Fashion: Di Mana Kita?

Ilustrasi: thenextcartel.com

#YusmarYusuf

Fashion, mode menjadi satu katup hidup yang mesti dijalani; atau  sebagai sesuatu yang lazim. Dulu,  masa kecil  di kampung, tak pernah menganggap mode sebagai sesuatu yang mustahak dan penting.

Mode di masa kecil bagi saya adalah alkisah cerita langit nan tinggi, berada di pucuk-pucuk awan, mengendap dalam perilaku fashionate makhluk-makhluk Paris,  New York, London dan Milan. Hanya terdengar sayup-sayup sampai, melalui serpihan berita di ujung-ujung  penutup berita BBC atau Voice of America. Sebagai sebuah karya seni, mode menjadi makanan belahan otak yang sama dengan genre seni yang lain.

Masa kecil di kampung-kampung, jangankan ingin mengikuti lekuk liuk mode dan fashion, untuk membungkus badan dengan jenis kain dan pakaian apapun adalah sesuatu yang mahal dan langka. Ya, penyebabnya adalah kemiskinan. Orang miskin, tak mungkin berfikir tentang gaya, mode, dan fashion.

Hari ini, penyakit darah tinggi bukan lagi menjadi penyakit orang kota, tetapi lebih banyak menyerang orang-orang desa dan kampung. Dulu, para petani di kampung jika hendak ke ladang dan sawah, cukup membekali diri dengan makanan masak sendiri dan segar. Hari ini, mereka berhadapan dengan jenis makanan instant yang siap santap dan masak serba cepat seperti mie instant dalam beragam merek dan  kemasan. Artinya, jangankan berfikir kreatif dan berupaya mengikuti gaya dengan segala trend fashion, untuk menyelamatkan perut saja, kaum kita harus bertaruh dengan nyawa.

Dulu, di masa remaja pun saya tak peduli dengan mode. Tak tahu apa itu katun, satin, matching warna antara bagian atas dan bawah. Ada warna netral dan berani. Semuanya sama. Tapi karena pergaulan, pendidikan dan bacaan, membuat seseorang mengalami ‘perjalanan’ dan ‘pelancongan’ tentang mode dalam impresi pribadi. Bisa berupa hasil dari refleksi pertemanan dengan orang-orang dekat; isteri, pacar, atau teman sebaya.

Bagi mereka yang telah mengerti persoalan padu-padan (matching) warna untuk pakaian, tak mungkin dia akan dengan seenak perut mengecat ruang tamunya dengan warna biru dan pink. Mode dan fashion bukan persoalan yang mengendap dan mengedepan pada apa yang kita kenakan (pakaian), tetapi juga mencakup segala buana hidup seseorang; “Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion is to do with ideas, the way we live, what is happening,” ujar perancang Coco Chanel.

Seperti seni yang lain, mode bagi Francis Bacon sang filsuf adalah persoalan kreativitas dan penerapannya saja yang berbeda. “Fashion is only the attempt to realize art in living forms and social intercourse”. Di Paris kita akan menyunting karya-karya mode yang serba abstraks dan serba centang perenang. Berbeda dengan New York yang terkesan rapi. Ini persoalan ‘persetubuhan sosial’ dari kondisi masyarakat di dua kota mode itu.

Bagi seorang yang merasa fashionate dengan pakaian berbahan bulu dan kulit hewan, yang hendak dipersembahkan kepada dunia mode, bukan semata keunikan dari jenis bahan hewani, akan tetapi dia ingin mempertunjukkan ‘telah berapa banyak  hewan buas kubunuh dan kukenakan sebagai mode yang meniti zaman’. Meski memperoleh cercaan yang tajam dari para penggiat lingkungan dan konservasi alam. Ini juga perihal catching, tumpuan mata, yang  terkesan memberi efek redup, gagah, dinamis bahkan jalang.

Dia adalah bagian dari cara menikmati mode dan gaya dalam fashion. Setiap orang ada yang menjaga diri dan penampilannya dengan mempertahankan barang-barang branded (benchmark), ada pula yang mengedepankan identitas diri, walau terkesan narcistic, mulai dari idiom atau inisial nama yang dilekatkan di sudut atas kanan kantong baju sampai di ujung kerah baju. Fenomena ini menyerbu para pejabat, para anggota parlemen bahkan para ajudan dan mereka yang membangun image sebagai orang penting dan VVIP.

Ihwal ini juga menjadi sebuah pesona [ber]seragam dalam rempak protokoler. Kemudian, trend ini diterjemah menjadi sesuatu yang berlaku umum bagi para pengurus partai. Inilah cikal bakal peristiwa narcistis yang menyerbu para calon legislator yang terpampang pada baliho-baliho raksasa sampai poster kecil yang memanjat pohon kayu dan tiang listrik, sebelum orangnya benar-benar memanjat menara (tower).

Maka orang berlomba-lomba untuk senantiasa berada dalam suasana gaya (style) yang tepat. Dia seolah mendorong kita berada di dalam “rumah sendiri”, dan nyaman. Dia bukan sebatas wujud sangkar, tetapi menyuguhkan batin bagi pemakainya. Gaya yang tepat itu, bukan sesuatu yang gigantis, bukan pula menyergah lingkungan dengan warna-warna yang riang meriah di tengah suasana yang sebenarnya menuntut serba teduh dan keteduhan. Inilah yang dalam ungkapan Melayu, dikenal dengan sebutan ‘serba kena dan serba tak kena’.

Orang yang menyuguhkan dirinya dalam suasana gaya (style) yang tepat, sesungguhnya adalah persoalan ’serba kena’. Pas mengikut size, padu-padan warna dan juga garis(strip) pakaian.

Sebab, jika harus menyelami esensi fashion dan mode, tentulah tiada waktu bagi kita untuk melakukannya. Suatu kali, seorang Bupati di Kalimatan disergah oleh seseorang, karena berpakaian sembarangan dan seadanya: “Maaf, Anda seorang bupati, kok berbusana sembarangan?”. “Saya ini perancang mode.

Mungkin boleh saya kasih masukan,” ujar perancang itu dengan yakin. Tubuh kita yang setumpuk ini, bukan tempat perkelahian warna-warna dominan. Ada hukum padu-padan yang saling menyesuaikan dan membuat harmoni. Jika celana warna ini, maka ikat pinggangnya bewarna yang selari dengan warna celana Anda. Tak mungkin dia diperkelahikan dalam sebuah ruang sempit pada selingkar pinggang.

Begitu pula, dasi; ukuran dan warna. Begitu pun baju dalam, jas, termasuk gantung handphone yang menempel pada elemen ikat pinggang, juga sepatu dan kaca mata. Yang jelas, Anda itu seorang bupati. Anda berhadapan dengan segala makhluk sejak dari mereka yang beristana di gunung, sampai mereka yang melata di lembah. Dengan begitu, bukan berarti sang Bupati dianjurkan untuk masuk dan belajar banyak tentang mode di museum-museum mode, menonton fashion show di Milan, Tokyo, Hongkong, Paris, London dan New York. Ini sebuah kisah mustahil dan mubazir.

Hari ini saking ‘gaul’nya para pemimpin dan birokrat kita, telah seenak hati mengubah warna kantor-kantor pemerintahan yang menjadi representasi negara serba netral dalam penampilannya, menjadi kantor dengan warna-warni bak hotel dan taman impian. Kantor pemerintah adalah wilayah negara, dia hanya mengenal netralitas warna dan gaya. Bila perlu berwarna alam.

Walhasil, bagi kita yang tak perlu tahu dengan dunia mode dan fashion, menjadikan fashion ini sebagai tiket dan alat untuk memasuki strata sosial, sekaligus menjadikan fashion sebagai medium untuk mengkonstruksi strata. Dan inilah yang dilakukan oleh para fashionista yang tak pernah mampir di pameran-pameran atau biennale lukisan yang menjadi rujukan dalam selera seni dan mode itu. Dan kita pun masuk dalam gulungan itu: lalu, bergulung-gulung dalam ketidaktahuan dan ketidak-becusan.