Rawa, Gambut dan God Spot

Prof. Yusmar Yusuf saat berada di salah satu sudut Danau Zamrud, Siak. (F: dok. pribadi)

#YusmarYusuf

Keterhubungan ihwal terendah dengan Maha Tinggi. Rawa, representasi terendah muka bumi. Mereka melata-lata di muka badan air yang dangkal, sesekali dengan kedalaman tak terduga. 

Ada fenomena anakan pulau larat dan berhanyut. Ada empat kawasan yang dikaitkan dengan fenomena Anak Rawa di pesisir timur Siak (Riau): zona muara (estuarin), rawa (palustrin), tasik (lakustrin) dan zona sungai (riverin).

Tata-letak (lay-out) zona “muara-rawa-tasik-sungai” adalah ikatan senyawa yang dikepung tutupan hutan tropis dengan kanopi daun, saling berjahit. Jua persilangan akar, saling bersauk.

Inilah surga kekayaan plasma nutfah rawa-paya. Genangan air skala mega dengan konfigurasi seakan membulat (bak kubah air raksasa) dialamatkan sebagai danau atau tasik (kawah).

Satu di antaranya; tasik Pulau Besar (Tasik Sungai Rawa atau Danau Zamrud).

Ada kaum proto Melayu di muara. Melukis hidupnya mengikuti garis badan air hingga genangan kubah air (danau Zamrud). Garis-garis air ini diikat oleh “pagar lunak” (gambut/soft elements), bukan tekstur tanah padsolik, mineral atau bebatuan (hard elements).

Inilah garis mistika bagi kaum Anak Rawa. Garis yang melayani kembara fisikal dan (terlebih) spiritual demi “tumpuk Tuhan” (God Spot).

Mistika itu bertetangga dengan misteria, yang sama-sama dipanggul oleh “ketidak-tahuan kreatif” (imajinal). Dunia imaji itu disuling menjadi syair, pantun, talibun atau pun petatah-petitih dan kata berkaidah.

Stilasi sulingan itulah yang berfungsi merawat alam, memelihara. Ya, lewat syair, pantun dan sejumlah mitos yang dibangun.

Mitos itu sendiri adalah sebuah dunia imajinal yang diperlukan demi menanam rasa akan “ada” dan “mengada” (the Ultimate Concern).

Bahwa selejang perjalanan garis air, tehidang “penampakan” (tajalli) keperkasaan dan kekuasaan “The Ultimate Concern” (perhatian/kepedulian puncak). Istri cantik, kekuasaan, harta, tak lebih dari “kepedulian pengantar” (exordium concern), bukan kepedulian puncak.

Tegakan hutan rimbun di kawasan Taman Nasional Zamrud adalah hasil sejumlah kepungan “dunia imajinal” dengan gaya menghadirkan sekumpulan “makhluk imajinal” (bisa biyuku, naga atau sejenis animasi imaji ganas dan menakluk).

Makhluk imajinal itu selalu diikat dalam akal “tugas” aquatic dalam persemayaman misteri. Dan inilah peliharaan sejenis “totem” masyarakat aquatika (aquatic people). Setia dan resam dengan air. Setiba di muara, mereka mengikat diri selaku kaum pesisir (coastal people): perairan payau dan asin.

Rerangkai manusia rawa ini sejak dari Sungai Rawa, Teluk Lanus (Siak) hingga Serapung dan Pulau Muda (Kuala Kampar-Pelalawan). Mereka ialah pagar, tembok hidup yang merawat misteri palung gambut Semenanjung Kampar-Zamrud.

Tersebab kedalaman gambut yang tak terduga ini pula yang menyebabkan segala jenis alat mekanis untuk eksploitasi hutan harus mengibarkan “bendera putih” (tanda berdamai).

Alat mekanis dan para komprador hutan harus “menyatakan kalah”. Kekalahan inilah yang disambut negara dengan “proklamasi baru” (mungkin tak ada akal lagi) sehingga dia ditabal menjadi Taman Nasional.

Hal serupa terjadi pula pada zona paya-rawa gambut di kawasan Giam, Siak Kecil-Bukitbatu yang juga ditabal status Cagar Biosfer (UNESCO).

Lalu, di mana Tuhan? Ya, Ultimate Concern, beristana di hati para manusia rawa itu dalam kadar spiritual-mistika.

Michael Persinger awal 1990-an seorang ahli Psikologi-syaraf yang kemudian lebih mutakhir 1997 oleh V.S Ramachandran seorang ahli syaraf Universitas California dan tim, menemukan God Spot (tumpuk Allah).

God Spot adalah sebuah titik di dalam otak manusia yang berhubungan dengan Ultimate Concern (Allah, Tuhan, Thian, Yang Maha Tinggi, Mistica).

Orang Rawa secara kreatif-imajinal menghadir Tuhan dan merawatnya dalam sumbu-sumbu “moda pencaharian” dan penyelamatan ruang-hidup (Lebens Raum/Biotop).

Ruang hidup dan pencaharian mereka adalah kawasan perairan yang tipikal (rawa-paya-gambut) yang ditemboki hutan tropis nan lebat-legam. Dan kesahajaan…

Tuhan dalam keping “memori iman” mereka adalah bersahaja, kesahajaan. Dengan begitu, mereka menyalin apa-apa turunan (derivasi) kesahajaan itu dalam penampakan hidup.

Memetik, mengail, merawai, berburu sekena dan seadanya. Bukan mengada-ada. Inilah tindakan spiritual-mistika.

Orang boleh menyambutnya dengan kata aduhaiiii: Agama Lokal. Mungkin animisme, dinamisme, pantheisme atau deisme-mistika.

Orang boleh saja menyebut, ini kawasan “atlas kelam” yang tak terjamah oleh para juru dakwah. Boleh-boleh saja. Namun, para penginjil dengan tabah dan sabar menembus peta kelam itu.

Dan kini, berdiri sejumlah Gereja di kampung-kampung Orang Anak Rawa. Terjalin perkabaran Injil pada manusia coastal dalam jalinan pencahayaan langit yang mengadopsi “ketakjuban-meggelegar” (mysterium tremendum) ketika mereka menghulu sungai dan mengayau rawa jelang meneguk air tasik nan muai.

Oh Islam masih tersisa, Budhisme masih bersudut. Orang menggubalnya dalam semangat sinkretisme. Sejatinya mereka sedang menyusun kerinduan akan Tuhan yang bersahaja, sejalan dengan God Spot yang tertanam benam dalam chip spiritualitas.

Zamrud Forest Art, coba mengajak kita “mengurat kuno” dalam wilayah mistika tak terduga…