Kelopak Langit Si Uli Bungsu

Buku Kumpulan Puisi Pulang: Murparsaulian

 

Ini bukan kencing agas. Tiada cinta tanpa rasa sakit. Maka, jalanilah rasa sakit itu sehingga dia mengelopak. Ya, kelopak rindu.  Kelopak itu bak kehamilan. Maka, sekali, lagi ini bukan kencing agas. Ini persoalan kandungan. “Rasanya aku tengah mengandung”: Mengandung rindu. Pergi atau pulang, kerap menyisa kandungan. Kita yang meninggalkan tempat kediaman, serasa ada yang hilang, namun ada kandungan baru yang bergayut di dalam benak: Rindu.

Rindu itu adalah cinta. Dan cinta itu diawali pahit, berujung getir. Di tengah-tengahnya saja manis. Maka, jalanilah kehidupan ini dengan ugahari (moderat); tak tajam ke samping. Tak mengkutub ke kanan. Tak menunjam ke palung dan tak meng-anjung ke langit. Rindu itu adalah bilahan cinta pada helai sebelah. Cinta dan rindu memerlukan alamat kembali bernama pulang.

Pulang, bukan pertanda kalah merantau. Pulang, bukan pula tafsir keliru tentang arah yang hilang-lesap. Pulang bukan jua letupan sensasi populis-massa (pulang raya Idul Fitri). Pulang bukan menuju teduh, hangat dan hariba. Pulang adalah persoalan murung nan abadi. Ternyata kita mendambakan kemurungan kampung nan lecah dan lembab. Lecah, becek dan lembab itu adalah teman kecil, tempat jatuh, anjung mandian, gugur bunga, semak jelatang, batu pipih lemparan permukaan sungai. Buih sungai musim kemarau, sembulan kubah-kubah bebatuan. Irisan butir pasir di telapak kaki.  Yang paling dinanti: banjir bandang menerpa anakan tangga (rumah). Dan kita pun berterjunan. Pulang, sebuah jalan tegak menuju rumah kembaran samawi yang masih tersisa di muka bumi. Jelang pulang sebenar ke dunia samawi yang menyatu-padukan kembaran dan kemiripan itu. Di rumah samawi, tiada lagi kemiripan dan kembaran (avatar). Semuanya memecatkan dirinya dalam gumpalan cinta (heaven love).

Sebuah Film (Homayoun Ershadi) tentang kejatuhan Afganistan oleh Taliban menyisa ‘air mata pengungsian’ dan ‘pengungsian air mata’.  Perjalanan panjang berbungkus legam dalam sebuah truk tanki menuju sempadan Pakistan. Demi menyelamatkan anak satu-satunya.  Si Ayah yang kaya raya dan berpendidikan modern ini harus menempuh perjalanan melintas badai kepungan Taliban yang  jumawa. Sepanjang perjalanan di dalam tanki silinder tertutup rapat, dia bertanya pada si anak: “Apa yang engkau ingat di dalam kegelapan murung ini, Nak”?

Si anak menjawab lekas: “teringat bait-bait Maulana” (Rumi):

Apa kata Maulana”? Tanya sang Ayah

Si anak mendaras bait demi bait:

If we come to sleep, we are His drowsy ones” (Jika kita tertidur, kita mewakili kantuk-Nya)

And if we come to wake, we are in His hands (Jika kita bangun, kita berada alam genggamannya)

If we come to weeping, we are His cloud full of raindrops (Jika kita menangis, kita adalah awan hujan-Nya)

And if we come to laughing, we are His lightning in the moment (Ketika  kita terbahak, kita lah  halilintar-Nya saat itu)

If we are come to anger and battle, it is the reflection of His wrath (Jika kita marah dan bertengkar, itu murka-Nya)

And if we come to peace and pardon, it is the reflection of His love (Jika kita damai dan memaafkan, itulah cermin kasih-sayang-Nya)

Who are we in this complicated world? (Siapalah kita di dalam dunia yang rumit ini?)

Bait-bait puisi Maulana yang berasal dari tanah Balkh (kini masuk dalam wilayah Afghanistan), dijadikan penawar rasa takut yang menyergap dalam kebisuan legam sepanjang pelintasan jelang tapal batas. Tapal batas itu pula sejenis garis abadi tentang pulang dan pergi.

Heidegger lah yang mengungkit misteri kematian dan pulang sebagai keperluan dasar (manusia). Bukan instinktif. Tanpa pulang (kematian), tiada masa lalu dan masa depan. Tanpa kematian atau pun kehilangan, tidak akan ada sejarah. Tidak ada waktu. Tidak ada rencana dan program. Waktu hanya rela berdiri bak pandu bagi manusia, ketika dia dijadikan jiran terdekat dengan kehilangan atau pulang (mati). Tanpa kematian, tiada konsep temporalitas dan keabadian (everlasting, eternal).

Dalam kemas rindu pulang ini, si Uli Bungsu (Murparsaulian) meramu percakapan kepada alam, kepada burung, rerumputan, kepada musim yang empat, kepada salju demi mengabdi dan berselunjur kepada waktu yang menawarkan had (batas). Had ini dikenal sebagai ‘ajal (sampai batas waktunya). Kita menyelenggarakan ‘ajal masing-masing: ‘Ajal pertemanan, ‘ajal persekolahan, ‘ajal pekerjaan, ‘ajal profesi, ‘ajal pergaulan. Dan segala ‘ajal itu disobek per hari dalam kalender diri. Ya, semua bentuk ‘ajal itu hadir karena waktu dan ke-me-waktu-an. Dia berbicara dengan orang-orang lain, obyek-obyek lain, sebenarnya dia ingin berbicara dengan ‘kita’. Dari mana saya tahu? Sebagian percakapannnya adalah tentang kita. Tapi tak langsung disudukannya kepada kita. Iyyaka a’ni, isma’ ya’jarah’, ujar pepatah Arab: “Aku berbicara dengan mu, tapi dengarlah duhai jiran-tetangga”.

Ya, kebetulan si Uli Bungsu ini seorang wanita. Dia adalah anak Ayah. Bukan jenis anak mama (mom’s daughter). Dia membengkokkan adagium like father like son, berubah menjadi like father like daughter. Dengan kesadaran inilah saya sajikan rapalan anak lelaki kecil yang berdialog dalam bahasa Rumi dengan seorang Ayah di dalam gelungan tanki teramat gelap jelang memasuki sempadan Pakistan.

Tanki gelap gulita itu setara gugur salju di musim gigil di tanah jauh: Eropa. Pergi dan pergilah kau Nak! Ini jenis frasa ‘usir produktif’. Kalau kan kampung halaman mu menjadi penambat kebodohan. Usirlah tanah kelahiran itu. Kalau kan tanah kelahiran itu menjadi cuaca yang mengkocar-kacirkan kejeniusan mu, lontarkan jauh-jauh diri mu ke ruang-ruang yang tak terpemanai oleh akal manusia kampung yang serba kecil ini.

Berkelana lah! Temui berjenis-jenis kata-kata dan frasa yang keluar dari mulut-mulut manusia yang bukan kita. Di tanah ini, segala kilauan firman nan lembut berubah sontak menjadi pejal, kenyal dan keras di mulut manusia. Kata-kata Tuhan yang merdu lewat dawai firman, menjadi parau di mulut manusia.  Maka, saat inilah yang paling tepat. Ketika suatu kaum berkaku-kaku dengan sejumlah firman-Nya, orang tak mau lagi mendengar perkataan manusia.

“Aku hanyalah seorang Ayah yang setia berdiri di tepian batang air. Tak lebih dari itu”. Apalah arti hidup seorang lelaki, laksana sehelai ilalang jelang disabit.

Gigil musim dingin          

: Mansur S                                                           

Aku memungut remah gigil yang tumpah

di gulungan salju yang beku

beribu kata kaku

tak terucap

hanya resah mengganggu

sisa tidur tanpa dengkur

 

Andai angin enggan memberi kabar

pada siapa lagi kutitip ingin

pun burung musim dingin tak jua datang

hanya ada nyanyian bisu

dari sudut malam

hingga kelopak siang yang muram

aku terus melukis pelangi di hati

walau sepi kadang menikam kalbu

dan langit tak lagi bercahaya

 

Di rona abu-abu

rinduku luruh ditelan salju

leleh di rumput basah

lalu jatuh ke tanah

 

Siapakah yang dapat menebak ragu?

yang terus menggerus haru

memagut kenangan itu

menoreh pilu

 

Andai ini belum cukup

izinkan aku menukilkan sejarah

di kitab-kitab hari yang berarak pergi

mencari sebentuk janji

untuk sebuah destinasi

 

Di ranting beku

kutitip salam yang dibawa malam

ke segenap alam

esok pagi akan dipancarkan mentari

ke setiap raga yang yang selalu menanti

datangnya hari

 

Jika salju turun lagi

itu adalah pertanda

bahwa aku begitu  rindu

bersenda gurau denganmu

Ayah…….

 

Enschede, 2016

Dari tanah Eropa, di sebuah kota kecil Enschede (Belanda),  juga di beberapa ‘situs wakaf’ negara Eropa lain, Mur mengurai dan menyusun detak waktu penceritaan ‘ku kepada mu’ untuk didengarkan para jiran-tetangga. Dia memang anak sang Ayah.

 

Labuhan Bundaisme

Tak semata Bungsu. Mur, di Eropa, malah jauh sebelumnya di Perth (Australia Barat) adalah sosok Bunda bagi anak-anak. Selaku Bunda, dia adalah salinan dari Damsiah: Seorang perempuan Melayu lugu dalam candaan gilas air Batang Lubuh (Rokan). Berteman air, bersisian huma. Itulah Damsiah. Bersuamikan orang yang turun dari dataran tinggi dalam cita-cita menjulang ketika melandai ke ranah nan datar sisian Rokan.

Jika pulang adalah sebuah proyek, maka rindulah programnya. Pelaksanaan programnya adalah pemadatan semen atau malah “cor ulang” yang dititip melalui tangkai-tangkai kaki dua arjunanya (duo Hang) yang masih kecil merayap di “tanah –bekas- penjajah”. Naluri keibuan yang disauk dari “diam”nya Damsiah, menjadi:

Tingkap musim dingin

: Zia dan Abhiv

 

Gelap masih di atas tingkap

mimpi mesti segera ditangkap

bangunlah Nak!

jangan biarkan angin melenakan tidurmu

 

Bangkitlah Nak!

raih mimpimu

dingin yang menusuk tulang adalah cambuk

bahwa hidup mesti terus berjalan

walaupun langkah masih tersadai

di antara gundukan salju yang landai

 

Dedaunan basah adalah sumpah embun

bahwa ia selalu hadir di tiap subuh

mencetak jejak hari yang luruh

sebelum matahari datang membawa peluh

 

Cetakan kakimu adalah tanda

bahwa hidup mesti bermakna

teruslah jauh melangkah mengejar cita

buang ratap dan duka nestapa

gapai mimpimu yang kau kaitkan di pinggang matahari

jemput citamu yang kau simpan di perut bulan

 

Kau rempuh salju di tengah gelap

menjemput ilmu di subuh yang sangap

gigilmu kian mendudu

namun kau lawan tanpa gerutu

 

Terus kayuh sepedamu

hingga sampai

maknai diri dengan prestasi

panjatkan doa pada ilahi

hingga usia usai

 

Enschede, 2018

Dua bait frasa mahkota (penggoda) selaku Bunda; “gapai mimpimu yang kau kaitkan di pinggang matahari; jemput cita mu yang kau simpan di perut bulan”.  Di sini gambaran perjalanan anak-anak yang diidamkannya dalam peristiwa bolak-balik (vice versa) demi “menabung waktu”, tak semata menunggangi atau mengenderai waktu. Sebagaimana anak-anak di Belanda, sepeda adalah roda pelontar tubuh yang bersebutuh dengan angin. Neder(land); Niederland akar kata Germania ini menunjuk kawasan paling rendah di kontinen Eropa. Nieder itu artinya rendah, landai. Negeri ini, menyediakan ruang bagi angin bersiul bahkan menghempas. Badai angin? Ihwal seharian. Lawannya? Wind breaker (pemecah angin). Sedari kecil, anak-anak disuruh berenang di atas angin menyebu di tanah rendah (Nieder). Mereka diakrabkan dengan tombak angin yang tajam bak sembilu, bahkan meroboh. Anak-anak yang diasuh dalam gaduh anginlah yang bakal (pernah) menakluk 2/3 muka bumi.

Saya pun teringat pelajaran Bahasa Belanda tahun 90-an yang saya tempuh di sebuah Gereja tua dan Erasmus Taal-Centrum (Bandung-Jakarta). Ada pembahasan puisi lunak. Puisi dodoi dan nyanyian tidur (lullaby, kindliedtje). Sajak tentang kanak-kanak dari Gang Mawar.

 

De Kinderen uit Rozenstraat

Hans G. Hoekstra

 

De kinderen uit Rozenstraat

hebben altijd vuile handen,

ze hebben meestal een gat in hun mouw,

en ongenpoetse tanden

 

De kinderen uit Rozenstraat

hebben altijd slordige haren,

ze hebben vaak een splinter in hun hand,

en builen, bulten en blaren

 

De kinderen uit Rozenstraat

lopen meest op blote voeten,

ze zijn de hele dag op straat,

alsof ze nooit eten moeten

 

De kinderen uit Rozenstraat

schijnen zich nooit te verschonen,

ze mogen alles wat ik niet mag.

‘k wou soms wel in de Rozenstraat

wonen…

Bahwa sajak ini (de Kinderen uit Rozenstraat) mengayuh cerita kanak-kanak dengan kisah lengan yang kotor (vuile handen) dan rambut ledah (slordige haar). Ya, hidup yang sederhana dan berbahagia. Mereka merangkak hari sepanjang jalan (ze zijn de hele dag op straat). Sederhana, murung, apa adanya dan kesehajaan, itulah yang memercik dari tampilan lugu anak dari Gang (Jalan) Mawar, mendorong kaidah orang untuk mengalami peristiwa pulang ke tempat itu: Ik wou soms wel in de Rozenstraat; wonen…  (“terkadang aku ingin sekali berdiam di Gang Mawar”). Walau penuh bisul, punuk dan embikan… (en builen, bulten en blaren).

Untuk apa kesahajaan dan kebersahajaan? Untuk menombak kebanalan (banalization/ pendangkalan) kaidah hidup. Mewah dan selebritas, sekilas dianggap laksana keagungan. Padahal tak lebih dari ‘keagungan semu’. Dalam kesahajaan dan kebersahajaanlah (sasmita) cinta dipanen. Kuntum bunga dipetik. Dan Damsiah itu adalah amsal musim gugur yang dirindui. Pada musim ini, segala ihwal luruh dan menyirna. Luruh dan sirna adalah jalan pulang. Ya, proyek jalan pulang. Menghampar layar ‘kehampaan’ (produktif). Rehat sejenak dengan sejumlah fauna yang jua menyenyap. Di depan sosok bunda, sejuta kata jadi beku. Di atas pangkuan bunda, geram bergerilya menuju jalan sudah. Idam melayani diam. Idam dan diam atau sebaliknya diam dalam idam: itulah kastil sekaligus kuil cinta.

Cinta sebagai ramuan, memabukkan. Tapi ditawarkan oleh diam. Damsiah sesuai namanya adalah figur yang melantunkan diam. Kita diajak menyulih, mendengar dan menulis tentang bisingnya diam. Bahwa di dalam sumur diam, berkecamuk kebisingan dalam rezim serba senyap. Diam itu sendiri adalah ‘gugur’: menggugur amarah, menggugur benci, hasad, haloba, dengki, khianat dan fitnah (energi rendah). Diam itu adalah energi tinggi (penyeimbang).

 

Musim gugur pertama    

: Damsiah                                                                       

 

Aku ingin lena

di sayap malammu yang diam//mengasuh mimpi tentang matahari//dan terbang menangkap bintang

 

Kulihat daun jatuh melayang//meliuk dan tertekuk di tempat duduk//di kursi kosong yang tersuruk

seekor kucing melompat di atasnya//daun itu pun remuk

 

Di depannya seekor burung kecil//menggigil kedinginan//bulunya basah, air matanya tumpah//sendiri di sudut malam

terpaku menunggu pagi//

 

Di antara waktu yang terus berdetak pilu//burung itu terus menelan rindu//menyimpan tanya yang belum terjawab//menyapih ratap yang ranap//di telan sepi yang pengap//Oh, adakah pilu mampu kusapu//dari baris-baris kata yang ngilu//yang tersangkut di daun pintu?

 

Dodoimu, ibu//terus terngiang//memanggilku untuk pulang//di sekat-sekat waktu//rindu terus bertalu

 

Masih adakah titian cinta//yang bisa menuntunku kembali padamu?

 

Enschede, 2017

 

Dalam diam dan senyap terhidang kehadiran. Senyap dan diam punya kembaran bernama kosong dan kekosongan. Gugur adalah diam, senyap sekaligus kosong (blanco). Tuhan hadir di kala senyap, diam dan kosong. Kekosongan adalah sebuah keadaan negasi. Sebuah konstanta penyataan “negasi” (menidakkan). Tuhan hadir dalam senyap dan kosong. Ya, dalam langgam negasi. Gugur dan senyap yang menghasil diam itu, menghadirkan Tuhan. Tidak dalam narasi spekulatif manusia. Tuhan adalah Dia dalam tabiat zat Dia. Bukan Dia menurut kita, tapi Dia menurut Dia. Bukan Tuhan yang diperkatakan manusia. Para pengelana menemukan Tuhan dalam diam, dalam senyap. Dalam kosong dan dalam kekosongan. Maka, jalan satu-satunya menemu Tuhan adalah lewat “kedunguan” kita tentang Dia. Tak cukup pengetahuan untuk menyingkap Tuhan.

Dalam peristiwa gugur (senyap, diam, jua kosong) berlaku kaidah tentang Tuhan; “Tuhan dikenal sebagai Dia yang tak dikenal (quasi ignotus cognocitur). Bahwa kita sama sekali tak pernah mengetahui keberadaan-Nya, ujar Thomas Aquinas sang “Doctor Agelicus” (Doktor ke-Malaikat-an). Dalam peristiwa gugur, diam dan senyap yang menghidang kosong, membuat Dia sebagai “realitas gaib” yang tak tersingkap oleh pandangan manusia. Tak tampak oleh indera; Tuhan adalah Tuhan itu sendiri (God as God as such), bukan Tuhan dalam andai-andaian. Beberapa teologi senyap ini, berpangku pada doktrin “creatio ex nihilo” (berawal dari kekosongan). Kosong bukan berati tiada. Kosong tetap ada. Saking “ada”nya, malah menjadi “kosong”. Demikian pula “kedunguan” itu menjadi landasan untuk memahami Tuhan. Kita menyandarkan “kebutaan nan tulus” sebagai jalan untuk memasuki Tuhan, bukan melalui “andaian nan pongah”.

Suatu ketika, selaku “penghayat” sejati, Nabi Muhammad berujar lunak: “Zidnifika tahayyuran” (Tuhan… tambahkanlah untuk ku kebingungan pada –Mu). Di sini, gugur, diam dan kosong bukanlah wakil dari “saying-not”, tapi lebih mengarah ke “not-saying”: Sebuah pegun dan ketertegunan tak berhingga. Inilah puncak senyap, pucuk diam…

Inilah zona Cinta Ketuhanan. Hadith Qudsi: “Kuntu kanzan makhfiyan … (“Aku adalah khazanah tersembunyi. Maka Aku rindu untuk dikenali. Maka Aku ciptakan Ciptaan agar Aku dikenali”). Kenalilah dengan sejumlah kebingunan dan kedunguan nan tulus. Cinta adalah kerinduan yang mutlak agar dikenal oleh yang selain diri-Nya. Alam semesta adalah wujud Cinta Ilahi untuk dikenal. Selagi Cinta itu masih ada, alam ini belum akan berakhir”.

 

Nukilan Tanah Jauh

Eropa itu adalah pertiwi kebudayaan (bunda kebudayaan dunia). Orang boleh berkata, saat ini Barat tengah terserang kantuk berat. Namun, di Eropa, ketika orang berbicara mengenai kebudayaan, ya rujukan agungnya adalah Perancis. Lalu, di Perancis, kalau orang ingin mendalami dan menceburkan diri dalam inti kebudayaan, akan mengacu pada Paris. Dalam Paris itu sendiri ada beberapa nucleus/core (inti) kebudayaan yang wajib disapa;  Saint Germain de Pres, Montmartre, Montparnasse, Place de Terre, Moulin Rouge, Quartier Latin.

Lalu, bersemi Cinta di Paris. Cinta di tanah Eropa…

Selisih jarak antara ‘mayat’ dan manusia, jembatannya adalah ‘cinta’. Maka, menjadi manusia, bergumullah dengan cinta: “Cinta, bagi Kristeva adalah hukuman mati yang menjadikan diri saya ada”.  Eropa yang gagah sekaligus ‘maha’ lembut itu, selain Heidegger, juga menyorong Melanie Klein yang menghabiskan hari-harinya untuk telaah naluri kematian. Betapa lasak kontinen ini dalam tradisi fikir. Di sini Mur beberapa tahun hinggap dan menumbuh sayap intelektualisme ‘subyektif’nya demi mengorek palung dan mencemplungkan diri ke dalam (tradisi akademik) selain Barat, juga Espanola, terkhusus Catalunia.

“Memberi ucapan terimakasih” ke atas ihwal apa yang penting untuk diketahui mengandung sesuatu yang baik (good) dalam diri seseorang dan orang lain merupakan desakan awal untuk mencinta, ujar Klein. Kemampuan untuk berterimakasih ini muncul dari pengalaman atas “good breast” (masa penyusuan yang baik) yang bertugas memenuhi rasa lapar dan haus bagi seorang anak. Memenuhi rasa lapar, terhubung dengan tema keberlimpahan yang menjadi prototipe dari keseluruhan pengalaman yang mengiringi kenyataan bahagia dan kenikmatan (jouissance). Berseberangan dengan itu, Klein malah menduga bahwa kemampuan mencinta, bukan semata insting dasar makhluk (Freudian), namun sekaligus merangkap sebagai “aktivitas primordial dari ego”. Bagi pandangan tasawuf, cinta melampaui akal. Di depan cinta, akal mati. Di hadapan cinta, akal layu dan membeku.

Mur, menjalani “masa penyusuan yang baik” (good breast) secara kebudayaan itu di Eropa. Dia menemukan cinta. Pun, menggulai cinta yang “melampaui” bahagia dan kenikmatan (jouissance) itu di Eropa.

Un Amour Impossible, sebuah novel kontroversial Christine Angot (2015) berkisah tentang sosok perempuan turunan Yahudi miskin di Perancis, diperolok-olokkan zaman dan oleh kemenduaan dungu aristokrat Perancis yang tajir melintir kekayaannya. Tampil macho, penuh gairah, seorang lelaki aristokrat berselera seni tinggi dan wawasan kehidupan super modern (kosmopolitanisme). Perselingkuhan dengan perempuan Yahudi ini, melahirkan seorang gadis ceria, juwita seri gunung. Namun tak diakui (rezim formal administratif bias partriarkhi). Si gadis yang adalah darah-dagingnya itu, dirogol-sodom oleh sang Ayahnya sendiri demi menjatuhkan  nilai dan harkat keperempuanan turunan Yahudi di tanah Eropa yang tetap menyala dalam semangat borgeousi-superior itu.

Beberapa kali si perempuan Yahudi ini meminta ketulusan untuk dinikahi secara resmi, berkali-kali pula si lelaki ini menolak dengan alasan: “Aku hanya akan menikahi mu jika engkau seorang wanita yang kaya”. Inilah salah satu bunyi senggugukan perempuan yang terstigma oleh aniaya zaman yang menumpang hidup si sebuah planet kehidupan bernama bumi. Pun tersebab dia turunan Yahudi, di Eropa:

“Tak ada yang bertahan di dunia ini; semuanya memudar dan musnah.

Satu hal jatuh ke dalam puing dan menghapuskan dirinya…

meninggalkan lebih sedikit jejak

dibanding keindahan

Dan itu… adalah penderitaan”

 

Eropa kesenian’ memang tak selaras dengan ‘Eropa kekuasaan’. Dia adalah dua sisi yang berparas jelita  sekaligus berparas buruk, ujar Rabindranath Tagore.

Eropa dengan keseniannya, memercikkan sisi agung kemanusiaan dengan polesan wajah lembut memukau. Sebaliknya pula, Eropa dengan kekuasaannya adalah sisi gergasi yang menggerunkan dunia. Perajurit tentera Romawi itu flamboyan, menawan, sekaligus menakutkan. Menggelegar, tak hanya dunia tapi jua langit: “membunuh “Tuhan” (Jesus) dalam ‘sejarah iman Kristiani’ (konspirasi Romawi-Yahudi). Namun, Heaven Jesus (kelahiran Isa Langit) ini pula yang mereka angkut, diraut, dijahit dan dilantunkan lewat lagu mendayu “die Stille Nacht, Heilige Nacht” (Malam Sunyi, Malam Kudus). Lagu ini juga yang membuat jeda (rehat sejenak) peperangan antara Jerman dan Prancis pada suatu masa dulu. Mereka mengumpul dan memungut air mata. Kenapa perang dan untuk apa perang?

Perang, kemodernan, demokrasi, gaya hidup flamboyan tak lebih dari sederet tahyul. Begitu juga capaian seni tinggi dan serius yang ditampilkan para pelukis Perancis, puisi dan musik Jerman, bangunan tua dengan gandengan arsitektural tak terduga, ibadat gereja formal (berseberangan dimensi mistika gnotisme memukau) dalam tradisi Kristen, semua itu tak lebih dari gulungan tahyul yang melipat-lipat kehampaan renjana.

Spinoza: “Mereka yang memeluk erat setiap jenis tahyul, dapat dipastikan adalah mereka yang paling mendambakan keuntungan eksternal”. Inilah yang tersisa pada Eropa yang terserang kantuk berat itu. Kanak-kanak Eropa sadarlah, bahwa “Suasana batin yang perih, diidamkan untuk kegemilangan tiran. Sebagaimana tiran diperlukan agar kesedihan terasa penuh, muai dan berlipat ganda”, ujar sang spiritualis Baruch Spinoza lagi. Maka, tiran itu bisa berwujud tahyul, sebaliknya tahyul modernitas itu sendiri adalah tiran yang membelenggu.

Kita hanya mengetahui dua atribut. Padahal atribut dunia itu berlipat ganda jumlahnya. Dua atribut itu adalah pemikiran (thought) dan keluasan (extension). Hal ini tersebab, kita keluar dari sebuah jendela untuk melontarkan diri dengan hanya berbekalkan dua elemen: pikiran dan tubuh. Atribut yang dua itulah yang dijadikan perkakas untuk memahami dan memeriksa Tuhan. Gagal? Ya. Gagal. Atribut itu tak terbatas, karena Tuhan memiliki kuasa untuk eksis secara tak terbatas (secara absolut) yang tak mudah dipahami secara total; baik lewat fikiran (thought) maupun pun keluasan (extension).

Simak Sajak “Pucuk musim semi”, khusus bait-bait akhir; Di antara bunga narcissus// senyumku simpul disapu angin//serbuknya terbang ke tengah lapang// menyebar keindahan//sebelum musim panas menjelang// warna kuningnya terang// akan berubah menjadi kuning kerontang// seperti gambaran hidup di dunia// bahwa usia akan lapuk dimakan waktu// tak ada musim yang abadi (Keukenhof, 2017). Di sini Mur bermain-canda dengan ‘keluasan’ (extension). Bukan fikiran.

Puisi musim panas”; memuncul erotika eksistensial. Ya, sejumlah pertanyaan eksistensial tentang ‘ada’ dan meng-ada-. Mur bercanda dengan sejumlah ‘keterlemparan’ neurotik: “Sanggupkah kau memeluk badai?// tanya mu di antara gundukan pasir yang kerontang// sementara kita berada di pusaran waktu// yang terus berlari kencang//

Kita masih saja di sini// tersadai di bibir pantai// mendengar suara ombak yang pecah berderai// menunggu bulan yang tak kunjung datang//

Di tengah musim yang garang// ku ingin memetik bintang// menusuk gamang// dengan ujung ilalang//

Taukah kau arti amarah?// adalah barah yang selalu tersisa di sudut waktu// menunggu detik yang kian berlari//

Tahu kah kau seperti apa bentuk sunyi?// adalah ruang sepi// yang terus mengurung diri// dalam ngilu tak terperi//

Tahukah kau seperti apa bentuk ngilu?// adalah sayatan luka berkali-kali// di tempat yang sama//

Tahukah kau seperti apa bentuk luka?// adalah pilu yang menganga// tanpa batas makna// tak bisa diraba// hanya bisa dirasa// (Enschede, 2018).

Pertanyaan-pertanyaan repetitif, sejatinya sembulan kubah rindu mengenai makna “keterlemparan” manusia dari sebuah dunia yang serba entah. Kenapa kita di sini? Mengapa amarah? Mengapa sunyi? Mengapa ngilu dan mengapa luka? Inilah jenis pertanyaan berbasis neorosis-eksistensial itu (paling tidak, lebih mendegup kalau pertanyaan itu tidak dijawab).

Di Puncak Alpen, Swiss 2017 (“Menakar ingin”), Mur menyeru satu nama arkhaik selejang sejarah Melayu; Tun Irang (Tengku Tengah). Perebutan sumbu Melayu di sekitar ‘Selat’. Kenapa dia menjatuhkan pilihan di puncak tertinggi ini dan lalu mengingat Melayu? Ada apa dengan ketinggian dan Melayu? Misteri apa yang terbungkus dalam kisah kehilangan “ranggi” yang dijalani sejumlah pertengkaran Bugis dan Raja Kecil dari Siak yang diperanumkan dek Pagarruyung? Padahal saya juga menunggu kerinduan yang sama demi memperkatakan Tuanku Tambusai atau situs tua pesona dunia: Muara Takus.

Maka, terjawab sudah tanya ‘nganga’ Puncak Alpen itu. Ya, pada puisi yang ke 12 (“Badai Biru tengah malam”, sekaligus judul cerpen Hasan Junus). Dan puisi ini memang didedikasi kepada figur HJ yang turut membesarkan geriang dawai intelektual Mur (sang mentor Agung). “Ceracau mu tentang Victor Hugo// Les Miserables dan Notre-Dame de Paris// Albert Camus dan The Myth of Sisyphus// pun Jean Paul Sartre dengan Being and Nothingness// masih dalam ingatan//

Di ujung senja// kulihat puncak Eiffel menyimpan mimpi// melambai memanggilmu kembali//.  

Eropa memberi seduhan hangat bagi kreativitas lasak. Dia bukan untaian igau. Inilah doa bunga matahari (heliotropium): “Sangkalan apalagi yang boleh diajukan atas fakta betapa bunga matahari itu bergerak mengikuti peredaran matahari dan betapa bunga rembulan (selenotropium) mengikuti peredaran bulan, membentuk suatu prosesi mengikuti daya mereka, di belakang obor alam raya tadi? Sebab, segala sesuatu berdoa sesuai dengan jenjang yang ditempati olehnya di alam ini, dan melagukan puji-pujian kepada penghulu rerangkaian ilahiah yang ia turuti, suatu pujian ruhani dan akali atau pun pujian jasmani dan inderawi. Bunga matahari bergerak hingga ke taraf tertentu di mana ia bebas melangkah…”  (Teks asli Proklus berbahasa Yunani, ditemukan oleh J. Bidez).

Apakah sajak-sajak Mur mengikuti gerak siklik bunga matahari (dan doanya)?

Bak lengkungan waktu yang dirias musim yang empat; negeri ini amat menggoda bagi manusia dari negeri dua musim (khatulistiwa). Mur merayap lengkungan dengan pembagi empat itu dan hadir dengan “cara berterimakasih pada waktu dan musim. Rujuk puisi “Musim dingin pertama”; Rindu terus bertalu// masih adakah harap yang bisa di dekap// untuk kembali padamu?//

Tinta kesedihan mengering sudah// kerontang dimakan rayap kedukaan// papa dalam kebekuan malam// masih adakah jalan pulang kepadamu?//

Di kertas-kertas usang kutulis rindu// berharap ada jawaban di situ// menyelam malam yang kelam// menyimpan ratap// sungguh aku telah jauh melangkah// dan ingin larut dalam dekapmu// masih adakah maaf untukku?//…..

Bait akhir: Begitu lama aku meninggalkanmu// hingga kulupa pada detik keberapa ku pintal janji// namun kau tak pernah menyimpan amarah// senyummu selalu hangat// ditengah musim dingin yang menyimpan gigil// tunggu aku di rumah iglo kita yang diselimuti salju

Dan,… Corona pun hinggap di Eropa. Pas jatuh pada musim Semi yang dinanti. Inilah musim percintaan dan kasih-kasih antara segala makhluk di bumi empat musim. “Musim semi corona”: Pada kuntum bunga yang mulai merekah// kulihat senyum sumringah// di pipimu yang merona merah// pada dedaunan yang mulai hijau// aku terpukau// menyaksikan cahaya mentari yang silau//

Ah musim yang riang// aku mengajakmu pulang// menyulap mimpi menjadi gemintang// namun corona tiba-tiba menghadang// bunga-bunga seperti enggan mekar// kupu-kupu lari entah kemana//taman-taman sepi// orang-orang mengurung diri…

Eropa itu ada secara kebudayaan disebabkan oleh Musim Semi (Spring). Puisi lahir, teater dipentaskan, musik digubah, tari dilansir di taman-taman, semua bertema cinta. Sasana seni dibangun, rumah teater, konservatorium megah, bienniale diadakan, segala ekspo karya seni ditampil, diskusi tentang kehidupan dan filsafat mekar sepanjang sungai-sungai yang meliuk. Pemahat, pematung, pelukis, menyemarakkan kehadirannya dalam jumlah-jumlahan street furniture dan installation art. Seni halus (fine art) diseduh dalam kelentingan musim, seni abstrak, dadaisme dan segala aliran berkembang. Rumah-rumah mode dan desain ‘mewilayahkan diri’ dalam gelungan gemuruh fashion show yang menerobos kota-kota bergemuruh (Milan, Paris, London). Parade dan kabaret tak terlupakan. Musim semi… aduhaiii.

Dan… Paris menyediakan diri dalam garis-garis geometris, sebagai kota cinta. Semua persimpangan memperjumpa makhluk dalam kasih dan sayang. Segala taman menyorakkan warna bergempita. Semua simpang riuh, garis-garisnya menuju bayangan Eiffel. Simbol cinta. Tak lagi mengarah ke simbol kebebasan dan kemenangan (Arc de Triomphe). Tak semata bunga yang mekar, segala kuntum mekar-merbak, hati pun mekar sekaligus melar.

Tersebab Covid-19, Musim Semi 2020 menyusun ulang dirinya sendiri. Menyusun diri dalam rerangkai adaptasi dan penyesuaian kreatif-kuratif. Orang-orang walau dalam jumlah terbatas, menyerbu taman dalam tampilan wajah setengah (berungkus masker). Ciuman dan gandengan tangan adalah tindakan usang dan dianggap sebagai tampilan sekarat. Di masa-masa ini, kehadiran nyata berubah sontak dalam majelis kehadiran maya; berkembanglah industri wisata berdimensi augmented. Termasuk Augmented show. Demikian pula kaidah-kaidah keilmuan dan posisi biner pengetahuan mengalami ubah suai dari kerja-kerja dalam ranah bersua dan tatap muka, dilanjutkan (extension) dalam persuaan maya. Hanya beberapa labor yang bergemuruh dengan protokol ketat dan penuh, demi penuntasan pagebluk diseduh.

Tampil manja, jelita dan macho di taman-taman kota adalah produk pabrik usang dalam keceriaan musim semi. Dulu, Eropa memanjakan segala jenis kemauan dan tampilan di ruang-ruang publik demi kaidah seni, hak asasi manusia dan keindahan alami, originalitas sensasional, kejujuran ekspresi manusia, ketulusan dan kesahajaan hidup yang tak dipoles-poles, demi kemanusiaan (human being, mankind). Tubuh adalah bagian dari alam (jagad) raya. Tubuh diekspresi dan dieksploitasi sejadi-jadinya lewat kemasan seni, kaidah spiritualisme dan seterusnya. Dialog murni antara Gustav Janouch dengan Franz Kafka (dalam bukunya Gespräeche mit Kafka); “Binatang hubungannya lebih erat dengan kita sebagai manusia. Inilah terali penjara. Justeru hubungan dengan sesama manusia menjauh, sebaliknya hubungan dengan hewan lebih mudah”.  Lalu, pada masa-masa Covid-19, manusia Eropa harus menahan diri untuk tidak mempertontonkan kumis sebagai simbol kemapanan capaian borjuasi seorang pria. Kumis, sejatinya ialah cara lelaki Eropa mengekspresi dirinya di ruang publik sembari menyegarkan ingatan ‘rujak’ Freudian: “Kumis adalah implant bulu pubis wanita”.

Langit Eropa disesaki doa di masa Corona tiba. “Tuhan, berikan kami kekuatan// agar tetap dapat berdiri melawan sunyi// berikan kami keyakinan// bahwa esok masih ada mentari. Mur, menyudahi kegalauan di tanah Eropa yang tak bersemi di musim semi. Terinterupsikah ranah pertiwi kebudayaan itu? Karam kah Eropa?

 

Perempuan Kognitif: Ballad

Simone de Beauvoir, Julia Kristeva, bercokol menawan di atas peterakna simbol perempuan kognitif Eropa. Nama pertama mewakili Barat dan nama kedua, suara Timur (Eropa). Tapi, Kristeva menjadi begitu diperhitungkan dalam deretan perempuan kognitif dunia, ketika dia memeram ‘ego intelektualitasnya” bergaya Freudian khazanah Paris.

Ranah perempuan Asia dan kognitif, menjadi kerisauan besar Barbara Watson Andaya. Apatah lagi ketika dikaitkan dengan capaian puncak heroisme perempuan. Semua berada dalam defenisi lelaki.  Andaya menulis: “Dalam kebanyakan kasus, perempuan yang mendapat tempat dalam narasi (‘drama’) suatu bangsa pastilah perempuan yang berhasil memainkan peran kelaki-lakian, utamanya perempuan yang terjun bertempur melawan musuh… peran-peran maskulin”. Berikut ini deretan perempuan yang dibariskan menuju Pantheon Asia: Trung bersaudari, memimpin perlawanan rakyat Vietnam atas serbuan Cina pada 43 Masehi; Thao Suranari, berjaya mengusir tentera Lao ke Thailand Timur Laut pada 1827; dan Cut Nyak Dien, perempuan Aceh yang memerangi Belanda bersama Suaminya (The Flamming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia, Honolulu, 2006).

Perempuan dan menulis. Perempuan dan Melayu. Melayu dan menulis. Heroisme perempuan Melayu. Muncul nama-nama; Tun Fatimah, Tengku Tengah (Tun Irang); lebih arkhais lagi sederet nama-nama berasal Bentan Wan Senari, Wan Sribeni, Wan Inta. Lalu ada Engku Puteri Hamidah, Aisyah Sulaiman, Cik Mas, Tengku Agung Sultanah Latifah dan lain-lain. Di pulau Jawa sana, ada nama Kartini yang menulis. Nama-nama yang keluar dari rahim menak dan pabrik kekuasaan (istana). Nama-nama perempuan Melayu ini tentulah amat beruntung. Karena berfungsi menepis fenomena “keramat bahaya” (sacral danger) yang tersambung pada tubuh perempuan hingga wilayah najis yang keluar dari pabrik konstruksi perempuan Asia, bias partriarkhi.

Inilah satu di antara kelemahan dimensi spiritual dan intelektual kaum puan di ranah Asia kontinen. Konsepsi ini amat kuat dipromosi oleh Buddhisme Teravada dan Kunfusianisme. Kedatangan agama-agama Barat (Islam dan Kristen) pada abad ke-15 dan 16 mempromosikan konsepsi baru mengenai perempuan kognitif. Mur, tak lahir dari rahim menak dan ningrat. Dia perempuan kebanyakan.

Bagi Kristeva, perempuan adalah makhluk yang tak takut pada kematian dan hukum. Oleh karena mereka bisa menyelenggarakan kedua-duanya sekaligus. Dalam makna yang lebih modern, mereka mengatur permasalahan dunia bawah dari hukum politik yang direpresentasikan oleh hukum reproduksi. Apakah ini bermakna bahwa semua ibu di sisi ekstrem lain (pembangkangan) adalah satu-satunya penjamin sosialitas, karena merekalah yang menjamin keberlangsungan spesies?” Perlu digaris-bawahi, ujar Kristeva lagi, setidaknya bahwa hukum yang mutlak (Hukum Ilahi) diinstitusikan melalui kematian. Tak ada hukum selain hukum kematian. Dengan mengetahuinya, bisa menolong kita mengurangi jumlah kematian dalam hukum. Dan Freud amat petah berbincang ihwal ini kata Kristeva: ”Masyarakat dan hukum didirikan berdasarkan kejahatan umum”.

Mur menghadirkan sejumlah keraguan “sacral danger” itu lewat guratan jari dan pena di tanah Eropa. Dan dia menolak “sacral danger” itu via tinta, dengan laptop yang dijinjing ke mana menghala: Via tinta. Bukan Via Dolorosa. “Seseorang bisa jatuh sakit apabila tak dicintai”, ujar Kristeva sengit. Perempuan Kognitif adalah perempuan yang dicintai dan mencintai. Dulu ada sosok super jelita bak manekin dalam sapaan Puteri Rumawi (bagai porselin). Sosok ini menjadi sumber ilham (inspirasi  sekaligus ekspirasi) anjakan maqam spiritualitas Ibn Arabi (bermata gelap bak legam malam). Dialah al Nizam yang jadi pagutan hati syair-syair “Doctor Maxima” (Syaikh al Akbar) dalam antologi spiritual “Tarjuman al Asywaq”. Para pengelana mistis pun merawat sosok ‘al Nizam’ itu dalam rerangkai maqam tak berhingga: “satu nama yang abadi di dalam hati, yang tak bisa dikawini”.

Puisi “Puncak musim panas”: “Kau tak kan pernah tahu// sejauh mana kalbu mengembara// kemana ia hendak sampai// dan kapan akan kembali//…

Kegelisahan pencarian intelektualisme (kognitif) itu disemburkannya pada ruang yang teramat cair (super derai): ya, musim panas (Summer). Dilanjut dengan kembara “Raposdy Kedidi” yang didedikasi kepada sosok mentor: Rida K. Liamsi. Ini adalah dodoi perjalanan panjang dalam geriang kebaharian “awang dede” (jenis lullaby Melayu). “Dodoi awang dedemu// melecutku untuk bangkit// bingkas// dan berlari mengejar mentari pagi di sini sauk-bersauk antara ‘penanda-pertanda dan ditanda’: keriangan-keriangan kognitif (subyektif). Endapan bacaan sastrawi dan ipuh bacaan dunia, terserlah pada puisi “Aku bukan Oydipus dan Sisifus”. Begitu jua “Kau sebagai puisi”: “Aku tak pernah berhenti mengagummimu sebagai puisi// di denting waktu yang beranjak pergi//selalu ku tulis rindu di napas-napas bisu”. Bayangan poetical image, mengintai di celah jahitan kata-kata berujung bunyi repetitif.

Membaca Eiffel”: persuaan kembaran “samawi” masa kecil (lullaby) dan tunai setelah dewasa bermain pasir di kaki Eiffel (kognitif-empiris).

Ada beberapa puisi yang ditulis di kota Perth (Australia) tahun 2008. Dianggap sebagai tangga pertama jelang naik ke tangga kastil Eropa.

Menakik Louvre”, ini puisi yang amat romantik dan tajam kelopaknya (bukan duri): “Singgah lagi di Paris// disambut gerimis// Akh, paris basah dihujani kata-kata// menganak sungai hingga ke Seinne.

Di pucuk Louvre// hatiku tertumbuk// ingin meneguk// setumpuk hiruk// yang bertalu di sudut kalbu//

Di balik selendang tipisnya// kulihat Mona Lisa menjeling// aku masih jauh di belakang// terhimpit garis antri yang panjang//

Di sudut museum// Leonardo da Vinci melambai//tak sampai// memanggil untuk kembali//

Di jantung Paris// kutakik Louvre// membentuk garis-garis juang// mengejar  impian// menjemput bintang

Ada setangkai puisi didedikasi kepada Al azhar (Allahyarham); “Nanyian musim gugur”: “Singgah lagi di Leiden// menjemput kenangan// menjejak rindu// dedaunan musim gugur// seakan memanggilmu kembali…Puisi ini seakan ingin mendahului peristiwa senyap, diam, kosong dan kekosongan yang distilasi dari fi’il Damsiah (sang Ibu) sebelumnya. Ya, Al azhar menyatu dalam diam tiga tahun berikutnya (puisi ditulis 2019). Gugur, musim gugur, seakan berposisi anteseden bagi sebuah kehilangan. Al azhar dalam ingatan itu, mewariskan laku dan sejulur cerita…

Puisi urutan 37, rupanya “Duka Andalusia” didedikasi kepada saya pribadi. Entahlah di mana sangkut aroma Santiago de Compostella, menyelimuti keruntuhan “taman Eden” gnostime tasawuf berarkian di pelantar Guadalquivir. Ya, Sevilla sebuah nama nan ranum dalam ingatan mainan masa remaja yang dah matang bagi sosok sang “Doctor Maxima”, khusus bagi saya pribadi. Dan Mur, mengurut tapak-tapak Al Hambra, Granada, Cordoba. Lalu dikunci gerendel lunak lewat figur menawan bak awan teduh-teduh (rekan diskusi si remaja Ibn Arabi) bernama Ibn Rusyd (Averroes). Puisi ini ditulis di perantara tahun (2019-2020).

 

Penyeduh

Perempuan yang berpuisi. Memang terkesan sejumlah pengulangan diksi dalam kerimbunan puisi yang ditulis Mur. Namun, satu hal yang kita banggakan, bahwa Mur menyertai (terjemahan) versi Inggris dari seluruh puisi yang dia tulis di dua benua: Australia dan Eropa. Perempuan Melayu dalam degub rindu memanjat puncak peradaban. Antologi ini, paling tidak semacam reminder (pengingat) kepada kita; bahwa tradisi menulis dan kepenyairan adalah jalan sunyi sekaligus jalan suci: Memungut sejumlah “wahyu” yang tercecer, yang belum sempat terkodifikasi secara ‘formal’ (al kitabiyah?).

Semua diksi, frasa yang dibangun dalam jahitan dan rerangkai puisi, sejatinya memiliki kembaran misteri di dunia sebelah sana. Kita hanya menjalani “perintah” bintang mustari di dalam diri untuk menikam dan bersisian dalam semangat “co-creator” dalam sejumlah tindak memungut dan memungut. Dan, Murparsaulian setia dan selalu tabah dalam tindak “mengurat kuno” demi memagut hati si kembaran misteri ini. Dan kata-kata yang berhamburan, lalu membentuk gunungan puisi itu, adalah kata-kata yang sudah memperoleh permit dari ‘kembaran misteri’ yang berada di alam sebelah sana untuk dipertaut dan diperjumpakan kepada makhluk yang tengah menjalani tugas migrasi (penumpang sementara) di planet bumi ini.

Melontar kata, menjemput kata, sekalian memperhubungkan diri dengan peristiwa pulang yang tak fisikal. Sebagian besar rimbunan kata dalam sajak-sajak Mur menampilkan cakrawala serba sebak hati, memelas, semacam geram orang-orang kalah. Tema besarnya berkeliaran antara “kesadaran”, “nilai” dan “kesedihan”. Sesekali kita disentak oleh gaya vivants-voyants (peramal kehidupan). Bagi Spinoza, “kehidupan bukanlah sebuah ide, pun bukan sebuah teori. Kehidupan adalah sebuah cara untuk menjadi”. Kita diajak untuk menjadi lewat sapaan dan candaan dengan alam dan segala perkakas ikutan dan derivasinya.

Akhirnya, aforisme khatam, saya petik dari Johannes Colerus penulis biografi Spinoza.  Spinoza adalah seorang mistikus-filsuf Belanda yang amat saleh. Dan Mur menghabis tahun-tahun produktifnya di Negeri Kincir Angin ini. Tentang Spinoza dan Laba-laba: “Ia mencari beberapa ekor laba-laba dan mengadunya. Atau malah melempar beberapa ekor lalat ke jaring laba-laba dan menikmati pertarungan mereka, sampai pecah tawanya”.

Sajak-sajak Mur meneguh air mata, segugukan, tapi jua tawa. Walau tak sepecah tawanya sang Spinoza…

 

Pekanbaru, 5 Januari 2022

 

Yusmar Yusuf, seorang fenomenolog, Budayawan Riau dengan pemikiran progresif-alternatif. Guru Besar Sosiologi dalam “Malay Studies” and “Sociology of Knowledge”, FISIP Universitas Riau. Pengampu utama mata kuliah “Filsafat Ilmu Pengetahuan”. Pengelana dalam lorong “Urban Tasawuf” yang berkolaborasi dengan para pengelana Afrika Utara dan Eropa.

 

___ Pengantar untuk buku Kumpulan Puisi “Pulang” karya Murparsaulian