Frasa “Maaf Lahir dan…”

Ilustrasi: gulfnews.com

#YusmarYusuf

Memang bangsa yang senang menelikung. Apa saja yang mungkin memberi kesan populis di depan orang ramai dan berdimensi religius, lalu kita sauk, sekaligus ringkus. Maka, layarilah menurut maunya kita…

Frasa “Maaf Lahir dan batin”, wah sebuah frasa mewah jelang Ramadhan. Senja “megang” (hari pertama jelang berpuasa); begitu banyak masuk ucapan dari seberang, dari wilayah rantau dan sekampung; ucapan “maaf lahir dan batin”… dengan ragam tampilan estetika.

Ada dalam ragam pantun, kata bijak, gambar tiga dimensi, foto diri, keluarga. Pokoknya heboh. Sembari hendak menunjukkan cara mengimarah Ramadhan tahun ini.

Saya pun belum sampai pada puncak “mengerti” kenapa frasa ini digunakan? Setau saya, frasa “Maaf Lahir dan Batin” itu adalah domainnya bulan Syawal (Idul Fitri).

Kisah maaf-bermaaf itu memang dianjurkan setiap detik dan tak mengenal waktu. Karena  kecenderungan kita selaku insan berbuat salah. Namun, frasa “Maaf Lahir dan Batin” itu tetaplah miliknya si bulan Syawal.

Puasa adalah satu dari fardhu dalam rukun Islam yang lima. Setara dia dengan Syahadatain, Shalat, Zakat dan menunai Haji.

Kenapa pada ketika kita akan mendirikan Shalat, membayar Zakat tidak digunakan ucapan “Maaf Lahir dan Batin?”

Dia menjadi heboh ketika akan memasuki puasa? Lalu, apa yang harus diucapkan lagi ketika memasuki bulan Syawal sebagai penanda masuknya Idul Fitri atau Aidil Fitri (Kemenangan Fitrah).

Setiap momen, memikul wataknya masing-masing. Kenapa segan hanya memberi ucapan pendek; “Selamat menunai fardhu puasa’“Selamat menjalani shaum ramadhan” dan seterusnya…

Kenapa harus menelikung dan merampas domain yang sebenarnya diperuntukkan bagi momen idul fitri di Bulan Syawal sebagai garis penanda kemenangan atas ‘perang’ yang dilakukan selama Ramadhan (shaum) yang bermakna membakar segala ego duniawi?

Simbolik kemenangan yang diraih di ujung puasa itulah, tempat kita menemukan rumah kemenangan dengan saling bersuci diri di antara sesama; saling bermaaf-maafan dengan penanda makanan serba manis.

Dari hati nan tulus, suci, sila, kudus dan bersih, kita memohon maaf dan ampun antar sesama. Kita telah melakukan “perang” simbolik terhadap diri sendiri, terhadap nafsu, terhadap ego yang terperlanting dalam arena liar dan banal…ego yang bersubahat dengan segala liyan.

Tabiat menelikung dalam sebuah ruang pacu (runaway) dan semangat meringkus momen, adalah tabiat yang dipuja secara populis. Dia mendapat tempat ranggi di tengah jemaah populis orang ramai.

Terkadang, kita didesak untuk beribadah dalam sejumlah mental “domba” (dibentuk maunya orang ramai, dikontruksi karena kebiasaan orang ramai dan jamaah). Bukan beribadah dalam mental “singa”: Berseteguh dengan kepercayaan diri yang tinggi dalam dialog dengan Maha Tinggi (bermahligai “diam, senyap dan sunyi”).

Tak tergoda dengan idiom, frasa atau diksi yang dibentuk secara formal oleh sejumlah orang ramai (populis). Sehingga dia tak terkesan menjadi agama yang diformalkan atau agama yang diorganisir (organized religion) oleh sebuah konstruksi sosial atau konstruksi zaman.

Maka, jangan heran kalau kanak-kanak dan remaja juga melakukan sejumlah perampasan domain, penelikungan tempo dan meringkus waktu.

Mereka mulai bermain ‘kembang api” dan “mercon-merconan”, “meriam karbit” di awal puasa (Ramadhan): daaarrr derrr doooorrrr….

Kita mengalami disorientasi waktu dan momen. Sebelumnya, malah kita diserbu oleh semacam disorientasi ruang (jalu dalam ruang dan waktu).

Peringkusan waktu jenis lain? Ya… arak-arakan kenderaan bermotor pada dini hari dan ujung malam oleh para remaja, seraya memukul tiang listrik dan jeritan suara menyalak: “sahuuuurrr…. sahuuur”… tepat pukul 02.00 dini hari atau 03.00 dini hari.

Kenapa bukan satu jam jelang jatuhnya imsak di masing-masing kawasan waktu? Kita pun bertanya dalam hati: “Apakah mereka yang heboh-heboh bergaya bazaar ini adalah mereka yang menunaikan fardhu puasa yang sejatinya mengarah pada perbuatan senyap dan serba menahan (imsak)?

Haiiiyyyaaaa… Kita pula di suruh “menahan” atas sejumlah desakan bergaya bazaar.