Perjalanan: Mi’raj

Ilustrasi: al-azhar.sch.id

#YusmarYusuf

Inilah tahun duka. Tahun kesembilan kenabian, ditandai dengan sejumlah duka menimpa sang mursalin; duka mengenai sejumlah kehilangan (paman dan isteri tercinta). 

Lalu, perjalanan ini selalu saja dimulai dari sebuah lembah yang terkepung. Lembah itu bernama Makkah. Perjalanan malam menuju sebuah tempat nan jauh (aqsa).

Perjalanan ini terjadi satu tahun sebelum Nabi mursalin melakukan hijrah ke Madinah (Yatsrib kala itu). Perjalanan malam ini adalah sebuah kenyataan “pendahulu” (anteseden atau pun advanced) sebelum berpindah dan membangun “negara” Madinah.

Kilas sejarah memperkatakan bahwa perjalanan itu tidak saja datar (horizontal), pun sekaligus tegak lurus ke atas (vertical) dengan sebuah misi menjemput dan persaksian ruh sepanjang lapis langit yang bertingkat-tingkat.

Ihwal ini diyakini sebagai perjalanan fisik sekaligus perjalanan ruh dalam dimensi waktu yang tak vulgar (alias waktu sejati).

Di sini Muhammad Suci menjalani waktu sejati (waktu menurut waktu, bukan waktu menurut manusia atau waktu menurut persepsi).

Manusia mengalami waktu dan kemewaktuan yang begitu relatif dan abstrak.

Perjalanan itu di awali dari sebuah lembah.

Isra Mi’raj boleh saja dianggap sebagai cara merayakan semesta buana dengan segala lapis dan dimensinya setelah Nabi menjalani masa-masa duka, menjalani ketegangan sosial yang mengepung umat yang baru muai dan sudah berani menyatakan keislaman secara terbuka sejak tahun ketiga kenabian.

Perjalanan itu dipilih pada “wilayah” malam, bukan siang. Kenapa malam? Karena malam adalah simbol kedekatan ruh dengan Penciptanya.

Malam adalah ruang yang disediakan bagi air mata, wilayah munajat, kedekatan, ruang esoterik, malam adalah wilayah dzikir, malam adalah domain kenang, malam adalah ruang merindu dan taqarrub.

Dan oleh sebab itu sebagian besar para penghayat ruh dan peniti jalan spiritual memilih malam untuk berdialog dan bercumbu dengan Khalik. Pun, sebagian besar shalat lebih banyak tumpah mengambil wilayah malam (juga doa).

Malam adalah domain penciptaan. Sejalan dengan itu, maka para pujangga, penyair, penukil jalan penciptaan kreatif memilih malam untuk menjemput ilham serba tak terduga.

Perjalanan malam memikul misi persaksian dan penjemputan. Persaksian tentang kehidupan dan sejumlah persaksian para nabi dan rasul sebelumnya sejak Adam hingga Isa Al Masih. Sejak Ibrahim, Musa, Yaqub, Yusuf dan Yahya.

Dan puncak dari semua misi perjalanan itu adalah penjemputan shalat (sebuah sistem menghadap dan bersujud) ke haribaan Rabbi maha tinggi.

Karena dia (shalat) dipetik dari tempat yang paling tertinggi (superlatif), maka dia dinisbahkan sebagai suatu “perintah” (command).

Perintah itu tidak saja dinisbahkan kepada Musa bagi kaum kebangsaan (Yahudi). Perintah kepada Muhammad adalah perintah dengan pembawaan semesta.

Shalat adalah salinan abstrak “kembaran samawi” yang ada dan dilakukan oleh segala makhluk di luar dimensi alam fisikal yang kita kenal.

Dia adalah sebuah sistem; dengan tertib dan urutan yang berantai dan tak boleh terputus. Sistem ini yang mengedepan suara dan senyap.

Kala bersuara (jahar), dia menyimbolkan pelibatan sosial makhluk, namun kala dia menjalani fase senyap (shir), sejatinya dia tengah menjalani tahap-tahap “kehadiran” Tuhan.

Bahwa “kehadiran” (tajalli) itu hanya mungkin dalam sebuah kenyataan senyap, diam dan hening.

Di sini manusia tengah menjalani fase-fase intens(i) dalam komunikasi dan dialog dengan Tuhan. Perintah (command) yang disuarakan (dalam shalat) itu menyisipkan misi tentang Islam sebagai agama figh (agama hukum).

Tatkala perintah itu memasuki fase senyap (diam), dia menyisipkan misi bahwa Islam adalah agama cinta, agama yang mengedepankan dialog batin, cinta kasih.

Gabungan sebagai agama fiqh dan agama cinta inilah yang menguntumkan simpul paling khatam dari agama ini: Islam sebagai “rahmatan lil alamin” (gabungan suara dan senyap dalam shalat).

Shalat itu sendiri adalah “perjalanan”. Sebuah sistem “perjalanan” yang disuarakan (jahar) dan yang tak disuarakan alias senyap (shir).

Ketika shalat dalam fase suara (jahar), perjalanan shalat lebih mengedepankan dimensi penyapaan horizontal, sementara ketika memasuki fase senyap, penyapaan itu bermakna “jeluk”, pencarian ke dalam, sebuah kelanaan demi menukil “kembaran samawi” ruh manusia yang tertakung dalam “iPad” Tuhan bernama “Lawh al Mahfudz”.

Isra Mi’raj itu sendiri adalah sebuah hijrah yang bersifat personal bagi nabi mursalin, sebelum beliau melaksanakan hijrah sebagai perintah sosial dengan melibatkan sekian banyak jumlah ummat menuju utara (Madinah).

Gerak hijrah itu memilih garis selatan-utara; Isra Mi’raj antara Makkah (masjidil Haram) dan al Quds (masjidil Aqsa). Lalu dilanjutkan dengan perjalanan menegak menuju Sidra al Muntaha.

Kemudian setahun berikutnya perintah hijrah yang melibat dimensi sosiologik lebih luas adalah gerakan dari selatan ke utara (Makkah menuju Madinah), garisnya lebih pendek berbanding garis menuju al Quds (Jerusalem).

Lalu, perjalanan Madinah ini pula, menyiratkan makna sebagai sebuah titik tengah (titik kompromi atau moderat) yang menyediakan pilihan dan sikap “politik spiritual” dengan simbol masjid Qiblatain (perpindahan arah qiblat dalam shalat) dari utara (al Quds) ke arah selatan (Makkah, yang di dalam lembah itu terkandung rumah Tuhan bernama Ka’bah).

Di Madinah yang berperan selaku titik moderasi (titik kompromi) terjadi pemuliaan dua arah mata angin (tak semata utara), tapi sekaligus memberi dan menempelkan makna spiritual yang kuat dan jeluk kepada selatan (Makkah).

Sistem merkatori selatan-utara ini sebagai garis yang melawan perjalanan matahari (timur-barat @masyriq-maghrib), yang selama ini memberi kesan perjanalan kehidupan (fisik).

Demi mengelak pergerakan matahari yang serba teratur saban hari dan demi menghindari persyarikatan sesembahan spiritual yang diarahkan pada pergerakan perjalanan matahari, maka garis selatan-utara dan sebaliknya utara-selatan, melambangkan perjalanan (gerak) spiritual yang memperkaya batin.

Isra dan Mi’raj adalah perjalanan. Sebuah perjalanan personal-spiritual nabi mursalin, yang memberi dedahan i’tibar maha luas tak bertepi, ketika dia dipetik dari hikmah “persaksian” dan hikmah “perintah” (shalat).

Nabi yang tengah menjalani tahun duka, dirundung duka, tentulah lebih molek dibalut dengan selaput cinta. Dan shalat adalah dimensi cinta, tak semata “perintah” (command).