Kurban, Drama “Herois”

Ilustrasi: infakyatim.com

Drama herois pertama berdimensi spiritual itu tentulah kisah permulaan zaman generasi awal bani Adam (suguhan kurban yang disediakan oleh Habil dan Qabil)

Menjadi dekat, diawali dari sebuah kisah mencincang, mencencang, memutus atau menyergah. Bilamana ihwal ini terjadi? Dia selalu disangkutkan dengan drama herois berkadar spiritualitas. Kisah kurban yang dimaksudkan untuk menakar kedekatan sang hamba dengan Sang Pencipta.

Kedekatan ini, diikat dengan sebuah perjanjian tahunan, melalui kesediaan menyerahkan kurban, agar menjadi lebih dekat, karib dan akrab: semua kata ini berasal dari kata qurban atau qurb.

Drama herois pertama berdimensi spiritual itu tentulah kisah permulaan zaman generasi awal bani Adam (suguhan kurban yang disediakan oleh Habil dan Qabil).

Keikhlasan Habil sang adik, ditandai sejumlah capaian panen tetumbuhan dan tanaman segar, lalu dipersembahkan kepada Tuhan.

Di sini, peristiwa kurban ditandai oleh mahkota akhlak: jujur, ikhlas. Memberi yang terbaik, bukan yang usang, busuk dan tak terpakai. Dimensi spiritualitas itu mendorong seseorang untuk berlaku jujur dan ikhlas dalam berlaku-tindak.

Tanpa jujur dan ikhlas, maka pemberian itu akan menyisakan jiwa yang busuk, hati nan kapang. Memberi yang ikhlas itu ialah satu kemampuan untuk menyerahkan sesuatu yang tersayang, amat bernilai secara khazanah, sepanjang waktu (sweet heart).

Ketidakikhlasan dalam peristiwa memberi, akan bermuara pada kesumat, jiwa nan menanah. Dan Qabil tengah diserang penyakit hati nan busuk itu. Sebusuk “persembahan” yang diserahkan kepada Tuhan, sekadar ingin menunai sebuah tugas “perjanjian” (sejatinya “perintah”). Persembahan itu ditolak Tuhan.

Terbangun sebuah kesadaran tentang pertahanan diri dan identitas; “Bahwa aku lebih senior, lebih tua, lebih dulu menghirup udara dunia, lebih awal memandang saujana bumi, berbanding si adik Habil”.

Ego ini bersemai di atas media tanah “hati” nan membusuk, rapuh dan tak muai. Ego ini sejatinya mengurus dan kering-kerontang. Pun memaksa hidup gaya lonjakan menungkai tak bergizi. Menjadilah dia tegakan kayu kering tak meneduh kehidupan sekitar. Menjelma bak tegakan pohon angkuh, tak berinteraksi dengan tetumbuhan nan merimbun di sisiannya.

Berawal dari media tanah “hati” nan busuk, sehingga yang tumbuh dan membesar adalah dendam, kesumat dan pembalasan: hanya menunggu waktu dan kesempatan yang dianggap tepat dan pas. Begitulah Qabil menjalani hari-hari kelam dalam nada falsetto; siang malam, saban detik.

Terngiang-ngiang dalam ingatan dan detak hatinya bagaimana menakluk dan menghapus kehadiran sang adik yang jujur-ikhlas dari muka bumi. Inilah sejarah semburat darah manusia pertama kali dan memenuhi unsur “sejarah tragedi” dan “tragedi sejarah”.

Pembunuhan ini berkait “isu kedekatan” dengan Tuhan. Sebuah kaidah spiritual yang tertempel dalam satu peristiwa takluk-menakluk dan demi menghilangkan “kehadiran” (fisikal) sang adik yang ikhlas dalam berkurban. Ihwal pengurbanan yang didesain oleh Tuhan pada etape kedua, ditandai oleh serangkaian doa nan panjang. Sepanjang 86 tahun.

Doa itu menjadi pembingkai sebuah perkawinan seorang lelaki agung dengan sosok perempuan hitam yang diperisterikan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan oleh isteri pertama (gahara) bernama Sarah@Sarai. Perempuan hitam itu bernama Hajar.

Selaras nama ini; kata Hajar, memang seakar kata dengan kata Hijr (hitam); dan sesiapa yang melaksanakan ibadah “hajj” (haji), sejatinya dia tengah melaksanakan tindak-tanduk dan meneladani perilaku Hajar.

Dari kata Hajar ini pula dibentuk derivat tindakan berpindah (perpindahan ruang) heroik yang menjadi penanda zaman; “hijrah” dengan sangkutan historisnya tahun “hijriyah @ Hageriya”. Panjatan doa 86 tahun. Dikabulkan dengan kelahiran Ismail; sekaligus memanggul “Hak Kesulungan” (walau lahir dari isteri kedua), bukan Sarah.

Selang tahun kemudian, Ishaq lahir dari rahim Sarah. “Hak Kesulungan” bani pun digenggam Ismail. Kala menua, lelaki agung (Ibrahim) itu memperoleh suatu khazanah yang teramat superlatif nilainya.

Dia bukanlah khazanah tersembunyi. Melainkan khazanah maujud secara fisik, demi meneruskan ajaran tauhid (monoteisme). Juga memberi efek vibrant (getar) kepada bani yang baru.

Berkecambah terlalu muai hingga saat ini, bahkan lebih dari 100 kali lipat dari bani Ishaq, yang kecil jumlahnya. Ismail lah yang menjadi tajuk bani Arab hari ini telah mencapai jumlah 200 juta lebih, berbanding Yahudi (Ishaq) yang hanya se-per sekian dari jumlah itu.

Di punggung Ismail ditabur permata akidah monoteisme itu terjamin berlangsung ke zaman yang jauh. Ditampung di dada sang Murshalin (Muhammad Suci). Dan Ismail pun dididik sang bunda; versi seorang ibu nan lembut, namun bisa mematah sesuatu yang keras, membeku.

Ismail lelaki muda yang tumbuh dan mekar di padang gurun nan kaku. Dia harus menakluk kuda, lalu menjinakkan kuda sebagai hewan piaraan, agar bisa ditunggang. Remaja lelaki yang menanjak ini menjadi sasaran kisah “memberi” agar tali kedekatan (qurb) itu kian kencang antara Ibrahim dengan Tuhan.

Tak saja Ibrahim yang ikhlas. Ismail muda lebih ikhlas dengan “perjanjian” (sesungguhnya “perintah”). Kedua sosok ayah dan anak ini mengulangi keikhlasan, kesabaran yang dinukil Habil di awal sejarah bani Adam. Untuk memperoleh hubungan yang dekat dengan Sang Kekasih, tiada jalan lain yang paling strategik, selain jalan ikhlas dan jujur, sabar dan tawakkal.

Inilah prinsip dasar etik monoteisme tanpa basa basi.

Ajaran monoteisme dijinjit Muhammad SAW suci, tak terputus dengan pangkal mata air perdana spiritualitas dan keikhlasan yang ditabur benihnya oleh Ibrahim sang bapak monoteisme itu.

Kita dengan bangga menerima warisan ibadah Ibrahim AS itu; menunai haji, berkurban dalam bulan yang sama. Berlari dan bergerak dalam ruang medan yang telah dirintis dan ditetapkan oleh Ibrahim AS sebagai Tanah Haram. Apakah kita pun menjadi dekat dan akrab dengan Sang Khalik?