Kanak-kanak Vs Dewa(sa): Debu

Ilustrasi: meredithcorp.io

#YusmarYusuf

Perang itu amis, pesing dan serakan debu. Ketika ledakan emosi tak berbanding dengan kendali hati: itulah perang. Dalam perang, bijak, rehat di tepi. Menunggu tiada pasti. Dalam kelabu ketakpastian itu, anak-anak diserbu dari segala arah. 

Kanak-kanak, sebuah ‘dunia’ yang penuh warna dan permainan. Yang ada dalam diri, adalah suka cita, memetik dan memutik.

Inilah fase terawal belajar memetik serba kemilau, indah, serba akan dan wah. Di tengah alam yang menyusun ‘akan’ itulah, anak-anak diselimuti debu jua mesiu.

Perang seakan mesin penghenti. Telunjuk yang menginterupsi ‘dunia serba akan’. Anak-anak Palestina yang baru lahir, langsung bersemuka dengan darah dan kekerasan.

Cita-cita sedari kecil, menjadi pembebas atas tanah yang terjajah. Pun, ada segerombolan anak-anak yang diserbu, lalu diajar, dilatih dalam sejumlah lelaku layaknya kaum dewasa; gerilya, mengokah senjata, melontar mortar, bahkan melekatkan bom bunuh diri selingkar pinggang.

Anak-anak ini tak lagi punya rasa, tak lagi merawat cita. Lancung berbungkus debu.

Ada kanak-kanak yang disergap penculikan massal. Jadi tameng, bumper pertahanan sebuah sempalan kelompok pembebas. Fase warna-warni kanak-kanak pun mengalami penyumbatan kanal.

Di Afrika, ada kisah penculikan massif kanak-kanak. Jumlahnya fantastis; sekitar 2000 jiwa. Mereka anak-anak sekolah nan ceria.

Saat ini, keceriaan itu diam dan senyap di tengah belantara tak berujung. Dunia hanya mengungkai dalam hastag #saveChildren atau #savetheGirls dan semacam itu.

Ada apa di balik gegap-gempita media sosial yang bersorak? Ada yang bisa diceritakan dari fenomena ini? Ketika media sosial berani, manusia takut memunculkan diri. Saat media sosial “pemberani”, pada ketika itu lah manusia jadi “pengecut”.

Dalam media sosial, setiap orang membangun hero dan wira singular. Keberanian tampil di medan maya, namun pengecut di medan nyata.

Media sosial hanya ekspresi “mengumbar” keberanian semu, sembari pelakunya berleha-leha di villa mewah menghadap Samudera. Jadi sosok pemberani dengan sejumlah nama alibi. Membangun ancaman di balik keperkasaan media sosial berjenang.

Alam kanak-kanak terhenti oleh nafsu para dewa(sa) yang sejatinya lebih kanakkanak dari kanak-kanak itu sendiri.

Orang dewasa memiliki sisi dewa; menakluk, memerintah, paling benar, mengatur, bahkan menghancur.

Alam dewata itu adalah kekuatan transenden yang berbungkus ajaran agama serba memaksa. Kurikulum para dewata pula yang memercik debu dan abu. Dewata menjinjing pesing dan amis kehidupan.

Para dewa(sa) itu tak terpincut mengambil sisi kuasa nan lembut dari alam para Malaikat yang mengusung selamat. Kalau pun berdimensi Malaikat, malah berperan dalam kekentalan domain zabaniyah.

Manusia dewa(sa) itu adalah mesin perusak yang paling sistematis ke atas peradaban planet ini. Peradaban tua, sebelum manusia mengeja tauhid, sampai manusia hafal dan khatam tauhid, mengalami benturan kekerasan demi kekerasan yang menyeret kanak-kanak dalam gempita pengrusakan.

Di sebuah negeri yang dikepung debu, ajaran dan ideologi apapun yang datang adalah benar.Padahal, semua kebenaran itu berpembawaan nisbi.

Kenisbian itu sendiri hadir demi memberi ruang kepada hati untuk merenung, mengingat; bahwa kita datang di sini sebagai serombongan kaum buangan, migran yang dilontar dari teduh-teduh taman Eden.

Malah, kini, kenisbian itu dianggap sebagai kata para pecundang. Sehingga, kata itu pun dibuang, dirajang jadi sampah peradaban.

Alam para dewa tak mengenal kenisbian itu lagi; sementara anak-anak yang berkembang adalah makhluk yang bergerak, meretas dalam dugaan-dugaan tak terduga yang serba nisbi.

Kita menyaksikan kanak-kanak yang hilang dari rumah. Diseret dalam medan perang, medan laga. Pun tak tahu nasib para gadis yang hilang dan ditawan.

Alam kanakkanak terhenti lalu menjelma jadi selonsong penerus dendam tertanam. Bayi-bayi yang dilahirkan dari rahim-rahim ini, bakal menggenapkan alkisah penolakan atas segala kenisbian alam dan niskala dunia.

Alam itu sendiri adalah hukum. Alam memberi hujan dan memperkenalkan air; alam (hukum) air itu mengalir.

Hukum alam, sebenarnya adalah alam hukum. Dua kata ini bisa dibolak-balik berdasarkan prinsip kenisbian. Sehingga kanak-kanak dengan alamnya, dan alam dengan kanak-kanaknya bisa dilekatkan kepada para dewa(sa) yang tak mengalami kematangan emosional, apatah lagi kematangan ruhani-spiritual.

Pengusung tauhid takkan pernah mempraktik kekerasan dalam takaran kecil sekalipun. Walau kecil itu sendiri masih bisa menyoal nisbinya pula.

Begitulah, tak ada seorang sufi dan penghayat tasawuf, berubah jadi penghancur dunia. Kenapa? Karena dia bergerak dari cinta.

Bagi mereka; “Cinta adalah tindakan; Tindakan adalah Pengetahuan; Pengetahuan adalah Kebenaran; Kebenaran adalah Cinta”, ujar Rauf Mazari dari Niazi.