Amazon van Dayun

Jasa (paling kanan) saat berbincang dengan Prof. Yusmar Yusuf. (F: dok. pribadi)

#YusmarYusuf

Lelaki kecil berkulit cerah. Setangkai mawar air. Tepian tasik menguntum pepucuk dedauan bulan Desember. Panggil aja Jasa. Ya, nama saya Jasa. Asli Sungai Rawa. Saat ini dah jadi warga Dayun. Telah 240 purnama -20 tahun- menetap di tepian hutan legam bercermin air. 

Ya, begitulah. Dulu bermukim masa kecil di dusun Sungai Rawa, Kepenghuluan Penyengat di bibir Selat Lalang (Brouwer Straat).

Jasa menyorak kita. Dia mengubah “ruang hidup” (Lebens Raum) menjadi dusun mungil “menghidupi air”, bukan “hidup dari air”. Boleh cakap Inggris sikit lah: “water harvesting”. 

Dia tak merusak badan air, tak menanahi batang air, genangan air atau paras muka air. Semua dimuliakannya via cangkang “spiritual” ala manusia tasik: Via Contemplatia dan Via Purgativa. Membangun dangau comel di atas tiang-tiang kayu menikam area pelagik tasik dengan tabik. Tak cabik.

Hanya ada empat buah dangau kecil menempel di atas geriang riviera “tasik-sungai-rawa” (segi tiga abadi badan air alias danau Zamrud).

Salah satu sudut Danau Zamrud, Kabupaten Siak, Riau. (F: dok)

Dia dan sejumlah kawanan aquatika ini seakan bersuwarga di atas garis “bodhista” (kedamaian-pasifis) permukaan air yang memantul cahaya bulan.

Bulan (qamar, badrun, moon, la lunl) laksana simbol “cahaya di atas cahaya” (nuri fau qa nuri), mengambang seakan hendak menceburkan dirinya ke dalam kolam besar bernama Zamrud.

Jasa dan bulan saling bercanda dalam “skandal kosmis” yang tak terjelaskan oleh akal-kemakhlukan. Jasa bersampul akal-kemalaikatan. Karena dia tengah asyik memagut cahaya kemalaikatan (angelic light) sepanjang purnama yang tampil supra sem(purna), di tengah danau yang tak kena polusi cahaya kerlap-kerlip perkotaan nan menyilau.

Selama 20 tahun menghidupi air, ketika inilah Jasa memanen air (water harvesting). Segala hidupan air (water endemic; aqua-farming) dipunggahnya dengan jalan cinta. Menjala sekenanya. Memancing dan merawai sedapatnya. Tidak menguras.

Para Walikota sebenarnya mesti berguru kepada Jasa dalam kisah “menghidupi air”. Dengan begitu, Walikota bisa membangun kota-kota mereka dengan kaidah “kota yang menghidupi air”.

Paris, Budapest, Seoul, London adalah sederet kota-kota dunia yang “menghidupi air” (kota-kota aliran sungai). Chicago, Cleveland, Canberra, Toronto, Lusanne, Geneve? Sekumpulan kota-kota menempel di tepian tasik (danau). Indonesia tak punya kota tepian danau. Ironi…

Kota-kota itu tidak hidup dari air, tapi kota yang “menghidupi air”.

Jasa ialah saklar, knob, stop-contact yang tak pernah korslet. Dia, garis sinambung dari leluhur gemulah yang menyatu dengan perairan hutan legam selingkar tasik magis.

Di sini, jahitan mitologi berjurai dalam upaya merawat keindahan. Juwita alam. Menjelaskan beberapa sudut “salah cetak” dalam penciptaan kosmis dengan serangkaian kisah yang tak pernah type exx (hapus).

“Salah cetak”: ada teluk sompik, tanjung buntung, kruing bengkok, medang condong, rasau berkerumun, garis arus berpusu, gelang air lancip.

Sekilas terkesan “salah cetak”. Tapi itu menjadi. Dia terbiar dalam perselorohan, cengkrama alam yang
mendorong berbuat bijak, bajik dan me-’nerima’ (sasmita).

Sekilas, empat dangau dan kemurungan. Dia kian indah ketika diliput oleh murung dan masygul. Roma jadi kian romantis, karena mampu menyisakan kemurungan Romawi yang gagah.

Jasa, malah mempersembahkan legam dan murung dalam kaidah serba surrealis (meta-realis) alias “mengatasi-realitas”.

Sebab, kita tengah menjalani sejumlah realitas semu melalui ragam rencana pembangunan yang merusak dan bahkan menyusahkan ke atas makhluk-makhluk lain.

Pepatah Cina: “If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow” (Jika anda tabah di dalam satu suasana menggerun, anda akan lepas dari seratus hari dukacita).

Manusia ialah migran terakhir. Secara bagak memecat peran kehidupan yang dipanggul oleh sejumlah makhluk yang lebih duluan hadir dan bertandang menyelenggarakan kehidupan di atas bumi.

Di sini, manusia memposisikan diri bak saklar rusak dan korsleting. Jasa, menolak itu. Dia membangun elakan dan mengelak. Menyusuri suak air yang olak dari hulu. Dia tak menghilir.

Pilihannya satu: Menghulu. Menagak arus air nan olak. Melawan arus ke hulu.

Langgam dan resam menagak arus ini dilalui di antara palung rawa yang berkelok bak ular raksasa. Ditemani rembulan dan gemintang, satu pekan perjalanan dalam majelis ‘kedunguan’ sejati (ignorance).

Tanpa bayangan bahwa di hulu liuk sungai mengular itu bakal terhidang ‘samudera air’ membulat dikandang hutan menungkai menjilat awan gemawan.

Bernyanyi nada paya, rawa, misteri alam gambut. Tanpa majelis avatar dan kemiripan misteri yang dipikul dari kampung asal di Penyengat sana.

Misteri monster Loch Ness (Irlandia), nyanyian merdu siperayu sungai Rhein Jerman Loreley. Sosok berambut panjang. Tak lupa, tampilan penjara “makluk buas” (aquatic) Amazon.

Semua ini adalah jahitan mitos untuk mengendali kejalangan logos; terbitlah etos. Dan…

Jasa menjahit mitos, melompati logos dan memanen etos dalam tabiat-tabiat akal budi nan muai: ya, menghidupi air dan perairan dalam sejumlah bela dan pemeliharaan magi, spiritual dan seklusi.

Jasa sejatinya hidup dalam kemewahan sebenar. Dia saklar lugu dan tangguh. Dia mengundang bintang di langit, lalu diajak menjatuhkan cahaya ke permukaan air. Lalu, benam.

Dia menggoda bulan, sudi kiranya terjun dan ‘menjerumuskan’ cahaya dalam benam kelam zamrud. Inilah tanah pukau (wonderland) yang ditunggangi Jasa seraya menuai waktu dan kala.

Schopenhauer berujar; “One should use common words to say uncommon things” (Seseorang kerap mengguna kata-kata awam untuk mengatakan sesuatu yang tak biasa). Biarkan lah saya bak manusia Amazon, di tengah gempita janji yang tanpa ujung dari dunia sayup sebelah sana…

Saya tetap bersudut teduh di celah dangau di antara rasau-rasau. Melipat galau, menguntum igau…