Bahaya: Paranoia Jelata?

Ilustrasi: 4stor.ru

#YusmarYusuf

Per detik, hidup manusia dikepung serba bahaya. Bahaya mengintip kapan dan di mana saja. Ada singa, harimau, ular berbisa, pohon tumbang, teroris, banjir, angin puting beliung, tanah longsor, jembatan runtuh, jalan putus, kapal tenggelam, para begal yang berkeliaran di jalan. 

Tempatnya? Sejak hutan belantara nan gelap, samudera benderang tenang, masjid, gereja, kantor, terminal, pelabuhan, kafe, rest area, mall. Di mana saja.

Tentang ruang dan waktu, bahaya dihias oleh serba ketak-pastian. Sesuatu tanpa duga. Terkadang tak tercerna.

Bahaya, berjalan bersisian bayangan manusia. Berjalan di atas trotoar keramik nan licin di sebuah kota gemeretap, bisa mendatang bahaya (terpeleset).

Mengembara di rimba belantara, juga dilingkari serangkaian bahaya (tanah licin, amblas, longsor, serbuan hewan melata); di laut demikian pula, di sungai pun.

Semua bahaya yang tersaji, tak lebih dari upaya membangun kesadaran bahwa kita hidup di tengah “surga” yang di dalamnya segala makhluk sedang menjalankan riang-ria. Keriangan-keriangan ini, sumbu musibah bagi manusia.

Segala jenis yang asam bagi lidah dan perut manusia laiknya rambai hutan, akan mudharat bagi perut dan pencernaan.

Tapi, dia adalah santapan lezat bagi burung-burung. Berpesiar di pusanika (hiburan), pun dilingkari beragam ancaman bahaya.

Paling tidak wahana hiburan bisa runtuh dan terjatuh saat kita mendekatinya dengan beban.

Begitulah ancaman, bahaya menjadi hiasan hidup manusia. Semuanya tak lebih deretan instrumen yang mematangkan diri dalam hal penajaman instink pertahanan (self mechanism); persepsi dan resepsi indra fisikal.

Lalu, manusia dibayangi satu kaidah untuk menghindari bahaya, melalui tindakan paranoia. Jenis paranoia konstruktif. Selama ini, paranoia lekat dengan makna pejoratif.

Maka, bangunlah paranoia konstruktif di tengah gejolak alam yang serba tak terduga (musim hujan; banjir. Musim kemarau; serbuan asap).

Di sini, manusia mengenal kiat untuk menghindar, menjauh, berjarak dengan segala hal. Ikhtiar hindar, menjauh dan menjarak: inilah paranoia konstruktif.

Musim banjir menggenang permukaan dataran rendah, badan-badan air, kita harus menghindar untuk bepergian jauh-jauh. Orang berkata: kita penakut.

Tapi ikhtiar ini, masuk kategori paranoia konstruktif. Bahaya dan kecederaan itu bisa terjadi di mana saja (pun di tempat tidur). Tapi efek dan dampak yang dirasakan akan berbeda warna dan belangnya.

Seorang Amerika terpeleset di atas trotoar licin di sebuah kota progresif Las Vegas, walau terhensot-hensot dengan kaki patah, dia tetap bisa menuju ke public phone atau malah langsung melolong lewat handphone untuk minta bantuan.

Kebetulan ayahnya seorang dokter. Dan, beberapa menit, bantuan itu pun tiba. Sang ayah rupanya seorang pakar bedah tulang. Hilang kisah kecacatan permanen yang bakal menimpa seorang Amerika modern.

Sebaliknya, manusia Papua bergerak menelusuri lembah, bukit-bukau, lereng, sungai dan pegunungan, dalam rimba raya; tertimpa pohon tumbang. Kakinya juga patah.

Peluang cacat permanen itu terngaga lebar. Dia tak bisa secara langsung mengedarkan kabar untuk minta bantuan. Jarak yang sayup dan berhari-hari dengan klinik. Belum tentu ada dokter bedah, jauh dari rengkuhan informasi bentuk apa pun.

Si Amerika itu terselamatkan oleh “bahaya” patah tulang, namun si Papua yang juga patah, harus menanggung seumur hidup kecacatan abadi.

Daya hemat yang dikeluarkan oleh si Papua ini amatlah hemat; energi bawaan; dia tak mengenderai roda bermotor, cukup jalan kaki. Semakin hemat, kian tinggi tingkat kemiskinan, termasuk kemiskinan dalam menanggulangi bahaya ancaman. Ironi.

Di benua Amerika dan Eropa sana, orang-orang mengkonsumsi energi seenak perut, rakus dan tak terbarukan. Tapi, bisa menghindar dan memperkecil resiko bahaya dan ancaman; semakin tinggi konsumsi energi (fosil terutama) semakin selamat hidup manusia, semakin laju gerak ruangnya, semakin kaya dan kian modern. Ancaman tetap melingkari kehidupan.

Yang berbeda dari ancaman bahaya itu hanyalah frekuensi, kedalaman efek dari bahaya, jenis atau ragam bahaya yang datang. Di sinilah, para suku dan komunitas terpencil membangun sekaligus mempertajam instink pertahanan diri (self mechanism) itu lewat pembacaan gejala-gejala alam.

Orang Papua, sangat takut melihat ada pohon kayu besar dan mati. Sebab, peluang kayu mati untuk tumbang dan menimpa amat besar. Pengalaman ini diwariskan ke generasi terkini: Hindari kayu mati di dalam hutan! Peluang dia untuk menimpa manusia, teramat besar.

Bagi orang Amerika, melihat kayu mati di dalam hutan adalah eksotisme. Mereka memanfaatkan eksotisme kayu mati itu untuk membentang kemah di bawahnya. Malah bertengger di atas kayu itu.

Mencanda bahaya, sejatinya juga harus mencandra bahaya. Menjelaskan bahaya kepada sesama amatlah musykil. Sebab, kutu dan tungau juga membawa bahaya.

Dengan begitu, bawaan dari bahaya itu, amat subtil. Lalu, orang-orang bersyair tentang hasil dari bahaya; darah, maut atau kematian, nestapa, air mata, pilu, igau siang, mimpi buruk, kemiskinan, cedera, sebak hati, lara dan lepuh.

Syair-syair seakan kapsul, tablet yang menyelesaikan satu sisi rasa sakit. Pun, syair-syair itu juga adalah rambu-rambu atau penanda. Malah jadi sign board yang bergelinjang dari ruang ke ruang demi menyelamatkan manusia atau malah hanya sekadar dodoi tanpa kesadaran?

Berpuisilah tentang bahaya, tapi berpuisi jugalah dalam bahaya. Karena dia akan memperkeras paranoia konstruktif bagi jelata.