Menyapa: Antara Liar dan Beradab

Ilustrasi: panorama.com

#YusmarYusuf

Kemanusiaan dan nilai universal. Sebuah kesejajaran kah? Gulungan sejarah kolonial telah menggelung manusia-manusia di luar Eropa sebagai manusia kelas rendah.

Kalau pun hendak “diwangikan”, dia sebatas persepsi bak dedaunan eksotis dalam sebuah herbarium. Dipuji dalam eksperimen herbal. Diutak-atik sang peneliti yang menganggap paling berilmu sekaligus “beradab” itu.

Hemat Richard Rorty, manusia seberang laut dari tanah Eropa itu sebagai “manusia-manusia palsu”. Layak diperlaku sebagai obyek, pun alat. Menyeruaklah kisah perdagangan budak, kerja paksa. Viral pada masa kolonialisme Barat di tanah-tanah jajahan. Belum puas? Perdagangan budak dan kerja paksa itu menjadi instrumen untuk sebuah “proyek peradaban”; demi memberadabkan “manusia-manusia palsu”. Mereka menjalani masa-masa domestikasi dengan standar nilai-nilai Eropa yang dipersepsikan: nilai universal –kemanusiaan-.

Mereka digiring untuk berhias dan bersolek dalam cara dan gaya sebagaimana gaya dan dandanan orang-orang Eropa, tata cara makan  gaya Eropa, berbicara bahasa Eropa, mengikuti tata cara, norma pergaulan dalam cara serba Eropa, sehingga mereka dianggap telah mengalami “menjadi manusia” (baru tahap “menjadi”). Sejatinya, tetap dianggap sebagai “the other” (nan lain, nan asing) ketika diacu dalam kategori kemanusiaan Eropa. Kehadiran mereka tak lebih dari sebuah panggung untuk “lucu-lucuan” bagi si Eropa.

Urs Bitterli,  sejarawan Swiss, berkisah tentang “Liar dan Beradab”. Tentang anggapan awam bangsa Eropa terhadap manusia seberang laut yang dianggap rendah, nir-beradab, biadab, liar. Pandangan itu diperkaya lagi dengan persepsi Eropa tentang manusia seberang laut harus diselamatkan dari api neraka, dilanjutkan dengan anggapan bahwa mereka adalah jenis manusia dengan spesies inferior (prasangka rasial).

Lalu, ada lanjutan “klasifikasi spesies” dari Carl von Linne, seakan-akan manusia seberang laut itu masuk dalam “spektrum tipe-tipe” oleh para pakar biologi; ukuran tengkorak, golongan darah, warna rambut, ukuran mata, bentuk rahang. Stamboek kurikulum ukuran kemanusiaan itu, tetaplah acuan serba Eropa (sentris). Via anggapan ini mereka melakukan perayauan dan penjelajahan ke  timur, selatan (rantau mata angin hunian manusia liar).

Bergelombanglah ekspedisi ke tanah seberang laut dengan alasan dagang, penyebaran agama, jua pemberadaban. Mereka aktif bergerak. Pun, kita  pasif menunggu sekalian menantang (menjaga pagar, sekaligus membangun tembok) agar tak dilabrak arus deras, gelombang Barat. Ukuran kemanusiaan tetap rujuk pada nilai-nilai universal yang disusun berdasarkan persepsi Eropa. Sudut pandang kolonialisme; bukanlah sebuah gagasan yang netral dan obyektif. Jika dijadikan rujukan, maka terjadi pembenaran atas praktek-praktek keji  kolonialisme terhadap penduduk tempatan (lokal). Eropa, bertindak selaku Dewa yang bisa menindas kemanusiaan atas alasan-alasan sepele.

Ekspansi, hegemoni dan eksploitasi dalam segala sisi kehidupan terhadap penduduk lokal oleh penjajah, bukanlah suatu gagasan obyektif. Apakah tindakan ini bisa dijadikan sebagai alasan pemberadaban? Sementara tindakan “dakwah” yang dilakukan dengan hajat untuk pemberadaban dilaksanakan melalui cara-cara biadab, terhadap orang-orang yang mereka anggap liar dan tak beradab. Di sini, kita menemukan suatu gagasan tentang universalitas yang dipraktekkan lewat penaklukan dan eksploitasi.

Sementara mereka yang ditakluk dengan posisi jiwa yang lemah, rentan, menerima dan membiarkan diri mereka didefenisikan sebagai orang-orang liar dan tak beradab. Sebuah pendefenisian yang tak adil dan tak netral. Sebuah defenisi yang diluncurkan dari lidah orang kuat dan bagak, terhadap orang-orang lemah tak berdaya dan menjelang sakaratul maut. Lalu, di mana keadilan yang dikampanyekan oleh Barat terhadap kemanusiaan? Di mana keadilan menurut guratan alkitab? Keadilan menurut Tuhan? Dan keadilan menurut para pihak (orang bagak dan orang lemah yang dipertemukan atau sebaliknya,  dipertembungkan)?

Pertarungan apa lagi yang hendak diusung di  panggung dunia? Dalam murung “peradaban”, sekelam apa pun kita harus tampil untuk menerbitkan “matahari” kebudayaan sendiri. Tak boleh tidur dan lena dalam perangkap pembodohan. Melawan universalitas  konstruksi bangsa kuat via praktek hegemoni, ekspansi, eksploitasi.

Manusia seberang laut, harus mempersiapkan perkakas-perkakas peradaban besar dan tinggi untuk melakukan serbuan balik (counter attack) yang signifikan. Perkakas yang dimaksud, hendaklah dalam posisi siap dan tampil elegan, menyerap dan mengepung. Dan ihwal ini telah dilakukan Cina hari ini kepada Amerika, juga Eropa. Kita baru terkial-kial dan tergila-gila membesarkan jargon atau cogan. Kita baru setakat menggila, terbirahi dengan jargon “menyapa dunia”. “Proyek menyapa”, terkadang di luar batas alam sadar.

Banyak orang-orang di sisian jalan, berpakaian lodoh, kumal dan rambut acak tak terurus, menyapa kita; sebentar-bentar kerjanya menyapa dan menyapa. Kita sahut atau tak kita sahut, dia tetap menyapa dan menyapa terus seraya tersingai tertawa sendirian. Akhirnya membuat gusar. Kita mendefenisikan diri sebagai bangsa dengan kebudayaan “menyapa”, ketika orang lain, kebudayaan orang lain, begitu sibuk bekerja dan berkhidmat dalam kemah industri, di labor,  dalam sebuah ruang yang menuntut kreativitas tinggi dan konsentrasi tinggi. Kita yang datang tak pasal-pasal itu, sibuk mencuit orang-orang yang berkonsentrasi tinggi itu dengan alasan menyapa dan menyapa. Karena kita ditugasi untuk “menyapa dunia”.

Menyapa tanpa perkakas dan instrumen menyerbu yang kawi-terbilang, samalah halnya kita tengah menjalani ritual-ritual reaktif (melolong, marah tak tentu pasal, menggerutu). Semua berbau reaktif, bukan aksi. Kita tak menghasilkan sesuatu, tak memproduk sesuatu yang ranggi di tengah dunia yang bergolak dengan pemikiran progresif itu. Kita hanya bertugas menyapa dan menyapa. Apakah kita tengah berada antara liar dan beradab?  Kita mengkritisi universalitas kemanusiaan yang dikreasi oleh Barat, tapi melawannya hanya dengan sebatas menyapa…