DI DALAM LACI, JARUM BERSIUL TENTANG DIA

Cover buku Passer Gambier (doc)

Di Batavia, kata-kata terlalu limpah. Kata-kata telah menjelma jadi patung tua era kompeni, jadi taman, jalan raya yang meliuk, makam, kanal, gedung tinggi, rumah, jembatan, simpang susun, istana, vila, mall, danau, laguna, muara, pohon, tembok, rumah Tuhan, jadi jargon, penghias meme, doa, mantra, syihir, amarah dan sayang; semuanya terkesan melar, liar dan mejalar. Sejatinya, di Batavia pula, kata-kata  diringkus permai. Lalu? Menduga lah!; pun Chairil Gibran Ramadhan menyaji satu ‘puisi telapak tangan’;

Nanggok Ikan

: 1979-2007  

Jala diayunkan

Di setu ada harapan

Jumlah orang berkata dan berucap yang paling muai dan rimbun di muka bumi, antara Shanghai-Jakarta dan Mumbai. Jakarta “kampung kita”, buah hati kita, tempat segala ihwal disandarkan, sekaligus direbahkan. Di atas haribaan Jakarta pula, segala ihwal terpangku dalam susun berjenak-jenak (tak sejenak). Sejak awal peradaban pantai “mengeja langit”, dan mengalami puncak ranggi kala Belanda menginjak tanah dan menjadikan titik di persilangan empat mandala ini sebagai pusat “gudang kata-kata” (tak saja rempah)  dunia di belahan timur. Menjadilah Batavia, Betawi sebagai “lidah kata-kata” yang kemudian disauk menjadi ragam kaidah; diplomasi, politik, pengajaran, dagang, niaga, syarikat, seni pertunjukan, film, bahkan perang. Di sini, manusia Betawi menjalani sejumlah “persaksian” demi “persaksian”. Terkadang, “persaksian” itu dilonjor dalam kemasan satiris, monolog, baik dalam ruang-ruang publik “kita” yang terbatas, maupun “ruang publik” yang mengambil setting besar di depan Istana Wallanda berkuasa.

Betawi, rupanya tak bisu, tak gagu, tak lilu. Mereka adalah “kotak memori” itu sendiri. Kini, dan sejak dulu kala, “kotak memori” itu bernyanyi, terkadang dalam gaya falsetto nan satirik menurut ukuran zamannya. Padahal, sejatinya, dia  adalah nada ‘harmoni’ dalam menerjemah garis kesejarahan yang terdedah. Utamanya, sejarah yang menggelung perjalanan panjang orang-orang Betawi. Dari sini, mereka adalah sejumlah orang pantai yang menabuh dan memungut untung dalam ragam derivasi; “untung mata dan untung darjah”. Untung mata? Ya, orang pertama di Nusantara ini yang melihat mobil dan trem adalah orang Betawi. Untung darjah? Orang yang paling terdidik di Nusantara ini juga adalah orang Betawi. Tapi, untung yang kedua ini jarang dilansir di dada media dan catatan sejarah yang “Jawa Sentris” itu.

Maka, saya petik “puisi telapak tangan” (Haiku Betawi) di atas. Bahwa kerimbunan dan kehebohan kata-kata, sejatinya bisa diringkus dalam frasa pendek, tapi memberi efek “meyamudera”. Dan, itulah Betawi yang saya lihat dari jendela “rumah saya” yang Melayu.

Di sebuah masa nan jauh dan sayup, tersuling sayup-sayup merdu, seorang pujangga Melayu dari Riau (pulau Penyengat), Raja Ali Haji sang pendekar bahasa itu, mengunjungi tanah Betawi dalam dua kesan yang paling dalam. Pertama, kesempatan menonton opera di sebuah gedung seni (Schouwburg) dan perjumpaan kreatif dengan Christian van Angelbeek. Pada paruh pertama abad ke-19 terdapat tiga gedung seni di Betawi, yaitu; “Schouwburg”, “Societeit de Harmonie” dan “Societeit Concordia”. Dari tiga tempat ini, diperkirakan rombongan dari Riau mendapat suguhan tontonan opera itu di gedung yang kini dikenal sebagai Gedung Kesenian Pasar Baru yang dulu bernama Shouwburg. Bukan di “Societeit de Harmonie”, atau pun “Societeit Concordia”. Ihwal ini dapat diperiksa dari penyelerasan Hasan Junus (1988) yang merujuk pada kitab Tuhfat al-Nafis; “Syahadan pada satu malam datang panggil Gubernur Jenderal segala anak raja utusan itu; yang disuruhnya yaitu Sayid Hasan. Maka pergilah sekalian utusan itu. Maka lalulah dibawanya kepada satu rumah main wayang Holanda, kata orang namanya wayang komidi, dan sifat rumahnya itu lekuk ke dalam tanah…” (periksa juga Tuhfat al-Nafis; Malaysian Publication Ltd., Singapura 1965). Dari tiga Gedung Seni ini, hanya Shouwburg lah yang  lantainya “lekuk ke dalam tanah”. Othello, karya William Shakespeare adalah karya pertama yang dipentaskan dalam upacara peresmian gedung ini.

Eropa dengan keseniannya, memercikkan sisi agung kemanusiaan dengan polesan wajah lembut memukau. Sebaliknya, Eropa dengan kekuasaannya adalah sisi gergasi yang menakutkan dunia. Itulah yang berlangsung di tanah Betawi selama tiga abad. Dan di situ pula orang-orang Betawi “termasakkan”, menjalani sejumlah ”persaksian”, hidup tidak di atas padang datar, namun dalam samudera nan bergolak, ditempa dengan ragam jenis kehidupan tanpa dialog; monolog. Dan jangan heran, seni-seni monolog (sejatinya dialog semu) amat kuat terlahir dari pengucapan anak-anak Betawi. Mereka lahir dari rahim, tempat perjumpaan seni Eropa dan kuasa Eropa berbancuh dalam satu wadah. “Eropa kesenian” memang tak selaras dengan  “Eropa kekuasaan”. Dia adalah dua sisi yang berparas baik sekaligus berparas buruk, ujar Rabindranath Tagore.

Bagi Jakarta yang melimpah ruah kata-kata itu, saya didorong untuk terpukau dengan puisi-puisi pendek. Terutama yang sarat dengan “makna anagogis” (dimensi spiritual), tidak setakat menjinjing tangkai-tangkai “makna analogis-metaforik”. Chairil menjadi demikian “spiritual” bagi saya, ketika dia menghidang:

Kopiah (1972-2001)

Beludru hitam dan merah

Akan menjadi putih

Setelah dilunturkan air zam-zam

 

Begitu pula, pada sajak-sajak (puisi) pendek berikut yang menukil sisi riyadhah (latihan spiritual) yang kuat dan anagogik, seperti pada “Kurung Batang” (Oplet membawa orang ke Petamburan// Kurung batang membawa mayit ke pekuburan). Lihat juga “Padasan” (1974-2001): Air dari sumur dituang// dikucurkan buat pranti sembahyang// dari lubang yang ditutup kayu sebatang). Di sini dia mempermainkan efek ‘bunyi ujung’ yang berdengung dan terkadang menyentak (word ending; die Endung). “Tiker Lampit’ ((1983-2003), juga demikian kuat efek anagogisnya. Geram kemarahan, bukan kesumat (geram yang melayang-layang) dimain-mainkan dalam “Kue Pepe” (1985-2016);

Bendera Ratu Wilhelmina kami telan

Lantaran dulu dari kejauhan

Geram kami tahan

Itu ijo bukan biru

 

Dari puisi pendek “Kue Pepe” ini, menjadi “gardu” bagi kita untuk memasuki puisi-puisi panjang tentang “ode”, “eligi” dalam interaksi batin orang-orang Betawi terhadap realitas “masa lalu” yang kaya dan lemak, ketika dibawa dalam “alat pembacaan” serba  “ke-kini-an” dan “ke-disini-an”. Inilah lorong waktu yang mooi (molek, boleh juga ditangkap sebagai -dari “sesuatu” yang berubah menjadi “hal-ihwal”-; yang mogelijk -serba mungkin-). Bagi Chairil Gibran, puisi adalah jalan sejarah, keniscayaan sejarah yang hadir dalam sejumlah kehadiran; jasadi, ucap, fikir, impi. Sejumlah kehadiran “jasadi” era kolonial yang tegak di atas tanah Betawi, selalu dimaknai oleh ucap, fikir dan impi, baik secara masa lalu maupun dalam kadar kekinian. Lalu di mana “ke-akan-an”? Sajak-sajak era kolonial ini seakan hendak memposisikan dirinya sebagai batu patok metrik sejauh mana kita menempuh perjalanan (milestone). Ke mana kita berpergian? Kenapa bepergian? Dengan siapa bepergian? Bagaimana cara pulang setelah melakukan “pergi”? Apakah melewati jalan yang sama antara pergi dan pulang? Apakah, ketika pulang melewati jalan negara yang menggunakan APBN atau malah jejalanan semak samun di pematang sawah? Yang di situ menyediakan sejumlah kehadiran dan perjumpaan. Apakah  seseorang yang melakukan gerakan “pulang” sembari berlari-lari kecil, mensuitkan siulan untuk merayakan keriuhan siulan dari burung-burung, bercanda dengan unggas, berhenti sejenak dan main-main kecebong sawah? Lalu, menangkap ular, berkejar-kejaran dengan bangau sawah, belibis, atau malah menghindari “bulus” yang terkesan mulai tiada?

Melalui jalur “pulang” yang tak biasa itulah Betawi mentakrifkan dirinya. Selama ini kita mengenal Betawi menurut apa yang diperkatakan, Betawi menurut pikiran orang luar, Betawi menurut Belanda (Jenderal Coen), Betawi menurut Pasundan, Betawi menurut Falatehan (memang tidak ditulis sebagai Fatahillah). Di sini, Betawi diperkenalkan dan terperangkap dalam sejumlah inayah serba “adalah”. Puisi-puisi Chairil Gibran Ramadhan sejatinya mengusung emic (diri menurut yang empunya diri; ruh menurut yang empunya ruh); Betawi ‘bukan adalah’… Tetapi Betawi ‘adalah bukan’: bukan itu dan bukan ini, bukan sana dan bukan sini. Betawi datang untuk menyelesaikan “tugas kehadiran” muka bumi, dalam model-model “penyelesaian naratif” yang tak kan pernah sama dengan yang non-Betawi. Sebab, perkakas-perkakas yang melingkungi dan mengandang ke-Betawi-an itu sendiri, tak sama dan tak kan pernah sama dengan perkakas-perkakas (sejarah dan kebudayaan) yang melingkungi Sunda, Jawa dan Bugis. Orang Betawi terkadang membelah dirinya dalam prinsip-prinsip “avatar”; atau “dua-an” yang kembar dalam saat atau kala yang serentak dan serempak; antara macho dan gaya, antara manis dan garang, antara pikat dan azimat (jimat), keindahan tampilan fisik luar dan kekuatan kuasa batin (dan selalu serba tak terduga; dimensi lokalitas). Kita bisa ‘ruju’  ke puisi pendek “Berendrechtlaan”.

Di Berendrechtlaan

Dalam pikulan anyaman bambu tua

Seorang pedagang Betawi membawa batu-batu akik

                        Untuk menghias jari

                        Atau menambah nyali

 

Di sini hendak ditunjukkan tradisi Betawi yang bertradisi setia pada tradisi; jualan batu-batu akik, yang kini badan jalan itu berubah nama menjadi jalan Batu Ceper. Dari nama ini, ada siulan “kemenangan”, dari sebatang jalan yang berpembawaan “laan” (jalan yang rimbun kiri kanan oleh pepohonan besar dalam tafsiran Belanda), berubah dalam “tafsiran” Betawi yang bukan “adalah”.  Ya, sejumlah perlawanan dalam derivasi warna-warni, sekaligus menanam kemenangan dalam “pengucapan” lokal (ke-disini-an; Batu Ceper).  Bukan “laan” yang dimahkotakan oleh Belanda selama ini. Namun peristiwa orang-orang kecil yang memikul bakul kumal dan lusuh, berjualan batu akik yang juga berukuran kecil dan mungil. Betawi memposisikan diri sebagai “nan kecil”, tapi menentukan.

Sekali lagi, bahwa di sini puisi adalah sejarah yang bergerak. Sejarah yang hidup dalam sejumlah “kehadiran” yang mesti dibebaskan dari perangkap-perangkap makna parokial, makna dan tafsir awam, yang terkadang mampu membangun kesesatan makna, malah menjadi bid’ah makna. Karena dia beranjak dari dugaan-dugaan obyektif (kerlingan dan kerdipan mata orang luar yang memandang dan menafsirkannya).

Puisi-puisi yang terhidang dalam “antologi” ini, sekaligus semacam bentuk “kemarahan” kepada para “penguasa makna” yang beristana di “mercu gading” yang tak bersapa dengan “makna” itu sendiri. Mereka membangun makna dan takrif dari laboratorium berbungkus antropologi-ragawi di universitas, tak terkecuali pula sejumlah senarai ‘antropologi jalanan’ yang sesak oleh residu yang menolak “keindahan orang lain” dalam makna dan konstruksi si “orang lain” itu sendiri (kebenaran demagogi para penghuni mercu gading). Maka, setelah peristiwa “pergi”, kita memang diajar untuk menjalani peristiwa “pulang”, dengan tidak melalui jalan-jalan biasa.

Frasa-frasa perlawanan yang terhidang dalam kumpulan puisi ini, semacam onggokan “almari perlawanan”, di dalam almari itu, ada rak yang menggantung. Lalu rak itu “melawan almari” nan besar itu. Di dalam rak, terselip laci yang “melawan” rak itu sendiri. Di dalam “laci perlawanan” itu ada satu kotak yang juga berisi perlawanan untuk melawan laci, di dalam kotak itu masih ada kotak kecil lagi, yang juga “memarahi” atau melawan kotak yang membungkusnya. Di dalam laci kecil itu, ada satu bungkusan plastik yang juga melawan kotak kecil itu. Di dalam bungkusan kecil itu terdapat jarum, yang melawan bungkusan kecil itu. Sementara di batang jarum itu, ada rongga kecil bernama lobang jarum yang melawan kehendak sang jarum. Selanjutnya angin dan oksigen yang berlalu lalang di celah rongga lobang jarum itu bernyanyi dan bersiul. Itulah puisi-puisi Chairil Gibran Ramadhan yang menjilat “rasa” Betawi dalam kadar kelat dan asinnya lidah Betawi. Mereka yang merasakan itu, kita pun terkesima…

 

Pekanbaru 23 Januari 2016

Antara musim hujan yang malu-malu

 

@yusmar yusuf; budayawan Melayu. Penukil jalan “urban tasawuf”, berkelana dalam “dakwah kebudayaan” ke seantero kawasan Melayu muka bumi (salah satunya melalui musik jazz). Guru Besar pada Jurusan Sosiologi dalam “Kajian Masyarakat Melayu” FISIP Universitas Riau. Kini bermastautin di Pekanbaru Riau.

 

___ Catatan Pengakhiran dalam buku “PASSEER GAMBIER” karya Chairil Gibran Ramadhan.