Dulu Lagi, Radio

Ilustrasi: wallpaperaccess.com

Radio membalut malam. Membungkus siang. Lalu berkati-kati bangsa jadi merdeka. Suara yang meniti gelombang pendek-mikro -elektromagnetik, saling berkejaran, melompat cangkang benua dalam ragam bahasa Membawa kabar yang satu, kabar yang dua, hingga beragam-ragam. Berupa-rupa dalam berbagai gaya.

Dulu dia hadir dalam gaya suara beku, lurus, tanpa intonasi. Sekedar menyampaikan “sesuatu”: Berita, warta dan kabar. Baru tahap aras makna “sesuatu”.

Setelah berita diuli menjadi “hal-ihwal”, suara manusia yang berucap di depan corong kian bergelombang, tempo menawan, terkadang cepat, lambat dan sedang. Semua jenis tempo ini, mengikat dan mengebat emosi pendengar.

Radio dengan segunung ihwal itu berubah wujud menjadi instrumen emosi manusia. Tak sekedar berkabar, dia menjadi ‘kiblat hiburan’ sebuah zaman, pusat info mode, peletak dasar nasionalisme sebuah bangsa, tempat menancap akar tunggang identitas budaya, dakwah, media agitasi, propaganda keragaman ideologi. Ideasi mengenai tata rempak hidup manusia dari segala belahan dunia.

Radio jadi alat pembagi antara Timur dan Barat: dikupas dalam dimensi ‘biologi ideologi’ serba kaku, ya blok Timur dan blok Barat.

Radio pula yang menggelinjangkan semangat mediasi, tak Barat dan tak Timur, tapi juga tak ragu-ragu. Pun bukan sesuatu yang dipercampur antara Barat dan Timur dalam semangat progresif.

Dari sini, semangat “jalan tengah” didukung oleh banyak bangsa-bangsa lemah, bekas jajahan yang menandakan diri mereka sebagai Non-Blok. ‘Perkauman’ ini, tersebab radio.

Dia bekelamin tanpa wayar untuk memindah kode, bunyi dan suara dalam rentang nan jauh: “wireless telegraphy”. Bangsa-bangsa penakluk dalam selera penemuan,memanfaatkan radio secara mangkus.

Relasi simbiosis bangsa besar dengan bangsa bungsu, muncul dalam wacana kebangsaan, pun memanfaatkan gelombang radio untuk kerjasama.

Indonesia merdeka, berkat jejaring informasi dan gelombang suara yang meloncat-loncat dari ujung benua: penindasan, ihwal penistaan terhadap pribumi, hal pemisahan hak dan kewajiban pribumi dan kaum penjajah, menjadi terang benderang berkat radio.

Manusia terjajah, dimanjakan oleh jelmaan gelombang elektromagnetik, demi membebas diri dan berkabar tentang benaman lumpur yang mengepung peradaban.

Radio, berkejaran tak saja di lembah, namun di pucuk-pucuk dunia. Dia memikul bunyi, kode dan suara yang menerjang hingga atap dunia: Tibet.

Loncatan zig zag membahana impian kemanusiaan paling tinggi, sampai ke penebaran propaganda dan dakwah nilai-nilai langit yang menjadi pucuk impian spiritual.

Radio jadi timangan remaja. Para pengendara, dimanjakan alur kuping, tanpa harus memaksa indera mata dan raba. Sang pekasih memagut rindu, diayun, dibuai lewat suara, tak perlu tatap mata.

Sambil berleha di atas dipan, sang pekasih berkirim bunyi, nada, cinta, resah dan gelisah ihwal sudut cinta tak terpemanai. Dihidang oleh sejumlah dan rangkaian bunyi.

Para nakhoda melintas benua, berlayar meninggalkan titik domestik: daun pintu rumah, menjadi jauh dan jauh dalam gerakan tendang kipas kapal api hingga jetfoil, mampu mendekatkan jarak itu lewat radio digital yang menyaji bebunyian domestik.

Sang pilot yang merentas ruang dalam hitungan detik dapat mendeteksi, sedang berada di atas angkasa mana? Ada bunyi Tarling di pantai utara Jawa. Riuh saluang lembah Minangkabau. Sahutan gamelan di tanah Jawa, bunyi angklung Pasundan. Denting gambus zapin pantai timur
Sumatera.

Bebunyian yang dipikul oleh gelombang elektro ini menjadi penanda topografis yang bertabiat infografis (bunyi, kode) dalam kadar domestik, lokalitas.

“Transformational power of radio”. Inilah tagline yang diusung oleh badan PBB Unesco dalam sidang umum ke-36 pada tahun 2011 lalu.

Inilah penanda mengenai kesadaran manusia tentang arti pentingnya radio bagi peradaban dan kesadaran stoici. Peristiwa ini disuling dan didentumkan sebagai Hari Radio Sedunia. Dunia mengalami transformasi luar biasa melalui radio.

Dia menjadi media paling manja bagi manusia. Dia melayani indera perdana: telinga.

Manusia diajar menjadi pendengar yang baik (art listening). Bukan mengajar manusia ngoceh dan menonton. Pada era ini, manusia dihadapkan pada kemampuan mendengar secara arif dan bijak. Anak-anak hasil transformasi era radio ini lebih sasmita, lebih “bodhista” dalam pergaulan.

Bangsa ini terhubung sejarah yang kuat dengan India, Mesir dan Maroko, tersebab radio. Raja Siak terakhir menyampaikan maklumat bergabung ke Republik dari Kutaraja (Banda Aceh), berkat gelombang radio yang melayang dan merayap dicelah-celah pohon nan rindang.

Rakyat Siak pun bersorak; telah menjadi terang. Galau bertahun-tahun kehilangan raja, kehilangan pandu, dalam permulaan sebuah sejarah yang baru. Sebuah garis transisi antara wilayah sultanat dan republik modern bernama Indonesia.

Hari ini radio adalah industri yang diimbuhi ragam kehendak hedonisme, kapitalisme, jua faham religi yang memanfaatkan keperkasaan gelombang elektro. Anak-anak muda menemukan jatinya di suara bening frekuensi modulasi (FM).

Nada, lantun dan intonasi “gue banget” menjadi gelinjang baru dalam era radio super modern hari ini. Dan pada ketika yang sama, program bahasa Indonesia @ Melayu menutupkan jalurnya di Radio Nederland Wereldomroep. Radio, memecah waktu…