Sawit, Karnaval dan Canda-tawa

Ilustrasi: amazonaws.com

Sawit sebagai tanaman berpembawaan netral. Dia tak memihak ke mana pun. Tak ke partai politik tertentu. Tak juga kepada si fulan. 

Sebagai tanaman dan komoditi, sawit dan turunannya memiliki dua dimensi: sebagai dunia dan sebagai alam. Edmund Husserl dan Maurice Marleau-ponty dengan senang hati mendatangi dimensi “dunia dan alam” ini dari sudut fenomenologi.

Jangan dianggap remeh, Martin Heidegger juga tanpa senyum basa-basi bisa dengan ringan menjelaskan tentang ‘keterpelantingan’ jenis tanaman ini ke dunia: kenapa dia (sawit) terpelanting dan hadir di sini (da sein). Dia, ‘meng-ada’ di sana (maksudnya ‘sini’).

Juga dengan jiwa yang ceria Heidegger dengan santai bisa mengeksplanasi kenapa “kematian” dirindui. Peristiwa “liminal” harus menyelimuti kenyataan sawit. Kematian sawit (batas ada dan ketiadaan) menjadi penting.

Karena dengan kematianlah kita sibuk membangun kelender tentang: “kemaren” (lalu/ past time) dan “esok” (ke-akan-an/ future) dunia sawit dan alam sawit.

Kematian, mendorong cerita panjang tentang agenda dan perencanaan, warisan. Horatius, lebih melampaui zamannya. Bahwa sesuatu karya “mahkota buih” (cream de la cream) hendaklah juga mengandungi dua asas; dulce et utile (indah dan bermanfaat) atau menghibur dan berguna.

Mungkin saja sasarannya kepada karya sastra. Sebagaimana Edgar Allan Poe menyambut secara lebih “mewaris”; juga harus berfungsi “didactic heresy” (menghibur sekaligus mengajarkan sesuatu).

Sawit juga dipandang sebagai satu katalis (pendongkrak) karya imajinatif atau paling tidak mendorong seseorang mengembang dan meng-awan-kan imajinasi yang melambung–lambung.

Masuk ke lorong politik, ekonomi, hukum pasar, perut rakyat, emak-emak terperangkap juluran antre minyak goreng, anak-anak petani dan buku sekolah, fakir dan hari raya, Lailatul Qadar.

Terkaparnya stick (galah) dodos buah, truck pengangkut yang jengah, petani dan pedagang pengumpul pinggir jalan yang lesu dan sayu, petani nir-gairah, showroom mobil melongo-lalat, kampung dan kota agro sawit ketiadaan karnaval dan gelak-tawa (ingat Julia Kristeva).

Lambungan imajinasi, khayali tinggi, indah dan berkaidah ini, khusus dalam seni literal Prancis dikenal istilah “belles-lettres” (karya dalam deru kemolekan kata dan ‘mawar kata-kata’).

Sawit hadir dan menggairah kehidupan. Sekaligus mendegubkan jantung para pencoleng, amuk rakyat, kegeraman gerakan mahasiswa, menyaru anggota parlemen dalam kerdipan mata para oligarkhi, tersambung dengan semacam agenda politik dan melampaui meta-politik; pembangunan Ibukota Negara, wacana penundaan Pemilu (general election), Presiden tiga periode, Gubernur dua periode.

Di sini, sawit tak hadir secara tunggal. Bukan gejala singularitas. Dia menjamakkan kehidupan dalam “relasi kuasa” (Foucault).

Sawit sebagai “dunia” dan sawit selaku “alam”, boleh dijelaskan analogi ini: kita pinjam kisah sepasang sepatu yang dikenakan seseorang.

Secara fenomenologis; ketika mengenakan sepatu, tungkai dan telapak kaki sedang menjalani “dunia” sepatu. Dia berfungsi selaku ‘rumah’ bagi kaki. Pembungkus pangkal tungkai dan telapak.

Dia (sepatu) menyediakan ‘dunia rutin’, majal dan mapan, dimensi fisik, permukaan dan tak memberi kesan ruhani bagi telapak kaki.

Namun, ketika dalam rongga sepatu itu ada pasir kecil menyelip dan menyentuh ujung jari kaki, sepatu itu sudah menggeserkan kenyataan dari “dunia” menjadi “alam” sepatu.

Kehadiran sebutir pasir halus, telah mendorong si pemakai sepatu “meng-alam-i” ‘ke-alam-an’ sepatu itu: Tak nyaman, resah, sekat, nyeket, sebak jari. Tendangannya? Ya, ke suasana hati dan bentangan istana jiwa yang terguling.

Sawit, beberapa dekade dalam kehidupan, tak lebih hanya menjalani fungsi “dunia”. Namun, ketika kelangkaan minyak goreng akhir-akhir ini, dia menyentak dan menggiring kita untuk masuk dalam “karnaval alam” sawit.

Sawit sebagai “alam”; menyentak keriangan hidup menjadi masygul dan murung. Hidup seakan terhenti dari serangkaian karnaval, canda-tawa dan kepura-puraan, mencabut topeng kehidupan.

Hidup seakan berlangsung dalam sejumlah tipuan dan teka-teki silang, fenomena permainan ular-tangga. “Orang-orang yang berada dalam karnaval yang penuh canda tawa itu secara bersamaan menjadi aktor dan sekaligus penonton” (Mikhail Bakhtin).

Di sini sawit menampilkan diri selaku ‘alam” (memberi pengalaman, seseorang mengalami dan menceburkan diri dalam ke-alam-an sawit) yang menggugat sejumlah tipuan dan muslihat.

Sentakan sawit selaku “alam”, bak butiran pasir dalam rongga sepatu; stop ekspor minyak sawit dengan dampak melongo.

BPDPKS dan pungutan, harga buah sawit rakyat menunjam di lantai terendah, kebijakan biodiesel B20, B30, B60. Harga sawit di pasar global, sejumlah negara pengganti (Malaysia misalnya).

Stop ekspor minyak sawit juga melunjur keraguan politik elit di Jakarta tentang bronjongan “kebijakan para badut”. Antara melarang ekspor dan melanjutkan ekspor menjadi simalakama politik tiada berhingga…

Goncangan ekonomi-politik kian mendalam gegarnya. Berdampak pada fondasi pemerintahan yang rapuh.

Kita tak menginginkan “khatam” pemerintahan terulang dalam nada kejatuhan negara sentralistik Orde Baru. Sawit itu sendiri berpembawaan netral. Tapi…