan kenderaan] digerakkan oleh dunia ketidaksaradan ilusif.

Negara [pemerintahan] sedang menjalani sebuah operasi ketidaksadaran ilusif itu lewat mesin besar birokrasi yang dijahit dengan sejumlah benang aforisme dan metafora penghematan dan daya mangkus energi terbarukan [green energy].

Sebuah upaya menegakkan sistem moral. Sejatinya, ujar Nietzsche “Sebuah sistem moral yang benar untuk semua, secara mendasar adalah immoral”.