Filaarbor-Filaaqua

Prof. Yusmar Yusuf (kanan pakai topi) saat menyusuri Danau Zamrud di kabupaten Siak, Riau. (F: dok. pribadi)

#YusmarYusuf

Filantropis itu hadir sebagai jawaban atas perilaku anti-sosial. Menegasi apa-apa semburan kebaikan yang bersumber dari manusia, maka disebut sebagai tabiat misantropis. Tak secuil kebaikan yang dapat disauk dari manusia. 

Arthur Schopenhauer, seorang pengelana soliter yang hanya berteman dengan seekor anjing bernama Atma sepanjang hidupnya, kerap dilekatkan sebagai sosok misantropis itu.

Hari ini, hutan-tanah, laman, ruang-ruang bumi bernama badan air; tasik, danau, setu, sungai, kolah, kawah, kolam, telaga, bahkan sumur adalah serangkaian elemen yang jahit berjahit kehadirannya dengan terumbu karang (coral reef) di laut (menuju semangat aqua sea-farming).

Sebuah sistem terbuka (open system) yang mudah didatangi sekaligus digeranyangi. Sejatinya elemen-elemen itu adalah “semenda” terdekat manusia: pagutan hati dan sibiran tulang.

Tanpa “semenda” ini, manusia takkan bisa menyelengara kehidupan. Tradisi tasawuf tajalli berujar: bahwa manusia diciptakan (khalq). Sementara bumi tidak diciptakan, tetapi diadakan (jaala) oleh Tuhan.

Bumi ‘diadakan’ untuk kehidupan, utamanya untuk manusia selaku kembaran misteri yang berfungsi sebagai pendamping “tugas-tugas penciptaan”.

Tersebab bumi “diada”-kan, maka ketika manusia berlari sekencang apapun, dia tak kan pernah tergelincir atau terjatuh di ujung tebing bumi yang bundar itu.

Bumi tetap (seakan) rata dalam peristiwa di-ada-kan (meng-ada) demi kehidupan.

Kita mudah terkecoh dengan nama seperti Warrent Buffet, Bill Gates, Mark Zukenberg, Elon Musk sebagai sosok filantropis.

Makna filantropis selalu diikatkan kepada sosok yang siap sedia “menjerumuskan” dirinya dalam serangkaian peristiwa “memberi dan berbagi harta”. Padahal tak.

Filantropis adalah persetubuhan akal budi dan kehalusan nilai yang dicerna untuk menyelamat segala sistem yang berkait dengan kehidupan semesta dalam keperluan dasar sang ego utama bernama antropos (manusia).

Dari “persetubuhan” ini kita hendak mengingsut kadar yang lebih mewah-berkaidah kepada lingkungan “semenda” terdekat bernama pepohonan (arbor) dan “majelis” air (aquatica).

Di sini, semangat “fila” (cinta/ dari sini kata filsafat) itu harus mengalami peristiwa melar (tak menguncup). Melar demi menjawab persoalan-persoalan lingkungan semesta (kosmis), namun bisa dimulai dari ihwal terdekat bernama pepohonan dan muka air.

Setelah tabiat filantropis itu terpupuk dan menyubur, lelaku yang melampaui (melompat) tembok ego antropos itu hendaklah dimukimkan di serata saujana tetumbuhan dan badan air (dia menjadi filaarbor dan filaaqua); mencintai dan mengasihi pepohonan dengan segala pokok, mengasihi badan muka air dengan segenap isinya (cinta dalam keasadaran stoa – stoici-).

Perkauman aktivis lingkungan dan seniman Riau, menjahit idaman fila (cinta) dalam taktik “co-laborative” (bisa dimaknakan bekerja bersama-sama – labor -; namun bisa duduk matan pada ruang makmal yang sama); seraya mencungkil segala jenis banalization (pendangkalan) kaidah tentang lingkungan hutan, kawasan air, area paya dan zona gambut rawa berbuih.

Menghimpun sejumlah idaman menjadi taman nasional, suaka marga-satwa, cagar-biosfer, terkadang dia hanya dimaksudkan untuk menghenti upaya dalam mengurai labirin persoalan yang membelit kawasan hutan rimba, area muka air dan bahkan ruang segara dari masalah dasar.

Sebab ruang-ruang itu “tanpa pagar”. Hanya berpagar regulasi dan obligasi (yang berbau langit). Nama dan terma selalu menceburkan dirinya dalam sejumlah banalisasi (pendangkalan) peradaban.

Setiap orang boleh mengelak dirinya sebagai bukan sosok misantropis, lewat pengelabuan rajin bersedekah dan diumumkan ke majelis orang ramai.

Demikian pula, seseorang bisa pula mengelabui sejumlah orang, bahwa dirinya adalah pecinta pepohonan dan badan air dengan berbagai ragam tampilan lewat sejumlah pembelaan dan gerakan mengawas lewat ayat-ayat dari setiap Bab dan fasal regulasi.

Namun, sejatinya ini tak lebih dari permainan ‘dadu’; dalam dunia silat masa kecil dulu dikenal “jurus tumbuk-kuak”.

Menggertak lewat pikulan isu lingkungan itu amat menggetar dunia. Maka, rapikan gertakan itu. Seolah-olah anda seorang pecinta lingkungan (arbor dan aqua). Tapi, ini adalah kiat sebuah permainan semi-kapitalis dengan menggerakkan dadu-dadu bernama masyarakat adat, hak-hak ulayat, demi orang tempatan, maujud kearifan lokal dan sebagainya.

Bermaksud membina diri dengan citra filaarbor dan filaaqua, malah makin tersesat menjadi zoombie arbor dan komprador aqua. Ujungnya? Ya, akan terbit mata air baru banalisasi itu lewat terma yang belum pernah muncul (mungkin akan); misarbor dan misaqua (anti pohon dan anti air, sebagai tetangga baru bagi si anti sosial alias misantropis).

Politik dan gerakan lingkungan hidup itu adalah area yang berseberangan. Namun, sama-sama mengucah area licin. Para aktivis lingkungan dan seniman harus selalu membangun “pagar api” selejang seluncuran di zona licin. Saluuut…

Dan saya yang tak kan pernah berdiri di situ… (?)