Dunia Kaktus, Alam Tomat

Ilustrasi: wallpaperflare.com

#YusmarYusuf

“Apa yang sesuai untuk kaktus, belum tentu resam bagi tomat. Bahwa tak semua teknik Timur selaras untuk Barat”. Begitu pula sebaliknya. Ketika dunia dibelah dalam kaidah bipolar; Timur-Barat, Utara-Selatan, dunia seakan menjadi dua. Kalau tak sana, ya sini. 

Betapa pendek “metric” dunia dalam pembawaan dan tabiat ideologi antara Timur dan Barat. Amat sempit dan piciknya pemikiran kita, saat menjatuhkan “ukuran” berdasarkan kemauan yang bersifat sepihak.

Maka, bergelombanglah segala gerakan antara Timur atau Barat untuk dicatat dalam album sejarah tentang perlawanan dua bilah kawasan muka bumi ini.

Pun tak sedikit pula model kerjasama. Malah hibrida dan pencangkokan antara Timur dan Barat dibangun.

Timur itu benderang, penghayat, menyatu dengan alam. Sebaliknya Barat itu kawasan gelap, penakluk, berjarak dengan alam.

Apa pun bentuk-bentuk pembelaan mengenai tapak tempat injak itu (entah Timur atau pun Barat), secara humanitas, kita harus saling kenal dan saling melengkapi.

Tiada alamat Timur, ketika tiada Barat. Begitu pula sebaliknya. Dia hadir dengan bentuk dan dimensi yang berbeda demi memperkaya intelektual dan spiritualitas manusia.

Kehadiran dua bilah kepak antara Barat dan Timur, dimaksudkan sebagai sayap pengimbang (balance wings), kala makhluk di atasnya ingin terbang mencapai cita dan idaman bersama.

Pada dua bilah kawasan ini pula, disediakan beragam material (bahan baku) untuk kehidupan; termasuk kekayaan plasma nutfah yang berpembawaan beda dan ragam.

Tak terkecuali bentuk dan ragam halang-rintang, cabaran dan tantangan yang disediakan oleh alam. Kemampuan elastis dan adaptasi alamiah inilah yang menggiring kedua bilah dunia ini membangun dalam sejumlah konstruksi adaptif dengan alam; terbentuklah kebudayaan dan kepetahan lokal (local expertice).

Barat, mencipta dua kali Perang Dunia, menjalani fase-fase penistaan kemanusiaan yang amat biadab selama perang yang tak berkesudahan.

Semua itu menjadi pijakan tentang kaidah nilai kemanusiaan yang paling puncak (ultimate) yang mereka petik.

Artinya, hak asasi manusia yang menjadi jualan agung negara-negara Barat hari ini, muncul melalui sejumlah tragedi yang mereka jalani semasa perang berkecamuk seakan tanpa sudah di benua Eropa.

Lewat penistaan kemanusiaan, mereka menemukan nilai-nilai tinggi kemanusiaan itu kembali.

Di Timur, nilai kemanusiaan itu ditemukan dalam relasi dengan alam yang serba simetris. Malah perang di Timur, bukannya menjadi “bahan baku” untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang paling luhur dan agung.

Perang jadi mainan dan dagelan, pelampiasan nafsu “hewaniah” sehingga melewati batas-batas kemanusiaan dan moral sebuah perang.

Dan “perang” itu berlangsung terus hingga hari ini dalam serbukan-serbukan variatif. Termasuk di antaranya; penguasaan lahan oleh sejumlah koorporasi, penguasaan wilayah tambang juga oleh koorporasi.

Tak secuil pun memberi dampak kesejahteraan kepada rakyat sekitar. Ironi, wilayah kaya, rakyatnya terjerembab.

Sumberdaya alam adalah kutukan bagi diri sendiri. Laksana kaktus yang hidup di tempat kering,namun lembab. Dia tak memerlukan air yang berlebih. Secukupnya saja. Malah dalam beberapa fase, tak disentuh air, malah lebih elok dan produktif.

Sebaliknya tomat, di masa awal pertumbuhan dan pembuahan, memerlukan air untuk proses produksi. Perlakuan kedua jenis tanaman ini, bak sampiran terhadap realitas bipolar antara kepak Timur dan sayap Barat peradaban manusia.

Bahwa, kebudayaan atau pun peradaban jika hendak mencapai puncak ranggi, dia harus berdepan dengan sejumlah kesulitan, himpunan rintangan dan tantangan yang tak terduga.

Menjadi kebudayaan terpilih alias unggul, juga harus melalui sejumlah cabaran dan tantangan pilihan pula.

Tak ada yang berpembawaan serba tenang dan gratis. Walau klaim sepihak, bangsa Yahudi mendaku diri sebagai bangsa pilihan, karena mereka pernah letih menjalani fase-fase tantangan dan cobaan yang juga berkategori pilihan, teramat berat untuk dilalui sejak kisah Nabi Musa dan Nabi Yusuf selama di Mesir.

Maka, kita juga harus menemukan bentuk kiat dan temuan-temuan intelejentif yang bermanfaat bagi masa depan bangsa.

Terutama dalam kaidah keragaman hayati kawasan gambut dan rawa, hutan paya tropis dan model-model pertahanan secara ilmiah dan alamiah.

Ke depan, dia akan menjadi sajian yang menggenapkan bagi sejarah peradaban. Memang ironi, namun itu tak musykil, bahwa bencana apa pun, bisa didatangi dalam semangat penemuan.

Sejauh ini energi kita habis hanya memaki pemerintah yang pekak, pengusaha yang pekak. Kata orang bijak, di tengah keadaan yang tak memungkinkan berkata bijak, elok diam merenung tinggi tentang kaidah dan capaian spiritual.

Apakah itu sebuah retas penyelesaian dari dimensi lain terhadap krisis lingkungan dan krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung hari ini, dapat segera teratasi?

Pasca Psikologi Gelombang Ketiga, maka trend saat ini adalah Psikologi Transpersonal yang berpembawaan spiritual dan terapeutik. Di sini kita hendak belajar dunia kaktus dan alam tomat yang berbeda itu.

Psikologi Transpersonal beranggapan bahwa manusia harus menemukan cara untuk bersentuhan dan hidup dalam keselarasan dengan sumber makna dan orientasi tertentu yang transenden dan transpersonal sifatnya.

“Di kalangan beragam manusia, di semua negeri, ada suatu tradisi tentang bentuk pengetahuan yang bersifat rahasia, tersembunyi, istimewa dan unggul, yang bisa diraih oleh manusia setelah melalui kondisi-kondisi sulit”, celetuk Idries Shah, seorang sufi yang juga penghayat transpersonal. Kita tengah menjalani kondisi-kondisi sulit itu?…