Mandalika, Pawang dan Minyak Goreng

Ilustrasi: cdn.com

#YusmarYusuf

Segala ihwal yang tak berhubungan, saat ini bisa didesak-desak agar tersambung dan terhubung. Begitulah pawang hujan, Mandalika dan minyak goreng.  Seluruh variabel itu sebenarnya berdiri sendiri. Tapi, karena politik, semua yang berdiri sendiri harus disergah dan diingsut agar kaget dalam sebuah pemaksaan yang serba terhubung dan tersambung.

Mandalika itu memang mooi, amat cantik dan lawa, tiada tara. Sebuah bentang benua bening berkaca samudera. Di sini MotoGP berlangsung.

Namun jatuh musim hujan. Pawang pun hadir dengan maksud menggiring awan, menjinak awan atau malah memanen awan? Hai entah lah. Maka, penuh sesak serbuan kepada sang pawang: praktik era pagan. Model jalan shamanisme.

Kisah dukun berdukun, jasa klenik, dunia pawang ini sejatinya ada pada semua wilayah dan beragam bentuk pengulangan (reduplikasi) yang tak kita sadari.

Upacara bendera itu sendiri adalah salinan cara menjinak yang suci (hierofany); menjelma jadi upacara apel saban Senin di lapangan bagi para aparat negara dan tentera.

Upacara apa lagi? Kenduri segala jenis kenduri dan selamatan (apalagi jelang masuk Ramadhan). Semua ini bentuk repetisi dan pengulangan format atau moda yang serba disesuaikan dengan kedegilan zaman.

Semua fenomena yang maujud ada pasangan nomena-nya masing-masing di dunia lapis sebelah sana ha ha …

“La jadid tahta syam” (tiada yang baharu di bawah matahari); semuanya sejumlah pengulangan. Lalu, setiap zaman dan generasi membangun “mitos sucinya” masing-masing.

Setiap zaman juga memproduk generasi “hakim” untuk membangun kesucian dan kemurungan peradaban aku dan peradaban anda. Aku yang suci, engkau nan gulita.

Setiap kita membangun puncak ego daku dan kedakuan; “aku lah yang paling benar, sembari menyibak naskah-naskah tua dan rajah-rajah kuno” sebagai rujukan benar dan kebenaran sepihak.

Maka, dipaksa-paksakan ‘kebenaran’ itu dalam sangkaan-sangkaan dangkal. Padahal dia memanggul kebenaran dalam dalil dan kaidah kebenaran “jarum hipodermik”. Orang yang disuapi info pendek dan dipaksa-paksakan itu dianggapnya sejumlah makluk pasif, bodoh dan harus disuapi dengan info versi dia sahaja.

Betapa, kebodohan jadi perkakas pameran dan ekspo saban pagi, dan saban hari Kita hanya bisa tertawa. Politik, ujar Hannah Arendt adalah seni memainkan kebohongan.

Apa hubungan kesulitan ekonomi dengan gempita ajang MotoGP Mandalika? Apatah lagi ihwal minyak goreng? Kaya, susah, merana, murung, maung, miskin, wangi semerbak, tampil dalam parade serba serempak (simultaneous).

Begitulah resam hidup. Begitulah rima dan rempak kehidupan. Kisah ini telah berlangsung sejak era Hermes (Enoch) atau Nabi Idris hingga saat ini.

Kesulitan ekonomi bukan persoalan saat ini sahaja. Dia sudah ada sejak berdirinya sebuah rumah tangga. Di situ dituntut kemampuan manajerial minor (ukuran rumah tangga non batih).

Minyak hilang di pasaran, solar terhenti, apa kaitannya dengan dunia dukun dan pawang? Toh kita sendiri yang memaksa-maksa keterhubungan non-pagan itu dalam kancah “logika-keliru” (logical fallacy) dan memaksa logika kita yang paling benar dan jumawa…

Pun, karena ketidak-mampuan beradaptasi dengan zaman, lalu kita melonjorkan diri selaku nujum ‘modern’. Malah jadi seorang cenayang ultra modern dalam perangkap ramal-meramal yang tiada ujung.

Apakah ramalan ala cenayang dan nujum ultramodern dengan menyeret-nyeret nama Rasputin, Tsar Nicolas II, Louis XVI dan segala ihwal “mandatory langit”, bukankah sebuah perangkap era pangan juga?

Kita pun menyaksikan sejumlah ulama, pendeta, biksu, rahib, ambil bagian di atas panggung politik menjagokan seorang figur dalam rerangkai doa dan pemberkatan untuk memenangkan sebuah pertarungan politik, demi menghadirkan kesejahteraan minyak goreng yang tidak digoreng-goreng (atau malah bergoreng-goreng).

Kita juga menyaksikan indahnya lipatan kain yang mengikat kepala dalam ragam bentuk dan tampilan (yang hari ini disapa sebagai kaidah lokal; satu di antaranya tanjak).

Dan ikat kepala sebagai penyeri mahkota itu sendiri pun telah diproduksi sejak era pagan… (demi menjinak Nan Kudus, The Holy)

Ahaiii, aduhaiii… kita hanya berkicau di bawah langit nan satu.