Pusaka: Mana Orang Siak?

Prof. Yusmar Yusuf sedang menjelaskan posisi dan peran Sungai Siak era sultanat dan era modern kepada Hashim Djojohadikusumo. (F: dok. pribadi)

Anak-anak muda dari UI, UGM, UNS dan kampus Jawa lain, termasuk anak muda dari Jambi (arkeolog), jadi gembala pusaka di atas segala pusaka. 

Mereka bergerak dan menyusun narasi dalam kemasan kekinian. Serempak nada era serba digital dengan sejumlah aplikasi yang memahkotainya.

Di belakang anak muda ini, nama-nama besar dalam wilayah “pusaka” (heritage), seakan memang memberi ruang yang luas dan ranggi untuk kreativitas progresif.

Nama-nama itu; Catrini Pratihari Kubontubuh (Ketua BPPI), Laretna T. Adishakti (arsitek), Marsis Sutopo (arkeolog). Dan jangan lupa peran besar dan strategis dari sosok figur Hashim Djojohadikusumo yang mukim selama dua malam di kota Siak Sri Indrapura.

Figur muda Riau juga ikut derap rempak, khusus untuk alur dan garis situs, pun ruang-ruang saujana pusaka dan bentang alam (kosmografi sungai) sekitar kota Diraja Siak Sri Indrapura yang teduh, rimbun dan hijau itu.

Agenda selama di Siak, lebih sarat muatan transfer pengetahuan, berbagi pengalaman dan ‘injab kesadaran’ platonik, (juga know-how) yang ditumpu khusus pada isu (tak saja penyelamatan), tapi segala ihwal yang dikait-rantaikan dengan situs dan ruang (tambang budaya) pusaka, harus mampu mendesak “rancangan baru dan berkaidah” mengenai ekonomi kreatif yang berpembawaan berkelanjutan bagi masyarakat tempatan (lokal).

Keluar dari benang kusut ekonomi ekstraktif yang ‘memecat’ secara sistematis dan eksploitatif segala sumberdaya alam.

Pun, didukung sejumlah argumentasi pembenaran secara eskalatif; demi kesempatan kerja lokal, devisa negara, katalisator ekonomi nasional, dinamika ekspor dan seterusnya.

Temu Pusaka Indonesia 2022 di Siak, paling tidak memberi sentakan akan “kesadaran dan keinsyafan”, bahwa segala perkakas peninggalan oleh sepenggal zaman yang bercahaya, bisa diolah dengan cerdas dan cerdik untuk menghenti gerak-massif ekonomi ekstraktif.

Banyak alasan yang boleh ditumpang pada upaya ‘pemerkasaan’ (empowering) ekonomi kreatif berbasis pusaka; isu climate change, massifikasi ekonomi warga kecil, merujuk pada produk unikum setiap wilayah, mendesak kepada pemerintah daerah untuk merawat dan bila perlu menjelitakan tinggalan-tinggalan pusaka (tak hanya dalam maujud Perda), tapi sekaligus merawat dan mengembangkannya sebagai destinasi wisata yang bergemuruh dalam semangat kolaboratif dan kohabitasi (pelaku utamanya adalah masyarakat lokal).

Selama dua hari secara maraton diskusi dan dialog antar pelaku dari Jawa, Sumatera Barat, Jambi dan Riau berbagi pengalaman dan visi demonstratif.

Malah, seorang peneliti dan pegiat pusaka dari University of Vienna (Austria) ikut menggempitakan ide-ide dengan pengalaman kosmografi Sungai Donau di kawasan Wachau Valley.

Dia juga seorang anggota I’COMOS (International Council on Monument and Sites). Lembah Wachau di sungai Donau dengan panjang 40 Km dan melintasi 9 kota.

Ada kesamaan kosmografis antara sungai Donau dan sungai Siak; ya, lapak, tapak, sekaligus gegargempita peradaban aquatika (evolusi agraris sekala aquatik), lalu lintas perniagaan tradisi dan modern, tempat tumbuhnya pasar dalam semangat rendez-vous (al mulaqat), persemaian titiksimpul religiusitas lewat kehadiran kampung-kampung suluk dalam kosmografi sungai-sungai.

Singkat kata, sungai bagi Melayu tak semata urat nadi ekonomi dan interaksi sosial dalam cahaya era sultanat dan modernitas, tapi sekaligus bertindak selaku penyentak kesadaran akan langit: ya, kampung-kampung Langit (Heaven villages).

Mungkin sesi diskusi yang berlangsung padat dan renyah selama dua hari itu, akan lebih molek dan bergetar ketika Pemda Siak selaku tuan rumah mampu mendorong lebih banyak lagi pelibatan ‘manusia-manusia’ Siak dalam segala segmen dan kelompok sasaran; bisa itu pramuka, sanggar seni, kaum alim ulama, pengampu adat dan lembaga adat Melayu, komunitas adat, aktivis lingkungan, aktivis perempuan lokal atau pun tokoh-tokoh Siak (termasuk saudagar) yang berada di Pekanbaru dan Jakarta.

Semua ini dimaksudkan sebagai “hari rayanya” Orang Siak untuk beradu gagasan dalam semangat “menjingkang dan melucut” ekonomi ekstraktif yang melumpuhkan bumi selama ini.

Rekan saya dari Jakarta, bertanya pendek pada saya: “Dua hari diskusi yang bergemuruh ini, saya tak melihat orang Siak. Mana orang Siak?”

Diam… sebuah jalan bagi saya ketika berdepan dengan pertanyaan sejenis itu. Dengan ‘jalan diam’, apakah saya tengah memerankan diri selaku seorang bijak, atau malah terkesan ‘sok bijak’? …