Persepsi di Antara Itu…

Ilustrasi: istockphoto.com

#YusmarYusuf

Tepat 1000 tahun lalu, Bagdhad ialah sebuah kota kemilau. Sebuah kota yang penduduknya amat gairah dengan Geometri. 1000 tahun lampau, Bagdhad setara dengan lembah silicon pada hari ini. Kotanya bundar dengan delapan gerbang utama. 

Di situ hidup seorang yang amat sederhana namun merisau. Dia lah penemu lensa obskura yang kemudian dilanjutkan oleh Galileo dari Italia.

Sang penemu berpembawaan sederhana ini adalah Ibn Haitham: “cahaya bergerak mengikuti garis lurus”. Ini kalimat pertama sekaligus hukum Ibn Haitham tentang cahaya.

Dari sini manusia melangsungkan proyek tahu dan merisau. Kebekuan pengetahuan manusia mengenai semesta, terkuak perlahan dengan kerisauan para warga di lembah silikon 1000 tahun lalu: Bagdhad.

Dan Bagdhad pada era itu adalah titik tumpu peradaban yang mempelajari segala khazanah ilmu yang terbenam di dalam kitab-kitab tua Yunani, kearifan jeluk timur dari India dan keindahan pemikiran langit nan lentik dari Parsia.

Bagdhad menempatkan diri sebagai pemangku segala rebahan tumpuan ilmu.

Kini, anak-anak lembah silikon menemukan dentuman-dentuman mengejutkan dunia dengan teknologi era silikon, termasuk medis.

Yang paling kuat dentuman itu tak lain adalah rekayasa komputer dan komputasi. Teknologi komputer hari ini telah bersauk-sauk, berajut dengan benda-benda serba mungil: layak genggam.

Dalam sabak, piranti genggam itu, segala isi semesta ini bisa diakses lewat telunjuk, tergantung permintaan.

Adalah seorang penemu besar dari grup Apple, Steve Wozniak membangun semacam fondasi pemikiran untuk memicu gairah seorang penemu dengan kerisauan seorang ilmuan; “There are things known and there are things unknown, and in between are doors of perception”. 

Ada sesuatu yang diketahui dengan sesuatu yang tak diketahui dan di antara keduanya, adalah pintu-pintu persepsi.

Persepsi ini berkeliaran di antara sesuatu yang kita ketahui dengan sesuatu yang tak kita ketahui. Tak semata benda-benda di sekitar kita.

Persepsi berkeliaran, tak hanya pada benda-benda yang mengelilingi biotop bumi ini, tetapi juga berada dan berkeliaran di antara kamar-kamar pemikiran kita, dalam ide-ide yang terjelaskan dan ide-ide yang tak terjelaskan.

Persepsi, sesekali dia mengelirukan kehidupan, namun sesekali dia diperlukan oleh sebuah konstruksi kesadaran.

Persepsi itu bukan pula sebuah dugaan. Dalam psikologi, persepsi ialah kajian empuk dan menggelenyar. Seorang lapar akan berbeda persepsinya dengan orang yang dilanda haus.

Kedua sosok ini memiliki persepsi berbeda terhadap apa-apa yang teronggok di dalam etalase restoran; si lapar, mempersepsi apa saja yang teronggok itu semuanya adalah makanan.

Sebaliknya, orang haus, tidak melihat apapun di dalam etalase, selain semuanya adalah jenis minuman.

Kita melihat “percept” atau apa-apa yang diterima oleh retina mata, cahaya yang menggelung obyek, sekaligus keperluan dasar manusia terhadap obyek itu sendiri.

Inilah persepsi. Dia bukan pula prasangka, bukan keinginan dan kehendak. Namun, hasil dari kulminasi kehendak, keperluan dasar atau need dan kehadiran sang obyek (baik yang diketahui maupun yang tak diketahui).

Ilmu bertumbuh subur disebabkan juga oleh persepsi. Betapa banyak ahli fisika membangun hukum dan teorinya karena persepsi, seperti Denis Gabor.

Tak sedikit pula, para penyair melahirkan puisi atau syair memukau tersebab persepsi kaya dan mewangi; kisah tentang batu menjadi mawar, dan batu pun diperas; berdarah… Dan… tetesan darah menguntum dalam jelmaan bunga (mawar).

Begitu pula tentang dunia gaib dan serba ruh. Pun, mengalami persepsi oleh manusia yang menikmatinya. Tak terkecuali tuhan dan tentang Tuhan. tuhan dengan t (kecil) dan Tuhan dengan T(besar) saling bersilang dalam pemikiran manusia yang dahaga mencahari.

Tuhan dengan T(besar) sesuatu yang tegak dalam keesaan-Nya (tauhid) dan dikenal berpembawaan tak terjelaskan.

Sebaliknya ada tuhan dengan t(kecil) mungkin pula terjelaskan dan berjumlah jamak. Bergulung-gulung dalam persepsi manusia setara dengan dewa-dewa Yunani yang “tidurtiduran” di puncak Olympus.

Ibrahim, Musa tak kuasa mencandra Tuhan, lalu minta dipersuakan. Namun persuaan itu tak memenuhi hasrat persepsional (Musa khususnya).

Dan Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan Nama yang mudah dilafal oleh lidah orang yang diperkenalkannya (Ibrahim dan Musa, demikian pula Isa dan Muhammad suci).

Kita yang tak bersaksi tentang peristiwa-peristiwa itu, lalu membangun persepsi ke atas sejumlah pengkisahan-pengkisahan tua, kuno dan purba tentang Tuhan.

Persepsi itu bisa hasil dari stilasi teks, konteks dan penceritaan yang turun-temurun sehingga dia disebut sebagai tradisi pewarisan kisah (bisa hadith dan eksegesik).

Kita pun saling memperlaga atau memperlomba persepsi yang bertujuan untuk klaim kebenaran. Bisa kebenaran kolektif sang peng-iman, bisa pula kebenaran sakral menurut kaum yang terbatas dan diterjemahkan dalam persepsi zaman yang juga terbatas, seturut pembacaan yang juga terbatas ke atas teks dan konteks (peradaban) yang mewadahi teks itu diturunkan.

Maka, persepsi yang berkeliaran itu memang diperlukan untuk pematangan persepsi manusia tentang dunia sekitarnya, termasuk tentang semesta (universe) yang maha luas.

Terkadang, persepsi tak bisa dibedakan dengan prasangka dan dugaan. Di antara ketidakpastian itu pula muncul pintu-pintu skeptisisme yang juga berfungsi melakukan semacam negasi atas segala hal sebagaimana diperkuat oleh Rene Descartes dulu tentang upaya mencari “tahu” (pengetahuan) yang dimulai dengan serangkaian “pencurigaan” lewat sejumlah negasi yang dibina demi pengetahuan positif yang dipersilang-silangkan dalam kerangka memperkuat tradisi ilmiah, walau diawali dengan kisah persepsi yang teramat sederhana sekalipun…