Shor Nan Kabus Melayang

Ilustrasi: pojokseni.com

#YusmarYusuf

Lembah dan pita-pita. Orang Shor di Siberia. Tepatnya di kawasan Kemerovo Oblast, termasuk rumpun Turkic-Mongol. Negeri molek yang tergolek di atas savanna, gunung berkelindan lembah-lembah luas memukau, jalanan berdebu, laguna dan sungai-sungai meliuk.

Dan di celah bebukitan nan sempit menjulur jeti kecil nan lurus menjorok ke anjung air. Itulah kampung-kampung orang Shor yang masih amat primitif. Beratap jerami, rumah panggung berdinding kayu serba warna hitam. Sebuah panggung ‘surgawi’ masa lalu yang hadir di masa kini.

Para curator, terutama sutradara amat terpikat memfilmkan eksotika kehidupan orang Shor nan unik di ujung Timur Rusia yang berdekatan dengan wilayah Cina ini dalam rangkaian eksotika tak terperikan.

Artdjom, begitu nama pemuda Shor dipanggil. Dia “mengajak”  menelusuri kehidupan era batu orang Shor di Rusia. Menelusuri Tom Basin sepanjang Kondoma dan sungai Mras-Su. Kawasan ini  dikenal sebagai pegunungan Shoria. Mereka menyebut dirinya juga dengan Kuznetskie Tatars,  Kondoma Tatars atau Mras-Su Tatars.  Fenomena toponim kawasan ke atas nama diri. Lembah-lembah meliuk indah, seakan menyajikan bebunyian denging musikal, berlari di antara celah tiang totem tegak dengan ikon wajah dan kepala manusia.

Dan kayu  tegak totem itu terkesan tua-kusam, menikam lembah, di atas dada air yang tak bergerak. Kesan magis menyembul di permukaan air nan senyap, diam dan mistis. Orang Shor sohor dengan praktik Shaman. Penganut Shamanisme tertua di dunia. Tato capung di tubuh,  bagian dari identitas shaman. Shamanisme ditransfer dari sang bunda ke anak perempuan. Kerap shaman itu adalah seorang perempuan dengan kepala berbalut  kain warna merona nan meriah.

Praktek Shaman ini juga sering tampil menjadi pukau  panggung musikal dengan alat petik ala gambus orang Shor. Teramat unik, suara yang keluar sebagai tiang vocal dari seorang perempuan yang tampil solo di atas panggung itu bukanlah suara manusia sebagaimana normalnya. Tapi  suara tenggorokan; dengan bunyi seakan melayang-layang di langit, seakan menghenyak dengan kilatan cahaya malaikat (angelic light). Seakan minor, seakan mayor. Ya, suara di antara seakan-akan, dan akan. Namun, dia (suara “akan” itu) mengucah masa lalu. Sebuah tiang dengan garis waktu yang déjà vu.  Seakan bebunyian falsetto, tapi surgawi. Artdjom dengan bangga mengilas titah dan kisah perempuan-perempuan Shor dengan praktik Shamanisme yang kental, ramah, dingin, sejuk dan: “kenali masa lalu mu!” Itulah Shor nan memukau dan memaku.

Pita dan lembah-lembah. Pita-pita menganjung, menjilat tiang menungkai di atas lembah. Pita warna-warni, membentuk konfigurasi piramida di atas lembah-lembah yang mengambang. Dari pucuk bebukitan, kita bisa menyaksikan pita-pita mengelopak dan terbuai angin lembah-lembah. Di ujung lembah ada bukit yang agak tinggi dan plateau, menganjung di atasnya, sebatang salib tua, sebuah cara Nasrani memuliakan kawasan jadayat mitos besar orang Shor, di titik azimuth magi orang-orang Shor. Gereja Timur masuk di kawasan ini, walau tak berdaya berdepan dengan keperkasaan Shaman dan animisme Shor.

Salib tua itu, hanya bisa dicapai melalui jalan kaki di celah bebatuan nan berundak via jurang terjal, batu menajam. Inilah Salib suci Nicolai atau Santa Nicolaus. Tempat anak-anak muda, terutama perempuan bermain ceria, bercerita tentang bintang-bintang berkedip di atas ubun-ubun. Budaya dan bahasa orang Shor terbentuk dari rumpun Turkik, Ugric, Samoyedic dan Ket. Biasanya anak-anak perempuan Rusia merantaikan tangan sesama dan berkeliling dengan gerak putar ceria bak jarum jam. Wah Tuhan. Di mana agama dan apa agama?

Orang-orang Shor adalah pelahap tomat segar yang luar biasa. Berburu dan menangkap ikan adalah kepakaran alamiah Shor berbingkai puisi. Kecenderungan demografis orang Shor juga kian berkurang (sensus 2002) berjumlah 13.975 jiwa. Padahal tahun 1926 berjumlah 16.042 jiwa. Jumlah yang menyusut, namun di langit sana, Shor menggoreskan kedamaian. Di peta dunia mereka dianggap rendah dan kecil, mungkin di langit mereka malah besar dan membesar dengan tanggung jawab kebudayaan yang diemban secara istiqamah, konsisten dan penuh niscaya. Ya, sebuah imperatif. Sebuah tugas, sedentum perintah untuk memuliakan tugas langit di setapak tanah di Kemerovo.

Shor berkebun kacang (pine-nut), tukang kayu dan pandai besi. Mereka merumput, mengumpul rerumputan untuk ternak, yang tak sedikit pun ada perngaruh Moskow dan St. Petersburg yang gagah itu. Fesyen dan pakaian mereka, dikuasai belahan barat Eropa, termasuk Jerman. Sehelai baju dibuat di Nanking Cina yang berjarak 800 Km dari negeri mereka. Namun, tidak langsung sampai.

Lembar baju itu harus melakukan perjalanan 8000 Km menuju Leverkusen di Jerman sana, kemudian melayang sejauh 7200 Km dari Jerman untuk sampai di Kemerovo dan kampung-kampung Shor yang tersangkut di tebing-tebing sungai dengan geomarfologi negeri yang tak terceritakan oleh kata-kata. Mungkin dengan model dagang begini pula, menjadi jalan mangkus bagi pengembara Eropa untuk menjalani “kesesatan” dan bagian proses “penghilangan” diri dari riuh rendahnya budaya kapitalisme di kota-kota Eropa untuk meneguk mata air Shor nan damai, di antara pita-pita dan lembah-lembah.

Singgahlah dan tautkan pita-pita warna-warni di atas reranting benang orang Shor. Dan para shaman Shor berkeyakinan, semua tindak dan niat anda akan dijawab oleh para roh leluhur. Pita-pita adalah media; sejumlah jembatan memanjat langit ala orang-orang Shor yang amat fotogenic, amat charm dan menyimpan sejumlah kejutan dan sentakan dalam rangkaian jerky, di atas punggung kuda poni, berlayar di atas perahu membelah kabut laguna. Dan kedamaian yang tersangkut di ranting Shor. Dan bergumamlah dalam bunyi yang seakan-akan, akan itu!