Ihwal Akar

Ilustrasi: homestratosphere.com

#YusmarYusuf

Kemolekan pucuk daun, karena kuatnya akar. Tiada kerimbunan, jika akar rapuh. Begitulah pohon. Hadir dengan paras; anggun, teduh, lembut, lunak, menebar manfaat. Orang berkerumun di bawahnya, ketika panas menyengat. 

Saya sengaja menanam pohon di depan rumah; rindang, tinggi dan tak berbuah. Tujuannya mengundang orang-orang berteduh di bawahnya.

Anak-anak, remaja dan dewasa, numpang berteduh di kedamaian pohon. Saya menikmatinya sebagai wakaf teduh-teduh.

Bulan puasa, tak sedikit anak-anak duduk, ngaso, dan bercengkerama pada puncak dahaga. Saya suka mengintip dari celah tingkap: Ada rasa bahagia, berbagi keteduhan merimbun dengan akar yang kawi.

Di rerimbunan, segala makhluk berpuisi. Ada makhluk nocturnal, avian, melata dan makhluk dalam tanah. Semuanya bernyanyi dan berpuisi tentang sejuk dan taman teduh-teduh. Lalu, orang-orang pun mempuisikan akar sebagai pusat dari segala ihwal.

Rumi, mendodoikan tentang akar dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan kehidupan semesta. “Banyak dari kita yang pergi mencari dahan atau cabang reranting, padahal penyebab dari segala persoalan dan konflik itu sesungguhnya berasal dari akar”.

Kita menjalani standar ganda dalam kehidupan ini. Arkian, ada seorang yang dimuliakan dalam ilmu Islam, berkisah tentang dirinya. Dia memutuskan untuk mengambil seorang perempuan sebagai isteri kedua di usia 30 tahun.

Dia yang dimuliakan di kampung itu, dikenal sebagai alim dan ahli ibadah. Tindakan ini memiliki justifikasi sunnah Nabi.

Ada misi suci yang terselip dari pernikahan ini, ujar dia; “memberi perlindungan dan penghidupan kepada beberapa wanita, jua kepada keluarga besarnya”. Namun, dalam kenyataannya, dia malah menginginkan wanita yang lebih muda, daun muda.

Waktu berlalu, selang bertahun kemudian, anak lelaki sang ulama ini memutuskan untuk menikahi seorang perempuan yang usianya lebih tua 15 tahun darinya. Seorang janda.

Sang ulama ini, murka sejadi-jadinya. Baginya, ihwal perkawinan anak lelakinya ini adalah kisah “aib” keluarga. Sang alim, berkeputusan untuk mencabut hak waris kepada anak lelaki ini.

Sang anak, tak kalah lihai; dia juga mengusung sunnah; “Sebab, aku menikahi perempuan yang tua 15 tahun dari usia ku, karena aku mengikuti sunnah, bahwa Nabi juga menikahi seorang janda kaya Khadijah yang usianya 15 tahun lebih tua dari Nabi”, ujar sang anak.

Sang ayah teguh dengan rajuknya. Dia berpisah jauh dengan anaknya. Dia tak menerima kenyataan, bahwa seorang alim dan berilmu, sejatinya menyunting perilaku suci Nabi untuk senantiasa memelihara keluarga dan keluarga. Mereka pun berpisah secara fisik.

Sebuah kejutan setelah beberapa tahun; mereka bersua pada sebuah konferensi tentang “pengampunan”, dan menyadari bahwa tindakan yang menggunakan sunnah untuk pernikahannya sendiri dan penolakan atas sunnah dalam kisah pernikahan anaknya, sekaligus menjadi contoh “kebenaran selektif”.

Walhasil? Kembali ke akar persoalan. Sekali lagi, pada akarlah semua persoalan tersangkut. Di mana akarnya? Memaknai sunnah dengan standar ganda dari sang ayah.

Para fisioterapis membangun formula, bahwa tubuh manusia yang tegak menungkai, ibarat sebatang pohon meninggi.

Kepala, alegori dari daun-daun, tangan laksana cabang dahan, kaki ibarat batang, lalu telapak kaki adalah akar.

Bahwa pusat syaraf dalam anatomi tubuh manusia, berpangkal di telapak kaki. Lalu, dari sini diperkenalkan nada kejut (vibrant) yang berfungsi untuk merangsang syaraf, pulsa nadi dan urat yang
mengalami stimuli itu, berpengaruh pada organ-organ vital manusia; limpa, hati, ginjal, jantung, paru, syaraf kepala, pinggang, kemih dan seterusnya.

Di sini, terjadi persepsi yang sama dengan sebatang pohon, bahwa telapak kaki adalah tempat segala muasal persoalan (sakit) manusia.

Maka pelihara dan rawatlah telapak kaki. Mengurus akar atau telapak kaki, tak semodis mengurus area mahkota (dedaunan atau rambut di kepala).

Banyak jenis salon yang diperuntukkan bagi area sebelah atas (karena wilayah ini wakil dari keceriaan, gemilang dan cahaya surgawi, supra human).

Ada salon dengan tema unisexmetrosexsualurban sensation, urban plus saloon dan berangkai-rangkai salon sejenis dengan nama menggoda.

Pun ihwal dedaunan, amat banyak jenis pupuk daun, herbisida atau pun insektisida untuk perawatan daun, cabang, dahan dan ranting, lengkap dengan pilihan aroma.

Namun, amat langka perkakas yang ditujukan untuk merawat akar atau pun wilayah telapak kaki dan mata kaki.

Kita terkadang lupa, untuk menunjang ketegaran tegak sebatang pohon yang besar, maka akarlah yang perlu dimuliakan.

Pada telapak dan wilayah mata kaki manusia, paling-paling perawatan yang disediakan hanya setakat pedicure dan manicure saja.

Ihwal kebudayaan? Akar adalah elan vital. Kekuatan budaya amat ditentukan oleh kekuatan sumberdaya manusia: utamanya kesadaran akan keselamatan bersama menuju hidup berbahagia.

Dalam istilah para pencari hikmah, bahwa kesadaran untuk memperkuat akar kebudayaan itu adalah kesadaran yang berpembawaan saling menguntungkan (kesadaran stoici, dalam bahasa Itali).

Kunci dari semua itu adalah membuka diri (open minded). Dia datang bisa dalam senda gurau. Tidak pula berstandar ganda.