Di Rumah

Ilustrasi: static.ffx.io

Rumah, awal mula menjadi manusia, menjadi orang dan menjadi sesiapa. Di rumahlah kita menemukan bintang, bulan, matahari dalam pandangan mata sendiri, belum diimbuh, dirusak lewat mata orang lain. 

Bulan, bintang dan matahari dari rumah adalah bintang, matahari dan bulan sejati, hasil konstruksi diri yang serba lurus, terbatas dan lugu, terkadang (mungkin) dungu.

Kedunguan ini pula yang dirindukan untuk memahami alam, sekaligus Tuhan. Tak cukup pengetahuan untuk memahami Tuhan, “maka tambahkanlah kedunguan demi kedunguan untuk memahami Mu”.

Karena begitu terbatas ilmu dan pengetahuan manusia tentang Tuhan, maka kita harus balik kembali ke rumah, untuk memetik kedunguan dan mengejakannya secara perlahan dan terbata-bata.

Kita bukanlah makhluk sosial saja, tapi adalah makhluk domestik, yang merindukan keheningan, diam, senyap, kesunyian agar diberi ruang untuk menggali sumur di dalam diri agar lebih dalam lagi, sebagai bekal untuk berinteraksi pada waktunya tiba, dalam memajeliskan diri selaku makhluk sosial, makhluk yang berhimpun, berseloka dalam keramaian jamak, ibadah dan senda loka kehidupan; di kantor, sekolah, pabrik, sawah ladang, kebun dan parak.

Selama ini kita bersorak dalam keramaian hanya bermodalkan pengetahuan (baik sekolahan, pun karena pengalaman hidup). Kita tak pernah menyandinginya dengan kedunguan, keluguan yang sejatinya membawa kita lebih mawas diri dalam berinteraksi dengan alam bahkan dengan segala isi makhluknya.

Mengapa rumah? Password-nya adalah “aman”. Di dalam dan di luar adalah dunia yang amat berbeda. Alam dalam adalah ketenangan, kenyamanan, kehangatan, rebah melarut.

Sementara alam luar adalah alam inhibisi, ancaman, heboh, bising, kemaruk, alam yang diisi oleh sejumlah pertandingan dan persaingan yang tak kenal sudah.

Segala penyakit itu berasal dari luar, tidak dari dalam. Maka, ketika ancaman, wabak, perang, wabah, bencana dan virus sekalipun, dia jamak dialamatkan sebagai sesuatu yang berasal dari luar.

Maka, saat dan ketika itu lah orang harus kembali ke dalam. Mengapa ke dalam? Di dalam ada tasik bening tempat kita merenung, siapa kita, mengapa kita dan sudah bagaimana kita selama ini bertindak-laku di luar sana.

Kita sok dan berlagak sebagai makhluk “luaran”, makhluk ekspresif, meniadakan sesuatu yang semestinya juga mengesankan diri selaku makhluk “impresif”. Menenteng diri bak centeng menjinjit malam sehingga menusuk subuh, secara spiral. Seakan tiada hari untuk membangun “quality time” bersama sanak keluarga.

Akibatnya? Permainan dunia luaran itu bernama selingkuhan, berbagi cinta, melukai hati perempuan, menolak kehadiran anak, sikap kepada yang tua renta, hukum publik pun jadi mainan bagi mereka yang kuat untuk memperlakukan yang lemah.

Inilah dunia ekspresif yang dibangga-banggakan oleh kaum “machoism”; yang melekatkan kekuatan dan kekuasaan patriakh, dunia kaum lelaki dan meng-kotak-kotakkan kekuasaan di ujung tongkat dan genggaman siapa yang kuat, maka dia beroleh keuntungan dan ketawa tanpa jeda.

Kita melekatkan diri selaku makhluk perantau yang tak kenal jalan pulang dan balik kembali alias jalu (walking sleep). Hari ini kita disuruh balik kampung, mudik kampung, tidak dalam pengertian berbondong-bondong menuju kampung kelahiran atau pun kampung leluhur yang dah lapuk.

Jenis balik kampung model ini, tak lebih dari model balik kampung palsu, balik kamulflase, bukan kampung dalaman. Balik kampung model (raya dan lebaran) adalah gelombang sosial kepalsuan yang di dalamnya berisi persaingan palsu, orang mempertontonkan diri sebagai yang paling daku, paling hebat, berkadar reunion (reuni); mempertontonkan dan membangga-banggakan siapa aku, kita bersibuk meninggalkan rumah-rumah demi reuni kepalsuan itu; anak reuni dengan angkatan sekolahnnya yang berlapis.

Bulan depan ayah pula yang melakukan reuni di kota A, bulan depan sang ibu pula meninggalkan rumah, demi menunaikan rindu reunian di kota E. Dan begitulah seterusnya; reuni seakan menjadi ritual modern, ritual posmo atau pun ritual kaum yang menyebut dirinya sebagai “post truth” itu.

Tiba saatnya kita melakukan reuni sejati dalam kedunguan terbatas dengan kaum keluarga, kaum sedarah dan segalur asal, pada sebuah titik bernama: Rumah.

Ya, kita harus balik dan kembali dalam pulang yang tak palsu: bisa mengenal siapa isteri sebenarnya. Mengenal siapa suami, anak-anak kita sebenarnya. Telah sejauh apa mereka menjadi sesuatu yang bernada “serba luaran” karena interaksi tiada henti dengan luaran yang mengedepankan ekspresionisme kapitalisme, hedonisme, dunia kerja, dunia jabatan dan eselon, dunia dalam charta kemajuan anak-anak era “post truth” itu?

Selama ini, kita telah menjadi “yang lain”, “the others”, dan tak pernah mau pulang ke “rumah” ke dalam “diri sendiri”. Kita menumpang bangga menjadi sesuatu, menjadi orang lain, yang dibalut kemegahan partai politik, oleh jabatan puncak syarikat multi nasional yang mengedepankan profesionalisme, dinamisme, progresivisme dan anti kedunguan yang semestinya menggiring kita menjadi seorang yang spiritualis dan seorang saleh (secara universal).

Di luar sana, kita secara tak sadar menjadi perencah atau bumbu untuk sebuah gulai bernama ormas yang berbalut syariah, berbungkus agama yang terkadang melupakan relasi sosial dan tenggang-rasa dalam kaidah keragaman.

Seakan menjadi juru kunci menuju kedamaian sorgawi di alam seberang sana, di alam sebalik sana, karena mengalami bertingkat-tingkat kegagalan dalam menunaikan kewajiban hidup yang wajar di muka bumi.

Mungkin ada yang “berseberangan” dengan pemerintah saat ini, namun kita tak mampu pulang ke rumah untuk bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kaum kerabat terdekat kita, bernama keluarga? Inilah saatnya kita balik dan kembali ke rumah dari kebisingan serba palsu di luaran sana…