Queen Elizabeth II

Queen Elizabeth II (cdn24.co)

Di Inggris Raya, Tuhan menggeser peliharaannya dari Ratu ke Raja, sejak senja. Dan, gelombang bunyi itu merayap di ruang-ruang publik. Pun, puncak ratap-gemuruh bunyi itu berhimpun di depan Buckingham Palace.

Dari mulut-mulut yang berucap di tataran tanah Inggris, Skotlandia, Irlandia (Utara); “God save the United Kingdom and bless the reign of the New King”…

Intinya, anthem of United Kingdom mengingsut diksi dari Her ke Him, juga dari Queen ke King. Dalam masa transisi, lirik itu boleh bersepakat begini: “God save the Queen. Long live the King”. Lirik transisional, mungkin hanya berlangsung dalam jumlahan respon kreatif warga.

Mick Jagger yang dekat dengan bunyi dan nada itu, tak mendaras partitur. Malah dia beranjak di atas lompatan kata-kata: “Dalam rangkap luruh kehidupan ku, Yang Mulia selalu ada. Di masa kanakkanak, daku meyaksikan gempita upacara perkawinan beliau di TV. Aku mengenang beliau selaku putri belia nan juwita, di atas semua kecintaan itu, beliau ialah nenek-suri bagi bangsa ini. My deepest sympathies are with the Royal Family”

Kuntum Monarkhi yang terpanjang mekarnya, sepanjang sejarah Inggris (malah juga dunia), di tangan seorang Ratu (permaisuri) yang merangkap “Sultanah”. Jika dilarik dalam dialek (lidah) Arab populer, sapaannya boleh menjadi “Al Sultanah al Ilya Zabatiyah” (Sultanah Elizabeth).

Monarkhi itu secara etimologis diambil dari akar kata “Arch” lengkung (bak mangkuk terbalik); sebagai lambang Realitas, Kebenaran, Misteri nan Sayup, alias Tuhan. Mon(arch); dengan turunan yang lain menjadi ArchitectureArchaeology, bersepupu lagi dengan Bureaucracy; semua aktivitas kuasa ini berada dalam bayangan langit (Tuhan) dan hendak menemu Tuhan (Arch).

Jembatan dengan konstruksi Arch (lengkung), menumpu kaki kekuatannya pada dua sisi tebing. Lengkung ini memberi ruang kepada manusia dan makhluk untuk berdendang tentang Tuhan.

Dia bertahta selama 15 periode Perdana Menteri sejak dari Winston Churchill (kelahiran 1874) hingga Ms. Truss (kelahiran 1975) dengan rentang masa kelahiran 101 tahun.

Pidato perdana selaku Raja (King Charles III): “Kepergian beliau akan menjadi duka mendalam bagi negara, seluruh rangka Persemakmuran dan masyarakat yang tak terbilang di seluruh dunia”.

Seluruh anak-anak Yang Mulia merapat dan berhimpun di Barmoral, tak jauh dari Aberdeen (Scottland). Semacam ‘tahta suci’ versi Gereja Anglikan; The Arcbishop of Canterbury Justin Welby –spiritual leader- menyatakan duka teramat dalam atas kemangkatan sang Ratu lintas masa.

Ratu, figur lintas zaman; memimpin negara era tegang pasca perang dunia, transisi dari Emporium ke model Commonwealth (Persemakmuran), berakhirnya era perang dingin, dan era Inggris masuk dan menyatakan keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Di dunia maya, tagline#QueenElizabeth, menggelegar. Per detik pacuan ucap via #tagar(tagline). Satu di antara yang memukau, di samping ucapan standar:”May Her soul Rest in Peace” adalah pergeseran peliharaan Tuhan di tanah ini dari akun GIMB: “England will now move from ‘God save the Queen to ‘God save the King”.

Simbol klasik bagi warga London juga diangkat sebagai perlambang duka mendalam: “London Bridge is falling down”. Ada rerangkai nada setia dengan sang suami: “The Queen just wanted to be will her Philip again. … fly with your love”.

Nama figur ini amat menggelegar dari denyar sejarah. Termasuk sejarah nama-nama. Di Timur, banyak bayi perempuan diberi nama depan Eli, Elly. Dari tradisi nama-nama Tuhan dalam lingkup penamaan Aram dan Ibrani, sapaan El atau pun Eli adalah untuk Tuhan itu sendiri (setara il dalam bahasa Arab).

Namun, di tanah Inggris, sapaan ini dijadikan sebagai umpan penjinak agar Tuhan dikesani dalam kualitas feminin: menjadilah ujung penutup Eli itu dengan kata beth atau zabeth.

Sedari remaja, beliau disapa dengan sapaan populer; Lilibeth. Jenis sapaan ini adalah ‘sebuah lagu’ itu sendiri, sebelum dia dodoi dalam gaya agung sebagai sang ratu yang diselamatkan Tuhan (God save the Queen).

Lidah Arab menyapa nama agung ini dengan sapaan Ilya Zabatiyah. Sebagaimana orang Arab juga memiliki sapaan sendiri untuk negara di utara Laut Kaspia, Georgia dengan sapaan al Jurjaniyah.

Paling muai dan renyah sapaan Elly itu di Sumatra. Tepatnya di ranah Minangkabau (orang Jawa boleh dikatakan tak punya nama perempuan dengan sapaan Elly). Ini penanda Rang Minang, termasuk lekas menyeruput modernitas dan membaharu? Entahlah.

Yang jelas, banyak nama sapaan anak-anak perempuan Minang dengan sapaan Elly atau si Eli. Yang paling famous dari semua Elly itu tentulah Elly Kasim. Sekali lagi, maujud Elly ini adalah sosok yang dekat dengan nada dan lagu. Tak semata Mick Jagger.

Ratu Elizabeth bertahta selama 7 (tujuh) dekade.  Perempuan terlama berkuasa di muka bumi ini. Di sebuah negara paling digjaya dengan sejumlah anak tentengan seberang lautnya yang bertaut dalam harmoni persemakmuran.

Pada usia senja 96 tahun, Ratu mangkat untuk selamanya. Persaksian paling lekas merespon tentulah adik asuh selama beratus tahun. Sejumlah mantan Presiden Amerika memberi ucapan duka mendalam dengan segala puja dan puji, sampai kesan rasa humoris yang dimiliki sang Ratu ketika bersua dalam persuaan formal kerajaan. Belum nampak ucapan dari Rusia yang tengah bertengkar dengan Unkraina.

Perdana Menteri yang juga bernama Elizabeth (Liz) Truss dalam lelehan cuap duka, secara khusus memberi catatan “the monarch was the rock on wich modern Britain was built, who had “provided us with the stability and strength that we need”… seraya meneropong (doa kuat) ke masa depan di bawah tahta Raja Baru (King Charles III); “We offer him our loyalty and devotion… we usher in a new era in the magnificient history of our great country, exactly as Her Majesty would have wished, by saying the words ‘God save the King’.

Di negara +62, kita masih bersetegang mengenai kenaikan harga bahan bakar yang tak terkendali. Demonstrasi meledak dan meleleh saban waktu. Harga komoditas mulai merangkak, carut marut demokrasi sudah dipermain oleh mesin “pemotong masa tahanan” para koruptor. Selama masa pandemik, kita pun kehilangan arah dan ilham untuk menawan Tuhan.

Tapi, di negeri orang-orang Eng, Ire, dan orang Scott, mereka dengan santai dan bermarwah ‘menawan’ Tuhan. Seakan Tuhan milik mereka. Tuhan senantiasa berpihak kepada bangsa Eng(lish), bangsa Ir(ish) dan Scott(ish) lewat perlambangan tahta dan kekuasaan.

Tahta dan kekuasaan bagi mereka adalah titah langit. Proyek langit dan perintah Tuhan. Tahta Tuhan segaris (inline) dengan tahta Raja /Ratu.

Kuasa, tak semata kehendak demos (rakyat) yang didistorsi semacam suara langit yang ditumpang pada mulut manusia (walau bisa hedon dan pragmatis dalam penerapan di muka bumi).

Apa pun kejadiannya, segetir apa pun kemalangan yang menimpa, Tuhan senantiasa mereka peluk dan pindah-pindahkan dalam tawanan ‘berkuasa’ dalam simbol-simbol kuasa yang dikonstruksi oleh manusia di Britania Raya yang senantiasa merindukan ‘giringan langit’ dalam kesadaran kuasa dan kekuasaan. Lalu, di mana Diana?