Kidal, Bukan Kiri?

Ilustrasi: media.abc10.com

Ada satu momen yang alpa dalam ingatan bulan Agustus. Ya, “Hari Tangan Kidal Dunia” alias “International Lefthanders Day”.  Sekitar tahun 1600-an, orang kidal dituduh melakukan tindakan syihir, tersebab hanya menggunakan setangkai tangan saja, lebih dari yang lain (kanan). 

Si kidal dianggap bersekongkol dengan iblis, para syaitan. Di samping sugi, mengunyah sirih, gerak tangan kidal juga melumpuhkan akal sehat manusia dalam berbudaya dan berperadaban.

Si kidal dianggap tak layak memiliki akses ke ruang publik. Dia harus dikucil, dipencil dalam kesendirian persekongkolan bisu itu.

Usai tuduhan dan dakwa-dakwi persengkokolan, si kidal harus besua dengan realitas pasar dan segala produk yang tak memihak atas “kelainan bawaan”.

Ikutannya, hingga hari ini, barang-barang atau alat yang dijual dengan hajat memudahkan kerja sang kidal, dijual dengan harga mahal berbanding barang dan alat non kidal di pasaran.

Di samping amat begitu sulit pula mencari benda dan artikel itu di pasaran. Mungkin saat ini, dalam momen “Hari Kidal Sedunia”, boleh dilansir sejumlah gerai atau pun waralaba yang meminati bisnis artikel dan barangan yang berpihak ke si kidal.

Pembuka kaleng, gunting, pisau hingga skrup gabus, tersebab sang kidal, obyek atau alat-alat tadi menjadi sesuatu yang lucu (lawak besar dunia) ketika digunakan oleh orang-orang kidal.

Dia menjadi lelucon dunia, terutama bagi para (pengguna) tangan kanan. Seakan sesi abnormalitas yang tengah berlangsung di sisi kehidupan si kanan. Sebuah realitas yang berjiran dalam sistem ko-habitasi yang ditolak.

Kanak-kanak sedari kecil, seakan mendapat ancaman jika menyuap makanan dengan tangan kidal. Memberi dan menerima lewat tangan kidal.

Walhasil? Kesebelasan negara-negara berlatar Islam selalu kalah dalam sebuah pertandingan bola (kaki), karena penjaga gawang tak kan menepis bola jika bola yang ditendang lawan berasal dari sisi kiri gawang (menganga) dan goooool….gooool.

Jangan usil dan ragu. Masih ada upaya pembelaan secara satire. Si kidal terbela oleh sistem kerja otak yang beroperasi, bahwa dia diuntungkan dari sisi persepsi kebudayaan.

Kenapa? Orang si tangan kanan, bekerja lewat sisian otak kiri. Sebaliknya, orang kidal sistem operasi kerjanya adalah sisian otak kanan. Dari sini, orang kidal berhak memperoleh sanjungan sebagai makhluk yang paling beretika dan berakal. Ya, pepatah tua mengenai sang kidal.

Obama, sosok Presiden kidal. Kidal di sini bukan kiri dalam makna ideologis (walau kenyataan, Demokrat sebagai partai, lebih cenderung sosialis).

Banyak petenis kampiun, Rafael Nadal juga kidal dari Spanyol, mampu memberi dan menghidang permainan yang indah di atas segala ragam lapangan (rigid, tanah dan rumput).

Petenis puteri, Angelique Kerber (Jerman), juga seorang kidal yang pernah duduk sebagai petenis puteri disegani seantero bumi. Memang, dari segi jumlah amat sedikit atlit kidal.

Namun, sentak dan sauk ketika mereka beraksi, amat sulit diduga dan dibaca oleh lawan, sekaligus juga membingungkan pada kita yang menonton. Gerak kidal itu terasa amat seksi dilihat ketika si kidal menulis (pensil atau pena).

Hanya 10% dari populasi manusia yang bertangan kidal di dunia ini. Uniknya lagi, orang-orang di pulau Jawa (Jawa dan Sunda) jarang yang kidal, berbanding orang Sumatera. Orang Jawa merasa heran, kok di Sumatera banyak yang kidal.

Secara ideologi, kidal tak ditemukan dalam kitab-kitab filsafat politik. Yang ada dan tertera adalah aliran kiri dan ultra kiri. Bukan kidal dan ultra kidal.

Istilah kidal ini, sebuah istilah (Melayu) mandiri dan bisa menanggalkan ikatannya dengan lekatan ideologis politik, sekte atau pun aliran.

Fenomena kidal antara Sumatera dan Jawa yang unik secara perbandingan itu, memperlihatkan perbedaan asas; bawaan Sumatera itu lebih ke sosialis (kidal)? Jawa kanan itu lebih ke garis aristokrat-feodal? Entahlah … ini juga sebuah sesi antropologi jalanan, kalau tak mau disebut sebagai “common sense” pinggiran.

Hasan Hanafi yang seorang filsuf menggeger dunia pemikiran (Teologi Pembebasan), juga menulis buku yang diburu oleh para pencinta hikmah dengan judul Kiri, bukan Kidal: “Kiri Islam”.

Mungkin lebih cantik ketika diterjemah ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Kidal Islam”. Begitu juga gerakan kebudayaan yang tak sudi berpangku pada kaidah feodalisme raja dan sultan dulu kala, sejatinya boleh dialamatkan sebagai gerakan kebudayaan Kidal: Kidal Melayu, Kidal Batak, Kidal Minang, Kidal Jawa, Kidal Sunda, Kidal Bugis dan seterusnya. Bukan kiri.

Sebab gerakan kiri itu sendiri sudah subur dalam ingatan sejarah sebagai gerakan ‘merah’. Aliran atau gerakan politik yang berseberangan dengan kapitalisme, anti kemapanan feodalisme, juga terhadap modernisme.

Lelaki lebih banyak bertangan kidal berbanding perempuan. Saya pribadi termasuk pribadi yang menyenangi orang-orang bertangan kidal. Apatah lagi jika dia seorang perempuan. Teramat manis dan berkesan.

Walau terkesan sulit dan amat mahal untuk memperoleh fasilitas olahraga dan fasilitas publik seperti meja sekolah, posisi lubang tinta di meja kerja, posisi gitar bas yang terbalik, yang jelas fenomena kidal adalah fenomena unik dan menarik di muka bumi.

Hari Kidal Sedunia itu jatuh pada 13 Agustus. Sebuah angka tarikh yang kerap terlupa dan dilupa. Ditambah lagi dengan kehadiran angka 13. Sebagian manusia belahan Eropa dan Asia Timur, tak terkesima dengan angka ini.

Dean R. Campbell adalah tokoh yang mencetuskan Hari Kidal Sedunia ini pada tahun 1967. Sekaligus dia adalah pendiri Lefthaders International, Inc.

Tahniah duhai kaum kidal sedunia. Selamat merayakan “Hari Kidal Sedunia”. Begitu aja. Tanpa ucapan milad dan happy milad. Ha ha ha…