Puasa Tahun Ini

Ilustrasi: i0.wp.com

Tarikh Hijriyah (Hageria) yang ke-3, era pandemic Covid-19 jatuh pada tahun ini. Sebuah sistem ‘tarikh penanggalan’ mengikuti peredaran bulan (qamariyah, lunar). Dan kita pun menunai fardhu puasa (shaum) dalam suasana kering membahang. 

Memang secara harfiah puasa atau shaum bermakna ‘membakar’. Sejalan dengan bawaan satu bulan akhir-akhir ini; panas-membakar.

Musim kering adalah pananda tentang pandu musim yang rentan akan pembakaran dan kebakaran lahan dan hutan. Gegap gempita pembukaan ladang dan kawasan perkebunan baru di negeri-negeri dataran rendah Sumatra dan Kalimantan telah menjadi kalender tetap (tahunan) pula.

Dan musim jerebu pun mulai ancang-ancang menyerbu kehidupan. Eskalasi sosial dengan sejumlah pemanasan; langkanya peredaran minyak goreng, kenaikan harga beberapa komoditas, langkanya bio-solar, kenaikan harga pertamax dan kecamuk perang Rusia-Ukraina, paling tidak membawa pesan bahwa beban dalam menunai puasa tahun ini akan memiliki rona dan warna yang berbeda. Sekaligus memberi tekanan mendalam secara fisik dan desakan spiritual.

Belum lagi eskalasi sosial itu dihebohkan dengan sejumlah wacana yang menggelitik secara emosi (di media online dan sosial); penistaan simbol-simbol keagamaan termasuk wilayah inti agama; keimanan. Masyarakat makin gerah dan resah.

Jika hal ini dibiarkan terus, dia bakal membengkak, membusuk dan menimbulkan bisul sosial baru dalam kehidupan berbangsa. Bangsa akan mudah tercabik-cabik.

Secara keinsyafan sejarah, kita pun bisa menanam prabawa bestari ke atas sejumlah kehebohan eskalasi sosial ini. Anggap saja ini sebagai sebuah persekolahan dalam kerangka pematangan peradaban.

Mau tak mau era kegalauan dan kehebohan sejenis ini mesti dilalui oleh sebuah bangsa demi mencapai kematangan kebangsaan (asumsi atau harapan).

Puasa yang ditandai dengan simbol besar bernama “manahan” (imsak), menjadi katup saklar diri, bahwa dalam arus maju kehidupan seprogresif apa pun, tetap merindui dan mengenal masa jeda.

Masa ini lah (jeda dan menahan) yang diperkenalkan oleh peristiwa dan perintah berpuasa.

Tradisi agama-agama yang lebih tua semisal Hindu, ada era ‘menahan’ seperti tahap “tapa” (brata). Di sini seseorang bertindak zuhud, menjauhi ihwal bertabiat duniawi-fisik-materia.

Peristiwa “tapa” itu sendiri hendak menyuling ihwal “rehat sejenak”, “membangun benteng ego”. Memperkenalkan “indahnya halte”, tempat menunggu sejenak; tindak penantian sesuatu yang akan datang (apakah bus atau kereta api); secara simbolik spiritual’ sesuatu yang akan datang itu adalah ‘kemenangan’ dan ‘kesucian’ (keadaan fitri atau fitrah).

Penantian pada era jeda di sebuah halte inilah yang hendak dihidangkan oleh perintah wajib berpuasa di bulan Ramadhan penuh maghfirah. Menjauhi prasangka buruk pada segenap dimensi hidup. Termasuk pula upaya memperbaiki sikap dan perlakuan kita sehari-hari terhadap segala makhluk muka bumi (bukan semata kepada manusia).

Terhadap alam lingkungan yang luas, kita dianjur berbuat baik. Apatah lagi terhadap segala organ dan indra yang terikat pada sebatang tubuh.

Indra mendengar; dengarlah sesuatu yang baik! Indra pencium, perasa, peraba, penglihat, seru dan derukanlah ke arah yang serba baik dan hasanah! Ini lah bulan “pelatihan” (riyadhah) yang disediakan dalam kisaran satu bulan dari lingkar siklik kehidupan yang berlangsung antara 11 (lunarium) atau 12 (solarium) bulan dalam satu tahun.

Religiusitas apatah lagi spiritualitas itu bukan dimensi hafalan sejumlah rumus dan dogma. Tapi lebih didesak ke arah praksis; praktik, tindak dan perbuatan alias latihan (excersice atau riyadhah; amalan). Ada riyadhah level elementary (dasar), intermediate (menengah) bahkan sampai advanced (lanjutan).  Dalam tradisi tasawuf dikenal dengan istilah maqam-maqam.

Puasa, satu jalan kontemplatif (via contemplativa). Bukan jalan mengumbar dalam sejumlah heboh dan kehebohan.

Dia tak diternak dalam gaya “bazaar”, apatah lagi dalam moda “pasar kaget” dan gaya “lelong”. Dia adalah pelantar “senyap”, “sunyi” dan “diam” dalam entitas sejati. Bukan ‘senyap dan ‘sunyi’ menurut defenisi kamus. Bukan ‘diam’ menurut fulan dan tokoh suci. Tapi, ‘senyap’ menurut senyap. ‘Sunyi’ menurut sunyi.

Sekaligus ‘diam’ menurut diam.

Kita melatih diri untuk “mengingat” dalam ‘diam’, ‘senyap’ dan dalam ‘sunyi’…