Jawaban Akustis

Ilustrasi: software.com

#YusmarYusuf

Dia tak mesti bentuk verba atau tertulis. Awam  memahami bahwa jawaban datang dalam bentuk tertulis atau  jalan verbal. Jawaban,  bukan reaksi atas satu pertanyaan. Dia bisa saja mendahului pertanyaan. Jawaban bisa hadir tanpa ditanya, tanpa ada soalan yang melatarinya.

Dia juga terkadang datang dalam jelmaan seakan-akan “pertanyaan”. Suka  memotong pembicaraan orang, langsung menjawab. Ada yang suka menebak ujung kalimat, langsung menjawab, walau terkadang salah. Suka menjawab sekenanya. Ada jawaban bersayap, ambigu, bermata dua, makna ganda. Juga jawaban yang disaji dalam mode “pertanyaan” kembali. Jawaban yang membuat orang yang bertanya harus menyusun anak-anak pertanyaan. Ada lagi jawaban yang disampaikan dalam bentuk ujung kalimat terbuka (bisa pantun): bermain premis dan analogi.

Sastra adalah deretan jawaban tentang sebab akibat dan citra demonstratif. Karya sastra  berpembawaan menggesa masa depan, walau lewat kepiawaian menari di atas kejadian atau fenomena masa lalu. Sastra menghadirkan berjenis jenjang jawaban  model naratif, artikulatif, terkadang argumentatif dan demonstratif. Pun, tak jarang pula hanya berkeliling dalam persoalan-persoalan sejarah yang berpembawaan cul de sac.

Doa, walau dia bukan jenis pertanyaan, namun dia diharapkan berhenti dalam bentuk jawaban Tuhan. Orang yang berdoa menunggu jawaban. Doa adalah pinta, mohon berujung  jawaban. Seorang giat, bekerja keras, adalah  makhluk yang menunggu jawaban. Ratusan surat melayang dengan genre pertanyaan  ragam, juga menunggu jawaban. Surat pembaca yang ke redaksi, demikian pula.

Tsawuf adalah satu jalan yang tak memerlu jawaban ujar Dzauqi; “Kami menulis beratus-ratus surat dan engkau tak menulis satu jawaban pun. Ini juga merupakan sebuah jawaban”. Orang yang melaksanakan tradisi suluq, bukanlah serombongan orang yang  menunggu jawaban. Mereka hanya “berkirim surat” penanda bersahabat, berhubungan.

Demi merawat korespondensi. Mereka adalah sekumpulan orang yang meniti jalan “arif” (makrifat), bermuara jadi seorang bijak (bukan alim @ ilmu).  Apa yang dilakukan seorang bijak? “Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang dungu  akan mengerjakannya tiga hari kemudian”, ujar Abdullah Ibn Mubaraq. Apakah ini juga termasuk dalam kumpulan mereka yang menanti jawaban?

Sastra datang, kadang tidak dengan bertanya. Narasi-narasi hadir terkadang berpembawaan mendahului fenomena atau noemena. Dia mendahului jawaban. Sesuatu yang mendahului, ketika dibaca hari ini, akan terkesan luncas, bingkas dan berlalu bak angin. Pun, beberapa dekade ke depan ada persoalan datang, tau-tau jawaban itu telah terhidang di dalam sebuah karya sastra. Kenapa ini bisa terjadi? Sastra tidak didasarkan pada kekuatan proyeksi, tapi pada kekuatan imajinasi. Jika dia berlandas pada proyeksi, dia seakan jelmaan teropong yang menengadah ke masa depan.

Sastra, jalan menerawang yang bukan optis (sebagaimana teropong); dia lebih dibingkai oleh alam akustis atau alam bebunyian. Kecerdasan otak kanan yang penuh warna, penuh gambar, garis, mendorong seseorang untuk “mencipta” atau “creat”(ive) lewat bebunyian. Makanya, Anda jangan membiasakan diri menonton televisi.

Biasakanlah mendengar radio. Sebab, lewat pendengaran, dia akan menstimulasi otak kanan yang kaya warna, kaya gambar, skets, garis dan bentuk, sehingga anda terdorong untuk “meng-creat(ive)”, berimajinasi, melayang, mencipta, menggambar, memfigurasi bentuk dan warna”, berayun sensasi lalu membayangkan ketampanan dan kejelitaan penyiar lewat suara, cara duduk, cara menyapa, cara megang mike, gaya bicara. Lalu, semua sensasi itu akan hancur ketika anda menonton TV atau bioskop. Sebab, otak kanan  langsung disuguh  gambar dan warna. Tak diberi peluang  mengeksplorasi, menjelajah, mencerna dan meng-“creat(ive)”. Sastra itu sendiri adalah media “jalan tasawuf”. Sebagian besar sufi (peniti jalan tasawuf) adalah penggoda agung dalam dunia puisi.

Dialog-dialog tajam dan menukik, menjulang untuk menyapa liyan (The Other), hadir sebagai capaian memikat dan tak menuntut jawaban. Puji-pujian, termasuk lantun, kidung, barzanji, bagavad gita adalah jalan seloka puitis yang tak memerlu  jawaban: sudah menjadi makanan batin,  spiritual.

Kisah elegi, tragedi, pun komedia yang terjadi secara berulang-ulang adalah serangkaian jawaban yang bertabiat “mendahului” (advance); namun orang selalu ingin mengetahuinya ada apa di belakangnya? (beyond) atau di sebaliknya? Maka jadi aneh, satu sisi dia berpembawaan “mendahului”, namun kita dituntut untuk menyibak sesuatu yang melampaui  (beyond) padahal dia ingin menjelaskan tentang kehadiran masa depan (future atau beyond). Satu sisi beyond itu adalah masa lampau (past time); namun pada ketika yang lain dia seakan berada di depan (future). Inilah yang dimaksud dengan hal-ihwal.

Dia bukan sesuatu (thing). Jawaban, noemena atau fenomena, bukanlah thing atau die Dingen (sesuatu) tetapi dia adalah hal-ihwal (der Sachen; zaken) atau sederet kisah yang mengandungi (menghamili) makna berlapis-lapis. Kita, berbuat apapun jangan mematok jawaban. Tak perlu memborong jawaban, mendesak untuk dijawab;  malah membajak jawaban yang semestinya untuk orang lain, seakan jawaban itu untuk kita. Bahwa semua pertanyaan yang dilontarkan oleh manusia, di depan Tuhan tak lebih dari pertanyaan retoris; tak perlu dijawab secara kanak-kanak. Nyalakan lah alam akustis demi menggairah keceriaan lobus otak kanan dalam memahami hidup cerdas-kreatif.