Merbak Laut Ku: Kita Adalah…

Raja Ampat: islander.io

Ingin dan rindu akan tantangan serba tak terduga dan tak terukur yang berada di depan sana. Lompatan besar itu tengah dan sedang dilakukan oleh Jokowi? 

Simak dan cermatilah beberapa lompatan orang biasa yang menjelmakan dirinya sebagai orang ‘luar biasa’. “Letih memerankan diri sebagai orang biasa”, ujar Sitor Situmorang.

Keletihan ini, mengganggu dan merisaukan agar bisa melompat dan meloncat, keluar dari defenisi ‘adalah’ yang tercantum dalam andaian orang banyak, termaktub dalam kamus dan naskah buku teks.

Kita keluar dari selonsong gosong penjajah dulu, hadir dengan niat besar untuk mengubah diri menjadi bangsa yang diakui. Mampu menegakkan kepala kala berjalan di antara bangsa￾-bangsa lain yang lebih maju dan matang.

Kini, kalender usia sudah menjejaki usia dewasa, namun kita masih terbelenggu kaidah-kaidah yang serba ‘kacukan”; ada yang sibuk mengelus-elus paham liberal, ada yang mabuk dengan kapitalisme, ada yang heboh menguntumkan moda khilafiyah-syariah.

Sempalan kiri Marxis tak sedikit diduga berkeliaran. Semua bentuk benturan itu sejatinya harus menjadi ‘ramuan’ (ingredient) sehingga Indonesia tampil lemak dan kukuh dengan gayanya sendiri.

Terlahir sebagai bangsa ragam latar belakang budaya lokal namun tetap dalam kuntum makhluk tropis. Tak mungkin pula dengan mudah dan murah, sekonyong-konyong mengubah diri menjadi makhluk benua dari tanah-tanah nun dengan gaya serba radikalis￾puritan imporan.

Kita makhluk lautan tropis, tampil dalam renyah senyum yang senantiasa mekar, menghindari perilaku bengis dan menghardik ketika berinteraksi dengan tetangga atau jiran, apatah lagi dengan bangsa-bangsa asing. Kita menjadi besar, berkat kehadiran orang-orang lain.

Ranum senyum dan ramah ini mungkin disalah-tafsirkan sebagai bangsa penurut, mudah diatur, longkah mengolahnya. Oooouuu… tunggu dulu.

Senyum mekar, ramah menyapa bukanlah menunjukkan bahwa tanpa pendirian, tanpa ilitizam dan jati diri. Kita diturunkan Tuhan di muka bumi tropis ini, tentu hadir dengan sejumlah ‘rahasia-rahasia Tuhan’, sejumlah ‘misteri-misteri tropis’ yang harus dipertahankan hingga dunia ini khatam. Sebuah pertanggung-jawaban spiritual-langit.

Maka, tampillah dengan ‘kita adalah’. Indonesia itu bakal menjadi dan sedang menjalani proses menjadi dan menjadi. Proses ini berlangsung tiada henti.

Dalam keragaman dan perbedaan itulah kita saling jahit-menjahit. Kalau sama semuanya, maka akan runtuh lah bangsa ini, hapuslah negara ini.

Viva Indonesia, senantiasa mengukir dan melukis serba ‘adalah’ itu, yang membuat kita lain, unikum, tampil dalam gaya selamba (relax) bangsa tropis, tak mengklaim kebenaran sepihak, merasa paling benar sendiri (solipsistic), tak menghardik orang-orang yang tak sebarisan. Tak mudah menyergah siapa pun yang dianggap tak sealiran.

Hadirlah dalam keragaman tak terperikan. Tuhan itu esa, tapi Dia menyukai keragaman sebagai hiburan-Nya. Bagi kita, mungkin sebagai pertanggung-jawaban spiritual? Maka, petiklah hikmah dan fadhilat keragaman itu dalam maslahat hidup berjiran (ko-habitasi) lunak…

Ingin dan rindu akan tantangan serba tak terduga dan tak terukur yang berada di depan sana. Lompatan besar itu tengah dan sedang dilakukan oleh Jokowi?

Simak dan cermatilah beberapa lompatan orang biasa yang menjelmakan dirinya sebagai orang ‘luar biasa’. “Letih memerankan diri sebagai orang biasa”, ujar Sitor Situmorang.

Keletihan ini, mengganggu dan merisaukan agar bisa melompat dan meloncat, keluar dari defenisi ‘adalah’ yang tercantum dalam andaian orang banyak, termaktub dalam kamus dan naskah buku teks.

Kita keluar dari selonsong gosong penjajah dulu, hadir dengan niat besar untuk mengubah diri menjadi bangsa yang diakui. Mampu menegakkan kepala kala berjalan di antara bangsa￾-bangsa lain yang lebih maju dan matang.

Kini, kalender usia sudah menjejaki usia dewasa, namun kita masih terbelenggu kaidah-kaidah yang serba ‘kacukan”; ada yang sibuk mengelus-elus paham liberal, ada yang mabuk dengan kapitalisme, ada yang heboh menguntumkan moda khilafiyah-syariah.

Sempalan kiri Marxis tak sedikit diduga berkeliaran. Semua bentuk benturan itu sejatinya harus menjadi ‘ramuan’ (ingredient) sehingga Indonesia tampil lemak dan kukuh dengan gayanya sendiri.

Terlahir sebagai bangsa ragam latar belakang budaya lokal namun tetap dalam kuntum makhluk tropis. Tak mungkin pula dengan mudah dan murah, sekonyong-konyong mengubah diri menjadi makhluk benua dari tanah-tanah nun dengan gaya serba radikalis￾puritan imporan.

Kita makhluk lautan tropis, tampil dalam renyah senyum yang senantiasa mekar, menghindari perilaku bengis dan menghardik ketika berinteraksi dengan tetangga atau jiran, apatah lagi dengan bangsa-bangsa asing. Kita menjadi besar, berkat kehadiran orang-orang lain.

Ranum senyum dan ramah ini mungkin disalah-tafsirkan sebagai bangsa penurut, mudah diatur, longkah mengolahnya. Oooouuu… tunggu dulu.

Senyum mekar, ramah menyapa bukanlah menunjukkan bahwa tanpa pendirian, tanpa ilitizam dan jati diri. Kita diturunkan Tuhan di muka bumi tropis ini, tentu hadir dengan sejumlah ‘rahasia-rahasia Tuhan’, sejumlah ‘misteri-misteri tropis’ yang harus dipertahankan hingga dunia ini khatam. Sebuah pertanggung-jawaban spiritual-langit.

Maka, tampillah dengan ‘kita adalah’. Indonesia itu bakal menjadi dan sedang menjalani proses menjadi dan menjadi. Proses ini berlangsung tiada henti.

Dalam keragaman dan perbedaan itulah kita saling jahit-menjahit. Kalau sama semuanya, maka akan runtuh lah bangsa ini, hapuslah negara ini.

Viva Indonesia, senantiasa mengukir dan melukis serba ‘adalah’ itu, yang membuat kita lain, unikum, tampil dalam gaya selamba (relax) bangsa tropis, tak mengklaim kebenaran sepihak, merasa paling benar sendiri (solipsistic), tak menghardik orang-orang yang tak sebarisan. Tak mudah menyergah siapa pun yang dianggap tak sealiran.

Hadirlah dalam keragaman tak terperikan. Tuhan itu esa, tapi Dia menyukai keragaman sebagai hiburan-Nya. Bagi kita, mungkin sebagai pertanggung-jawaban spiritual? Maka, petiklah hikmah dan fadhilat keragaman itu dalam maslahat hidup berjiran (ko-habitasi) lunak…