Lebah dan Daun

Ilustrasi: bios.ucsf.edu

#YusmarYusuf

Anasir bunyi bee dan leaf, sekali sentak menjadi belief (iman, teguh dan percaya). Dua anasir ini bawaannya senyawa. Seakan tarikan garis abadi. Lebah (bee) dan daun (leaf) menyarung, mendobrak sekaligus melampaui (beyond) sebuah keadaan tentang tegakan menjulang, agar manusia menatap langit nan sayup. Ada apa di langit? Ya, tiada pesta pora stupidity (alias kebegoan atau kedunguan).

Langit adalah majelis cahaya, majelis ibadat (dzikir), zona supra human, tiada sak wasangka kemas yang terkulum. Tiada gelombang kesumat, tiada geriang demokrasi yang membodoh. Langit senantiasa menawan, sesekali mendegub dan gelegar. Ya, pokok Tualang atau Sialang keluarga Kempasiana (Kempas) yang menungkai seakan tiang ‘melangit’. Akarnya banir.

Jenis akar ini untuk merespon zat pada tanah hutan hujan tropis berada di permukaan. Sehingga akar banir (keluar di atas permukaan tanah) ini amat mangkus untuk menerkam makanan berbanding akar tunggang. Jenis akar banir ini pula yang jadi penumpu julangan ketinggian pokok Sialang atau Tualang.

Lebah pun bergayut, manusia menumbai (menyudu madu). Lewat nyanyian dan segala perkakas pantun, talibun. Demi membujuk ‘hati’ sang ratu. Hati ratu ‘yang tertawan’, madu pun dialir dalam gumpalan membuih.

Hati bersorak, dahan ranting tak patah, daun terhimpun. Sekali lagi perbuatan di antara bee dan leaf (belief) itu berlangsung dalam keseksamaan dan kecermatan. Tiada peristiwa meringkus. Namun merayu dan membujuk: demi dan demi…

Posisi manusia serba “barzah” (alam antara) ketika menyudu madu. Tak atas (supra human; alam cahaya), tak pula bawah (sub humanalam gelap).

Manusia bertenggek laksana seorang ‘migran’ yang tengah menumpang dan transit (ranah human; alam temaram).

Diperkuat lagi pada posisi kebimbangan antara bee (lebah) dan sekumpulan daun-daun (leaf). Artinya? Posisi yang lemah. Sosok pengemis dan peminta-minta dalam serangkaian nada bujuk nan duhai, pun ayuhaiii.

Kita sering terperangkap takrif yang ‘mengeliru’ tentang apa itu Sialang atau Tualang. Takrif permukaan, dia sejenis pokok kayu besar tempat hinggap sehimpunan lebah.

Oh, kalau begitu gedung kantor Gubernur Riau yang tinggi menjulang dan kerap dijadikan sarang lebah hinggap, termasuk jenis pokok Tualang atau Sialang?

Maka, datangi juga dari sisi biologi tanaman. Dan kita terbantu oleh seorang peneliti Jepang (T. Kato); Sialang atau Tualang itu masuk dalam keluarga Kempassia(na).

Orang boleh menyebut sekilas nama kempas atau kompeh. Merujuk sapaan Latin; Koompassia Excelsa (Becc.) atau pun sisian Koompassia Malaccensis Maing.

Perbuatan menyudu? Ini lelaku yang berkaidah tak semena-mena. Menyudu, dalam kadar halus, lembut dan lunak, jimat dan cermat. Tidak menggunakan idiom “sendok” atau pun “cedok”. Mengambil sekena dan secukupnya (sekadar–seturut kadar-, bukan ‘kedar’).

Ketika ditabrak dengan perilaku mencedok atau ‘menyendok”, maka gegar kanopi daun (leaf) menjadi sesuatu getar kiamat.

Reranting dan dahan berubah sontak jadi sumbu tsunami bagi lebah yang tengah beristana di haribaan dahan. Inilah ‘menumbai’. Dia tampil dengan kualitas feminin. Bukan dimensi maskulin.

Sosok lelaki yang mendodoi nyanyian dan menggelora pantun di ujung malam, telah ‘tersarung’ kuasa femininitas.

Bahwa alam ini menjadi tata (kosmos) hanya ketika berada di ujung jemari feminin. Bee (lebah) itu dikomandoi seekor ratu prabawa, yang diteduhi dedaun (leaf) yang dominan dengan kualitas feminin. Di Riau ada nama-nama kampung dengan lekatan Tualang (Perawang, Siak) dan Sialang (Pelalawan).

Tualang bukanlah makna adventure (berpetualang). Sialang bukan pula nama sapaan Melayu untuk sosok anak dengan susunan numerik yang serba tanggung dan kepalang (Si Alang).

Di muara sungai Siak, area Guntung (lokasi perang Guntung Tengku Buwang Asmara) ada toponim Alur Banir. Ini juga sebuah penanda ‘urat-urat’ kayu dengan kualitas feminin.

Urat akar kayu itu menyembul di permukaan tanah. Kawasan estuaria Alur Banir adalah zona tersubur (delta buta); pusat keriangan perjumpaan air masin dan air tawar (payau).

Di sini manusia pesisir bertindak membuat kebun, dusun dan ladang padi. Jua Alur Banir jadi penanda lebah (bee) beristana membangun pucuk rindu di antara kumpulan dedaunan (leaf).

Menyudu, menumbai, berkebun huma di Alur Banir, berteduh di bawah payung daun Tualang dan Sialang adalah singkapan mega yang menutup langit dan lelangit spiritual kaum Melayu; di Semenanjung, Borneo dan Sumatera.

Peristiwa ‘penyingkapan’ dalam tradisi spiritualitas, dimasukkan dalam kejadian dengan kualitas feminin.

Di situ, tindak dan laku disemai bukan dalam gaya serba ceroboh dan kemenduaan. Tidak lelaku semberono dan sambalewa.

Di sini, sejatinya ‘hulloballo’ (tolak bala) dan “kuur semangat” (Bugis: “Kuurrre samanga”) di serukan.

Di antara ‘bee’ dan ‘leaf’, kita membina akal kesadaran ‘bersahaja’ tentang takjub, taksub kepada Yang Maha Segala.

Jua, melayani ‘cahaya kemalaikatan’ (angelic light). Di situ kita berstatus bak sosok migran yang menyidai halte temporal, jelang jatuh.

Agar tak gamang tentang ke-jatuh-an, orang menautkan rerangkai bee dan leaf itu menjadi iman, takzim, tabik: Ya, belief (faith).