Tani: Masyarakat Pengetahuan

Ilustrasi: agfundernews.com

#YusmarYusuf

Sejak kecil, saya sudah terlibat dalam dunia tani. Termasuk ekosistem pertanian. Mengukur curah hujan lewat ombrometer manual yang terletak di laman rumah. Mengukur debit air irigasi persawahan di samping rumah. Kebetulan saya bermastautin di sebuah ruang (biotop) kehidupan “balai benih” (khusus padi). 

Menyiang anakan padi yang tengah merecup naik, sembari mematah pucuk genjer (sayuran) sebagai unit gizi bagi tubuh.

Terlibat langsung dalam menata bunga-bunga indah dan rimbun dalam ragam tampilan warna floris memukau.

Pokoknya rumah kediaman kami, laksana kastil Eropa yang dikepung beragam jenis bunga segala ukuran (tinggi, rendah, sedang dan merayap). Ukuran taman bunga ini 0,5 Ha. Mungkin tak percaya…

Sesekali memanjat bunga flamboyan menjulang, tidur-tiduran di dahan kala angin sepoi basa: melayan khayali melambung cakrawala.

Bagian petang, menggarap ladang khusus tanaman cengkeh (dua Ha); dan tanaman sela di antara cengkeh; kacang hijau dan kedele. Setiap jengkal permukaan bumi adalah zat dan fadilat bagi semesta kehidupan.

Menyemprot hama (pestisida dan herbisida); bercanda dengan handtractor (sebagai alat bajak); menabur pupuk, mengorek tanah garis horizon (tali air dan parit) dengan alat bernama skop.

Semua ini pekerjaan rutin oleh tangkai lengan dan tumpuan kaki mungil dan amat lemah.

Mungil, comel dan lemah itu harus “didera” dengan sejumlah pengulangan yang padat. Ini anjuran Abang saya yang Kepala Balai Benih itu.

Abang adalah sosok berpengetahuan luas, tak banyak cakap, namun menuntun dalam diam dan lelaku.

Latihan berulang dan keras itu dalam tradisi tasawuf (setelah dewasa) disebut riyadhah.

Ya, membentuk diri selaku “diri pengetahuan” (self knowledge) harus dimulai dari dunia tani dan kebun. Setelah mampu melewati itu semua, terserah anda bisa menjadi apa saja meraih profesi yang ragam dan luas di muka bumi ini. Ya, dunia yang dimulai dari serba sedari kecil.

Akan halnya “masyarakat pengetahuan” (knowledge people), bermula dari upaya memupuk rasa ingin tahu dan melaksanakan perbuatan secara langsung.

Bukan menghafal teori. Bukan menghafal buku manual, bagaimana menyetir mobil yang benar dan aman: Ambil kunci, nyalakan mesin, duduk dan pegang stir, lalu…: Gerakkan!

Anda sedang memetik pengetahuan secara langsung. Sekaligus membunuh rasa malas. Kemalasan harus dibunuh dengan tindakan fisik yang diulang-ulang.

Subuh dan senja, saya bertugas mendampingi “bebek” (itik air); melepas dan menjemputnya (ke dan dari sawah). Di sana mereka “menelantarkan” diri seharian (berendam dan mencukupi gizi makanan) untuk pertumbuhan.

Sepulang sekolah saya menjemput itik kembali dengan nada kentungan kayu khas. Ini jenis itik petelur (unggul jenis Sawang).

Telur berlimpah. Kala musim hujan, banyak yang busuk. Telur membusuk? Jawabannya buku pintar pertanian ada di dalam rak.

Saya bongkar dengan saudara sepupu. Baca, pelajari… Lalu, kami membuat sebuah peti sebagai mesin penetas bagi telur-telur yang super banyak itu.

Sudah sampai pada over consumption level (berlebihan). Memetik pengetahuan baru: menciptakan mesin tetas, manual dan hemat energi.

Saya sudah “merampas” satu domain Tuhan: mencipta. Saya sudah “mencipta” makhluk dari mesin penetas. Makhluk itu adalah bayi-bayi itik berwarna kuning.

Hati riang dan gemerincing. Kampung kecil itu heboh. Laksana sebuah laboratorium mengenai dunia tani dan ternak.

Mulut-mulut di kampung itu memperkatakan “perbuatan” kami yang kreatif dan tak pernah meninggalkan klas sekolahan walau harus bergegas melawan tantangan arus air yang deras di sekitar estuari Sungai Siak yang tak terduga itu.

Sekolah kami berada di seberang, berjarak dua tanjung dan tiga teluk. Kesusahan hidup itu adalah sekolah alam yang paling geliga. Inilah masa pembentuk watak, penajaman akal, pembangunan keinsyafan ekologis, sekaligus pembentuk fisik yang tahan banting (bodying).

Kala dewasa nanti, sudah siap dengan segala cabaran dan tantangan termasuk berhadapan dengan hujan tombak sekalipun.

Tak cengeng menjalani bahtera rumah tangga yang penuh gelombang dan sak wasangka. Usia emas dalam pembangunan makhluk manusia menjelang dewasa.

Pada masa-masa inilah “deposit” pengetahuan dari ragam jenis dan wacana dihimpun dan dilatih.

Malam hari sesi belajar marhaban, tahtim, barzanji. Malam lain, mengaji dalam senyap buku-buku teosofi dan tasawuf yang tak dimengerti (tapi maksa ngerti atau sok ngerti).

Malam lain, belajar zapin dan meting gambus, walau berbunyi payau dan pirang. Memukul maruas dan bebano.

Di pertigaan jalan Caltex, pojok parit besar ada Gereja kayu bagi umat yang terbatas (karyawan PT.CPI); saban hari Ahad saya rajin intip dari jauh gelora bunyi alat musik yang aneh berdengung (keyboard, orgen). Semua ini memperkaya istana “bunyi” bagi kuping Schopenhauer milik saya pribadi.

Senja menjelang maghrib, sensasi rutin; mendengar berita dan ulasan berita dari BBC London. Dibimbing sang Abang. Di sini ada tabrakan “maut” lagi: dialek bahasa penyiar yang rada aneh (bukan Melayu, bukan Indonesia).

Ya, langgam penyiar yang lidahnya sudah dikeletok oleh dialek Oxford. Ya, lidah Hasan Ashari Oramahi, ada jua Simanungkalit dan tentu si ratu phone: Inke Maris.

Kala itu, hati melonjak: “saya bagian dari makhluk mondial”. Yang paling menggoda bagi saya adalah ulasan seni dan budaya di Eropa. Selalu Paris dan Paris… Semuanya telah hilang dalam waktu: “When an old man dies, it is as if a library burns to the ground” (pribahasa Afrika). Atau malah apa yang dikatakan oleh Carl C. Jung: “In each of us there is another whom we do not know”.