Kota, Pasar dan Sawit

Ilustrasi: cdn.com

Sejatinya kita tak membangun peradaban. Kita hanya membangun rumah ibadah dan pasar. Padahal kota itu sendiri adalah satu di antara “penanda peradaban” (civilization marker). 

Kota, diandaikan hanya sebatas tempat orang pergi berbelanja (shopping). Maka, bak cendawan, pasar merasuki sudut-sudut angin perkotaan.

Sejak mall, supermarket, hypermarket sampai pasar tradisional dan pasar kaget (pasar tumpah) menyesaki ruang-ruang kota. Setiap pasar apa pun bentuk dan skalanya adalah penjumlah sekian metrik kubik sampah dan peristiwa menyampah oleh makhluk penyampah.

Yang menyembul dari peristiwa ini adalah peradaban sampah atau malah sampah peradaban.

Sebuah kota di Indonesia hanya mendesakkan dua fungsi; pertama, mendesak orang berbelanja. Setelah capek, maka masuk fungsi ke dua, didesak untuk beribadah.

Maka kota-kota gemeretap yang kita bangga-banggakan itu adalah bentangan ruang yang merimbunkan dua kehadiran; supermarket dan rumah ibadah.

Masjid salah satu bangunan sebagai anasir perkotaan yang mengalami surplus dari segi jumlah kuantita di kota kita. Demikian pula supermarket dan sejenisnya, juga sebuah fenomena booming dalam kaidah entropik.

Apa arti di balik dua entropi itu? Kita hanya mendorong warga kota atau siapa saja yang mendatangi kota untuk berbelanja sebanyak dan sesering mungkin.

Setelah letih menjalani tugas berbelanja, maka beribadahlah! Hanya dua kegiatan itulah yang dilayani oleh sebuah kota yang katanya sebagai satu parameter peradaban.

Berbelanja dan ibadah, lebih cenderung mengurus sisi kesalehan personal (pembesaran ego). Lalu, mana fungsi-fungsi rekreatif, fungsi edukasi, fungsi filantropis, fungsi penegakan pemikiran dan tantangan komunitas kreatif yang mestinya juga disediakan bagi penghuni kota?

Sebagai wadah sekaligus medan pembentuk semacam kesalehan sosial dan kesalehan intelektual?

Bagi kota-kota yang merindui ‘kesyahduan batin’ peradaban itu akan menyeimbangkan kehadiran pasar, supermarket, rumah ibadah dengan kehadiran museum, pustaka di setiap sudut kota sesuai eskalasi perkotaan (pusat kota, kecamatan dan keluharan). Tambahan lain?

Ya taman-taman perkotaan tempat berlangsungnya sejumlah riyadhah warga kota, gedung konser dan seni pertunjukan demi memperhalus akal budi peradaban warga kota. Termasuk di kawasan pinggiran kota (suburb).

Anak-anak perkotaan sedari kecil dibiasakan dengan tertib mendatangi museum dan pustaka. Beradu dengan tradisi pemikiran yang berdekatan dengan lingkaran biotop (ruang kehidupannya).

Jika kota itu dilingkungi bentangan kebun sawit, maka biasakan anak-anak menukil pemikiran tentang peradaban agro-sawit.

Filsafat tentang tani dan kebun. Maka bangunlah pustaka tematis sekaligus museum tematis tentang sawit dan dunia sawit.

Jangan lupa membangun gedung-gedung konser yang bisa ditonton secara gratis atau pun berbayar. Bisa pula difasilitasi melalui keanggotaan (membership) pustaka yang diikutinya.

Mereka yang berstatus “member”, mendapat harga discount atau malah gratis (free/percuma) untuk menikmati konser-konser dan tampilan seni lainnya.

Inilah salah satu corak kota yang mengusung visi mahkota; kota peradaban.

Di kampung-kampung dulu, menjalani bulan Ramadhan sejalan kesyahduan muram di desa-desa. Puasa berlangsung dalam kenyataan datar, tapi takzim.

Di kota-kota, ditandai dengan capaian klas menengah-atas (walau belum masuk tahap post-material), mereka (orang kaya perkotaan) menikmati Islam dalam langgam serba tenang, menenangkan.

Menghabiskan 15 hari ke atas bulan Ramadhan dengan praktik i’tikaf di masjid-masjid. Di sini, i’tikaf (‘meditasi’) sudah menjadi life style (gaya hidup).

Di kampung dulu, kita tak kenal i’tikaf. Di sini semburan kesalehan personal itu dipercikkan kembali oleh muslim kota. Siapa yang tak melakukan i’tikaf, berasa bersalah dan anyir…

Ini satu bentuk kesalehan personal yang didesakkan oleh ruang kota. Setelah sibuk menjadi makhluk konsumeris (ke supermarket), lalu seseorang menghabiskan waktunya untuk meditasi (i’tikaf) dalam kecenderungan personal.

Tak pernah bersapa dengan Islam dengan warisan pemikiran tinggi dan bergolak.

Sejatinya kita bisa merimbun kesalehan sosial-intelektual itu dengan memperbanyak sedekah, memperbesar semangat filantropis untuk melindungi kesemestaan hidup (isu lingkungan, degradasi moral, degradasi ekologi) termasuk dalam isu-isu besar climate change, pemanasan global, efek rumah kaca, persoalan lahan gambut dan kebakaran hutan.

Tak semata mengurus ihwal personal seiman, namun bisa melampaui atau melompat lebih jauh ke ruang-ruang sosial yang lebih luas dan lebih jauh (antar iman); demi memperbesar etika kemakhlukan…

Kota, pasar dan keelokan ekonomi berbasis sawit misalnya, bisa melahirkan jauhar peradaban dunia khatulistiwa…

Kota yang berpangku peradaban spiritual itu, sejatinya dirimbunkan pula dengan sejumlah penanda peradaban yang berimbang seperti museum, pustaka, ruang seni, taman, selain rumah ibadah dan pasar.

Dalam ruang-ruang itu, secara sosial dan intelektual, seseorang bisa menumpahkan air mata syahdu-spiritual. Bukan deraian air mata yang ditampilkan di layar-layar televisi oleh para ulama sosialita. Beragama bukan sebuah mobilisasi sosial…