Mudik: Tamsil Badan Air

Ilustrasi: cloudfront.net

Bak arus air menghulu. Itulah muasal diksi ‘mudik’ menjadi pilihan untuk menunjuk peristiwa orang menunai rindu, lalu merebah ke haribaan kampung halaman. 

Pada sebatang sungai, hanya dikenal dua jenis gerakan: hilir dan mudik. Dua gerakan dasar ini secara demonstratif melayani kemauan orang-orang: Merantau.

Merantau itu sendiri dalam makna ‘gerakan ruang’ Melayu adalah peristiwa menghilir. Sebab pusat-pusat perubahan dan episentrum niaga, gemuruh pasar berada di hilir-hilir sungai.

Pontianak berada di muara Kapuas, Banjarmasin, estuari Barito, begitu seterusnya Medan, Palembang, Jakarta, Surabaya.

Sumatera pantai timur; pusat gempita ekonomi. Orang-orang Melayu di hulu-hulu sungai, dataran tinggi Bukitbarisan mengadu nasib, menubruk ruang-ruang pasar sehingga dia menjelma bak al-mulaqat (titik pertemuan, rendez vous) bagi segala kaum dan puak di kawasan hilir dan pesisir.

Begitu juga di tanah harapan (Borneo/Kalimantan). Di hilir terjadi peristiwa mengkota (urbanized). Hulu atau di kawasan mudik adalah wilayah “batin” kebudayaan yang terawat-terpelihara. Adat jadi penumpu, masyarakat adat membangun istana kencana dalam kearifan nilai lokal nan ranggi.

Gerakan hulu ke hilir inilah yang menadi dalam peristiwa gerakan ruang (spatial movement) bangsa Melayu yang dalam daras batang air dikenal dengan kaidah: “ke hilir ke hulu, ke ulak ke mudik; ka ulak ka mudiak, ulak udiok”. Dalam dialek tempatan Melayu pesisir (coastal); hulu hilir aja.

Rantau Melayu yang lain, ada istilah balik kampung. Di Semenanjung, Sabah dan Sarawak, Riau, Sambas, diksi balik kampung lebih populer.

Dulu di ranah Minangkabau juga populer diksi “pulang kampuang”. Namun, kini secara nasional ‘gerakan ruang’ ini lebih seksi disapa dengan mudik.

Era 70-an orang mengelak kata mudik (udik), karena memikul makna konotatif (kampungan, ndeso, tak gaul). Ini disebabkan oleh kampanye “dialog-dialog” filmis dalam film-film (layar lebar) produksi Jakarta selalu menamparkan kata udik itu kepada sosok peran amatiran dalam film bergaya kumal, ledah, hodoh, IQ di bawah rata-rata, bercakap terbata-bata alias gagap. Pokoknya terkesan bodoh.

Mudik secara etimologis berasal dari kata Melayu untuk menunjuk satu kawasan yang berada di hulu sungai. Hulu adalah alamat bening, sejuk, sepi dan tenteram.

Imajinasi tentang istana kebudayaan yang dirawat dalam ‘bahasa batin’. Dia tak pikuk dan tak heboh, tak nanar. Dia menyedia dan menghidang kehangatan pertiwi (representasi alam bunda).

Tempat orang mengadu segala penat, jengah, letih dan lelah setelah “terbang” ke dunia rantau nan jauh dan sayup. Rantau itu adalah hilir.

Singkat kata, mudik, udik atau hulu adalah “rumah kehangatan” yang jujur, diam dan senyap, bening dan berkilau dalam segala jenis memori kolektif semua bangsa.

Pada momen-momen suci, momen haru dan duka, kebahagiaan dan kemenangan setiap orang didorong secara demonstratif melakukan sebuah ritual menuju “pulang”.

Mudik adalah ‘jalan pulang’. Pulang ke alamat ‘abadi’ (sementara). Mudik adalah simulasi sekaligus pelatihan atau ‘manasik’ sebelum kita melakukan ‘pulang’ sebenarnya ke alamat abadi dan menyatu dalam ruh ke-Tuhanan-an di alam sana.

Gerak pulang yang disaru oleh peristiwa mudik ini, belajar dari gerak dasar yang diajarkan oleh gerak air sebatang sungai (gerak destiny; garis gerak nasib; alias hukum alam).

Maka berpusu-pusu arus gumpalan masyarakat manusia tropis membelah ruang-ruang hodologis (jalan tol, lebuh raya); membelah palung dan samudera, memanjat gunung, mengitar lembah, menyudut suak-suak air anak sungai, teluk, tokong dan tanjung demi sebuah ‘manasik’ tentang belajar “jalan pulang” yang disediakan oleh peristiwa mudik (balik kampung).

Tahun baru Norouz bagi bangsa Persia selain dirayakan secara gempita, juga mengenal kaidah “pulang kampung” sebagai satu ‘jalan pulang’ dalam suasana ‘manasik’ itu.

Dirayakan tak hanya di Iran, juga di Pakistan dan beberapa negara bagian India, Azerbaijan dan Kurdistan.

Lunar New Year (Chinese) di tanah induk Tiongkok, peristiwa mudik juga lazim dilakukan. Juga merefleksikan jalan pulang atau jalan putih.

Bangladesh dominan Islam; Walau negara miskin, pergerakan mudik warganya lebih tertib dari segi angkutan umum, tiada kemacetan.

Bangsa Amerika membiasakan diri untuk pulang ke kampung halaman suasana benua, ditunai pada ketika jatuh perayaan Thanksgiving Day, selain masa Christmas yang jua dilakukan oleh manusia di Eropa.

Walhasil, fenomena mudik adalah sebuah kuntum “natural law” (hukum alam) yang berlaku secara universal bagi segala makhluk penghuni bumi. Baik fauna terbang (avian) maupun jenis fauna terestrial (menjejak di atas tanah).

Mudik adalah sebuah cara ‘memuliakan’ ruang. Gerak ruang menanda hidup dan kehidupan. Tanpa gerak adalah kematian. Mudik juga sebuah cara “mengumumkan” (maklumat) bahwa masih ada kehidupan atau sisa kehidupan yang merindukan “dunia batin” bernama kampung halaman.

Di sini, kampung halaman hadir dengan tampilan “kualitas nabatiyah”, kualitas feminin yang dipresentasikan oleh tetumbuhan/vegetasi (yang tak bergerak), kualitas pertiwi, kualitas bunda, yang bisa jadi “penawar” bagi segala penat-lelah para pengembara dalam gaya-gaya paroki, bagi perantau dan anak dagang yang berazam membalut luka yang bilur, sekaligus mengekspos kejayaan selama berada di tanah rantau.

Mudik, hari ini sebuah life style tahunan yang mungkin jadi tontonan menarik dari ruang angkasa bagi sejumlah makhluk alien di galaxy sayup. Mudik, bak arus pasang naik pada sebatang sungai; menumpu pada titik di hulu-hulu.

Mudik, sebuah pembelajaran dari sebatang sungai. Ya, sungai kehidupan…