Waisak, Purnama Mengambang

Ilustrasi: wallpaperaccess.com

Proyek langit dengan lunjuran “drama kosmik”. Inilah Waisak, Veyshak. Sebuah penanda mengenai tiga kejadian: kelahiran sang Sidharta, capaian puncak Buddha tercerah dan kemangkatan sang Buddha. 

Tiga kejadian ini berlaku pada saat bulan Purnama Sidhi. Jika diMasehi-kan kalendernya jatuh pada bulan Mei atau awal Juni atau akhir April. Tiga kejadian kudus ini disebut sebagai Tri Suci Waisak @ The Three Holy Veyshak.

Drama kosmik itu antara lain; pelangi, purnama, gerhana, jatuhan meteor, air pasang naik. Bulan tak semata mengembang. Pun sekaligus mengambang. Dia seakan berada di atas ambang cakrawala samudera galaksi maha luas (melayang-layang di atas ambang).

Di situ berlaku konsep kekosongan (meditasi): “Kita berasal dari kekosongan abadi, menuju kekosongan abadi, melalui sebuah kekosongan abadi”.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan istana kencana kerajaan Sakhyia, lahir seorang pangeran yang menafikan: menegasi segala ihwal yang kasat mata di dalam taman, ruang kencana istana sang Ayah.

Kelahirannya dipenuhi ihwal supra-natural. Kematian sang bunda semasa Pangeran masih kecil. Lalu diasuh seorang ibu (sambung). Dia mengalami ‘resah’ maha resah dalam manjaan kemewahaan kastil tiada peri.

Raja (sang Ayah); mencoret empat entitas di dalam kerajaannya; tua, sakit, mati dan petapa. Empat entitas atau kata ini, siapa pun yang menyebutnya akan dijatuhi hukuman mati.

Raja, melakukan recycle-bin terhadap kata-kata itu dari pandangan dan pendengaran anak kesayangan yang bakal jadi penerus tahta. Di lingkungan istana tak boleh ada orang tua, orang sakit, dan kematian. Apatah lagi petapa.

Sidharta merisau dan resah, murung siang malam di dalam astana. Dan memutuskan untuk lari dari kepungan tembok istana bersama seorang ajudan setia dan seekor kuda. Segala simbol bangsawan dicampakkan. Berganti pakaian (semacam ‘ihram’) kuning lusuh.

Selanjutnya melakukan semadi (pengosongan); sebuah jalan menikam “diri sejati” lewat meditasi kesadaran intuitif (via contemplativa).

Semua itu dilakukan demi mencungkil misteri kenapa tua, sakit dan mati. Instrumen yang digunakan adalah pertapaan: kelana dan kembara ke ruang-ruang liar dan banal.

Lelaku paling ekstrim dijalani Sidharta dalam semadinya: berjemur di tengah terik matahari siang seraya menahan nafas. Kala malam berendam di dalam arus deras sebatang sungai. Tak makan dan tak minum.

Orang-orang sudah menyangka beliau mati. Dia pernah pingsan tergeletak di sebuah taman. Dalam siuman itu, dia dengar suara lirih dari serombongan petapa; “senar kecapi jika terlalu kendur, akan menghasilkan nada yang payau. Jika ditegangkan, akan putus”.

Dalam kesadaran intuitif seorang petapa suci demi menyelesaikan narasi; Orang tua. Kenapa tua? Orang sakit, kenapa sakit? Dan orang mati, kenapa mati?

Sang Sidharta yang mencapai pencerahan Buddha tingkat tertinggi, tersadarkan bahwa menjadi ekstrim kendor (kesenangan duniawi) atau pun terlalu keras (memutuskan hal duniawi seperti makan untuk kesehatan tubuh) bukanlah sebuah ruas penyelesaian naratif. Sang Buddha menempuh “Jalan Tengah” (jalan moderasi). Demi apa?

Ya. Demi Lobhadosa dan moha; tiga akar kejahatan. Lobha adalah kerakusan, haloba. Merasa waras mengambil hak orang lain dan merampas sesuatu yang bukan haknya. Moha; kebodohan batini.

Bagaimana menjelaskannya? Kejahatan dianggap wajar. Dianggap sebuah kebiasaan. Dosa? Ialah kebencian terhadap seseorang, sesuatu, juga terhadap diri sendiri.

Baik dalam bentuk kasar-sarkastik atau pun dalam wujud yang halus-lembut. Tiga akar kejahatan ini ada di dalam diri kita. Cuma tingkat dan variasinya yang berbeda antara seorang dengan orang lain.

Bagi seorang petapa sejati, makan hanya dari buah-buahan yang jatuh dari pohon. Kalau pun bukan buah-buahan, makanan dikumpul dari pemberian penduduk sekitar dengan wadah mangkuk yang dibawa ke mana pergi.

Simbol kesederhanaan dilengkapi lagi dengan pakaian tak berjahit dan tanpa alas kaki. Pada puncak simbolik pencapaian pencerahaan sang Buddha, sang Sidharta berujar lunak: “Bila daku bisa mencapai pencerahan spiritual pada hari ini, semoga mangkuk ini bergerak melawan derasnya arus sungai. Sebaliknya, jika beta gagal, biarlah mangkuk hanyut bersama arus.” 

Sejurus kemudian, mangkuk itu bergerak ke tengah sungai. Dalam delapan bentangan telapak tangan mangkuk itu bergerak melawan arus, sebelum kemudian tenggelam vertikal ke dasar sungai.

Kebijaksanaan Buddha: “Kehidupan adalah milik orang yang berusaha menyelamatkannya. Orang-orang yang berusaha menghancurkannya, tidak berhak atas hidup ini”. Orang-orang yang gairah untuk menghacurkan kehidupan ini adalah mereka yang terikat dan diikat oleh tiga akar kejahatan itu; lobhamoha dan dosa.

Rindukanlah kesempurnaan yang diawali Dana Paramita (kesempurnaan kemurahan budi) dan Sila Paramita (kesempurnaan moral), masuk ke Paramita 3,4,5,6,7,8 dan ditutup Metta Paramita (kesempurnaan cinta kasih). Lalu disempurnakan oleh Upekkha Paramita (kesempurnaan keseimbangan pikiran).

Duhhh…, Muara Takus, Kehilangan Momen.

Nammo Budhaya, Selamat Hari Tri Suci Waisak 2566 BE