Minyak Goreng dan Sebelumnya…

Ilustrasi: asianagri.com

#YusmarYusuf

Orang mengunyah. Peristiwa ngunyah menggunakan gigi (pangkal gusi). Sebelum penemuan api, makhluk Sapien menghabiskan waktu sekitar 10 jam untuk mengunyah. 

Sudut pandang neurosains memperkatakan bahwa, struktur gigi yang kuat karena durasi pengunyahan; manusia kehilangan waktu kreatif yang teramat berharga.

Setelah penemuan api, manusia bisa menghemat waktu sekitar 8 jam. Mengunyah hanya berlangsung kumulatif dua jam dalam sehari. Selisih 8 jam itu dimanfaatkan untuk bercumbu dan berkelakar di sekitar api (unggun).

Para Sapien mengelilingi api sambil berbincang utara-selatan. Perbincangan tak mengarah realita. Tapi menyasar sesuatu yang tak benar.

Ketidak benaran-khayali ini menggugah orang untuk berdebat. Lalu, perdebatan dan pertelingkahan ini menuju ke sesuatu yang berkait dengan kaidah hidup bersama.

Berkat api, manusia pandai berkata-kata. Bahasa pun berkembang…

Perbincangan usil, nakal, demi menggoda orang agar keluar dari rumah mukim. Kaum lelaki sibuk keluar rumah malam hari, bermain api. Kaum puan juga bercumbu dengan api dalam segala ihwal domestik. Rumah mukim tak lagi sejuk hambar. Tapi mulai hangat, berkat api.

Setelah api, mereka memanggang dan membakar segala sumber makanan demi tautan gizi yang diperlukan tubuh. Ya, membakar, memanggang. Sesekali rebus. Tak ada peristiwa menggoreng. Karena belum ada minyak goreng.

Setelah ditemukan minyak goreng, Asia Timur memperkenalkan masakan gaya tumis. Sumber bahan baku minyak, bisa dari kemiri dan segala jenis buah keras lainnya yang menghasil minyak. Belum sampai ke sumber bahan baku kelapa apatah lagi kelapa sawit.

Minyak goreng, menggiring kehebohan sosial. Lain halnya dengan membakar dan memanggang; menghasil kepulan asap yang bergerak vertikal.

Dari sini muncul desakan “politik-spiritual” menggunakan media asap sebagai alat tumpangan doa kepada penguasa langit dan roh para leluhur.

Asap yang membumbung sebagai ‘persambungan’ politik?spiritual doa-doa kaum peminta dan serba lemah.

Menggoreng? Tak ada bumbungan asap vertikal. Tapi menghasilkan bunyi dan suara yang heboh. Riuh-rendah. Apatah lagi ketika didihan minyak disiram sedikit air di permukaan.

Gumpalan asap, bak cendawan awan bom atom yang menggantung. Kala belum ditemukan minyak goreng masif, orang menyelamatkan hidupnya dengan peristiwa bakar, rebus dan panggang saja.

Ketidak-hadiran (minyak) mendorong kreativitas tambahan dalam mengolah bahan baku dan seni gastronomi. Ketiadaan juga melahirkan semacam anxiety (yang tak neurotik); ya, biasa-biasa saja. Karena tiada peristiwa ketergantungan akan minyak; manusia menyelamatkan hidupnya masih melalui peristiwa bakar, rebus dan panggang.

Anxiety dalam psikologi adalah suatu penyakit jiwa yang harus diratakan. Namun, dalam Filsafat Manusia, anxiety amat diperlukan.

Anxiety boleh diterjemahkan sebagai galau, cemas. Keadaan ini diperlukan demi melahirkan sebuah renungan mendalam tentang “kesadaran” atau conciousness; siapa kita. Apa minyak, kenapa minyak goreng. Ada apa dengan ketiadaan.

Berkat anxiety itu pula kita membangun pertanyaan lanjut; kenapa kita bergantung pada minyak goreng? Kenapa minyak goreng ada, pernah ada dan mengalami ketiadaan? Siapa yang membuat ada, separoh ada dan tiada itu? Apakah “ada”-nya minyak goreng sebagai sesuatu yang “meng-ada-ada”? Atau malah ketiadaan juga bagian dari “meng-ada-ada”?

Sifat goreng-menggoreng itu adalah kehebohan bunyi. Dia menyentak akal kesadaran sosial; ada apa orang sebelah. Ada apa di atas panggung sosial dan panggung politik? Adakah permainan ekonomi para cukong dan gembala? Berkat ketiadaan minyak goreng di sumbu pasar tradisional, semangat kebangsaan itu tersentak.

Ada perang di Ukraina, kehilangan solar biodiesel, kelangkaan minyak goreng. Sementara kelapa sawit dan pabrik pengolah CPO tetap berderap siang malam. Ada selisih mendebar antara harga CPO sebagai bahan baku minyak goreng dan solar biodiesel.

Maka jangan heran kalau minyak goreng harganya tak bisa ditekan. Dia di bawah kendali pasar. Sebuah mekanisme yang berada di luar kendali negara.

Muncul kecemasan negara (jenis organizational anxiety); mengapa hilang? Mengapa harga tak bisa dikendali? Berkat kecemasan ini, dengan alasan penyelamatan bangsa dan wajah bangsa di depan cermin dunia, maka dipeti-sejukkan dulu Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO).

Jalan terbaik, ya subsidi negara terhadap harga minyak goreng. Terkhusus untuk minyak goreng curah. Demi mengampu masyarakat berdaya beli rendah Pertanyaan ikutannya? Kenapa subsidi…

Ya,… begitulah seni dalam dunia goreng-menggoreng. Bukan dunia panggang, bakar dan rebus.