Perjumpaan Subjek(tif)

Ilustrasi: quoracdn.net

#YusmarYusuf

Relasi guru-murid kerap berada di atas garis kependetaan: Searah. Ujaran bak khutbah. Guru mengatur, menunjuk, menjelaskan.  Sebaliknya murid dalam tataran pasif, menerima dalam langgam akal budi, akhlak teruji.

Jika salah laku, maka bisa berakibat fatal; murid salah adab, kurang ajar, tak berkat. Pun, relasi mursyid dengan salik, seakan diurus sebuah garis tebal kependetaan.

Sekolah dibangun, pun rumah tariqat yang dibina seakan berwarna kependetaan, guru atau pun mursyid berlaku layaknya pandita (pendeta), sosok suci@ resi yang tak pernah salah. Tak boleh disalahkan. Hubungan ini mengalami formalitas kaku; formalitas kependetaan.

Para pencari Tuhan di awal sejarah, menjalin pertemanan spiritual yang tak mengenal lembaga guru, lembaga “gembala” atau lembaga pandita: Pertemanan yang saling memperkaya. Jalan mencari Tuhan itu sebanyak jumlah makhluk.

Ketika terbentuk pertemanan spiritual melalui persuaan demi persuaan, maka pertemanan itu memperkaya dimensi antara zahir dan batin, antara syariat dan hakikat.

Persuaan berlangsung dalam model dialog. Komunikasi dua arah (binary, dyadic); ada aktor duaan (deuce) seimbang. Tiada lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya saling mengisi dan memperkaya.

Persuaan ini tak hanyut dalam lembaga formal, tetapi dimabuk dalam jalan cinta, jalan kasih, menuju alamat Hak Yang Tertinggi. Di sini, agama, menawarkan sisi batin, sisi hakikat, bukan penampakan luar lagi.

Persuaan antara Khidir dan Musa, secara awam dimaknai sebagai persuaan antara guru-murid. Hemat saya, persuaan ini, bukanlah relasi guru-murid dalam garis kependetaan. Ini adalah medan dialog bergelombang, tak datar, tak monoton. Medan dialog yang menyediakan sisi batini dan hakikat serba tak terduga.

Musa wakil dari dimensi syariat, sementara Khidir sisi hakikat. Pertemanan saling memperkaya dalam bentuk dialog yang tak dibungkus semangat kependetaan.

Jika hubungan guru dan murid, maka murid harus berlaku pasrah, tak boleh memprotes, membantah atas ucapan dan perilaku guru: harus pasrah total.

Namun, relasi MusaKhidir, diwarnai dalam sejumlah tanya, sekumpulan usik, walau pada derajat ketiga, pertanyaan usil Musa itu menjadi penutup persuaan hikmah melalui Khidir.

Maka, persuaan Khidir-Musa menjadi momentum tentang perlambang pertemuan syariat atau dimensi lahiriah (Musa) dengan dimensi hakikat-batini yang dipikul Khidir. Kisah persuaan serupa, menjulur ke belakang.

Tersebutlah hubungan nir-kependetaan; antara Hasan al Basri dengan Rabi’ah al Adawiyah. Pun hubungan Rabi’ah dengan Sufyan at-Tsauri; al Hallaj dengan al Junaid; Jalaluddin Rumi dan Syamsuddin al Tabrizi.

Relasi ini, dimaksudkan untuk membudayakan dialog, saling menghargai subyektivitas spiritual masing-masing. Tak ada yang memposisikan diri sebagai guru atau pun murid per se. Terjadi perkongsian pengalaman. Saling memperkaya pengetahuan dan hikmah.

Dalam sejarah panjang spiritualisme, ada beberapa figur yang melampaui derajat sang guru oleh murid-murid secara spiritual.

Rabi’ah al-Adawiyah diakui beberapa hasta lebih maju dari sang “guru” Hasan al-Basri; demikian pula al Junaid mengakui kelebihan puncak gunung spiritualitas “muridnya”: al Hallaj.

Begitu pula sang samudera spiritualitas Ibn Arabi melebihi jangkauan sang guru Zahir ibn Rustam. Khusus ihwal Ibn Arabi, yang menjadi inspirator agung jalan spiritual dirinya adalah puteri sang guru bernama al Nizham. Ihwal ini terpercik dalam buku agung “Tarjuman al-Asywaq”.

Setiap ujaran memiliki dimensi lahir dan dimensi batin. Begitu pula agama. Sebuah kata yang dilontar oleh seorang penyair, dia (kata) memiliki makna analogis (zahir-aforisme) sekaligus makna anagogis (batin-spiritual).

Syair-syair yang digubah para penyair lebih sarat dengan makna analogis-aforisme.

Sementara puisi yang ditulis oleh para sufi lebih menyentuh wilayah dalam (batin) dengan tonjolan makna anagogis yang kuat-jeluk.

Pun, jalan analogi ini, ikut memperkaya pemahaman kita tentang kehadiran sisi lahir dan sisi batini sebuah agama.

Begini; Agama Yahudi yang diusung Musa adalah agama fiqih, agama hukum atau agama syariat. Taurat berbincang tentang kewajiban dan perintah. Teologi agama Yahudi adalah “Bangsa Terpilih”.

Agama Nasrani sebagai agama cinta-kasih. Lebih membatin. Teologinya “Jalan Selamat”. Lalu, Islam selaku penutup, menggabungkan agama fiqih dan agama cinta.

Teologinya “Rahmatan lil Alamin”. Tapi, tersebab “alat pembacaan” kita terhadap Islam itu hanya dari sisi syariat dan hukum (dimensi lahir), maka Islam kembali menjadi agama fiqih (?).

Kita meninggalkan, membuang “alat pembacaan” agama cinta dan kasih bernama tasawuf. Dari sini kisah tentang boleh, tak boleh, halal dan haram, hanya mengusung dimensi jalaliyah Allah secara keras dan penuh degub.

Dia menjadi agama yang diformalkan dalam sejumlah tegakan fiqih nan kaku. Dia sudah bertindak obyektif.

Meninggalkan dimensi subyektivitas, berupa “pengalaman beragama”, melumpuhkan emosi ke-Tuhan-an. Dia tergiring menjadi jalur serba searah, bak garis kependetaan itu.