Lampu Colok Sang Gubernur

Ilustrasi: staticflickr.com

Menerjemah entitas budaya malah mundur. Lampu colok diarak dan berdiri tegak di kediaman Gubernur. Tak saja itu. Malah di laman kantor Gubernur. 

Menabrak visi Riau Hijau? Memahami Melayu sebagai satu entitas budaya, malah terkesan aneh-aneh dari kacamata badut. Badut kebudayaan? Entahlah…

Kenapa tak maksa pacu jalur Kuantan dipindahkan saja ke sungai Siak. Pertandingkan di bawah jembatan Leighton. Selesai. Tak perlu jauh-jauh kita ke Taluk lagi. Semua ada di kota Pekanbaru selaku Mall Kebudayaan Riau. Wah wah…

Rubuh keunggulan komparatif kebudayaan setiap daerah. Sejak dulu, kalau orang merindu-rindu ingin melihat deretan lampu colok memukau bahkan festival colok, datanglah ke Bengkalis dan kawasan pesisir timur Riau.

Jika hendak pacuan aquatica yang gempita, kita datang ke batang Kuantan lah. Balimau Kasai ke Kampar lah. Menongkah sampan leper ke Indragiri Hilir lah, bakar tongkang ke Bagan lah. Begitu seterusnya. Semua itu diampu oleh kearifan lokal masing-masing.

Sedari awal, Pekanbaru bersamaan kehadiran Rumbai, memang dirancang oleh Caltex sebagai pemukiman dengan rasa “American Village” di tengah nusa tropika khatulistiwa.

Kota ini bergaris jalanan lebar, rimbun pepohonan endemik Sumatra, terang cahaya lampu sorot, pijar dan lampu jalanan dan pemukiman ala Amerika.

Oleh karena itu, ketika dia jadi ibukota Provinsi Riau (setelah pindah dari Tanjungpinang), dia hadir dengan gaya kota “tak akrab” dengan pejalan kaki. Transportasi kota: moda bus dan oplet. Tiada transport personal seperti ojek.

Arifin Achmad sendiri merancang kantor Gubernur dengan gaya arsitektur modern (diambil dari salah satu bentuk hotel di Brazil). Karena pemerintahan di Riau berbasis pemerintahan modern (dalam sangkar Republik; bukan sultanat juga bukan adat).

Maka penerusnya, haruslah bijak melayari kaidah-kaidah ini ke masa depan. Bukan malah bengkok dan ditelikung ke masa lalu yang serba kabus.

Lampu colok, ya sebuah tradisi lokal demi memulia kehadiran para ruh leluhur dalam rasa Melayu. Ruh para leluhur itu diyakini hadir dan mendatangi zuriat pada malam likur (seminggu sebelum lebaran).

Likuran berarti: semingguan. Sebagai pemandu, era Melayu tradisional (kalau segan menyebut era pagan) pun memasang rambu dan memberi penanda terang ke arah rumah kaum kerabat. Sehingga ruh-ruh itu tak mengalami “kesesatan perjalanan” menuju alamat zuriat (anak cucu dan cicit).

Pemandu cahaya lampu colok dengan bahan bakar (energi) yang amat sederhana; damar, ojol (getah beku). Setelah itu masuk tahap bahan bakar minyak tanah. Sampai kini.

Ke depan bukan tak mungkin lampu colok sebagai decorative lamp (hias) mentransformasi dalam gaya lebih modern dengan sumber energi yang pro-green; listrik, geo-termalsolar cell, bahkan mungkin nano energy.

Disesuaikan dengan kemajuan sumber energi terbarukan dan berkelanjutan. Ihwal ini terjadi pada sejarah Tanglung (lampu hias ala Cina) yang kini menjelma menjadi lampion warna-warni (decorative lamp), menghiasi kota-kota dunia modern. Cafe-cafe, hotel, venue supra-modern di kota-kota gemerlap dunia.

Nah, di mana sudut dan segi bahwa lampu colok yang kita usung bisa bertetangga dengan visi Riau Hijau? Bahan bakar colok, suatu saat bukan tak mungkin akan dianggar lewat APBD pula.

Pengunaan kaleng-kaleng bekas, jika tak diolah akan menjelma jadi limbah. Menabrak visi Riau Hijau dan jargon “Riau Lebih Baik”?

Colok tak lagi berlandas pada akal kesadaraan kreatif masyarakat yang mengusung kebudayaan. Telah jadi produk dan konstruksi penguasa yang menabrak visi “hijau dan lebih baik” yang juga diproduksi oleh pabrik yang sama.

Bayangkan, kita memaksa lampu colok pada sebatang ruas jalan penuh cahaya di kota Singa: Orchad Road. Apa jadinya? Kota ini sudahlah terang dan modern, lalu disarung dengan tegakan sejumlah lampu colok, yang kerangka tiangnya pada siang hari, malah tampil merusak kaidah ruang dan seni instalasi.

Sebab, kayu penyangga yang bengkok, tak berketam, diikat sekenanya, ujung sumbu warna kelam lelehan. Maka, jangan heran, bagunan yang gagah ranggi di belakang tegakan tiang colok itu akan ikut miring (misal kantor Gubernur Riau atau bahkan Istana Negara). Tampil asimetris. Aneehhh..

Tentang lampu colok yang dipaksakan, kaidah Melayu lama punya sindiran yang empuk: “Samalah halnya, kita membeli sofa baru berkilau, lalu disidai sehelai handuk buruk di atas sofa itu; handuk kedam, kusam, lepas pula benang sisi berjurai, koyak tipis di tengah-tengahnya”. Lalu datang situan rumah dengan seenak perut, duduk di atas sofa itu sambil mencabut bulu ketiak.

Tersinggung? Jangan mudah tersinggung selaku figur. Sebab figur-figur sudah sekian lama menyinggung kebudayaan. Malah kita yang tersinggung. Horrrreee…