Ada Apa (Petani) Sawit?

Ilustrasi: media.thestar.com.my

Mereka tahu, saya seorang pengurus (penasehat) Apkasindo Pusat. Langsung menggelegar suara petani cabai dan bawang menyergah: “Kami berpuluh tahun menghadapi fluktuasi harga tak menentu, namun tak pernah menjerit, memekak dan menyusah kuping nasional. Mengadu kepada alam saja. Itulah ketegaran yang tersisa untuk mendidik bangsa ini”. 

Petani mahkota era ini adalah petani sawit. “Kok berpembawaan manja? Kalau harga Tandan Buah Segar (TBS) tengah kencang berada di puncak tinggi, mereka malah tak kenal dengan jiran sebelah.

Secara senyap pergi menyusur jalanan sejak subuh temaram menuju showroom mobil: beli Pajero, Fortuner keluaran tahun tinggi: Cash. Alias bayar tunai. Kalau pun leasing (kredit) dengan tenor tahun pendek”. Ini gerutu seorang petani bawang kepada saya beberapa minggu lalu. Saya harus senyum bijak… (?)

Gonjang-ganjing stop ekspor CPO dan sejenisnya, berdampak dahsyat bagi petani sawit. Petani meraung. Harus mengetatkan ikat pinggang selama hampir enam bulan. Sawit terkena bala perang Ukraina. Sawit jadi mainan global.

Dia bukan pemain lokal-regional. Pukulan politik menggelegar secara nasional. Sumpah seranah pun menyembur ke pemerintah saban detik dari mulut petani dan para pelaku sawit secara eskalatif: pengusaha dan pemilik kebun.

Tiga bulan terakhir, terjadi “mobilisasi” petani dari ragam suku menyerbu tangga istana. Lengkap dengan emblem (entitas) adat; tanjak, ikat kepala warna-warni sebagai upaya menggertak dan unjuk geram. Harga TBS segitu-gitu aja.

Ketika komoditi sawit bergerak liar sebagai mahkota global, dia otomatis menjadi pertaruhan global dengan segala kepentingan, bermain dalam “moda serba pasar” di luar kendali petani. Mekanisme pasar, sesuatu yang berada di luar kuasa awam dan para haram-jakul.

Pada unjuk geram itu, semua hadir dan tampil selaku petani yang resah dan teraniaya: Oleh kebijakan yang lembab. Oleh keputusan dan eksekusi yang terkesan pondan-banci.

Bilah unjuk geram ini tak pernah terjadi pada petani petai, kelapa (kopra), sehingga menjadi “resah nasional” secara kompulsif dan impulsif: menyeret-nyeret keresahan petani seakan nestapa bersama, kere kolektif, kemiskinan jamaah (herd poverty).

Adakah mereka petani beneran? Atau menginstrumentasi petani sawit? Entahlah. Inilah antara lain pemain lokal berdimensi nasional itu.

Pasar bukan cerita harga dan jual beli. Pasar juga berdimensi politik. Sawit telah digulung dalam selonsong instrumentasi.

Dia sudah menjadi alat sekaligus diperalat (instrumentasi) untuk kepentingan oligarkhis, kelompok kepentingan (vested group), catur dan sirkuit politik sebagai tes kekuatan modal jelang tahun politik (para calon Presiden ke depan).

Juga gorengan partai-partai yang saling terkam dalam kompetisi pengaruh terhadap konstituen dan “negara”. Bertetangga dengan itu, cabai, bawang dan terung tidak seseksi sawit.

Petani cabai tetap bercerutai: “Jangan tampilkan sisi cengeng bangsa ini. Tunjukkan maturasi bangsa ketika berdepan dengan musibah dan krisis. Berbentuk apa pun krisis itu”.

Ketika tampilan cengeng itu dieksploitasi dan dipamer ke depan cermin dunia, maka bakal rawan terperangkap proxy besar Amerika atau pun China sebagai tuan agung yang lihai bermain di antara bandul pasar yang tak terkendali itu. Alias, kecengengan mengundang musibah dan mudharat yang lebih besar, sekaligus menakutkan.

Kendali pasar itu bukan di ruas Jalan Thamrin Jakarta. Tapi Orchard Road, Time Square New York atau malah Hong Kong dan London.

Kian berderai air mata, kian serak suara tersebab demonstrasi menyalak dengan usungan isu “petani tak makan”, kian runyam dieksploitasi moda “proxy” global yang memang mengimpikan “kenyataan serak”, amarah, amuk rakyat sebagai tontonan dan bahan gelak tawa mereka di anjung-anjung menara negara center (negara dominan).

Di sini, petani cabai, petani terung, petani kopra, petani bawang, berada di front (garda) terdepan menjaga martabat dan ketahanan sosial sebuah bangsa.

Maka, wahai petani atau yang mengatas-namakan petani; Setelah menggedor genderang dan tabuh pada panggung heboh, perlu juga dilakukan diplomasi pada panggung senyap (soft diplomacy).

Panggung senyap inilah yang berisi gelak tawa, laksana arif-bijaksana. Panggung ini tak tersentuh oleh awam atau setengah elite sekalipun. Panggung ini dingin. Aduhai… Setiap panggung punya “big data”-nya sendiri. Sekaligus punya pemainnya sendiri.

Kalau pun kita mendemam; jangan tunjukkan ke publik bahwa kita sedang demam panas. Berharap doa yang baik-baik dari orang-orang yang menyaksikan demam, malah demam kita akan dieksploitasi dengan beragam corak isu negatif. Sekaligus dibingkai dengan sejumlah doa yang buruk, agar kian lekas menuju maut atau kematian.

Bangsa yang berakhlak tinggi terpuncak, ditandai ketika diserang super musibah, tak panik. Lihatlah bangsa Jepang ketika berdepan dengan musibah paling super pilu (tsunami dan terjangan ke instalasi reaktor nuklir Fukushima). Rileks saja. Sebagaimana petani cabai dan bawang. Ketenangan dan sasmita ini sendiri, tak mudah dibaca oleh lawan yang berniat jahat kepada bangsa ini.

Tonjolkan kematangan (maturasi) bangsa melalui sejumlah cobaan dan musibah. Apa pun bentuk, dimensi dan skalanya…