Hermes: Ihwal Kebenaran

Ilustrasi: wallpaperflare.com

#YusmarYusuf

Bukan siapa yang berkata. Tapi, lihatlah apa yang dikatakan. Jangan lihat penyanyi, tapi dengarlah apa lantunannya. 

Ini idiom biasa. Bahwa kebenaran itu meluncur dari siapa saja, tak melihat kedudukan, jabatan, turunan asal-usul. Tak jua terkecoh kebenaran otoritatif semacam ketua adat, pemegang resam, ulama.

Terkadang anak kecil, hijau pengalaman adalah perpanjangan tangan Tuhan dalam ihwal kebenaran. Filsafat telah mendefenisi apa itu kebenaran. Saking banyak defenisi, kebenaran itu sendiri kehilangan kebenaran.

Al Kindi, sebuah nama dalam jagat pemikiran; dia menyuguhkan suatu daras ikhtiar mencari kebenaran; “Kita semestinya tidak malu untuk mengakui kebenaran dan menerimanya dari sumber mana pun yang datang kepada kita, sekalipun dia dibawa kepada kita oleh generasi-generasi sebelumnya dan orang asing”.

Anggapan,kebenaran mutlak itu bersifat tunggal? Padahal, selagi di atas dunia, kebenaran itu berpembawaan jamak.

Persia kuno, terdapat sekelompok orang yang memberi petunjuk menuju kebenaran. Orang yang diberi petunjuk oleh-Nya ke jalan yang lurus, para ahli hikmah kuno tidak seperti mereka, disebut Magi.

Kebijaksanaan tinggi dan teriluminasi itulah yang ditemukan dalam pengalaman spiritual Plato, dihidupkan kembali dalam buku Hikmat-al Isyraqi (Kebijaksanaan Timur) oleh Suhrawardi.

Menukil kembali awal kisah sejarah bani Adam generasi ke-6: Idris. Nama ini dalam Taurat (tradisi Yahudi) dikenal sebagai Enokh, Khanukh.

Nama lain yang glamor adalah Hermes. Tradisi Hermes adalah jalan ilmu dan filsafat. Bahwa Idris atau Hermes lah yang jadi peletak cahaya ilmu pengetahuan melalui “cahaya malaikat” (angelic light).

Idris figur pengembara soliter yang bergerak dari lembah ke lembah, dari gunung ke pucuk gunung. Meloncat dari satu tebing samudera ke tebing segara. Menyusur lembah dan sungai-sungai, menjilat pantai, menukil jeram dan ngarai.

Kenapa? Demi pencerapan “iklim pengetahuan” dan menyusun tangga kebenaran; bagai informasi keilmu-bumi-an.

Kita hidup di atas bumi, maka segala lekuk, cekung dan ceruk bumi, harus dikuasai, paling tidak mengenal nama atau memberi nama sekaligus diikuti dengan menggubah makna ke atas nama-nama itu.

Bagi para pencinta kebenaran, nama Suhrawardi ialah sosok impian (tak saja imajinatif) yang mempersatukan kembali apa yang dikenal sebagai al-hikmah al-laduniyah (kebijaksanaan Ilahiah) dan al-hikmat al-‘atiqah (kebijaksanaan kuno).

Kebijaksanaan kuno ini berpembawaan universal-perennial. Terdapat dalam ragam suku bangsa manusia sejak masyarakat Hindu dan Persia kuno, Babilonia dan Mesir, Yunani hingga masa Aristoteles (yang menurut Suhrawardi tak lain adalah titik akhir filsafat Yunani, bukan awal sebagaimana anggapan umum selama ini) yang mengedepankan sisi rasionalitas semata.

Suhrawardi dan sebagian penggiat mazhab Iluminasi, juga penulis di abad pertengahan, berkekayinan bahwa kebijaksanaan atau teosofi pertama kali diturunkan Tuhan kepada manusia melalui nabi Idris (Hermes, Hormuz, Enokh, Khanukh), yang -– dalam seluruh abad Pertengahan di Timur dan juga di Barat –, dianggap sebagai peletak dasar filsafat dan ilmu pengetahuan.

Dari sini, kebijaksanaan itu dibagi dalam dua cabang; yang satu ke Persia. Yang satu lagi ke Mesir. Dan dari Mesir, bergerak menyeberang Laut Tengah masuk ke Yunani dan akhirnya dari dua sumber ini, Yunani dan Persia, ia masuk menjadi pemerkasa peradaban Islam.

Tradisi kebijaksanaan kuno itu diragi, diramu antara lain oleh para penguasa seperti raja-raja dan para pendeta Persia; Kayunmarth, Faridun, Kai Kushrav, Abu Yazid alBastami, Mansur al-Hallaj dan Abu al-Hasan al-Kharraqani.

Di sisi lain tradisi rasionalitas dan kebijaksanaan tinggi itu dipikul di atas pundak Asclepius, Pythagoras, Empodocles, Plato (dan Neoplatonis), Dzu al-Nun al-Misri dan Abu Shal al-Tustari.

Kedua pundak besar yang menyokong dua baris kebijaksanaan ini, diturunkan langsung melalui Idris atau Hermes. Dan inilah mata rantai ilmu pengetahuan yang berpangkal pada tokoh utama (agung) bernama Hermes atau Idris atau Hormuz dalam tradisi Persia.

Figur Idris dalam Islam, dikenal sebagai sosok manusia abadi sampai hari ini, di samping tokoh Khidir, Ilyas dan Isa (Yesus).

Idris, berada di langit ke lima. Dia disebut sebagai Enokh atau Khanukh, tak lain sebagai alamat kepada Nabi Nuh (Noah); bahwa dia adalah buyutnya (datuk buyut) Noah dalam tradisi Taurat.

Idris juga dikenal sebagai astronom, penjahit ulung, pembuat sepatu dan baju besi piawai. Perjalanannya yang jauh melintas muka bumi, ditemani oleh seorang malaikat dengan jabatan malaikat nyawa (Izrael).

Pelancongan Idris tak berkesudahan, demi menggiring “cahaya kebijaksanaan malaikat” (angelic light) itu hingga menembus langit; berpetualang ke Neraka dan Surga.

Yang meneruskan tradisi al-Laduniyah itu adalah Khidir: dikenal sebagai pengemban al-Hikmat al-Laduniyah. 

Ingat Khidir, ingat pula Nabi Musa dalam serangkaian perjalanan mencari dan mengirai hikmah: Jangkauan ilmu Musa nan minor.

Hermes adalah nama besar dalam tradisi ilmu pengetahuan dan disiplin ibadah teramat ketat. Shuhuf ini dianut oleh kaum Sabiin yang tersisa di kota Harran.

Kaum ini diperkatakan dalam al-Quran. Hermes, menyemai tradisi kebenaran. Kita mencicilnya dengan taat asas dan tidak saling mencuriga apatah lagi saling mengkafirkan.