Benua Payau Bustami

Bustami (tengah) bersama Yusmar Yusuf ( F: dok. pribadi)

 

#YusmarYusuf

Neurotik digital? Mendesak orang mencemplungkan diri ke dalam ‘kegilaan baru’: Dan mendunia. Terhenyak oleh fenomena teleportasi, metaverse atau pun augmented reality, para ustadz pun terdiam. Walau tetap mendesah kisi haram dan halal, mubah dan makruh. Ilmu tak sampai atau semacam (sengaja) menolak segala apa yang dianggap bid’ah.

Revolusi pada level apa pun, diawali oleh virus halus bernama bid’ah. Termasuk bid’ah sosial yang diternak di dalam “ruang-ruang kurang ajar” di sekitar kita: Disetujui atau pun ditolak.

Kehidupan yang bergerak dan lasak itu sendiri adalah sekumpulan bid’ah sosial yang dilahirkan bak amuba. Bid’ah sosial amat dirindu untuk sebuah perubahan.

Lalu, apa yang berlaku? Rujuklah pada sosok Bustami yang semampai-kerempeng ini. Bustami berkaki lembab di atas tanah becek musim hujan. Hati dan jiwanya malah menyala, menginduksi kehangatan menjalar ke ujung jemari kaki di atas lumpur legam.

Ya, lumpur menggumpal atas pematang. Di atas bentang pematang inilah Bustami “meringkus diam” lalu mendorong orang menghela jaring raksasa. Bustami bergurau dengan serba payau; tambak payau, pematang payau, air pun payau.

Dia menjembatani buana maritim dan banua darat (ya, semacam barzah). Payau itu sendiri adalah “kegilaan barzah”.

Tersebab ‘barzah’ ini pula, udang vanamee perairan payau mengandung perisa dan gizi aduhai. Udang vanamee pun dipanen dalam kegembiraan kastil payau.

“Alam barzah” atau pun padang lamun ‘moderasi” yang dihidang Bustami, menjadi hari raya berbinar pada penggal perdana purnama Februari lalu. Hari raya bagi orang sekampung.

Bustami secara tak sengaja menebar “bid’ah” kegembiraan orang sekampung. Anak-anak memperkatakan Bustami selejang lebuh yang kuyup; “Oh… Om Bustami panen tambak. Om Bustami panen udang…”

Bukan. Bukan 5 Ton. Panen di musim hujan nan payau ini, dalam jumlah besar: 11 Ton. Pedagang perantara Cina pun datang menghampiri Bustami.

Sejak subuh menyentak; truk kontainer bersusun di sesudu jalanan sempit samping pematang payau. Truk-truk kontainer inilah yang akan mengangkut panen vanamee ke Bandar Lampung sebelum melintasi selat Sunda memasuki pasar agung Indonesia: kota-kota dahaga dan menggeliat di tanah Jawa.

Kenapa Lampung dan Jawa? Ini juga sebuah elakan pasar sejenis bid’ah. Pasar tradisional sebenarnya Singapura atau pun Semenanjung. Boleh melalui Batam atau pun langsung dari Api-api (jalur temaram) menusuk Batu Pahat. Bustami sadar: ini era pandemik yang tak mengenal sudah…

Lia, sosok perempuan matang-ramah. Jauh jua ruang dagangnya. Pernah mukim di rantau Kuantan. ‘Airtangan’ tanah tua Bukit Batu menjadikan Lia lihai memasak dalam ragam turunan dan derivasi jenis makanan. Sumber bahan baku serba lokal; terengkuh tangan.

Bukan sesuatu di puncak alpen dan kaukasus. Ditambah pula hiruk pikuk Crimea dan Ukraina yang tengah bertengkar, dipelototi beruang Rusia.

Ya, Lia berseteguh menumbai apa-apa yang ada di sekitar jangkauan lengan. Rasa dan perisanya menebuk gua-gua gelap kaukasus. Melayang-layang di permukaan Laut Hitam (Black Sea). Lupakan Luhanks dan Donetsk sejenak…

Obsesi Bustami bukan pada peristiwa panen dan kegembiraan berkampung-kampung. Dia hendak menjadikan ‘wilayah panen’ sebagai bagian dari medan pengalaman orang-orang: disengaja datang atau pun para pelancong yang ingin menyalin pengalaman.

Hari ini, tourisme bukan sekadar berjalan-jalan dan berjemur matahari. Bukan menaiki tourist bus, lanjut foto-foto dengan batasan waktu yang ditetapkan oleh para guide.

Tourisme ialah efek dari kebudayaan yang kuat; ya sebuah bid’ah gaya baru. Bali menjadi destinasi mahkota dunia, karena kebudayaan yang kuat. Bustami ingin menukil kebudayaan yang kuat itu lewat padang lamun, pematang payau yang diserbuk garam kala angin laut mendarat pada malam menyubuh.

Lihat kampung-kampung sepanjang pantai dengan bunga nan mekar menyenggau. Berkat serbukan angin yang membawa garam.

Pematang payau, perairan payau adalah istana bagi biodiversitas “barzah” dengan kejelitaan dan kedegilan terunggul (shadu perdana). Udang vanamee tampil bugar, berkat alam payau.

Lahan gambut yang rentan, diseduh oleh kepayauan menjadi lumpur mengumpal dalam tekstur baru nan menyubur.

Di sini Bustami berazam membangun kebun anggur. Anggur yang diserbuk garam laut. Dalam kerimbunan anggur, orang diberi pengalaman menjala udang di tambak payau.

Boleh terjun langsung dan bergurau dengan aerator menyembur dalam efek pesona fountain; hati yang menyembur kegembiraan, hati dengan perasaan menyamudera.

Kegembiraan dalam ruang-ruang tak terduga. Selama ini, kisah payau hanya diduga dalam sfera delta dan estuaria. Bustami mempersua delta dan estuaria dalam setakung tambak produktif.

Delta itu bukan peristiwa yang hanya bisa disunting di Mekong, Irrawadi, Gangga atau pun Nile. Dia ada di ujung jemari Bustami.

Kepayauan aquatica sekaligus kepayauan vegetatif. Satu di antaranya adalah kebun anggur nan rimbun laksana pinggang, sabuk vegetatif yang menyembur peng-‘alam’-an.

Ya, turisme pengalaman (experiences); turisme pembelajaran dan pelibatan emosi dan menegakkan
attitude: alias “Malay-tude”.

Bisa dinaik-tarafkan dalam moda augmented realitymetaverse. Bustami bergelut dengan candaan serba digital di sepanjang selat; entah itu di kampung Api-api atau ke depan di kampung Mengkapan Siak.

Jua menyisir garis pantai Brouwer Straat (Selat Lalang) yang masuk dalam rezim selat terdalam dunia.

Reguk dan teguklah pengalaman! ini motto bertuah. Dalam hiduan pengalamanlah manusia menemukan diri sejati. Sebelum kita mejalangkan diri dalam peristiwa teleportasi antar planet dalam sistem tatasurya (solar system) Galaxy Bimasakti atau Milkyway mahaluas yang disediakan Elan Musk. Revolusi atau bid’ah kah Bustami? Ha ha ha ..