Oh Rasionalitas: Noemena?

Ilustrasi: vanpraagh.com

#YusmarYusuf

Dia datang dan hadir dengan sejumlah nian. Nian, sesuatu yang tak terperi, tak terjelas, tak tercandra. Namun bisa dieksplorasi, dieksposisi, dijalani dalam sejumlah pengalaman. Nian juga mempertemukan antara akal dan rasa. Wah ada rasa rasionalitas? Pengalaman-pengalaman spiritual, pengalaman keberagamaan, ialah kumpulan nian dan medan fisika-spiritualitas yang dirindukan para mistikus. Rasionalitas berbasis empirisme; sesuatu yang bisa dijelaskan lewat pengalaman, pengecapan, terukur dan bisa diverifikasi dalam sejumlah pengulangan kejadian dan fenomena, bukan noemena. 

Blaise Pascal seorang ilmuan yang saleh, terbentur dengan makna kesunyian yang menyaji serba nian: “kekosongan dan “kesunyian abadi” semesta tak terbatas yang dibuka oleh sains modern, mengilhami rasa takut sejati”. Lalu sang peragu agung Rene Descartes memikul pengalaman “fikiran tentang keragu-raguanlah” merupakan sesuatu yang pasti di alam ini. Kita pun harus bersandar pada prinsip alam dan serba alam. Manusia hadir di muka bumi ini sebagai pelengkap aransemen alam. Bahwa manusia itu sendiri adalah alam. Dia bukan sesuatu yang terpelanting dan terpisah badan dengan alam. Jika dia menolak alam, maka manusia sesungguhnya menolak badan. Badan ialah instansi yang menyatu dan bergayut dengan serba alam. Maka, semua yang ada di depan hidung dan mata kita ialah deretan atau tumpukan sejumlah sahabat, kawan atau teman yang semestinya diajak bersanding bukan bertanding dalam semangat saling memusnah.

Renesans sebuah proyek. Proyek yang menabrak ke-nian-an sekaligus membangun nian yang baru. Bid’ah baru, jika dilihat dari mata fanatisme (sebuah ‘ruang kurang ajar’ baru). Proyek renesans ditubruk lagi oleh Immanuel Kant dengan sejumlah hidangan mengenai kritik atas rasionalitas yang dijunjung oleh renesans melalui para filsuf, sejarawan dan teolog progresif. “Mustahil untuk meyakini bahwa tatanan yang kita fikir, kita lihat dalam alam memiliki hubungan apa pun dengan realitas eksternal. ‘Tatanan’ ini tak lain adalah ciptaan pikiran kita; bahkan apa yang disebut hukum ilmiah Newton barangkali lebih banyak mengatakan kepada kita tentang psikologi manusia daripada tentang alam”.

Peran Tuhan dalam larian peradaban dan kebudayaan manusia, juga menjadi siklik pertengkaran yang membuntu. Para fundamentalis meletakkan dasar bahwa setiap denyut nafas ada peran Tuhan sampai nafas makhluk terkecil tungau sekalipun. Pun, Thomas Hobbes (1588-1679) menabrak dengan ‘nian’ rasionalitas dalam semangat ‘memangkas’: “Tuhan pernah ada, tapi demi segala tujuan praktis, Allah dapat pula tiada”. Hobbes melihat dunia fisik sebagai entitas dengan kekosongan serba ilahi. Bahkan dia berkata bahwa “Allah telah mewahyukan diri-Nya pada Awal sejarah manusia dan akan melakukannya lagi pada Akhir sejarah. Menjelang waktu itu tiba, kita terpaksa berjalan terus tanpa Dia, sambil menunggu, seolah-olah dalam kegelapan”. Lalu, kisah di awal sejarah ibarat install program perdana mengenai melayari kehidupan yang serempak dengan ragam rempak (langgam) yang bakal disuling atau pun diseruling dalam kemerduan maupun nada falsetto oleh segala makhluk yang menjadi penggenap kehadiran manusia di muka bumi.

Install program ini bersifat progresif. Dan manusia ditugaskan mencari dengan akal dan alasan serba rasional. Para mistikus itu berjalan di atas jalur rasionalitasnya sendiri. Mereka bersejingkat di atas rel rasio impresif yang tak terjelaskan oleh rasionalitas-empiris yang kita usung dalam bilik-bilik akademik. Penampakan kosong yang serba ilahi itu, sama artinya memberi ruang kepada “akal” dan rasio manusia untuk berlayar dengan pilihan-pilihan bebas dan merdeka, tanpa harus gamang dengan gelombang “hukum” Tuhan yang siap menghentikan pelayaran akal. Bagi kaum rasionalis, realitas pertama yang diciptakan Tuhan ialah akal. Dengan akal pula lah manusia memahami dan menafsir yang naql (naqal). Dalil naql itu sendiri sejatinya berpembawaan dinamis-progresif ketika instrumen penerjemah dan alat penafsirnya (hermeunetika) itu juga bertindak progresif. Alat itu tiada lain adalah akal.

Ketika kekosongan terhidang, manusia mengisi dengan sejumlah tabiat yang diulang-ulang sebagai upaya dugaan kepada alam besar. Apakah sesuai dengan gaya dan ritme alam? Jika sesuai dan sejalan, maka perilaku yang berulang itu menjadi tabiat lembaga dan melembaga dalam gumpalan yang disebut sebagai kebudayaan. Kebudayaan itu sendiri sejatinya adalah gumpalan yang meluncur bukan gumpalan yang tergolek. Dia meluncur dalam ritme progresif sejalan dengan kecepatan perubahan alam besar yang melingkupnya. Agama dan kebudayaan bukanlah sejumlah dogma yang terhenti. Tetapi sejumlah dogma yang risau untuk senantiasa dikupas, diperiksa, dikubak dan diuli untuk kepentingan hidup manusia yang progresif itu pula.

Di Amerika berkembang jalan tempuh spiritual yang diikuti oleh seperangkat perbuatan yang ditegakkan dengan disiplin (prinsip) tinggi: Metodis. Salah seorang pendirinya John Wesley (1703-91) yang mencoba menerapkan sistem dan metode ilmiah dalam keberagamaan, lalu secara bergairah menyambut kedatangan gerbang emansipasi iman dari akal. Dan dia menyatakan bahwa “agama bukanlah doktrin di kepala, melainkan cahaya di hati”.

Lalu di mana kita berdiri? Dalam agama, kita saling menghujat dan menemukan sejumlah kekafiran terhadap orang-orang yang di luar instansi badan kita. Di medan kebudayaan, kita meletakkan kebudayaan dan adat sebagai “sesuatu” noemena yang tak bergerak. Sesuatu dengan penampilan ringkih dan lesu. Kita “meninju”, “melanyau” akal dan pemikiran yang semesti menjadi penunggang macho di atas punggung “kuda kebudayaan” yang dipersepsikan gagah oleh Kantian itu. Kebudayaan yang kita jalani, ialah noemena bukan fenomena yang memberi ruang (medan) untuk akal dan hati saling berinteraksi. Sebuah kebudayaan yang hanya memperturutkan hati? Entahlah…