Bujang Mat: Narwastu, Kosmogoni dan Keterlemparan

Ilustrasi: nightcafe.studio

 

Terlempar, keterlemparan adalah penanda mengenai kehadiran atau ‘ada’ (being). Sesuatu yang terlempar, dia ber-‘ada’ di sana. Bukan di sini. Ke-‘di-sana-an’ adalah konstanta serba jauh, sayup, tak terjumlah, tak terpemanai, hadir dalam kemenduaan (kembaran samawi), namun diikat dalam keperkasaan singularitas (ketunggalan). Lawan dari kaidah ke-‘di-sini-an’; serba dekat, menjinak, domestikasi, lokalitas dan kendali dalaman.

Manusia, dalam sejarah penciptaan kosmis menjalani peristiwa keterlemparan. Terlempar dan keterlemparan bukan jalan demokrasi. Dia adalah suguhan tanpa pilihan, desakan serba sekonyong-konyong, serba alih-alih, tak tentu pasal. Dalam gejolak dan gelombang horison kiamat, puting beliung, keter-enyah-an, kebelingsatan, dalam sungut badai, celotehan dewi pemarah atau amuk dewa Thor era Yunani kuno. Dan, Bujang Mat Syam (akrab disapa BM Syam) pun menghadirkan keterlemparan itu dalam gerigi perih, menyayat, mengiris luka, menyembilu, senak dan durja.

Keterlemparan Bujang Mat, sejatinya adalah sebuah retas pemahaman  eksistensial-fenomenologis. Bukan pemahaman kognitif. Dia tak bisa didatangi dengan sejumlah nalar dan akal sehat menurut kadar rasionalitas modern. Sebuah operasi keterlemparan kosmogoni (asal usul terciptanya alam semesta dengan segala isinya), termasuk manusia. Di sini disusun sejumlah obsesi “penciptaan kosmik” yang dirayakan pula lewat sejumlah ‘drama kosmik’ (banjir bandang, ribut, badai, arus, gelombang, pasang perbani, rekah purnama mengambang, patahan ranting demi membangun waktu vulgar dan kemewaktuan) yang dijalani oleh sosok manusia perdana (pemegang ulu dari segala ulu) di sebuah rantau dan tanah.

Ya, proyek keterlemparan; sebuah jalan menghadirkan “Adam” dalam versi segara (samudera) ala Bunguran. Suatu “mood of being” atau sebuah cara “ber-ada” di dunia, melalui media katastrofe atau armageddon (kekiamatan), yang mendesak kelahiran kembali (reborn), bukan maut (sebagaimana diyakini Heidegger). ‘Hidup ini adalah sejumlah kelahiran-kelahiran baru’, ujar Hannah Arendt. Dan Demang Megat memulai kelahiran baru pada sebuah dunia serba ‘diam’ (isolate). Kelahiran baru yang diupacarakan oleh berjumlah katastrofik memukau, menakut, menggerunkan sehingga dia melampaui keterpesonaan sebuah jalan kisah, jalan kayat, jalan hikayat, dongeng, yang bertengger di atas sosio-sfera mitos yang menggelung kehidupan bergerigi. Proyek keterlemparan ini berujung pada “memahami” dan “kecemasan”; tersebab keterlemparan lah Demang Megat mulai menjalani  siasat “memahami”, sekaligus “kecemasan” yang mempertaruhkan akan kehadiran menuju horison kelahiran kembali (reborn) yang tak dimengerti. Kenapa di sini? Hendak ke mana? Dan dari mana? Semuanya hadir dalam kubah-kubah kesadaran baru di tanah baru yang tiada penghuni. “One is not born a genius, one becomes a genius” (seseorang tak dilahirkan sebagai seorang jenius, dia beralih menjadi seorang jenius), kata Simone de Beauvoir.

Tokoh Megat hanyut dan berhanyut dalam durja alam yang menggelegak. Bagi BM Syam inilah jenis beroperasinya rekah kelahiran baru, sekaligus menemu tanah baru hampa penghuni. Keheranan yang ditunjukkan secara kosmogoni, manusia pertama yang diturunkan di tanah baru itu, bukan sosok yang meluncur terjun dari langit dengan pesan-pesan suci Kerajaan Surga (The Heaven). Namun, dia terseret oleh instrumen pengantar yang berpembawaan satu: Air (hujan, sungai dan menyegara);  banjir bandang, bak ‘kelopak bunga air’ bah Nuh pada sebatang sungai dari tanah besar Asia, tepatnya di antara dua rekahan peradaban agung Siam dan alam Melayu. Dia mengait-ngaitkannya dengan sungai Golok di pantai Timur Semenanjung (selatan Pattani atau tepatnya di wilayah Provinsi Narathiwat saat ini).

Maka, segala hal perdana dan hak kesulungan itu dijalani dalam kadar ketak-sadaran kompulsif sekaligus terbangun semacam neorosis-eksistensial (terjangan kebimbangan dalam menakar makna hidup); mengapa aku terdampar; menjalani fase liminal (kematian temporer), berkelakar dengan alam ‘antara’ (barzakh); pingsan dan sadar kembali dalam sosok mendungu dan lugu. Berkat dungu dan lugu, segala cemas tercungkil. Ya, Demang Megat, menceburkan dirinya dalam sejumlah kedunguan dan keheranan dalam upaya memahami (Vertehen) akan dunia yang baru. Inilah dunia arketipe Psikologi Carl Gustave Jung yang mengelegak di dasar samudera ‘bawah sadar’ manusia demi menebus hak kesulungan yang dihasilkan oleh jari lincah BM Syam di atas mesin Ktik lebih dari 30 tahun silam.

***

Pekanbaru, sebuah petang. Ada tiga sosok perempuan yang saya sapa Ncik di kota ini. Pertama, pangkat Mak Saudara saya sendiri. Mastautin di Jln. Teuku Umar. Perempuan kedua adalah istri penyair dan teaterawan Idrus Tintin. Ncik kedua ini, air-tangannya luar biasa dalam ihwal memasak. Yang ketiga adalah istri BM Syam. Inilah sosok perempuan paling lembut yang pernah saya kenal di muka bumi selain Mak saya. Pekat pelat dialek Poelaoe Toedjoeh (khusus Terempa, Siantan).

Petang-petang di Gang Kelinci. Di sudut tanah agak lebar, berlaman teduh-teduh. Kaya rerimbun pohon besar tegak menungkai. Saya selalu mampir ke rumah itu. Biasa saya datang mengenderai motor, karena mobil agak susah masuk. Dari kejauhan, ketak ketuk ketak ketuk ketak ketuk  tiiiik geeerrrrh…. itu lah suara mesin Ktik (typewriter) hasil sundulan jari kaku seorang renta (sebenarnya seorang yang dah berumur). Di situ, ya, Gang Kelinci, hanya bual-bual dengan sosok BM Syam, sepulang kantor. Sesekali dia malah yang datang ke rumah saya di sekitar Kampung Kelapa, Sail. Rokok GG merah tak pernah lepas dari ujung bibirnya.

Suara yang muncul di sela-sela bunyi mesin Ktik itu adalah suara Ncik; menyapa dengan lembut dan mengalun gaya lantun orang-orang pulau Laut Cina Selatan sana: “Masuklah ha  Maarrr… Pak awak tu menulis aje kerje die, tak denga die tu…”. Saya datang memang tak bermaksud mengganggu Bang Sam (saya menyapa beliau). Sepulang dari Bandung, saya mulai merakit memori dengan rekan-rekan penulis lama dan senior, seperti Hasan Junus, Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza dan tak terkecuali dengan sang Dewa Mendu ini ( jenis gelar candaan kami, kalau Bang Sam ngamuk. Gelar ini sudah tentu asalnya dari Hasan Junus yang jahil itu ha ha). Begitu pula dengan Rida K Liamsi, yang pada masa itu menjadi ‘imam besar’ Surat Kabar Harian sulung di Riau; Riau Pos. Dan saya, sejak 1992 diberi ruang (kolom) kebudayaan di Harian ini.

Petang itu, saya buka pembicaraan yang membuat dia mengarut. Sekaligus geram dan terbahak. Cikal penceritaan, dikonstruksi oleh Hasan Junus tentunya. Saya hanya ingin mendengar dan melihat cara Bang Sam menyaji dan mereaksi kisah yang didaur oleh Hasan itu. Kisah peliputan khusus tentang Orang Sakai yang disiar (terbit) media Harian pada tahun 80-an oleh BM Syam. Tak sampai di situ; lalu saya tunjukkan rumpun pandan yang tak jauh dari rumahnya. Dia terkekeh terbahak-bahak gaya Dewa Mendu van Sedanau. Dia membahasakan dirinya dengan orang-orang yang dekat dengannya; posisi orang pertama tunggal,  sapaan Kawan. “Ye, kawan bidik budak-budak tu di situ, jepreeet… jadi gamba, jadi foto” (profil anak-anak kaum Sakai di Mandau Bengkalis). “Sudahlah… rahsie tu. Kawan cakap dengan awak je tu”.

Begitu seterusnya pada petang-petang yang lain. Sehingga beberapa purnama saya menghilang, karena begitu sigau dengan riset lapangan dan terbang antar benua untuk beberapa konferensi dan seminar. Pertemanan dengan Bang Syam bagi saya pribadi memang agak pincang dilihat dari rentang usia. Pada 1985 dia  sudah berusia 50 tahun. Dan saya lah (dalam usia 24 tahun) menjadi ketua panitia Hari jadi emas BM Syam. Hai? Karena para seniman mengalami kebimbangan membuat acara itu. Ada sosok besar lainnya, kok tak diacarakan? Idrus Tintin. Ok, saya yang maju: “Tak kan berani Idrus tu mengganggu saya. Sebab sama bakat gilanya”, ujar saya kepada Fakhrunnas kala itu. Acara berjalan lancar dan takzim. Kami hadiahi Bang Syam bermacam benda. Yang paling berkesan bagi dia adalah selembar sajadah.

Ketika saya sebagai Direktur Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau, saya tebus kerisauan seniman kepada Idrus Tintin. Upacara ulang tahun (hari jadi) Idrus Tintin ke-60 kami buat di topping bangunan Toko Buku  Gramedia Pekanbaru, 1998. Acaranya tentu takzim, kocak dalam sejumlah himpunan air mata. Begini cara kita berterima kasih kepada yang tua-tua dalam mengeja dunia literasi (teks dan kesadaran kebudayaan).

Penggalan Mitos ke Logos

            Dia lahir dan besar ‘dari dalam’ panorama terindah segara Laut Cina Selatan. Kawasan ini adalah sembulan pucuk-pucuk gunung melancip, yang digenangi air asin di pinggang-pinggang gunung berakar ke laut. Sedanau, Sebauk, Tanjung Kumbik, Kelarik, Air Mali,  Sabang Mawang, Pulau Tiga adalah deretan pucuk-pucuk gunung yang melingkar. Membentuk badan air yang bulat dan tenang di tengah gemuruh Laut Cina Selatan. Gugus Kepulauan Bunguran Barat ini jika ditarik garis lurus ke mata angin barat, maka pantai Trengganu dan Negeri Kelantan lah judunya.

Maka, jangan heran, kosmogoni Sang Megat itu meluncur dari Barat (batas Negeri Siam, Sungai Golok dan Negeri Kelantan) menuju matahari menyembul di atas tanah Bunguran, terbentang sebuah garis imajiner. Pada garis imajiner inilah disauk sejumlah durja, petaka, tengkujuh, musibah yang juga berperan selaku garis liminal (kematian temporer) dalam kembara ketak-sadaran diri dan ketak-sadaran eksistensial. Inilah bagian atau cebisan peristiwa penciptaan kosmik yang harus dilakoni sang Megat dalam “persumpahan primordialnya” dengan Sang Jagad Nata (Penata Jagad/galaxy raya). Persumpahan itu berlangsung dalam “keadaan liminal” atau kepingsanan maya demi mengangkat ‘tugas-tugas pewahyuan’ mitologi.

Bak mitos Merong Mahawangsa di tanah tua Kedah. Begitu ihwalnya, Raja Chulan yang “menyenggama” pintu lautan. Demikianlah pembawaan kosmogoni dalam sejarah Melayu besar, yang melekatkan asal-usul kosmogoni itu pada sesuatu nan gagah-ranggi, bermahligai awan-gemawan, bintang-gemintang, mengenderai laut dan menunggang gelombang, menjinak keliaran rapuh, sehingga terbangun segunung imajinasi memukau; ya, Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great; Alexandros Megos).

Demang Megat, dihadang sekerumun keheranan eksistensial, Fatimah lumpuh sang Puteri Raja Johor, merenjis tanah-tanah senyap ini menjadi tanah pukau, wonderland. Di sini BM Syam hadir dengan keberanian seorang yang melompat dari tembok tradisi, yang melampaui kemolekan rumah sendiri untuk menemukan tali pumpun kosmogoni dalam lingkup bilik nan senyap. Demi apa? Ya, entitas dan keberdirian di atas panggung dunia. BM Syam menyediakan kelahiran (baru) figur yang melompati pagar-tembok kebekuan dalam sejumlah prinsip-prinsip liminal (pingsan dan mati suri), pun sejumlah kehilangan (39 orang Menteri yang mengawal perjalanan Tuan Puteri Johor menghala ke timur), tersisa hanya seorang Menteri yang ke-40. Inilah jenis pelompatan dari dunia nyaman dalam prinsip “passing out”. Keluar dari ‘rumah kehangatan’. Menjalani sejumlah persalinan batin, persalin ruh, dan persalinan spiritual yang dilakoni pada setangkai tubuh bernama Demang Megat, bernama Fatimah.

Dalam igau neorosis, Demang Megat berujar dalam diri: “Hidup matiku di saat ini ku serahkan saja pada rumpun bambu ini”. Lalu, … “sejauh-jauhnya aku hanyut tentu akan terdampar di tanah bertebing juga. Paling-paling sangkil di batas tanah Kelantan”. Ini deretan parafrase untuk ‘menyuntik mati’ kecemasan dan kebimbangan demi menyambut kedatangan fase-fase liminal di hadapan hari. Kalau pun tak bisa “suntik mati”, paling tidak inilah ikhtiar terbaik bagi sebuah upaya peringkusan: meringkus kecemasan jelang liminal. Ledakan suara persemendaan langit, juga berperan selaku cursor (penuntun) dalam taktik bertahan hidup (survival) dari Demang Megat: “Jadi seorang laki-laki, tak elok cepat berputus asa. Ei, Demang Megat. Kuatkan semangatmu. Kau tak boleh mati muda. Apalagi jalan kematian itu kau cari-cari dengan akal sesatmu. Jangan Demang Megat, jangan”. Maka, pernyataan eksistensial dari Soren Kierkegaard ini menjadi suluh dan pedoman (mungkin) bagi Demang Megat: “Do it or don’t do it. You will regret both” (Kau lakukan atau kau diam saja, kedua-keduanya kau akan menyesal). Atau kita pinjam gelegak Friedrich Nietzsche ini: “You need chaos in your soul to give birth to a dancing star” (Kau memerlukan kegalauan dalam jiwa mu, demi lahirnya sebutir bintang menari).

Kehausan dan air laut; tumpuan pertarungan hidup mati Demang Megat. Minum tak diminum. Kalau  diminum; mati. Tanpa minuman, juga mati. Sepanjang keterlemparan itu, adalah peristiwa hidup-mati (liminal) bergelombang. Dalam pingsan yang panjang, dia terhempas pada tebing pantai yang “incognito” (tak dikenali, asing dan keterasingan). Ketika mencoba menginjakkan kaki ke pantai, sekali lagi Demang mengalami pingsan setelah menjejak beberapa langkah (dan ini memang catatan dari perjalanan seorang pelaut dengan kondisi mabuk laut); harus dan mesti pingsan. Kalau tak pingsan, maka dia bukan manusia lagi. Begitulah BM Syam menjelaskan segala candra dan fiil orang-orang yang merentas dan melintas segara lautan yang diikuti dengan sejumlah nian (serba maritim). Di sini Demang Megat menyuburkan igauan imajinal dalam gaya bercanda dengan Yang Maha Agung: “God is a comedian playing to an audience that is too afraid to laugh”, seringai Voltaire.

Figur Fatimah sang puteri istana Johor, memberi kita ruang untuk tafakur (contemplativa) mengenai upaya logos dalam seni tetak-tetau laut dan pulau, demi mengenali wilayah yang kemudian dikauluhum sebagai kawasan Kedatuan (birokrasi primordial). Mengenali, memahami pola dari figur Fatimah, bukan pula selembar kuitansi (cheque) kosong belaka. Dia juga harus dibayar dengan sejumlah kehilangan (kematian para Menteri), setiba di tempat persinggahan. Di sini kematian dan maut, menjadi horison waktu dan kemewaktuan sepanjang perjalanan. Kemewaktuan sejati, bukan waktu vulgar lewat kalender dan almanak. Kalender dan almanak tak lebih dari waktu konsensus, waktu yang disepakati. Bisa itu dalam wujud peredaran bulan, rekah matahari, gravitasi naik turun air pasang-surut (peristiwa kosmis maritim), bisa pula gerak jarum jam. Semua waktu ini dimaknai oleh Heidegger sebagai waktu yang telah menjalani kompromi sosial dan konstruksi sosio-sfera.

Pemakmuran negeri adalah tindakan logos yang bercermin pada data obyektif dan ‘proyeksi’. Ini dilakukan oleh Demang dan Tuan Puteri Fatimah, setelah mereka bercantum dalam mahligai nikah dan berkeluarga. Menteri ke-40 adalah sisa deposito yang dipertahankan sebagai ‘tangkal bertuah’ sepanjang jalan dan mengulum kisah rindu tentang tanah asal di Semenanjung saja. Era kolonial Belanda, kedatuan (wilayah Datuk Kaya Bunguran ini) dan sekotah wilayah Kepulauan Tujuh, diakui pula posisi, peran sistem dan tata kelola Kedatuan merujuk pada kaidah-kaidah Ke-“di-sini-an”; segala sumber berdimensi lokalitas, nilai, resam, istiadat, pola tindak dan acuan perilaku dalam deram imajinasi lokalitas. Ke-“di-sini-an” adalah wilayah logos yang berpangku pada kaidah dan kebijaksanaan yang terbit dari ’matahari’ lokalitas.  Adtrecht van Poelaoe Toedjoe, memperjelaskan bagaimana persemakmuran Kedatuan ini memberi sekaligus berpangku pada prinsip-prinsip platonik: dari sumber daya ekonomi lokal berupa kebun kelapa (klappers tuinnen), yang sebagian besar pekerjanya berasal dari orang-orang Kuantan dan Kampar di Sumatera. Terutama di pulau Midai.

Pohon Perhimpunan, semacam Catatan Perjalanan Raja Ali Kelana ke kawasan ini, juga ikut memperkaya dimensi logos kawasan Datuk Kaya ini. Keterlemparan sebagai wilayah mitos, menemukan urat sirihnya dalam perjalanan Tuan Puteri Fatimah ke rantau ini dalam kenyataan fisik yang serba lumpuh, namun diampu oleh hati dan dorongan ‘dalaman’ yang kuat kawi. Kelumpuhan fisik tak lebih dari simbol tampilan luaran. Sejatinya, penghuni ‘rumah’ dengan tampilan lusuh di sebelah luar itu adalah batin murni, ego dan aku sejati, atau ‘aku platonik’. Sembari memuliakan ‘tanah’ dan kawasan, suak rantau, teluk, tokong dan tanjung, penajaman visi mitos senantiasa berjalan beriringan; kehadiran tapak tua Keramat Binjai sebagai ‘paku tanah’ Bunguran. Begitu pula pohon “mistis’ Balau Silak sebagai penyangga awal keterlemparan dengan fungsi-fungsi logistik selejang penyintasan (survival) pada tokoh Demang Megat (selaku ego arkhaik).

Menutup perjalanan femininitas Tuan Puteri Fatimah, persuaan ala dunia Tarzan antara Menteri ke-40 dengan sosok berbulu di atas dahan balau silak. Perjodohkan dengan manusia satu-satunya dalam tebusan rindu atas kehilangan 39 Menteri, demi penyelesaian naratif: kesumbangan hidup sang puteri tiada bersuami. Bak tokoh dalam cerita pendek Gibran Kahlil Gibran, seakan Puteri Fatimah berujar terbalik: “Hidupku adalah sebuah koma, hampa bagai kehidupan Adam dalam surga, ketika aku melihat Selma berdiri di depan ku seperti secercah cahaya. Dia adalah Hawa dari jantung hati ku yang memenuhinya dengan segala rahasia dan berbagai keajaiban serta membuat aku memahami makna kehidupan”.

Kekinian: Narasetu?

            Di sini dan ke-di-sini-an, menjadi racikan penting setelah BM Syam meragi dan mengadun segala kayat dan kisah di dalam buku kumpulan cerita ini. Kekayaan ragian itu, hendaklah tersambung secara niscaya kepada ‘tali kait’ akan identitas, entitas sekaligus local proud (kebanggan lokal) selaku orang Bunguran dan suak rantaunya. Bahwa negeri dan kawasan ini memiliki sistem mitos dan logosnya sekaligus. Dengan entitas demikian, bakal menjadi siulan dan sambutan gempita untuk menggeriangkan lagi sisi kemakmuran wilayah segara luas ini dalam langgam dan resam yang tak tercerabut dari kaidah yang telah bersebati dalam keseharian dan mistika kesejarahan.

Tonggak-tonggak ingatan itu tak semata berupa tugu dan monumen dalam cahaya Indonesia merdeka. Ini tak lebih dari sejumlah versi kehadiran dalam visi “Indonesia centric”. Memorial atau pun tadzkirat atau apa pun namanya, bisa maujud dalam wilayah-wilayah kebudayaan yang meluluhkan hati dan jantung, bila mendengar dan mengenal nama-nama besar dan arkhaik yang pernah menebuk dan menimang-nimang kawasan Kedatuan ini. Satu di antara nama itu tentulah Bujang Mat Syamsuddin, selain Ibrahim Sattah (asal Terempa). Mereka adalah “akar wangi” (narwastu atau narasetu) yang menyemburkan aroma ke seluruh jajah dan suak rantau air dan benua. Dan kita beranak-pinak menghidu haruman narwastu tanpa kala dan tiada jeda.

Kerlingan karya BM Syam amat menaut hati dan ingatan dalam visi kebudayaan. Karya-karya BM Syam sudah menggunung, baik berupa Cerpen yang terbit di media nasional; seperti Kompas, Berita Buana, Harian Haluan. Termasuk genre himpunan cerita rakyat yang selalu meraih kemenangan dalam beragam level peraduan (pertandingan); nasional maupun regional Riau kala itu. Dia termasuk penulis yang prolifik di zamannya. Sebutlah misal, “Ketika Cengkeh Berbunga”, jenis cerpen yang terbit di Kompas Minggu, kemudian “Nong Isa”, dan beberapa cerpen beliau (kalau tak salah) di majalah sastra Horison Jakarta. Kemudian buku-buku cerita yanag diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (tidak diperdagangkan) semisal “Tun Biajid”, 1 dan 2. Selanjutnya ada “Beraim Panglima Kasu Barat”, “Sikelincing dengan sepasang terompah Nik Gasi”.

Sebagian besar setting spatial dan gugus simbolik yang disajikan di dalam karya-karya BM Syam mengambil tempat dan gugus simbolik Kepulauan Tujuh (yang hari ini populer dengan sapaan Natuna; sebuah nama yang tenar semasa Orde Baru, sejalan program GERSANTUH –Gerakan Nusantara Utuh- yang diterajui Solichin G.P., mantan Gubernur Jawa Barat). Sekedar catatan: sebutan Natuna untuk menunjuk pulau besar Bunguran dan sekotah kepulauan yang merantainya, selalu disampir dengan candaan; pada musim-musim tengkujuh, wilayah ini amat menyeram dan menggerunkan. Ledakan angin, pusaran arus, hempas ombak dan gelombang memecah dalam nada NAIK-TURUN-NAIK (jika disingkat menjadi NA-TU-NA). Sekilas kronik Cina ada versi yang menyandarkan nama ini dari fono (bunyi) Nan Toa (pulau besar), dialamatkan untuk menunjuk pulau Bunguran. Dalam catatan kronik era kolonial Belanda, kawasan ini pun disapa dalam rangkaian Poelaoe Toedjoe. Dan nama pulau besar itu tetap disapa dengan nama Boengoeran.

Sebuah kunjungan khusus dengan tim arsitek (Dedi Ariandi dan Iyar Atthayaya) ke Bunguran Timur dan Bunguran Barat (2012), saya sempat menghampiri bangunan kecil di sudut jalan Sedanau. Yang mendampingi kami selama di Sedanau adalah Pak Ahmadiyah, seorang budayawan Bunguran yang amat disegani. Beliau sengaja dan bangga membawa kami ke bangunan mungil dan comel itu. Tertulis plang nama yang memegahkan hati saya dan tim. Tersergam: Pustaka BM. Syamsuddin. Atau setakat inisial nama: Pustaka atau rumah baca BM. Syam (agak lupa dan samar ingatan saya).

Waktu berjalan bersamaan turun naik gelombang politik lokal, nasional, regional dan internasional. Politik lokal? Natuna dan Anambas mekar menjadi Kabupaten dan memiliki pemerintahan dengan anggaran yang otonom. Dua Kabuaten ini, kini berada dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Politik nasional dan regional? Natuna, terutama perairan Kepulauan Tujuh ini tersambung dengan gelegar politik internasional dan kawasan (segitiga) rebutan negara-negara serantau termasuk politik gergasi tanah besar Cina. Keterlibatan Vietnam, Filipina, Malaysia dan tentunya Indonesia sebagai sangkar politik utama, meramai dan meriuh jagat politik dan diplomasi serantau. Isu mahkotanya? Kawasan ini berada dalam gelegak dan gemuruh sumberdaya minyak dan gas lepas pantai (offshore). Wah BM. Syam adalah satu di antara alumnus pekerja pengeboran minyak lepas pantai CONOCO di Laut Natuna (Cina Selatan atau Nan Yang dalam sapaan Han-Mandarin).

Covid-19 menyerbu dunia. Ramai makhluk sedunia mendakwa Wuhan sebagai muasal. Dan sekali lagi politik internasional menyelinap di celah tubuh-tubuh virus yang tak kasa mata itu. Dan sekali lagi, Natuna, khususnya Ranai diperbincangkan. Memetik kehebohan baru.  Para pekerja dan mahasiswa  Indonesia di metropolitan Wuhan itu diterbangkan dalam serangkaian penyelamatan warga negara oleh pemerintah Indonesia. Dan, para “migran” Wuhanian-Indonesian ini didaratkan di Lapangan Terbang Ranai di Bunguran Timur. Jauh sebelumnya, panggung Natuna hanya dimainkan oleh seorang Srikandi air bernama Susi Pudjiastuti, yang rajin dan garang demi menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan dari Vietnam dan Cina. Politik sumberdaya maritim menjadi sebuah saklar ledak dan percaturan politik Amerika-Tiongkok: Poros Washington-Beijing, tatapan mata mahkotanya adalah Natuna.

Karya-karya BM Syam telah memaku (menjadi paku tanah) bagi gugus Kepulauan di segara air luas ini dengan manik-manikan sekaligus mahnikam arkhaik dalam peristiwa keterlemparan Sang Demang Megat dan pelayaran ‘putik rindu’ (pelayaran kualitas feminin) yang dilakoni oleh Tuan Puteri Lumpuh dari Johor ke suak rantau ini, sehingga kawasan ini menjadi wilayah ramai dan beridentitas ke-Melayu-an. Visi Melayu sebagai visi kebudayaan dan peradaban, sekaligus mematahkan tekanan fisik-militer yang dipertontonkan Cina ke depan hidung Jakarta. Dan, kebijaksanaan Jakarta melalui pendekatan socio-welfare approach adalah jalan cerdas-licin dan sebuah keniscayaan yang harus dipilih. Demi apa? Ya, sebagaimana karya-karya BM Syam: Demi kebanggaan dan ketahanan nasional (proud and national resilience). BM Syam memaku  identitas dan entitas, maka Jakarta telah memiliki modal kebudayaan dengan “bahan tambang” maha tinggi untuk menyergah Beijing dan menyigi Washington.

Seorang ahli strategi, Vo Nguyen Giap, berujar: “Kalau kita terpaksa berperang, tujuan utamanya bukanlah membunuh orang, tetapi memenangkan perdamaian pasca perang (not to kill people, but to win postwar peace). Bahan tambang kebudayaan Melayu dengan visi masa depan yang ditarah dan ditoreh melalui karya-karya BM Syam adalah bagian dari silabus dan “materi mahkota” yang mesti menjalani masa pencangkokan silang (cross fertilization) dalam semangat diplomasi antara Jakarta-Beijing-Washington. Karena, sekali lagi sedutan dari Giap: “Politik (baca; perundingan damai) adalah lanjutan dari perang dalam cara lain”. Ihwal ini kebalikan dari diktum Clausewitz (Jenderal Prusia) yang berbunyi: “perang adalah lanjutan dari politik dengan cara lain”.

Karya-karya BM Syam adalah jalan pergi, sekaligus jalan pulang. Tempat kita, semua orang bisa lenyak dan nyenyak meniduri masa lalu dalam kejelasan timangan, dodoi dan buaian. Dia bukan eligi, tapi penjumlahan dari berkuntum-kuntum epos yang tersangkut di reranting balau silak yang arkhaik; yang kanopi daun dan pucuk-pucuknya menikam lelangit Bunguran dan sekotah Segeram yang ayuhai. Julang menungkai balau silak dengan tampin-tampin gayutan lebah madu adalah sumber “nutrisi kebudayaan” tiada lekang dan menggering.

Di benua Sumatra, Pekanbaru khususnya, nama Bujang Mat Syam amat harum. Dan Al azhar lah yang mengabadikan nama ini (nama marhum) untuk laman kreatif di depan Gedung Utama Anjung Seni Idrus Tintin di kompleks Bandarserai. Dan saya pula yang mengabadikan nama Anjung Seni dengan nama Idrus Tintin semasa Rusli Zainal sebagai Gubernur Riau. Serentak dengan nama Anjung Seni, saya tabalkan jua nama “Balai Serindit” (untuk nama Gedung Daerah Riau, berdampingan kediaman Gubernur Riau). Gedung satunya lagi, saya lekatkan dengan nama “Balai Pauh Janggi”. Ya, nama Serindit, tentu boleh-boleh saja dihubungkaitkan dengan negeri kepulauan Serindit yang didatangi sang Tuan Puteri Fatimah zuriat Sultan Johor versi BM Syam sepanjang journey kualitas feminin itu.  Bentuk nama dan tabalan nama-nama ini adalah hasil siasah-runding yang bermuatan visi kebudayaan. Dan memposisikan kebudayaan sebagai jalan pedang dalam pembangunan bangsa.  Masih saya kutip ahli strategi lainnya, Herve Coutau-Begarie berikut ini; “strategi, adalah berunding dalam term kekuasaan. Sedangkan diplomasi adalah jenis runding dalam term pengaruh, yang dihasilkan lebih banyak karena katerampilan berbanding oleh kekuatan riil –militer-“.

Bujang Mat Syam sang narwastu dari timur kepulauan Melayu, telah menyajikan jalan pergi (runding) dan jalan pulang (identitas). Tinggal bagaimana cerdas tidaknya kita menghidangkannya ke meja runding  dalam kerimbunan diplomasi di tengah-tengah panggung dunia yang terbuka dengan pembawan dinamis-progresif itu. Mat Syam, sang narwastu itu memang melintasi waktu; tak sekedar waktu sejati, waktu vulgar. Namun melampaui segala waktu: Yaaa… selejang waktu cahaya (the light times).

 

 

Pekanbaru, 27 Oktober 2021

 

Yusmar Yusuf, seorang Kosmolog, Budayawan Riau dengan pemikiran progresif-alternatif. Guru besar Sosiologi dalam “Malay Studies” and Sociology of Knowledge, FISIP Universitas Riau. Pengampu utama mata kuliah “Filsafat Ilmu Pengetahuan”. Pengelana dalam lorong “Urban Tasawuf” yang berkolaborasi dengan para pengelana tasawuf  Afrika Utara dan Eropa.

 

__Kata Pengantar dalam buku “Bujang Mat” karya BM Syam.