Mulut

Ilustrasi: hips.hearstapps.com

#YusmarYusuf

Hanya sebuah rongga, lubang memanjang atau tepatnya melorong ke dalam. Di sini festival berlangsung. Dia satu, tapi macam seribu. Mengalahkan mata yang dua, telinga yang dua. 

Sebelum orang berkata melalui mulut, dia harus melihat dengan dua mata dan mendengar dengan dua (daun) telinga. Tapi dua instansi (mata dan telinga) kalah laju dengan mulut yang satu.

Manusia modern memfestivalkan mulut menjadi sesuatu yang serba lebih, serba aduhai dan serba wah. Menipu dengan mulut, janji manis lewat mulut, rayu dan rajuk juga via mulut.

Berkelit dari kesalahan juga (cukup) dengan mulut. Mimpi besar untuk mengentas kemiskinan rakyat, oleh seorang pemimpin, pun cukup dengan mulut.

Kala menjual ‘barang dagangan politik’ masa kampanye, mulut berbuih-busa. Disambut lagi oleh kehadiran microphonesound system. Maka terjadilah kehebohan baru; berebut dan memperebut pengeras suara.

Derivasi festival berikutnya? Mereka yang lekas merebut microphone atau pengeras suara, lalu berujar. Ujaran lewat pengeras suara itu, seolah-olah kebenaran itu sendiri. Kebenaran “pengeras suara”.

Ketika pemimpin besar bual dan banyak cakap, maka rakyatlah yang menjahit mulut. Warga membisu. Tak ada gunanya memfestivalkan bunyi mulut yang bau, yang busuk namun direnjis melalui segala pengharum, padahal substansinya adalah maung.

Demi merawat tradisi “besar mulut atau mulut besar” itu, demokrasi memberi ruang luas untuk festival bunyi dari mulut-mulut.

Untuk dan demi mulut, demokrasi bersedia membangun gedung khusus bernama parlemen. Di sini, orang boleh adu mulut, adu suara, adu bunyi, sentak menyentak (panco suara).

Rakyat yang letih dan letoi dengan segala bunyi itu, lebih elok melakukan tutup mulut. Maka, kita pun pernah menyaksikan bagaimana rakyat menjahit mulut di laman parlemen, yang sejatinya menjadi “surga” festival kumpulan mulut-mulut.

Kita pernah dikejutkan oleh sejumlah orang yang mengambil keputusan di luar akal sehat arus perdana. Mereka berkemah di depan –kononnya- ‘rumah rakyat’ (gedung parlemen). Tak selesai pada tangga ini, mereka memanjat jenjang yang lebih tinggi: Membawa mulut yang tersimpai oleh jahitan sekenanya ke mana-mana.

Mereka menyuarakan sesuatu melalui ‘nir suara’, tak juga desah. Di sini, mulut lebih mengutamakan media “video” (alias visual) bukan lagi media “audio” seperti layaknya pengeras suara yang difestivalkan.

Media massa menyerbu dan membentuk semacam agenda setting demi “visualisasi” mulut-mulut yang dijahit, tapi tak menjahat.

Rakyat dan pejabat yang sehari-hari besar bual di kampung sendiri, terkejut. Peneraju adat yang ke mana-mana menjinjing simpai moral dan nilai resam, terdiam kaku dan membisu. Kenapa?

Mulut itu hanya selonsong rongga. Tempat segala ihwal bermula. Adam terpelanting ke muka bumi, tersebab tak menjaga mulut. Pertarungan berdarah pertama anak manusia [Habil dan Qabil/Kain] juga karena mulut. Maka sejumlah peristiwa besar di dunia ini berawal dan berakhir karena medan mulut.

Perang dimulai, karena ada mulut-mulut yang menyulut kesumat. Dan perang berhenti, karena sejumlah mulut melakukan diplomasi dan perjanjian damai untuk menjinakkan nafsu hewaniah secara sesaat.

Nafsu berkuasa adalah naluri purba yang setara dengan instink hewaniah itu. Instink hewaniah yang melekat pada hewan di belantara raya, bertarung dalam sergahan dan auman bunyi yang keluar dari batang rongga bernama mulut.

Singa, harimau, gajah, kuda, dingo, kerbau, elang sampai ayam, mengeluarkan suara menggerunkan bagi lawan atau mangsa.

Sebelum pertarungan fisik, maka terjadi pertarungan bebunyian, menggunakan kekuatan ‘trompet’ mulut.
Mereka yang menebar bunyi dan suara dari podium ke podium, dari mimbar ke mimbar, panggung ke panggung, dari pentas ke pentas atau dari majelis ke majelis, ialah sederet bebunyian yang berhajat menakluk dan mengelak, sekaligus membuat persimpangan baru. Persimpangan yang menjebak dan menyesatkan.

Auman, lengkingan dan ceracau yang keluar dari mulut para pemimpin yang bau, yang dingin dan busuk, tak lebih dari sebuah bual besar, yang tak memberi faedah apapun bagi orang ramai (sekilas bak supermarket bunyi-bunyi).

Dia hanya menjadi pembenar segala kesalahan dan kebodohan yang dibangun selama ini. Untuk itu rakyat tak sudi diajak dialog lewat bunyi. Dan mereka, secara mengejutkan mengunci dan menyimpai rongga mulut untuk menjauh dari segala bohong dan bengak, terutama bual yang besar.

Demokrasi dan selera berkuasa, ditandai dengan mulut yang menganga. Namun, otokrasi lebih mengutamakan “mulut yang katup”. Perintah sang paduka, hanya berlangsung di ujung telunjuk jari bagi negeri otokrasi (yang dekat dengan bunyi “otot-krasi”).

Di sini, mulut diam, senjata berbunyi. Kata orang bijak, demokrasi akan meleleh di depan moncong senjata.

Dulu, kita pernah berada dalam fase ini. Semua mulut diam dan tersimpai. Kini, di era demokrasi kita diberi ruang untuk “bernyanyi”, paduan suara, bahkan boleh dengan gaya suara solulokui, suara dalam
rempak menyendiri, menyudut dan bahkan terkesan autis.

Rakyat tak merindui “panco” mulut. Pun dah letih menonton festival bunyi dari rongga bernama mulut…