Bulan: Twitter al Mursalin

Ilustrasi: net

 

#YusmarYusuf

Bulan, jadi lantun keagungan dalam cahaya teduh. Krishna, sang rembulan dalam tradisi Hindu. Nabi Muhammad, digambarkan bak sinar rembulan (Anta syamsun, anta badrun; Kaulah mentari, Kaulah rembulan. Juga badrun alaina) yang mencahayai kegelapan hati dan ruh spiritual. Bulan, dalam makna derivatif di samping kata benda, telah menjadi keterangan waktu (satu bulan dan seterusnya). 

Pun, ada ungkapan eufemis tradisi Melayu untuk menunjuk sesuatu yang datang lewat daur siklik, ungkapan: “datang bulan”. Tanpa idiom oposisional: “pergi bulan”. “Datang bulan”, jadi penanda keindahan seorang wanita. Ungkapan pelembut dari peristiwa haid atau menstruasi. Wahai alangkah molek dalam bawaan serba “menyimpan” idiom ini.

Bulan, menuntun kita mengatur waktu. Bulan jadi pemandu gerak air dan gravitasi. Cahaya bulan yang lunar, mendorong keteduhan bertindak individu manusia. Amerika di akhir tahun 1960-an memulai cerita tentang “memanjat bulan”. Dua orang Amerika dikisahkan sebagai makhluk manusia yang menginjakkan kakinya di bulan (Niel Amstrong dan Edwin Aldrin). NASA membangun cerita lengkap dengan rangkaian film pendaratan nan mempesona. Tapi, kita belum pernah sekalipun mendengar kesaksian langsung dari Amstrong dan Aldrin tentang kisah perjalanan mereka hingga berjaya melantai di bulan.

Di awal-awal masa kisah ini dibangun, mungkin kita seprinsip dengan ilmuan Carl Sagan yang suka mengutip pepatah tua Cina: “Lebih baik terlalu mudah percaya dibandingkan terlalu skeptik”. Namun, di ujung perjalanan waktu akhir-akhir ini, manusia mulai curiga dan skeptik tentang peristiwa pendaratan manusia di bulan.

Ihwal mengenai “bulan terbelah” yang tersaji dalam surah Al-Qamar, juga menjadi godaan tersendiri dalam ulasan sains modern. Ketika menyebut sains modern, berarti ada pula di seberang sana sebagai “sains tak modern”. Seorang presenter TV di BBC pernah mengkritik pedas pada upaya eksploratif yang dilakukan NASA dalam ekplorasi ruang angkasa yang menghabiskan jutaan dolar, dengan hanya satu hajat: menancapkan bendera Amerika di permukaan bulan”. Dawood Musa Pitcock, seorang muslim Inggris, berpartisipasi di bawah bendera Islam, lalu mendapat hadiah dari seseorang sebuah al Quran berbahasa Inggris. Dalam kembara intelektualnya, “para ilmuan memberi jawaban mengenai salah satu hal penting yang mereka temukan saat mereka mempelajari persamaan dan perbedaan antara bulan dan bumi adalah tali bebatuan yang telah berubah yang menyebar dari permukaan bulan melalui pusatnya dan keluar permukaan lagi (di sisi yang lain).

Ketika hal ini ditunjukkan kepada ahli geologi, mereka menyimpulkan bahwa satu-satunya penjelasan untuk bukti ini, bahwa pada suatu hari bulan memang pernah terbelah dan mencantum kembali, dan tali pengikat ini pastilah bukti benturan penyatuan kembali dari peristiwa “bulan terbelah” itu.  Dawood Musa Pitcock menyudahi ceritanya dengan mengatakan: “saya pun melompat dari kursi ku, dan berseru ‘inilah mukjizat Muhammad di gurun 1400 tahun lalu… Tuhan telah menuntun orang Amerika untuk memastikan kepada umat Islam,…” (dalam Guessoum).

Penggal  awal 2000-an banyak kisah yang berterjangan mengenai bulan dan kisah pendaratan manusia di bulan. Tak sedikit kisah yang menolak; dan beberapa email yang masuk di kalangan ilmuan dunia tentang NASA yang tak pernah benar-benar mendaratkan manusia di bulan. Bantahan-bantahan ini paling tidak jadi penggerak bagi persilangan wacana keilmuan dalam kisah bulan (saja). Malah surat elektronik itu dilengkapi dengan “bukti” tentang kejanggalan melalui gambar, diagram, panah dan keterangan yang mempertontonkan “kejanggalan” dan “kecacatan” dalam narasi NASA yang telah wangi dengan proyek motto: “satu langkah kecil bagi manusia, satu lompatan besar bagi umat manusia”. Pun, Guessoum membentang pemikiran dalam sebuah ceramahnya dengan tajuk “Did NASA Fake the Moon Landing… or Are We Miserably Failing to Educate the Public?”. (Apakah NASA memalsukan pendaratan di bulan… atau celakanya, kitalah yang gagal mendidik masyarakat?). Selanjutnya? Tanda tanya besar…

Di musim penghujan tahun ini, bulan, jarang menampakkan diri. Dia terlindung oleh awan gelap. Beberapa bulan ini, malam seakan tak disapa bulan. Bulan kian menjadi penting dan utama bagi manusia, setelah dia hilang dari pandangan. Ketika bulan sirna, kita tak lagi terdorong menghitung miliaran bintang yang melekat di langit nan sayup. Kita menghitung bintang, ketika bulan bersaksi dalam kilau malam. Di musim penghujan, bulan seakan menghentikan kisah tentang dia yang pernah terbelah pada suatu hari, demi menjalani mukjizat yang dilekatkan kepada Muhammad suci.

Nelayan perlu bulan ketika mengapung dan mengambang di lautan. Perahu yang mengambang, ditemani pula oleh rembulan yang juga mengambang (sekaligus mengembang). Dia seakan bersejingkat di atas permukaan air laut, di ujung kaki langit yang tak bertepi. Lalu, manusia terserbuk oleh “perasaan menyamudera” (oceanic feeling). Bulan jadi suluh bagi mereka yang tersesat di hutan. Dari bulan yng mengambang, orang bisa menentukan arah mata angin (ruang merkatori) untuk menuntun ke tujuan berlabuh dari sebuah kesesatan panjang di sebuah padang rimba nan kelam merimbun.

Bulan, seakan menyaji kisah yang tiada sudah, tak pernah usai. Di cahayanya tersangkut  tamsil tentang kebenaran. Dan orang pun ramai-ramai menunjuk lewat telunjuk. Adagium kuno Zen menyebut: “Telunjuk yang menunjuk bulan, bukanlah rembulan”. Dia hanya sebatas alat penunjuk. Ya, penunjuk kebenaran, tapi bukanlah kebenaran itu sendiri. Maka, berjaraklah dan bangunlah “pagar api”, agar kita tak tersambar cahaya kebenaran yang hanya bersifat menyilau seketika.