Maha Wai: Antara Tiada Nama dalam Sapa

Ilustrasi: femforgacs.hu

Spiritualitas itu melunjurkan imaji-kreatif “warga iman” (faithizen) tentang cara menyapa dan menggoda. Tuhan itu sendiri Sang Maha Penggoda. Berkas sifat ini juga jatuh dan diturunkan kepada ciptaan-Nya (manusia).

Tentang Tuhan yang tak bernama. Ketika bernama, Dia bukan Tuhan lagi. Inilah Tuhan menurut Tuhan (God as God as such).  Bukan Tuhan dalam candra manusia, bukan Tuhan andai-andaian versi kitab dan para resi. Imaji kreatif sapaan dan penyapaan akan Tuhan, dalam dunia Melayu (oleh Rida), dilunjur secara demonstratif ke ranah sahabat (brotherhood); relasi setara, relasi perkawanan, relasi karib, yang tak mempertontonkan relasi tuan dan hamba. Bukan relasi para budak. Bukan relasi kuasa. Lebih mengarah kepada bentuk relasi kreatif-imajinatif. Sebuah sentak dan desakan menghindari perbudakan dalam ber-Tuhan, dalam dawai spiritualitas dan getar religiusitas. Ya, Rida menjinjit Wai…; Maha Wai

Tuhan dikenal sebagai Dia yang tak dikenal (quasi ignotus cognocitur). Thomas Aquinas dengan Summa Theologia, lalu lekat kepadanya sebagai “Doctor Angelicus” (Doktor Ke-malaikat-an) berujar lunak: “Bahwa kita sama sekali tak mengetahui keberadaan-Nya”. Inilah satu di antara “Teologi senyap” yang berpangku pada doktrin “creatio ex nihilo” (beranjak dari kekosongan).

Kekosongan mendesak imaji-kreatif seorang penghayat dan penukil malam. Dia diladeni dan meladeni “kedunguan” yang penuh cemburu untuk memahami Tuhan. Di sini Rida menyandarkan “kebutaan nan tulus” sebagai jalan untuk memasuki dan menerobos Tuhan, tak lewat “andaian nan pongah”.

Wai selaku sapaan, sebuah ayat (penanda). Ayat yang bukan kata. Wai menggugurkan talak tentang pengetahuan yang “tak bisa dibahasakan” (tacit knowledge). Kala malam menguntum pada sentak puncak (Qiamul Lail), orang kehabisan kata dan ayat. Ini ranah “pengetahuan yang tak bisa dibahasakan”. Pengetahuan irfani? Sebaliknya siang mendedah secara jamak “pengetahuan yang bisa dibahasakan” (explicit knowledge). Lewat sapaan Maha Wai, Rida ingin melampaui “explicit knowledge” itu. Medianya? Ya, sajadah malam.

Sapaan rela(tif), atau tepatnya hubungan kekeluargaan atau kerabat dekat yang menghibah suasana karib di kampung-kampung Melayu pulau; Wai, Yaw dan bahkan di kampung saya di masa kecil dulu memanggil seseorang, selain Yaw, juga dengan sapaan “Bat” (singkatan dari ‘sahabat’). Di sini Wai (versi Rida) diposisikan sebagai sapaan untuk entitas (subyek) kedua tunggal. Pada ketika yang lain dalam relasi sahabat itu pula, Wai juga bertindak  sebagai sapaan orang (entitas) ketiga tunggal. Sebuah jalan takwil menggiring “antropomorfisme” akan Tuhan…

Penyapaan akan Tuhan, di sini berlaku majas (analogi) dari Rida sebagai sapaan puncak superlatif Wai Super Wai (Engkau atau pun Dia yang serba Maha). Sapaan Engkau (entitas kedua tunggal) dan Dia (entitas ketiga tunggal) dari Maha Wai itu sendiri, adalah sebuah cara Rida memajeliskan “kebersatuan entitas dua tunggal dan entitas tiga unggal” dalam satu sentak kreatif-imaji. Inilah “Teologi Angka” dalam bilangan SATU yang membelah dirinya menjadi Dua dan Tiga dan kembali berbondong-bondong menjadi SATU (monoteisme).

Angka itu sendiri adalah peristiwa licin dan menggelincir. Angka 1 (satu) bersedia membelah dirinya dalam maujud angka yang berlipat-lipat; 2,3, 7, 8, 9, 156, 157, 2469 dan seterusnya. Semua angka-angka itu akan kembali ke angka mutlak (angka 1). Secara majasi, angka 1 (satu) membelah diri dalam ‘maujud’ serba ‘diadakan’ (ja’ala), bukan diciptakan (khalq);  dalam jelmaan-jelmaan lain (termasuk kembaran samawi). Peristiwa ‘diadakan’ (ja’ala) dari angka 1, menjadi siang, menjadi malam, gunung, bukit, lembah, laut, tasik, pulau, kemejan, senja, subuh, bebatuan, pasir, kedidi, tokong, suara, bunyi. Semuanya itu adalah ‘salinan diri-Nya’ dalam jelmaan lain. Bumi ini tak diciptakan (khalq), tapi ‘diadakan’ (ja’ala) oleh Tuhan untuk manusia. Maka, ketika seseorang berjalan di atas bumi (yang diadakan), tak mengalami kejatuhan di ujung perjalanan. Seakan bumi datar. Dia ‘diadakan’ dalam semangat ‘licin dan menggelincir’. Tak menjatuhkan.

Angka 9 sebagai penutup dan muktamat adalah avatar dari angka 1. Pelipatan numerikal (bilangan) berlari dari angka 1 dan 9. Lalu dikawinkan hingga menjadi bilangan yang berlipat. Bisa pula dipisah-ceraikan, dibagi, dikali. Peristiwa kawin, bagi, cerai dan kali/daraf itu bergerak antara bilangan 1 dan 9 saja. Angka muktamat itu hanya hadir, karena kerelaan angka 1 membelahkan dirinya. Semua ini berlangsung secara licin dan menggelincir. Lalu, apa yang bisa ditarik dari ‘karamah’ angka-angka licin ini? Wah rimbun sekali. Salah satunya adalah ideologi yang begitu akrab dengan manusia modern. Humanisme sebagai ideologi adalah terma yang licin. Kalangan religius memandang humanisme ialah musuh besar. Harus dilucut. Humanisme, penghalang utama eksklusivitas ‘jalan selamat’ doktrin ultra religius. Sebaliknya, bagi mereka yang digorok oleh aliran ultra religius, melihat humanisme adalah jalan pembebasan. Di satu sisi humanisme memposisi diri pada bilangan 1, di sisi lain, dia berperan selaku angka muktamat (angka 9).

Ingat: Demokrasi akan meleleh di depan todongan senjata (larian angka 1 dan 9, vice versa).

Sapaan Wai memberi ruang kepada penghayat “mistika” untuk memasuki Tuhan bukan sebagai “Wujud” nan sayup, jauh, berjarak (Tuhan tandzih, Tuhan transendental, Tuhan maskulin). Terkesan memerintah dan menghentakkan tongkat komando alias Tuhannya Musa. Tuhan tandzih yang maskulin. Pembalas dengan siksa yang pasti. Dia disangka Sang dalam “defenitif” Melayu (jantina “macho”). “Sang” memikul kualitas perkasa, gagah, spartan, atletis, atlasis, dst.  Tetapi, Wai oleh Rida dilarikan menjadi jiran teramat dekat, teramat hampir, menyatu secara “mistika” (Tuhan tasybih, Tuhan imanen, kualitas Feminin). Dia disangka “Dang” secara “defenitif” Melayu. “Dang”, memanggul kualitas jelita, juwita, cantik, ayu, anggun, lewat tatapan teduh seraya mengulur tangan putih nan lembut, membelai dan mengelus manja: Relasi mama-anak.

Ihwal Wujud (Being); bagaimana kita mengetahui tentang Wujud adalah Wujud? Jawabnya adalah; kita tak tahu apa-apa. Titik. Selepas itu? Bahwa Wujud tak bisa ditentukan dan tak juga bisa dijangkau. Kita hanya mengetahuinya sebatas pengetahuan tentangnya. Sebab lain? Kita bukanlah Wujud itu sendiri. Kita tak lebih dari entitas-maya (non-eksisten). Lalu, bagaimana kemampuan kata-kata untuk mengungkapkan maksud si pembicara? Atau bagaimana warna yang kasat mata, mampu menjelaskan realitas cahaya yang tak kasat mata itu? Wai, Maha Wai, sebuah jalan ingin ‘bermain-main’ dalam kedunguan kreatif-imaji tentang cara bagaimana menghampiri dan memasuki Tuhan dalam candaan dan godaan lokalitas-kualitas Melayu seorang Rida.

Seakan, Rida sadar relasi “penjelas” yang kasat  dengan “Yang Dijelas” tak kasat. Di sini adagium tua Arab berlaku setarik nafas: “Apa yang mesti dilakukan debu kepada Tuan dari segala tuan?Wai dan Maha Wai memecah kebuntuan gang ‘unio mystica’ yang sekaligus meletakkan pembagi dirinya dalam ‘compassion’ (gairah/keharuan), pun selaku ‘unio sympathetica’ (memperhimpun wujud tuan dan wujud hamba) dalam ranah cinta berupa corak derita (passion) hakiki; masing-masing merindukan yang lain. Khalik dan makhluk dalam kegandaan kutubnya (Corbin). Kesetiaan dan cinta sembari merawat “ketuanan”, sekaligus menjulurkan serambi “kebaktian simpatetika” (devotio sympathetica) dari seorang hamba. Inilah retas jalan cinta para hamba cinta. Rida, seorang pemulung cinta (hamba cinta); yang dalam alur tradisi esoterisme dikenal dengan sapaan Fedele d’amore.

Bermain-main dalam gaya “meminjam” (padahal meminta?); rujuklah pada puisi

‘PERCAKAPAN SETELAH TAHAJJUD’

Hai Maha Wai

Pinjamkan aku

Satu huruf yang tak ada dalam Alfatehah Mu

Untuk menjadi sesuatu dalam puisiku

Beri aku Tsa

Biar dia menjadi safari sunyi

Lambang kepedihan dan keterasingan ku

Sebagai makhluk yang terdampar di dunia

Sendiri dengan segala kealpaan ku

Mengembara seperti seekor kedidi

Mencari jalan pulang

Memanggul sesal dan dosa dosa

 

Baru penggalan ini saja (dalam moda ‘curi-pinjam’) huruf Tsa, Rida sudah memagut persoalan eksistensial. Gaduh eksistensial, tanya eksistensial dan risau eksistensial. Sebuah kesadaran tentang keterlemparan dan keterlontaran. Kenapa di sini? Mengapa bukan di sana? Mengapa atas, mengapa bawah, tengah dan mengapa ada samping dan sisi? Mengapa kini, dan ada apa di ‘dalam tembok’ yang tak dikehendaki? Semacam upaya membongkar sesuatu di belakang tembok (something in mural). Sebuah impetus custodian kah? Dia yang menyerak sekaligus dia yang diserak. Dari peristiwa pinjam-meminjam, dia (Rida) seakan mendesak untuk membongkar fenomena keterlemparan primordial (yang tak dikehendaki/ tanpa kesepakatan primordial pula antara dia dengan –d kecil- dengan Dia –dengan D besar-). Sebuah jalan untuk menghindar “sikap merasa menang sendiri” (solipsistic). Inilah maujud penggalan pertama dari Antologi Puisi, ditabal Rida sebagai penggalan Istigfar.

“Tuhan sejarah”, dalam semangat Maha Wai, ditampas Rida dalam sampiran setelah angka –bilangan- 9. Apa aja yang sesudahnya? Sesuatu yang di balik sana: tentang status makhluk yang wangi di langit, namun buruk rupa di muka bumi. Tentang makhluk yang dianggap kafir oleh manusia muka bumi, tapi sosok beriman dan saleh di depan Tuhan. Tentang sosok yang ledah, hodoh, joloh atau pun bahlul di depan manusia, sejatinya dia adalah sang pemanjat langit (spiritual) di haribaan Tuhan. Seorang pembaharu yang konsisten memperbaharu “wajah batin” alias “paras spiritual” di depan Tuhan.

Tuhan “sejarah” digenapkan lagi oleh Jean Jaques Rousseau: “There are always four side to a story: your side, their side, the truth and what really happen”. Lalu, Rida pun me-Rumi dalam lara soliter seekor kedidi: “I want to sing like the birds, not worrying about who hears or what they think” (daku ingin berlantun bak burung-burung, tak hirau siapa yang mendengar atau apa yang mereka fikirkan). Jiwa melontarkan dirinya bak seekor kedidi, mengembara menuju (mencari) jalan pulang, sembari memanggul sesal dan dosa sebagai beban primordial.

Atau Jim

Biar dia menjadi jembia; Lambang ketakberdayaan aku; Makhluk yang sebatang kara; Yang selalu memerlukan perlindungan; Tak percaya diri; Meski mengasah tajam tawakkal ku; Gamang saat melangkah; Bimbang saat tengadah; Nanar bertanya; Sebenarnya aku siapa?

 

Atau Kha

                Biar dia selalu memberiku khayal; Lambang kemerdekaan jiwa; Dan dengannya aku mengembara;

Mencari dan menemukan jejak kebesaran Mu; Merambah rimba kedunguanku; Mengais serpihan ilmu sekedar untuk tahu; Meski hanya sebatas alif Mu; Sebatas makna dari sebuah resahku Tentang hidayah; Tentang suara yang melarang untuk menyerah

Atau Zai

Biar dia menjadi zaitun; Lambang rahmat dan nikmat; Yang tiap hari aku hirup dan sesap; Mengalirkan energi dan semangat; Melangkah; Berjalan; Kemana akan sampai; Memanggul puisi puisi ku;            Kata kata yang luput dari usia; Yang terus mengeriput

Rida konsisten merengek “bermain pinta” dengan entitas yang teramat dekat dan boleh merebah manja. Bak seorang peminta-minta sepanjang lorong cinta. Yang dipinta ialah simbol skandal peradaban manusia, ujar Plato. Simbol skandal itu adalah aksara atau huruf. Bagi Plato, penemuan aksara adalah skandal peradaban manusia teragung. Sebelumnya, semua pengetahuan tidak dicatat oleh jemaah aksara (huruf). Pengetahuan langsung masuk ke dalam kotak deposito otak manusia. Dan manusia adalah “makhluk” pengingat paling jenial. Setelah ditemukan aksara, manusia menyandarkan ingatannya pada catatan, pada huruf dan aksara. Sejarah dibelokkan oleh para penguasa aksara. Dan, manusia pun sok menjadi makhluk pelupa.

Di sini Rida menabrak kesadaran akan skandal itu. Tolong bagikan lagi huruf-huruf yang tak  termaktub di dalam Alfatihah Mu (Alfatehah, versi Rida), agar kami senantiasa mabuk, sesat dan nyasar dalam kerimbunan aksara yang skandalis itu. Amat tanggung skandal ini dimain-panggungkan, tersebab huruf yang terbatas. Lewat sandaran-sandaran akan huruf yang tak termaktub itu, rebahlah dan enyahlah segala skandal pengetahuan yang tak bisa dibahasakan (tacit knowledge), sehingga dia benderang bagi awam sebagai maujud pengetahuan yang bisa dibahasakan (explicit knowledge). Sejatinya huruf-huruf yang dipinta oleh Rida adalah pilar-pilar tebal dan kaku, rigid, dingin, solid, demi melindungi indah-juwitanya pengetahuan irfani, burhani, ilmu lahut dan malakut yang berenang di “Samudera Cahaya Pengetahuan” (raf-raf al ‘Ula/ rafariful ‘Ula).

 

Atau shim

Biar aku menjadi ujud rasa syukurku; Terus bersujud dalam sholatku; Lambang kesadaran akan hidup; Yang tak ada apa apanya tanpa kehendak Mu; Kecuali doa doa yang hanyut; Terkadang dalam genang air mata;Dan nadi yang berdenyut

Atau Zha

Biar dia menjadi pengikis sifat takabur ku; Kesombongan yang menidakkan rahmat dan nikmat Mu;             Keangkuhan, dusta yang bersembunyi dalam nadi; Yang baru tunduk jika kau beri cobaan;      Meski dengan sebuah kuman; Serpihan debu penguji iman

 

Atau Fa

Biar dia menjadi penebas; Rimba fasyik dan kebebalan ku; Yang malas membaca; Yang enggan mengerti; Yang tak pernah belajar; Sesungguhnya hidup ini hanya sekejap;         Perjalanan dari kelahiran ke kamatian; Yang seluruh kehendaknya ada pada Mu

Hai Maha Wai,

Pinjamkan aku meski hanya satu

Hanya Kau yang Maha Tahu

Terhimpun tujuh aksara yang didesak kepada Wai dalam status pinjam oleh Rida: Tsa, Jim, Kha, Zai, Shim, Zha dan Fa. Pembelahan diri angka (baca; aksara) 1 menjadi tujuh, dan berbondong-bondong lagi kembali ke alamat satu. Lihat penutup dari puisi ini: Hai Maha Wai; Pinjamkan aku meski hanya satu; Hanya Engkau yang Maha Tahu.

Tsa, untuk safari. Sebuah jalan kembara yang melontarkan jiwa untuk meresepsi (menyerap) makrokosmos maha luas ini. Jua jalan kembara menuju jalan pulang yang sesak ratap.  Inilah gambaran pengembaraan ‘mistika kedidi”.

Jim; untuk tangkal kesadaran bernama jembia. Perlindungan bagi yang tak percaya diri. Demi mengasah tawakkal. Senjata sandang pinggang sang kembara “mistika”.

Kha, demi muainya alam “khayali”, simbol pilihan bebas dan kemerdekaan insani. Selaku makhluk kreatif, manusia mendaki tangga kreativitas yang menyatu dengan perbuatannya. Sehingga manusia mampu menjadikan dirinya selaku makhluk sempurna, di depan alam dan di depan Tuhan. Mampu menembus batas-batas fisik, meragut capaian yang tak terbatas pula, hingga melampui benda-benda alam lainnya. Dia dianugerahi jiwa yang kuat yang diserap dari alam, sehingga dia mampu membuat segala sesuatu yang diinginkannya yang tak terdapat dalam alam.

Zai, demi persumpahan Musa? Ya, zaitun. Energi dan semangat untuk sebuah peristiwa pemanggulan puisi-puisi di atas badan yang rapuh-renta.

Shim, syukur sebagai ekspresi makhluk sosial. Karena Rida pernah disibukkan sebagai “manusia bazaar” dengan bertandan-tandan pengabdian. Dan saat ini, kesyukuran semantis itu berpembawaan selaku “manusia kamar” alias “manusia goa” yang lepuh oleh air mata.

Zha, penghalau takabur. Manusia sebenarnya tak pernah menjadi sesuatu, ujar Blaise Pascal. Dia hanya seonggok daging yang tak berarti. Dengan sekedar virus halus saja cukup untuk mematikannya. Akan tetapi jika semua makhluk yang ada di bumi ini berupaya mematikannya, ternyata dia lebih perkasa.

Fa, untuk penebas rimba fasyik dan kebebalan. Tweiny berkata: “manusia ialah makhluk mandiri atas dirinya sendiri. Dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memiliki pengetahuan budaya dalam nisbah dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, memungkinkan manusia untuk mempelajari dirinya sebagai obyek yang terpisah dari dirinya: menarik hubungan sebab akibat, menganalisis, mendefenisi, memberi penilaian dan akhirnya mengubah dirinya sendiri.

Doctor Maxima (Syaikh al Akbar) Ibn Arabi membagi huruf dalam tiga tampilan: (1). Huruf yang ditulis atau raqmiyah, (2). Huruf dalam ucapan atau lafziyyah. Dan (3) huruf yang dihadirkan atau mustahdarah.  Khusus yang ke (3), maksudnya adalah huruf-huruf yang dihadirkan atau yang digambarkan manusia dalam bayangan dan imajinasi. Mereka bisa menghadirkannya dalam bentuk tulisan dan suara. Huruf-huruf terucap dan huruf yang dihadirkan, akan selalu kekal. Huruf juga memiliki khasiat. Bukan dari segi sebagai huruf. Tapi karena mereka adalah bentuk-bentuk (asykal). Ketika huruf-huruf itu memiliki bentuk, maka bentuk itulah kandungan khasiatnya.

Rida, mencabut huruf-huruf itu jadi jampi, cuca dan mantera.

Dari segi bentuk huruf-huruf (Arab); memiliki sifat Basah, Kering, Dingin dan Panas. Misalnya: huruf dal, lam, ‘ain, rha, sifat Basah. Sifat Kering mencakup: Jim, zai, tsa, kha, sa dan dzha. Dingin:  ba, wau, ya, nun, shad, ta, dan zho. Panas: alif, ha (kubra), tho, mim, fa, dan za.

Jampi, cuca, mantera atau pun wafaq menyesuaikan sifat dan cuaca (cakrawala). Rida bermain-main di laman ini… Huruf adalah bentuk-bentuk yang berubah. Sementara tinta adalah wujud tetap. Rida berenang dalam tasik gemuruh (tinta), yang di situ Tuhan tidak dicorakkan sebagai “lembaga Wahyu Monarkhi”.

 

Kembara Istighfar

Ha,… semacam haiku Melayu ukuran mezzo. Rida menulis puisi pendek SYAHADAT CINTA.  Ini memberi kesan sebuah perjanjian primordial di awal penciptaan kosmis. Ya, sebuah syahadat pendek dengan repetisi bunyi ‘u’. Lorong semantika Melayu selalu mengalamatkan bunyi ‘u’ sebagai dudu, isak merebah, tangis pengikat sebuah janji (persaksian). Sebuah sentakan ‘seru’ (perintah atau imperatif). Ya, janji, sumpah. Sumpah atau janji dalam ‘gaya Tuhan” jamak diawali dengan kata “demi”: Demi bulan, demi matahari, demi waktu dhuha, demi bintang, demi pohon Tin dst.  Rida memainkan bunyi ‘u’ yang merdu menderu,  sekaligus meng-gagu untuk sebuah syahadah (janji dan persaksian).

SYAHADAT CINTA

Hai Maha Wai

Aku memberi alif pada cinta ku

Biar mampu menyimpan tunggu

Membangun tugu

Penanda rindu ku

Membiarkan waktu menjadikannya debu

 

Pilihan lay out (tata letak) sajak ini adalah center: Memberi efek apung dan mengapung. Tak dipengaruhi sisian kiri dan kanan. Hanya memihak “diri sendiri” demi “Dang Wai”. Sebuah persumpahan yang “tegak” ke langit dan menikam ke bumi (qalbu dengan –q-). Bunyi “u” yang repetitif, selain menggelorakan “poetical image” yang kuat, juga mempersaksikan diri laksana “debu”: Berasal mula debu, merindu debu.

Sekali lagi, debu dan jalan cinta. Kita dihanyutkan peristiwa al Hallaj. Annemarie Schimmel  mencatat perjalanan cinta Hallaj: “Rahasia tersembunyi di dada bukanlah khotbah; kau tak bisa mengucapkannya di mimbar, tapi di tiang gantungan”. Sajak Gahlib yang dikutip ini, ingin menggambarkan bagaimana kematian (ajal) sebagai satu-satunya cara yang sah untuk menyatakan perpaduan cinta al Hallaj.

Debu, dalam analogi Rida setara dengan ajal (kematian/ batas atau had). Di situ gemurah (nenek moyang) segala cinta berpadu dan mencantum kembali (reinstalled). Dengan ‘mati’, bunga mekar dalam nada cinta. Nyanyian rakyat Sindhi yang menyayat-nyayat dari lembah ke lembah, menjadi nandung terperih sepanjang sejarah ingatan tentang Hallaj: “Kalau kau ingin tahu jalan cinta, tanyakan kepada mereka laksana Mansur”.

Bayazid al Bistami menggoda pemikiran Vedanta, berharap penghapusan segala jejak diri. Sekaligus tak mengharap perluasan sebuah ciptaan. Itulah debu, versi Rida. Ajaran Vedanta berkata: tat twam asi, “itulah engkau”.

Sebaliknya, Nabi Isa (Jesus) selaku pengembara ‘mistika’ tak bertempat tinggal. Mengembara tanpa tahu di mana boleh menyandarkan kepala, memikul ajaran kerendahan hati, kedamaian, kedermawanan. Laksana Sidharta yang membiarkan kakinya menghala-tuju tanpa arah angin, demi kecerahan jiwa yang debu tapi tak debu. Maksudnya? Abu Thalib al-Makki mengiktibar lelaku ini: “Sebagaimana layaknya benih, tak tumbuh dari debu, benih kebijaksanaan pun tak bisa tumbuh dari hati bagai debu”. Majas, debu yang dihampar Rida, adalah sebuah semangat menegasi akan debu. Merindu heaven dust (debu swarga).  Di sini, debu, adakah bak sebuah “proyek langit”?

 

BERIKAN AKU SAJJADAH

Sosok compang camping

Dari masa laluku

Bertabik di pintu

:  Beri aku sajjadah

Lalu terdengar isak tangis seperti puisi

yang dibacakan

di malam yang kehilangan detak jarumnya

Sembilu masa lalu berhujjah

: Berlututlah sebelum pintu tertutup dan kau perlu

beribu ribu istigfar untuk membukanya kembali.

itupun kalau wahai kau sampai ke Maha Wai

dan ketuk tasbihmu menembus pintu aduhai Mu

Pola larik dari puisi ini terkesan mantera, cuca yang dirapal tanpa titik, koma; sungut menderuuu… lalu dikhatami sejenis sembur magis (serapah) “Kuuurr semangat...”.  Ini mantera magis Melayu yang menyelusup ke tulang sumsum (dunia bawah sadar) Rida selaku anak Melayu pulau. Remah syihir dan mantera itu dia pungut demi dialog dengan diri sendiri (soliloquy). Utamanya pada dua bait terakhir. Struktur mantera menari-nari dalam binar alam bawah sadar kolektif manusia Sekanak, sembari memetik bintang di langit malam nan legam. Kisah daun pintu? Ya, teringat Rumi: Beribu jerit depan pintu, bila tak disahut, daun tak kan terbuka”.

Lanjut Rumi: “Where should I go, when the journey is within my ego?” (Ke mana daku mesti berlari, kalau kan perjalanan itu di dalam diri?)

Penggal Kedua, Ruam Ode Panjang

Ode Subhanallah. Tuhan Maha Suci, der Heilige Gott. Antara kekudusan dan kehilangan. Dua titik rentang yang mendegub jantung, lelehan air mata dan maha duka. Bagi Tuhan, kehilangan, kesirnaan dan ketiadaan telah menjalani vaksinasi booster ke-7. Alias kebal dan imun. Manusia saja yang meleleh-leleh meratapi kehilangan. Kehilangan itu sejatinya gagah, handsome dan tampan. Lalu, kenapa kehilangan diraut dalam pilu, dalam ratap? Padahal, tanpa kehilangan, manusia tak bisa me-reka hero (wira) sebuah zaman. Kematian, menarik garis tegas tentang waktu: lalu dan akan, juga kini. Tanpa kematian, ujar Heidegger, kita kehilangan orientasi waktu ke mana kita menghadap. Tidak ada sejarah, tidak ada rencana dan program. Tidak ada tindakan demonstratif ke masa depan, tidak ada renungan tentang lalu dan kesirnaan. Singkat kata; konsep temporalitas dan keabadian hadir karena adanya kematian dan kehilangan. Dunia barzakh juga menyembul berkat adanya kematian. Fenomena liminal, menyedia ruang “antara” (barzakh) yang kuyup dengan sejumlah “penceritaan” (antara lain; pingsan, ekstase atau malah laksana ‘jalu’ alias walking sleep). Waktu bak pandu bagi manusia kala dia berjiran tetangga dengan kehilangan.

 

DI MANA KINI JEJAK LAKSMANA?

Kami Cuma melekatkannya dalam pantun;Sekali sekala kami lantun;Sebagai iktibar dan jadi penuntun;Kalau tidak karena ketupat;Takkan bernama Hari Raya;Kalau tidak karena hebatnya silat;Takkan Taming Sari sampai ke Melaka

Tanda Melayu bangsa yang jaya;Memberi sumbangan pada dunia;Sebelum bangga menyumbangkan bahasa;Hang Tuah lebih dulu menghamparkan jasa

Di mana makamnya sang Laksmana?;Para sejarawan bersilat kata;Mungkin di Temasik atau di Melaka;Atau ke Bentan ke negeri asal mula

Taming Sari keris sakti;Direbut dari Mojopahit; Begitulah Hang Tuah menunjuk bukti;Pendekar Melayu pantang berkelit

Hai Maha Wai; Kemana kini bahtera laksamana sampai?; Ke Bentan negeri semua aduhai?

Kehilangan, kematian, kesirnaan, sepintas lalu adalah absurditas itu sendiri. Kehilangan adalah ketiadaan primordial yang mendahului permulaan kosmos. Bidal tua: “Dari tiada menjadi ada, kembali ke tiada”. Mendorong ketiadaan hadir di tengah kehidupan serba teratur dan tertata (kosmos), dalam padangan shamanisme laksana sosok “Kekacauan” sebagai biang monster yang tak berbentuk; terlihat ganjil, gazal, primitif dan serba aneh (liyan). Tetapi, secara simbolik, kehadiran sosok monster bernama Kekacauan yang absurd itu, menopang gagasan filosofis yang secara langsung terhubung dengan inti realitas Wujud (Being).

Loa-tzu dan Chuang-tzu melihat realitas Wujud adalah Kekacauan (dengan –K- besar). Inilah sari ontologis mereka (Izutsu Toshihiko).

Parade panjang Ode yang dijulur Rida dalam penggalan kedua ini, adalah Kekacauan (Wujud) sejati melalui kaidah kehilangan. Baris banjar kehilangan dengan “waktu dekat” relatif (Ode untuk Umbu Landu Paranggi dan BILA; al Azhar) yang masih segar dalam ‘ke-me-waktu-an’, juga pranala waktu lampau yang serba kabus (sebagaimana dilambangkan kehilangan Laksmana Hang Tuah). Kehilangan, mendesak sebuah perjalanan ke dalam diri (sebagaimana sedutan Rumi di atas). Kehilangan rekan sejawat. Teman setema ideologi, setendenz perjuangan dan visi, sejatinya adalah sebuah perjalanan sekaligus eksaminasi. Lewat perjalananlah kita diperkenalkan siapa sahabat sejati, yang layak mendampingi dan mengiringi. Ujilah sahabatmu dalam tiga perkara: Menjaga rahasiamu, marah atas kesalahanmu dan setia menemani perjalananmu.

Perjalanan akhir (di dalam diri) yang mengisah kehilangan itu adalah gambaran dari waktu yang tak bertepi. Tiada kemaren, tiada kini, tiada lusa, tulat dan tubin. Tiada istilah tua, tak ada terma senioritas. Semua berada pada titik awal yang sepadan. Meloncat dan melejit dalam selonsong kompetisi yang takkan pernah mengenal akhir. Di sini, hanya ada satu pilihan: kesempurnaan (ahsan al takwin) atau dewasa. Rida melakukan perjalanan “ke dalam diri” atau malah “menikmati kematian” liminal itu dalam lantun berzanji mengenai  sejumlah kehilangan. Kematian liminal ini memabukkan Rida dalam pencarian pusara Laksemana, apakah Temasek, Melaka, atau tanah Bentan sebagai muasal primordial. Berkat kematian, Rida menjalani “serangkaian mabuk liminal” demi sebuah pencarian (menjawab hipotesis sejarah) sekaligus kemarau figur besar masa depan.

 

BILA

Mengenang Al

Hai Maha Wai

Apakah duka ku akan sampai?;Aku menyaksikannya di layar kaca;Kau terbaring kaku di tilam berseperai putih;Di ruangan tamu beralaskan permadani; Sisa sisa kebesaran Melayu;Negeri yang kau dipuja sepanjang hayat mu; Seakan tercium bau setanggi dan bahang maut;Meruap dan menembus celah celah duka;Isak tangis dan suara Yassin. Luka yang panjang

Wajahmu tetap teduh meski nampak pucat; Sisa rasa nyeri dan ngilu empedu;Cambangmu nampak menggerutu;Kelabu memanjang dari arah dagu menuju telinga;Tak ada waktu untuk bercukur;Lebih seminggu terbaring di rumah sakit

                Kumismu;Meranjau dan terkulai. Abu abu menutup garis bibir yang terkatup

Tersisa senyum misteri hati seorang Empu;Wajah yang murung dan pemenung;Seperti bayang bayang sang Iqbal;Filsuf Muslim yang pikirannya seperti jembia;Berkilat menantang zaman;Teduh dan sabar

Sosok mu terbujur gagah;Seperti pancang nibung di surut berdengung;Tercacak di samudera tempat beribu perahu datang dan pergi. Bertambat dan berlayar

Tak tampak lelah, kalah apalagi menyerah;Kerut lebam di dahi mu menanda jejak waktu;Dan kau telah menjadi nakhodanya;Berlayar dan terus berlayar;Mengangkat dan melabuh jangkar;Dari satu bandar ke lain bandar…

Sebuah eligi pagi-pagi. Kita pun tersentak atas kehilangan rekan karib (al Azhar) pada Oktober tahun silam. Oohhh Duhai dodoiiii, disusul “Ode untuk Umbu Landu Paranggi”: “kematian adalah maha puisi; yang kita tak tahu bila kita berhenti menulisnya; kapan tak lagi punya suara membacanya; tapi jangan berduka; seperti rerumputan tipis, kering dan kuning di padang savana sumba mu, puisi puisi mu bertebaran menjadi lukisan abadi di dalam buku buku mu”…

Berlainan dengan narsisme yang menyerang netizen hari ini; produk selfie, update status terbaru di media sosial dengan ragam tampilan gambar (foto) diri dan keluarga seolah-olah bahagia dalam segala cuaca. Hyperlink melakukan interupsi saban tatap, sehingga orang tak pernah fokus dan tumpu pada satu isu. Termasuk isu perjalanan panjang dan perjalanan dalam diri. Narsisme adalah produk sosial untuk menjelaskan bahwa “Ego manusia didasari oleh sebuah hubungan imajiner” ujar Kristeva.

Hubungan imajiner ini untuk menimbus kekosongan. Demi semua itu, narsisme sebagai sebuah proyek, dengan tujuan melindungi kekosongan, dan membuatnya tetap ada. Senyampang berperan bak separasi atas kekosongan (kehilangan) itu, sekaligus dia adalah pembeda yang mendasar. “Tanpa solidaritas antara kekosongan dan narsisme, kekacauan akan menyapu segala kemungkinan atas adanya pembeda, jejak, dan simbolisasi yang turut membingunkan batasan-batasan tubuh, kata, apa yang nyata dan simbolis” (Kristeva).

Rida tak terperangkap relasi narsistik itu. Namun dia, menghimpun sejumlah nama sejawat yang hilang termasuk wira, ingin melakukan semacam identifikasi yang didasari kasih sayang (Einfuehlung; dalam gaya asimilasi perasaan orang lain). Sekali lagi dia bukan relasi narsisme yang menurut keyakinan Freudian adalah sebuah produk “aksi baru” pihak ketiga sebagai pelengkap autoerotisme (purba/archetype): “Die autoerotischen Triebe sind aber uhrfanglich; es muss also irgend etwas zum Autoerotismus hinzukommen, eine neue psychische Aktion, urn den Narzismus zu gestalten” (Desakan autoerotis, walau begitu, telah ada sejak awal; oleh sebab itu, harus ada sesuatu yang ditambahkan pada autoerotisme –sebuah tindakan fisik—demi memunculkan lelaku narsisme).

Kekacauan (kematian, kehilangan) itu membuat kita menghentikan sejenak kegiatan “narsistik” sehari-hari. Kita diajak merenung secara eksistensial: kenapa mati, mengapa mati, ada apa dengan mati, bagaimana seharusnya mati? Di dalam mati, narsisme terhenti.

Selamatkanlah kehidupan, sebagaimana menyelamatkan kematian dengan nama besar dan mengampu kebesaran. Buddha berkata; “Kehidupan adalah milik orang yang berusaha menyelamatkan kehidupan. Orang yang berusaha menghancurkannya, tidak berhak atas hidup ini”. Mereka yang menghargai kematian adalah mereka yang membenamkan kesadaran akan pentingnya kehidupan. Bukan semata imajiner, kehidupan dan kematian bersepupu faktual. Si hiduplah yang layak mengingat indah dan pentingnya kematian dalam seloka, eligi, ode, hymne dan nyanyi panjang.

Kehilangan Mahkota Melayu yang dijulang sejarah ingatan. LAKSAMANA DIMANA NEGERI KITA? Ini persoalan entitas, jelita masa lalu yang dilap, hingga  tampil gemerlap. Sesuatu yang hilang bernilai gemala, ketika diteropong pada masa kini. Maka, berlaku ujaran sinis-produktif: “Masa lalu, ketika diperhadap-hadapkan secara oposisional dengan masa kini, maka yang keluar sebagai pemenangnya adalah: M A S A  L A L U…”. Demikianlah, kehilangan berjiran dengan kecemerlangan itu sendiri. Lalu, bagaimana kita memproyek(si) masa depan?

MAKA MUDIKLAH RAJA ALAM, rerangkai remah sejarah yang dipungut Rida dalam galau kehilangan. NYANYI LUKA UNTUK SUHADA SYAFIRA, SEORANG PENYAIR DIKUBURKAN HARI INI, lalu ada setangkai puisi yang cantik MENGENANG SDD, cukup menggetar nilai kehilangan dalam senggugukan Rida: “Kehilangan adalah puisi yang tak pernah selesai ditulis; seperti hari yang tak bisa menunda hujan; mesti mendung diusir angin; tapi luka yang membumbung bersama kata kata; tak bisa menjadi garam waktu; mencairkan duka kembali menulis puisi di jalan jalan

Kehilangan adalah ingatan yang kerap bangkit; seperti butir air yang menguap; kembali jadi hujan ketika kata-kata mengetuk kaca jendela; dan kita menengadah ke langit, mendengar waktu berkata kata, dan kita merasa ada sesuatu yang tak kembali, telah menjadi puisi yang menuliskan puisinya di jalan jalan”.

Wah…, ini adalah puisi teramat bening, telus menembus. Seterang bening air dalam gelas. Kata-kata dalam puisi ini bukan lagi air, tapi adalah H2O. Hujan yang mengandung H2O, jendela yang diusap H2O, angin melontar H2O, luka dibalut H2O, sehingga duka yang berulang-ulang, berubah dan menjelma bak senandung merdu. Di sini kata-kata tidak berlari dalam makna analogis (makna majasi). Tapi sudah menjilat wilayah batinnya kata-kata (makna anagogis). Dia menjelaskan jenis kematian “auf Leben” (mati jam dinding karena kehabisan baterai) dalam pandangan Heidegger. Tak pula, kematian dalam makna “Sterben”, kematian jenis kedua (mati yang terencana, demi nama besar, harum mewangi dan lain-lain).

Tentang kematian atau kehilangan. Jangan berharap pada seorang yang mengesip garam untuk membangun monumen. Monumen baginya tak lebih dari rasa yang tertinggal di ujung lidah: Sirna. Sepanjang hidup, kita menjalani serangkaian kematian. Memang tak disadari. Kematian, melahirkan sejumlah kehidupan baru. Bisa terjadi di dalam tubuh: kematian dan pergantian sel. Tubuh adalah alam. Alam kecil yang menjelaskan “alam makro” yang menjalani persalinan antara hidup dan mati: demi tunas baru. Malam datang merayap, lalu membungkus (membunuh) siang dengan legam: gelap. Sebaliknya siang datang juga dalam gaya merayap demi memeluk malam: terang. Kedatangan fenomena alam ini tidak berlari, tapi berangsur-angsur, perlahan dan pasti. Begitulah kematian dan kehidupan. Malam datang adalah kematian bagi siang. Siang, laksana kehidupan, pun datang demi membunuh malam: perlahan dan serba merayap.

Kehidupan akan terasa ganjil tanpa kematian. Bayangkanlah, sosok manusia zaman Nabi Nuh masih hidup dan bergentayangan sampai hari ini. Bagaimana kita menyikapinya? Apatah lagi sosok ini bergila-gila pula di media sosial.  Makhluk sejenis ini tak memberi kesempatan bagi percabangan baru atau tunas baru untuk kehidupan generasi pelapis setelah dia. Betapa egoisnya jenis makhluk yang tak mati-mati seperti ini. Maka, sejak awal, saya tanamkan bahwa kematian atau kehilangan itu gagah dan handsome, cantik dan jelita. Rinduilah kematian…

Hujan selayang memberi kehidupan baru. Hujan bah membanjiri kota dan kampung-kampung; membawa kematian. Di sini banjir memposisikan diri selaku “instrumen penggoda”. Bencana alam, perang juga jalan kematian yang bisa diiktibar menjadi hikmah. Lewat perang yang brutal, Eropa menerjemah nilai-nilai kemanusia terpuncak yang dipeluk hingga kini. Dari peristiwa perang lahirlah prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia.

Mengantuk itu enak, tapi mati lebih enak lagi. Namun, yang lebih enak lagi dari keduanya adalah tidak lahir sama sekali”, ujar Schopenhauer. Lalu, bagaimana Nietzsche menggubal cerita pesimisme eksistensial kehidupan? “Kehidupan ialah beban. Hidup adalah tragedi. Manusia diciptakan untuk memikul beban itu. Tersebab itu, maka bergembiralah dengan kematian. Sebab, dengan kematianlah kita terbebas dati segala beban”.

Kematian ialah sebuah ‘suasana’ (state of mind). Hidup itu bergerak, lalu diam, kaku, beku dan melapuk. Maka, dengan cara mendiamkan badan dari gerak dan mematikan ide sejenak, sejatinya kita tengah menjalani kematian demi melahirkan berjuta tunas pemikiran baru. Ibarat pergantian sel dalam tubuh yang memerlukan kematian sel per menit dalam jumlah 13 milyar sel, maka, menjenakkan “diam” beberapa saat ialah jalan bijak untuk membebaskan beban itu, demi menyongsong siang yang menghangat.  Kedatangan hangat itu, tetap dalam moda merayap…

Membalikkan tangis duka, menjadi suka cita atas kematian, al Halajj mengajari itu. Demikian pula Suhrawardi al Maqtul yang ikut mempromosikan “kegembiraan atas kematian”. Jauh sebelum ini, Imam Hussein (cucu Baginda Nabi) berkata pendek: “Laa ara al-mauta illaa-sa’aadah” (daku tak melihat kematian, terkecuali setangkai kegembiraan). Dan, kalimat lebih pandak dari itu: “Yaa suyuuf, khudzini!” (Duhai pedang, bawa terbanglah nyawaku!).

 

Penggalan Ketiga: Walhamdulillah

Masih dalam gelungan sajak-sajak “tak putus” wudhu. Rida menghidang kebimbangan platonik (stoici). Lihat sajak-sajak berikut ini.

 

DAYANGKU LAUT (DUA)

Hai Maha Wai; Akan sampaikah nyanyian ombak?

O, Dayangku laut;Berhentilah menangis saat bulan mengambang;Air mata mu tak lagi manjur jadi sihir; kemewahan sudah membeli hidup; Cinta telah terpuruk ke dalam keranjang sampah; Sudahlah!

O Dayangku Laut

Ngembaralah ke laut dalam; ke palung-palung baru benua lain; yang airnya masih terasa garam; yang lautnya  masih biru menyimpan gemuruh rindu; disini, padang lamun tempat kau bersembang setiap petang; semakin kelam, berlinyang; Kapal kapal membuang ballas, menyamak kehidupan laut; Meremuk karang membunuh biota. Palung rindumu telah menjadi ruang kematian….

O Dayangku Laut

Musim ombak, musim angin; sudah tak lagi berurut; Tiap waktu membuat laut selalu surut; Kau tak lagi boleh berenang; sambil mengenang berahimu yang hanyut; menuju celah celah batu dan terumbu; Meneteskan keturunan yang baru; para pemburu kemejan kini berubah jadi pembunuh; mengasah tempuling setiap petang menunggu kau timbul dan berenang pulang…

Tunggul-tunggul ingatan sepanjang puisi DAYANGKU LAUT (DUA); Ampuan (kualitas feminin), Empu(laut), kemudian bergerilya menjadi Pulau secara etimologis; “alam merawat”, memelihara, cerutai angin (bak cerutai perempuan), semua dipikul dalam semangat “Dang Wai kualitas feminin”. Diksi “dayang” (dengan segala perkakas feminin) Rida, menyorong “alam bawah sadar dunia Sekanak” dalam modus lain: kosmografi alam selat dan pulau-pulau dengan pasir dan tebing nan molek berkilau. Kosmografi selat, dunia selat, sehingga muncul terma orang Seletar (dari kata Selat). Kaum ini lah pemilik sah dan dinisbahkan oleh sultan untuk memberi nama-nama ke atas sekotah rantau pulau, tanjung, teluk, tokong dan sejumlah busung dengan air pasang perbani. Sebuah ruang “Samudera Melayu” yang aduhai. Ditarik dari Utara pulau Bunguran hingga pulau Berhala di Selatan; pulau Kundur di Barat dan Tembelan di Timur  mata angin.  Di sini hidup kaum “Viking Selat”, boleh disapa sebagai orang Mesuku, orang Mantang, Orang Laut yang bertajuk lidah dengan kaum Bulang Linggi, Iranun (kemudian diberi kesan pejoratif, menjadi Lanun) di tanduk Sabah (sabuk taufan). Bertajuk lidah secara pertiwi dengan kaum Bajau (Bajo) di Teluk Tomini, berputar lagi ke Lahad Datu dan Palawan di Selatan Filipina hari ini.

Tanah Rempang, tak jauh dari Cate-Pasirpanjang (selatan Batam), ada pemukiman tua kaum Melayu pulau. Ditandai semacam “Gunungan Kerang” atau “bukit kerang”  (kjokkenmoddinger); tinggalan budaya mezolitik (zaman batu pertengahan); sebuah babakan prasejarah. Situs terbentuk hasil sisa makanan manusia dalam tampilan menyerupai bukit (bukit kerang). Sebuah majalah terkenal Indonesia, pernah mengeksplorasi wilayah ini. Dan, Rida amat ranum selaku jurnalis senior membaca tapak-tapak tua, tapak sejarah dan laluan sejarah Melayu di rantau Segantang Lada ini.

Endapan “pengetahuan” kosmografi selat dan pulau inilah yang melontar kembara Rida menemukan diksi kemejan, gajah mina, daun setu yang terkesan arkhaik itu. Persentuhan dia dengan segala kaum pada masa mudanya, berdialog dengan kaum boat dwelling (orang Laut) yang menggenapkan intelektualitas kepenyairan Rida bersama rekan sezamannya Eddy Mawuntu, Hasan Junus yang memposisikan Tanjung Pinang selaku kosmopolitan “dunia Melayu” yang bergemuruh dengan tradisi tulis dan kepengarangan. Lalu Rida datang ke suak rantau selat ini menjinjit puisi dalam semangat “menyelamat” (salvator), merawat dan memelihara. Meratapi sejumlah kehilangan penanda natura; pantai yang berlinyang, ballas yang tumpah, biota air menjalani sekarat panjang, teluk dituba, tanjung ditampas. Gergasi penjaga pantai mengejar rakyat wangsa Melayu berbalas pantun dan berbalas rindu dengan sanak sedarah mereka di utara selat. Rida datang dengan semangat “Dang Wai” (kualitas feminin). Tuhan hadir dalam dimensi “Tuhan Jamaliyah”. Tuhan nan Jelita dengan juluran tangan putih monoteismenya. Bukan Tuhan Jalaliyah; Tuhan perkasa yang mengepalkan tinju.

Saya terkenang perjalanan sejarah mistisme-esoterik; pergerakan pasi (passion; derita) sekaligus aksi (action, tindakan), yang secara etimologis,  kata-kata ini (dalam telaah Corbin) berasal dari Hellenik (Yunani), yaitu pathetic dan poietic, dengan kandungan sifat dasarnya; menerima (receptive) dan mencipta (creative). Inilah visi teofanik yang melatar bayangan feminitas tindakan Tuhan Jamaliyah itu yang diraungkan Rida sepanjang pantai, selingkar pinggang pulau dalam dunia selat yang aduhai cemar itu; cemar udara, laut, suara, cahaya dan kuntum bunga.

Puisi ini bagai anamnesis (dzikir) kepada Sophia aertena (Kebijaksanaan Abadi), yang pada awal mula dibangun dalam sangkaan perpaduan sifat lelaki dan perempuan (androgyne). Setelah mengalami metamorfosis tuntunan esoterik itu menuju pada penampakan dang perempuan abadi sebagai bayangan Tuhan. Ibn Arabi menukil ini, pun Jalaluddin Rumi. Corbin membuat catatan tegas: bahwa feminin bukan diperhadap-hadapkan secara oposisional dengan maskulin, sebagaimana patiens dengan agens. Feminin melingkupi kedua aspek; reseptif dan aktif. Sementara maskulin hanya melingkupi salah satunya saja. Rumi bersyair dalam Matsnawi: “Perempuan adalah seberkas Cahaya Ilahi; Dia bukanlah wujud yang jadi sasaran hasrat nafsu; Dia adalah Pencipta, baiknya disebut begitu; Dia bukan makhluk”.

Matsnawi Rumi (semacam Quran- e Farsi), oleh Nicholson, dan selanjutnya memberi kesempatan bagi para pensyarah di belakangnya untuk mempertautkan doktrin Rumi dengan doktrin Ibn Arabi; teks Matsnawi dan teks Fushus. “Perempuan adalah tipe terluhur dari keindahan di bumi, namun keindahan di bumi ini tak ada artinya kecuali menjadi manifestasi dan pantulan dari sifat-sifat Ilahi”. Najm Daya Razi berkata: “Kala Adam merenung kecantikan Hawa, dia melihat sorot sinar keindahan Ilahi”.

Ibn Arabi secara tegas menukil, (kutipan dari Wali Muhammad), “Keutamaan perempuan (karena wujudnya mengkombinasi mode ganda actio dan passio): “Ketahuilah bahwa Tuhan tak mungkin direnungkan terlepas dari wujud konkrit dan ketahuilah bahwa Dia terlihat secara lebih sempurna dalam wujud manusia daripada dalam wujud lainnya, dan lebih sempurna dalam perempuan ketimbang dalam wujud laki-laki

Andai Hewan punya resepsi dan akal, maka hewan akan mereproduksi image akan Tuhan dalam gambaran hewan pula. Cecak membayangkan Tuhan dalam cara cecak.  Dan begitulah seterusnya pembayangan akan Tuhan (Imago Dei). Maha Wai, Tuhan dalam bayangan Rida, adalah entitas Wai yang feminin (Dayangku) yang meliputi dua sifat: reseptif dan aktif. Bukan Tuhan maskulin. Walau Wai adalah sapaan brotherhood (pertemanan) dalam tajuk sesama lelaki. Namun semangat yang mengampu Wai itu adalah semangat dengan kualitas feminin. Inilah absurditas perpaduan androgyne itu (teringat lukisan da Vinci: Monalisa). Di tangan Rida, Wai tampil bak Monalisa.

O Dayangku Laut

Riwayatmu, mitos mu, legendamu telah tamat; Sejarah telah berubah; Sudahlah! Pergilah mengembara; Ke laut laut dalam; Ke palung palung baru; Ke benua benua lain

O Dayangku Laut

(2020)

Seakan tak menyerah, serlahkan sejarah baru di lembaran palung-palung baru. Rerangkai analogi yang mematah kalah. Berundur selangkah untuk maju seribu langkah. Masih banyak laut kalzum yang menyediakan “rumah kehangatan” di planet ini. “Caharilah oleh mu akan Tuhan yang bahari”…

SANG PENGEMBARA

Hai Maha Wai

Biarkan dia seperti Sea Walker*); terus ngembara; Biar dia tetap bisa menyaksikan; Bagaimana sebutir pasir berubah menjadi pantai; atau sebuah gunung runtuh menjadi sebutir debu; dan buku buku sejarah tersedu;

Yang tersulit dalam hidup; bukan bagaimana saling mencintai; tapi bagaimana bisa hidup bersama selamanya; Dan menyimpannya dalam album keluarga;

Cinta bukanlah segalanya; karena ada nafsu dan hianat; yang selalau berdiri di depan pintu; mesti masih ada kesetiaan; yang bisa tak berbelah bagi; dan kau bisa menulisnya di peti mati: Takkan berubah!

Rida setia dalam “penceritaan Melayu”, gaya dan sentak teramat kaya dalam larik Melayu yang melantun dan mendodoi senja. Sajak yang molek dan mengesan kedalaman “dunia batin” daku yang tak kau ketahui dalam candra “dunia batin” mu (orang kedua, tunggal atau pun jamak). Ini memang gaya Melayu yang aduhai…

Cinta adalah diri yang tegak, bak pancang nibung di tengah deras arus berolak.

 

Spiritualitas tanpa Daratan

Tanah menyuling dua ihwal; sebagai land (negeri) dan tanah selaku soil (kesuburan untuk menanam). Kedua-duanya ditinggal Rida. Dia asyik berenang dengan simbol-simbol bahari (masa lalu dalam sejumlah arkian) dan pertanda-pertanda maritim (ke-me-laut-an) sebagai tapak kembara spiritual. Kembara itu sendiri mendesak spiritualitas. Spiritualitas dalam gaya safari ke “ruang-ruang liar”. Dia bicara hujan, hujan di laut. Lalu, air yang turun dari langit, itu bolehlah disapa selaku air hujan. Ketika mengembara di laut dan selat, air itu jatuh di segara. Dan, tak boleh disebut air hujan lagi. Dia sudah menjelma menjadi air laut. Air itu berhanyut masuk ke suak laguna, dia menjadi air laguna. Atau air yang jatuh dari langit (disebut hujan) itu menggenangi tasik, danau, dia menjelma sebagai air danau dan air tasik. Masuk ke sungai dia menjadi air sungai. Dimasukkan ke dalam gelas, disebut air gelas. Tiba di dalam botol, dia adalah  air botol. Masuk dalam tempayan, dia berubah jadi air tempayan. Air itu mengikuti bentuk wadahnya. Lantas, apa air sebenarnya? Air yang sebenar air adalah H2O.

Rida tak terkesima dengan wadah (agama). Laut, tasik, danau, sungai, gelas, botol dan tempayan adalah wadah. Rida melampaui itu semua. Dia melampaui wadah. Itulah spiritualitas. Dia mengusik H2O (spiritualitas). Mengurai spiritualitas dan menjalaninya, tidak di atas perkakas dan simbol-simbol daratan (benua). Tapi dia mendaras lincah lewat simbol-simbol laut, selat, samudera dan segala ihwal kemaritiman yang terkandung di dalamnya. Sebuah cara “mengejek” dan “menyorak”  perilaku orang-orang di daratan ketika berada di atas lautan.

Terhimpun tiga nama agung yang saya kemas terkait dengan laut dan pertemuan dua laut; Khidr (al ilmyi al ladunyi), Jonah alias nabi Yunus membangun spiritualitas dalam perut ikan. Dan terakhir, Ibn Arabi yang didesak oleh para penumpang untuk memanjat tiang layar yang paling tinggi kala laut bergolak hitam legam untuk sebuah doa keselamatan.

Rida bergurau dengan orang Mepar, orang Marok, orang Pangkil, Karas, orang Mantang dalam simbol-simbol spiritualitas. Tak hanya itu, dia menyeret kemejan, simbol perkasa penguasa alam laut (ingat Nabi Yunus). Memihak dan menyatu dalam cara orientasi ruang (spatial orientation) orang yang berlidah laut, berleher laut, berdagu laut dan bedada laut.

Jik Anda mengarungi laut lepas di pantai timur Bintan, sekalian berniat mencari ikan, anda akan menjalani fase-fase liminal (kehilangan kesadaran, alias ‘pingsan platonis’); ke mana harus menghadap. Di mana palung, di mana hutan kekarangan air (terumbu karang); di situlah istana ikan (bagi Jonah, bagi Khidr). Dalam misteri laut, Khidr bersetia dengan selubung deja vu dan jamais vu. Khidr menjinjit psikologi “deja vu” amat setia, hingga kini dia dipelajari sebagai bagian dari penyingkapan spiritual (ingat teologi angka-angka) yang mempersalinkan dirinya dalam jelmaan-jelmaan (belahan jiwa@ soulmate). Seakan pernah mengalami, sebenarnya tidak (deja vu); seakan belum pernah, padahal sudah (jamais vu). Keperkasaan tirai Laduni Khidr ini lah yang membuat Musa berlutut dan berguru.

Kita didesak Rida untuk berguru kepada Mantang, Marok, orang Mesuku, orang Pangkil dan Karas. Kala kita kehilangan “ruang” di tengah laut lepas, dalam keadaan lapar; Bintan hanya menyisa badan gunung dan puncaknya. Di tengah laut lepas itu, hanya ada tersisa sebuah pulau kecil. Jangan gugup dan menggetar. Gerakkan perahu mu, berkisar perlahan-lahan di belakang pulau kecil itu. Tugas mu adalah mempersatukan titik pulau kecil itu dengan tubuh gunung Bintan. Setelah dua titik itu menyatu, lalu jatuhkan kail, mata pancing atau apa pun alat tangkap: Itulah terumbu karang. Kastil cinta bagi ikan dan segala biota laut. Lapar terselesaikan. Kalau haus dahaga? Itu urusan anda ketika masih di daratan.

Para “marhaen” laut itu mengutip dan memungut apa yang ada dan tersadai dalam serpihan waktu bergerak (modernitas) yang menyerang pulau-pulau besar di wilayah segantang lada. Orang Pangkil dan Karas, sehebat apa pun pertumbuhan Batam sebagai pusat kapitalisme modern, tak akan melupakan Pinang (Tanjung). Mereka pagi-pagi mengokah ciau menuju Pelantar Dua dan kedai kopi. Ada ‘pertuanan niaga’ secara tradisi di sana. Ya, para tauke yang menyambung mimpi dan impian sekitar pulau.

Seindah indah nya mati; adalah ketika kau bisa mewariskan sebuah puisi; Meski hanya sebaris luka; Meski tak sehebat Hawa;

Hai Maha Wai; Biarkan dia terus ngembara; Seperti Sea Walker si penjelajah laut; sesekali tersadai di pantai; merasakan denyut hari; Menguji kesetiaannya pada ombak, menyadari hakekat sebutir pasir yang dengan kehendak mu pun akan menjadi sihir terus berdesir seperti syair; Syair sebutir pasir… (sedutan Sang Pengembara)

Orang-orang Penyengat pula, masih juga setia menyapa sebuah titik gemuruh modernitas di utara sana dengan sebutan “nak ke Selat” (artinya Singapura). Inilah dunia selat dan segara dalam timangan Melayu segugus pulau-pulau berasa jazirah Asia. Bukan anaknya Sumatera. Mereka diikat dalam satu garis lintang tambang (mine) yang dikenal sebagai tin belt (sabuk timah) sejak dari Lembah Klang Selangor hingga ke pulau Belitung (paling selatan). Singapura sebagai titik tumpu dunia selat itu, dia hanya dibatasi oleh sebuah selat separoh lingkar (semi parabola) dengan Semenanjung: inilah selat Teberau. Teberau, sejenis tebu-tebuan pesisir tebing pantai. Di sini juga orang-orang yang berstatus sea-nomade itu mendapat nama dalam resam toponim (selat) menjadi orang Seletar. Inilah wilayah rapah dan arau Rida masa kecil hingga remaja (tambah Singkep –Lingga dan gugus pulau selatan Senayang). Jangan lihat Rida selaku makhluk Pekanbaru sang raja media. Juga jangan lihat Rida selaku makhluk “mediator kebudayaan” senior yang bertahan kembali pulang ke tanah Bintan hari ini dalam selaksa kaidah capaian puncak gemala. Rida juga mengalami “Laut Kelelahan”:

Hai maha Wai; Meski hanya sejumput resa; Biarkan aku menjadi sebongkah rasa, yang membangun sungai hasrat, di hamparan sajjadah cinta mu; Biar aku tulis dalam puisi puisi ku; Catatan laut rasa lelahku; Itulah sujud ku; Itulah zikir ku; yang menjadi lagu sunyi ku: Dalam petikan biola resahku

Hai Maha Wai, Maha Waktu, Maha Kata, Maha Resa, Maha Resah; Meski sehawai sampai; Meski hanya sehawai aduhai; Ujudlah dalam puisi puisi ku; Jadilah sujud ku; Jadilah zikir ku; Jadilah nyanyi sunyi ku; Yang gemetar dalam petikan resah rinduku (sedutan dari Laut Rasa Lelahku.) Rida melelah dalam kadar serba laut, bahari dan kalzum.

Lalu apa kira-kira bunyi doa Ibn Arabi dalam amuk badai di tengah laut nan kelam pada sebatang malam? Jua mengguna majas laut maha laut. Doa yang dipanjat di sebuah panjatan tiang layar nan menjulang dalam goncangan badai. “Duhai laut yang bergolak. Senyaplah! Senyaplah! Senyaplah! Tenang dan berhentilah!Yang berdiri di atas puncak anjung tiang ini adalah samudera (pengetahuan) di atas samudera”. Badai angin dan golak ombak memecah bahtera itu dalam sekejap bingkas dan meredup. Para penumpang yang bermohon kepada Syaikh kita ini agar memanjat doa keselamatan atas badai, mengalami peristiwa “oceanic feeling” (perasaan tenang menyamudera).

Rida setia dalam peristiwa laut, segara dan kesamuderaan itu. Entah itu dimaksudkan untuk menyorak peristiwa darat yang fasiq (dalam satu naskah Melayu Penyengat koleksi pribadi); ada figur Luk Luk, sosok fasiq dalam keriangan seksualitas (bisexual, trans-gender kah?). Atau cara Rida menyusun tabik atas ‘perbuatan kebudayaan’ para pengusaha dapur gambir di Bintan (daratan) dulu kala, atau cara Rida menyusun haru atas ikhtiar seorang Residen Riau (E. Netscher) yang menyusun nama-nama kayu kayan dengan segala sifat dan warnanya di Pulau Galang dan Rempang (peristiwa daratan) kala dia berkuasa di Tanjung Pinang. Residensi Riau; mencakup kawasan Kepulauan Riau dan Indragiri. Bukan semata demi tebalnya  “Memorie van Overgave” (Memori Serah Jabatan). Semua diteropong Rida dari geladak perahu yang berada di ambang laut dan selat.

Catatan laut rasa lelahku; Itulah sujud ku; Itulah zikir ku; yang menjadi lagu sunyi ku: Dalam petikan biola resahku; … Jadilah zikir ku; Jadilah nyanyi sunyi ku; Yang gemetar dalam petikan resah rinduku. Pola ekor (coda) mantera yang dimainkan Rida untuk menutup sebuah “pppuaaah”… (kuuuur semangat) syair yang syihir (peristiwa remote control), alias menggerakkan dan mengontrol suatu obyek dari jarak yang jauh, tetap dalam “ruang laut”.

Para bani “marhaen” laut itu, mengeja bintang, bersuluh komet, berpandu bintang wajik, bintang luku, bintang jatuh, awan legam, pokok hari menghitam, ekor taufan, bahkan ‘sabuk topan’, gilas angin sudut telinga, pecah arus, jatuhan mahkota bakau penanda air pasang naik, rendam telapak tangan pada malam kelam apakah laut hangat dan pasang perbani. Inilah seperangkat instrumen yang mendampingi pelayaran malam menebuk subuh. Menyambut kegirangan ini dengan peristiwa berkelam, berkarang atau pun  nyumik (tiga terma lokal untuk menandai kegiatan nangkap ikan pada waktu malam –kelam-, nangkap ikan di pusaran kastil ikan –terumbu karang-, dan kegiatan tematis ketiga; khusus menangkap sotong, nus atau cumi-cumi).

Sejumlah ejaan terhadap makhluk-makhluk (kosmik) langit itu, diikat dengan jisim, kata-kata, lalu dinandung dalam bentuk syair, pantun, talibun, bahkan diukir jadi wafaq di tangkup dan bidang perahu, kolek dan sampan. Terlebih dari semua itu; ya, mantera. Penguat rasa, pendorong resa demi bertahan dalam gerak persepsional (pola menyerap segala kaidah yang dihidang makrokosmos) demi pengayaan batin mikrokosmos (sang diri) yang mengapung-apung di ambang samudera. Seakan sadar, bahwa benda-benda langit (kosmik) itu juga tengah menjalani “apung” yang sama di samudera raya galaxy. Si apung mempersepsi apung-apungan kosmos giga.

Kaki Langit, Stanza Ikan Lebam, nyanyian lemak, bersandar dan berbingkai serba laut. Syair tentang gemurah gagah (Berlayarlah Daeng); mendorong orang-orang untuk “meniduri sejarah yang perkasa” pada sebuah zaman yang tak kan datang lagi. Kitab-kitab dengan segala aksara penceritaan; Tuhfat al Nafis, Gemala Mestika Alam, Salasilah Melayu dan Bugis, Mukaddimah fi Iltizam,  dan segala kitab dzuriat (anak cucu) para Daeng memperisterikan “orang dalam” Melayu, terhimpun di atas sebuah bahtera tunggal bernama Penyengat Indera Sakti. Persumpahan mata kiri dan mata kanan. Kita seakan diajak melancong menikmati jelitanya “liminal sejarah dan sejarah liminal”: Menjadi Melayu. Dan Melayu adalah ‘proses menjadi” (to becoming).

Kala orang hanya mendengar adzan di daratan, Rida melantun adzan di atas (tengah) laut. Saat ini, wahyu berkaku-kaku dimaknakan untuk membangun rumah sujud (masjid) di atas tanah, Rida memahligai masjid di atas laut. Kenapa harus di daratan yang bawaannya menyampah? Bahkan sampah itu dilepas-liarkan dalam gaya kaku ke ruang bahari bernama laut?

Melalui laut, kita diajak Rida memahami hal menjadi ihwal. Noemena menjadi fenomena. Walau dari bangsa dan agama apa pun. Sebagaimana Paul Ricoeur berkata: “Bahwa kita percaya untuk memahami dan memahami untuk percaya”. Inilah dimensi spiritualitas yang dirajut oleh Rida melalui semburan diksional terpilih dalam segenggam puisi-puisi cantik berbahan baku serba perkakas laut, samudera dan kapar selat.

Di luar sana, di daratan sana, beroperasi sejumlah jejaring teroganisasi secara baik melalui bahasa dan diksional. Apakah itu pasar, birokrasi, kelompok penekan, kelompok profesi, secara sadar melakukan arahan dan pembengkokan interpretasi, sekaligus pemahaman. Juergen Habermas melihat bahwa bahasa (diksi-diksi) bukanlah sesuatu yang berpembawaan netral. Bahkan dia (bahasa) berpembawaan licin dan liut. Dia bisa berubah menjadi medium kekuasaan, sekaligus alat untuk membenarkan relasi kekuasaan yang ditangisi para pelaut, nelayan, orang-orang kecil yang tersadai oleh laut yang luka, teluk yang sayat, tanjung yang lepuh, tokong yang lecet dan tergores, karang yang calar.

Puisi-puisi ini sejatinya adalah makanan bagi ruh untuk memahami. “Siapa yang membagi ilmu kepada si bodoh, perbuatan sisa-sia. Sebaliknya, melarang ilmu pada yang berakal; perbuatan aniaya”. Ya, puisi-puisi yang meletakkan posisi sebagai “alat pembacaan” jeluk, teofanik, sesekali tremendum (menggetarkan) dan fascinosum (mempesona). Hai Maha Wai hadir dalam sangkaan epifani bertingkat-tingkat. Ya, diteropong dari jendela laut dan selat-selat…

 

Pun, Corona tiba…

PERCAKAPAN TAON

Selamat pagi corona; Taon yang tak berupa;

Beri aku sebutir telur rebus; sebutir vitamin c; secangkir teh berlemon; dua puluh menit matahari pagi; sehirup minyak kayu putih; sebasuh handsanitizer; setebik tabik pada kehidupan

Tapi wahai kalian ya tak berdaya; dengan apa kalian bertahan selain doa?; selamat pagi corona, menyingkirlah; biarkan hari kembali milik kami; di tumpukan sampah pun kami masih bisa bermimpi; Membeli sabun dan mencuci tangan; Menutup hidung, menatap seringai di ujung lorong; Di telapak tangan yang sombong; Dipercik sebuah bersin: dan kematian yang memilukan pun bersendawa; harus dikuburkan dengan protokol kesehatan; kesedihan kalian simpan dan jadikan puisi; mati direnggut covid pun sebuah keindahan…

Orang Melayu menyapa wabak (bukan wabah) ini sebagai penyakit ta’un atau ta’on. Lengkapnya wabak ta’un. Di Jawa sana mungkin dengan alamat ‘pageblug’, setara maknanya. Secara eksistensial, kita yang hidup di masa wabak ta’un menyergap, termasuk kaum yang beruntung. Karena langsung melihat dan menatapnya di depan mata. Bukan penceritaan nenek moyang dan datuk nenek ala “Mael”. Manusia seisi bumi dicekam ketakutan neorotik, bahkan psikotis. Saling menduga; aku atau dia. Mereka atau kita. Hidup dalam kerumunan duga menduga. Penuh sak wasangka. Kematian pun disebabkan oleh rimbunnya wasangka. Penyakit pun karena wasangka. Psikosomatis menjadi penyebab kematian yang bukan corona.

Negara datang dengan tafsir tunggal atas wabak ta’un. Tafsir melahir rencana dan program. Rakyat setuju dalam gamang. Ada yang menolak. Dengan alasan demokrasi; Semua orang boleh bersuara. Para cendekia menggeser awam dengan suruhan publik dari ruang ke ruang: jangan jadi masyarakat anti sains. Jadilah masyarakat pro sains ketika berdepan dengan wabak ta’un. Jadilah “masyarakat pengetahuan” (knowledge people). Lunakkan hati menerima vaksinasi bertingkat-tingkat. Dia bukan proyek dagang dari tafsir tunggal negara. Kita sibuk mengungkai informasi tentang penyakit ini. Bukan menyelesaikan penyakit. Tafsir ganda muncul dari ruang-ruang politik dan publik; parlemen hingga mushalla. Konstituen hingga jamaah.

Rida membuat catatan reflektif tentang gelombang corona menyerbu: “selamat pagi corona, menyingkirlah; biarkan hari kembali milik kami; di tumpukan sampah pun kami masih bisa bermimpi”. Sebuah gesaan filantropik, menggeserkan corona dari pandemik menjadi endemik. Upaya gloryfikasi tentang kehidupan yang banal ala manusia selama ini. Biang juxta-posisi yang harus dipilih kala berdepan dengan banalisasi rakyat yang serak. Atau malah kita digiring menjadi serpihan-serpihan “dividu” yang sczhizofrenik (sosok yang bisa dipecah-retakkan) sehingga kita bisa bersembunyi dari serangan “energi rendah” bernama corona. Kita dianjur untuk berjarak secara fisik, salaman ala ‘namaste’ demi menyisa rajutan kasih sayang. Demi menerbitkan frekuensi ‘energi tinggi’ pada diri. Selaku ‘low energy’, corona akan memangsa apa-apa yang memiliki energi yang sama dengannya (low energy). Bersedekah, berbuat baik, menolong dan memperbanyak dzikir adalah citra yang memuaikan “high energy” itu.  Ta’un sebuah kiamat mikro yang sedang dihadapi dunia hingga kini.

SURAT UNTUK PARA CUCU

Taun itu wabah cucuku; Seperti corona yang bermula di Cina; Kemudian merebak ke mana mana; Melekat di telapak tangan dan jari-jari bangsa; Bersarang di paru paru dunia

Virus itu pembunuh sayangku; Datang tak mengetuk pintu; Datang tanpa kata kata; Begitulah wabah cucuku; sudah ada sejak dahulu; Terekam dalam manuskrip lama terbilang; dalam hadist Rasul

Kini kita menyebutnya Lock down; kini kita menyebutnya social distancing; kini kita tak saling menyapa; kini sebuah bersin kita waspada

Haruskah kita melawannya; atau berdamai dan saling menyapa? Virus kecil itu pun makhluk Nya juga, cucuku; Untuk menyeimbangkan kehidupan di dunia; Jangan menyatakan perang padanya; karena itu adalah kesombongan yang sia sia; Berdamailah sebisa bisanya; karena ada saatnya; bala itu akan mereda; Pergi seperti nenek tua; yang selesai bercanda; dengan cucu cucunya;

Ada kala duka; akan jadi luka; adakala nestapa menghuru hara; itulah makna kehidupan; yang tak selamanya sama; dan tak selalu satu warna

Itulah cara Maha Wai menyapa kita; tanpa kata kata; mengambil sebagian nikmat; pelajaran hidup ummat, agar menjaga hakekat…

Kepada cucu-cucu, Rida mensosialisasi diksi Wai Maha Wai… lalu, sekaligus dia menjelaskan  bagaimana Maha Wai itu beroperasi dalam senyap, membenam kata-kata dalam sumur buta tak bergerigi tanpa air. Sehingga kata-kata pun kehilangan oksigen. Kata-kata tak bernyawa ketika berdepan dengan senyap. Jangan nyatakan perang terhadapnya. Berdamai saja. Ada masa dia berlalu bak nenek tua yang suka bergurau dengan para cucu. Sebuah anjuran lunak, hanif dan jalan tengah. Jangan menyepak dan menendang, pun tak menyerah. Berdamai saja dengan diri, dengan dunia, dengan bumi. Maha Wai mencatat “hati damai” dalam Stamboek Agung di Lauw al Mahfuzd sana: iPad Allah.

Surat panjang ini, ditulis Rida dalam semangat Angin Sentubung (sekaligus judul puisi), mengeja dan mendaras desau angin dan kerisauan dari tanah primordial (Bintan). Boleh juga desah angin dari Bumi Kenyalang; sejenis keranda, semacam “lahat” jelang kematian percakapan gunung-gunung. Bukan angin sendalu atau pun tambang ruang. Atau kah dia angin Sakal yang datang dari hadapan. Dan kita mesti cerdas memanfaatkan kehadiran angin Sakal lewat garis lintang-susur diagonal, agar jip perahu mengepak, lekas dan laju menyongsong tebing nan rimbun di seberang balik pulau.

De nalabu matanna essoe ri tenggana batarae” (matahari tak akan pernah terbenam di tengah langit), pepatah tua Bugis. Rida mengajar cinta kepada para cucu untuk bertahan dalam damai dan optimistik. Belajar apa yang dirasakan orang lain sebagai derita sendiri. Menjadi bagian dari sesuatu yang berada di luar diri kita, adalah cinta. Cinta berada antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Maka, filsuf saleh dari Jerman, Immanuel Kant berujar lembut; “Sciense is organized knowledge. Wisdom is organized life”. Puisi-puisi Rida, mencakup pengetahuan dan kebijaksanaan. Bergerak memikul tugas passion (pasi, derita) dan action (tindakan); pathetic (receptive, menerima, berdamai) dan poietic (mencipta, creative).

Creative, mendesak kelahiran rohani (spiritual birth). Mempertemukan “urat sirih” hierarkhi samawi dengan hierarkhi kebumian dalam sejumlah kelahiran baru (renata). Diksi-diksi pilihan kreatif yang dibumikan Rida semacam upaya mempertalikan ‘akal kemalaikatan’ (sejenis antropos samawi) yang memancar dari Logos (Kekacauan, Being, Wujud, Aeterna, al Ain al Shabithah), kemudian bertransformasi dalam aksi (poeitic, ciptaan, kreatif). Semuanya bersumbu pada keluasan samudera, laut dan rantau kalzum sebagai ruang.

Laut, samudera sebagai ruang, tak lebih dari sebuah konsep yang digunakan manusia untuk memahami dunia. Bukan sebuah entitas nyata. Ruang, etalase Tuhan membelahkan diri- Nya ke dalam jelmaan-jelmaan antar kutub. Percik efek ilahiah pada ruang laut, samudera dan selat, termasuk ruang yang bukan entitas itu adalah “penampakan Tuhan di dunia. Di sini, Rida menyapa dengan sapaan karib Wai… Maha Wai. Antara Dia yang bernama dan tak dinamai…

Pekanbaru, 12 Agustus 2022

 

Yusmar Yusuf, seorang fenomenolog. Budayawan Riau dengan pemikiran progresif-alternatif. Guru Besar Sosiologi dalam “Malay Studies” and “Sociology of Knowledge” FISIP Universitas Riau. Pengampu utama mata kuliah “Filsafat Ilmu Pengetahuan” (Tingkat Sarjana dan Program Doktor). Mendalami bahasa Belanda dan Jerman, musik Klasik dan Barok. Saat ini, penekun musik jazz. Beliaulah yang menabalkan nama “Bunda Tanah Melayu” sempena “Pertemuan Penulis Serantau” di Daik Lingga (1999). Pengelana dalam “Urban Tasawuf” yang berkolaborasi dengan para pengelana Afrika Utara dan Eropa.

 

___ Kata Pengantar untuk buku “Maha Wai” karya Rida K Liamsi.