Oralitas: Penolak Lupa

Ilustrasi: google.com

#YusmarYusuf

Ujaran, penanda hidup. Agama-agama purba lebih mengedepankan ujaran (oralitas). Nir tulisan. Lewat berujarlah Tuhan menyalur kebenaran. 

Ujaran bersifat hidup. Sebab, sang pengujar yang tengah bicara sedang menjalani “saat itu”, menjalani kekinian hidup.

Sebaliknya, tulisan bukanlah wakil kehidupan. Tulisan yang terdedah, bisa saja telah ditulis orang yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tapi penulisnya tak sedang wicara dalam kenyataan kini (kekinian).

Wicara tak bisa ada secara terpisah dengan sang pembicara (sang pengujar). Ujaran melekat dengan kehadiran si pengujar (ada dan mewaktu sekaligus me-ruang).

Ujaran atau wicara memikul watak kehidupan; secara prinsip wicara memiliki kualitas kehidupan, karena wataknya (ujaran@wicara) yang berubah, beradaptasi, sekaligus menemukan.

Ujaran itu kontekstual (meruang adaptif); sehingga wicara itu sendiri menyesuaikan dengan pembicara, pendengar dan situasi.

Huston Smith mengelaborasi kata-kata asal yang keluar dari mulut manusia yang berujar, meniupkan kehidupan baru dan serba berona ke dalam tema-tema yang sudah demikian akrab dengan irama keseharian.

Kata-kata yang dirangkai; di antara bunyi kata-kata tadi, bisa diselip irama, sekaligus dengan ikutan intonasi, jeda dan aksentuasi yang kemudian membuat wicara berubah menjadi nyanyian.

Maka, menjulanglah tradisi berkisah dan bercerita (story telling) sebagai puncak seni berkata-kata (berujar) dalam tradisi manusia purba.

Ujaran dan cara penyajian ujaran itu sendiri memberi kontribusi dalam warna kehidupan di sayap yang lain; ketika postur dan gaya berjalan para hewan ditiru dan suara bebunyian mereka direka ulang, teater pun terjelma. Inilah vitalitas oralitas.

Pada masyarakat primal (purba), baca tulis tak dikenal. Agama primal, ditandai dengan sejumlah mimpi. Tak direkam dengan sejumlah catatan tertulis.

Tulisan bagi masyarakat primal bukanlah pelengkap dari tutur kata (ujaran). Malah, tulisan adalah
ancaman atas tuturan. Tulisan adalah alat pemusnah atas kebaikan yang terhimpun di dalam ujaran eksklusif.

Mereka yang kuat dalam tuturan verbal adalah museum memori paling agung. Keutamaan dari tuturan adalah melatih daya ingat (memori).

Bangsa modern yang melek tulisan, punya perpustakaan untuk merujuk dalam sejumlah huruf ke atas ragam memori, maka orang-orang yang melek huruf menjadi lemah dalam menghafal.

Ini simulasi kehidupan tanpa tulisan; bayangkan sekelompok Homer (homin@ manusia purba) leluhur kita.

Mereka adalah sekumpulan Homer buta yang berkumpul saban malam di keliling api unggun. Segala yang dipelajari mereka dari leluhur sebelumnya, tersimpan apik di dalam ingatan kolektif. Disempurnakan dalam penceritaan kepada generasi selanjutnya; termasuk tata cara peramuan obat, penciptaan legenda.

Segala ihwal ini dipuja dalam bentuk pengulangan khazanah secara berkelanjutan hingga kini. Tak lewat kitab suci, tak via kitab primbon. Semua tersedia di dalam ingatan yang terawat secara kolektif.

Dilakukan secara bersilang dan berganti-ganti oleh setiap individu (ada yang mengoreksi, ada yang malah bertugas melengkapi) segala legenda itu. Dengan begitu, oralitas eksklusif itu berfungsi untuk melindungi memori manusia atas peristiwa lupa.

Di samping itu, dia (ujaran) juga berfungsi menjaga tiga aset utama yang dimiliki manusia purba; pertama, ketiadaan teks dalam tradisi oral membuat mata mereka bebas untuk melakukan penyingkapan dan penerawangan segala ihwal yang sakral dan gaib (Ada Nan Kudus).

Kedua, kegamangan manusia terhadap alam tulisan itu, karena tulisan itu sendiri mempunyai batasan. Tulisan itu bisa berkembang-biak, sehingga huruf-huruf itu bisa menutup kerimbunan hutan.

Artinya, fikiran yang dipenuhi oleh sejumlah informasi tulisan, kita pun diserbu oleh gejala kesulitan menentukan mana yang penting dari kerimbunan tulisan itu.

Ancaman ini tak akan terjadi pada masyarakat primal, sebab mereka akan mengingat apa yang penting dan melupakan apa-apa yang di luar (tak penting).

Dunia tanpa tulisan itu bisa merawat komunitas. Oralitas adalah instrumen tercanggih untuk memelihara komunitas.

Tulisan, membuat orang menjalani hidup yang sepi di tengah keramaian, membuat orang-orang modern kian gamang menjalani hidup tanpa surat kabar, tanpa siaran televisi, radio, handphone. Terkucil, sunyi.
Maka, berbicara secara purba adalah bahasa manusia yang diperuntukkan bagi interaksi dengan manusia. Manusia merawat komunitasnya dengan berbicara (ujaran) yang bersuara; bukan teks yang kaku-mati.

Setelah mengenal tulisan, kita menjadi masyarakat pelupa. Amat tergantung pada memori yang disimpan dalam huruf dan aksara.

Kita menjadi bangsa sok dan bangga akan peristiwa lupa dan melupa. Pada saat yang sama kita memiliki kepongahan membolak-balik lembaran kertas himpunan jutaan huruf dengan satu tujuan agar terkesan lebih intelek. Cergas berlari di dalam rimba raya aksara yang membunuh daya ingat purba itu.

Instink purba itu telah kita pindahkan dalam sejumlah simbol fonetik sebagai alat pengingat. Otak kita, telah mengalami migrasi menjadi sejumlah simbol yang disakralkan dalam majelis manusia berperadaban, manusia yang menghayat sejarah: Setelah tulisan ditemukan, manusia menjadi makhluk sejarah. Kita terikat dengan sejarah.

Kita tak lagi menjadi makhluk yang bebas menerawang. Demi penyingkapan-penyingkapan alam di balik sana melalui vitalitas ujaran.

Kita memindahkan vitalitas ujaran (mantera) itu menjadi sejumlah buku tabib, sejumlah buku teknis dan buku manual mengenderai mobil dan membaca bintang-bintang lewat miniatur zodiac di lembar-lembar majalah kusam. Suatu ketika, manusia merindukan ujaran.