Penghayat Kumal

Ilustrasi: alphacoders.com

#YusmarYusuf

Berpenampilan datar. Tak menderu. Jauh dari kesan pukau bak seorang cendekia. Sesuatu yang terlihat dina dan terpojok di ujung peradaban, selalu memikul energi tinggi (high energy).

Sebaliknya, dunia karnaval adalah sejumlah ke-iseng-an yang didesak oleh upaya persolekan dalam denyar serba pukau-hipnotik, namun kerap dibebani energi rendah (low energy).

Arkian, berkumpullah sejumlah ‘orang suci’ diterajui seorang Profesor agama dalam sebuah pelayaran mengarungi segara nan teduh pasifis. Ya, semacam jamboree al bahar (maritime) sempena menggoncang daya spiritual dan teks-teks fonetis yang selalu dilantun dalam kaidah resital penuh kaidah dan adab dalam pembacaan yang tepat.

Mereka menisbahkan pelayaran ini sebagai ruas penelusuran hakiki ‘akal ke-Tuhanan’. Namun, secara kritis orang boleh saja mengalamatkan kegiatan ini tak lebih dari sebuah karnaval.

Di atas geladak kapal, seorang ‘penghayat’ berpenampilan kumal, lusuh dan hodoh, tengah khusyuk mendaras al Quran secara terbata-bata. Terkesan mengeja dan serba imla. Sejurus kemudian, sang Profesor melintas di sisi sang penghayat.

Lalu, Profesor dengan disiplin kelimuan yang tinggi itu menegur sang penghayat secara “keras “ rada nyinyir: “Duhai tuan hamba, kau menyia-nyiakan separuh usiamu, karena membaca al Quran sehendak hati tanpa mengikuti kaidah nahu syaraf, jua tak mengindah tajwid”.

Belum puas sampai di situ, Profesor melanjut tanya (terkesan interogasi): “Apakah tuan pernah belajar bahasa Arab”?

“Tak pernah”, jawab singkat sang penghayat.

Sembari melagak dalam kepongahan ilmu, sang ulama Profesor ini terus bertanya (sekalian mendemonstrasikan penguasaan pengetahuan): “Apakah tuan pernah mendalami secara jeluk pemikiran Hasan al Basri, Rabi’ah, Al Farabi, Al Kindi, Rumi, Ferdousi, Ibn Arabi, Hafiz”?

Penghayat: “Sama sekali belum pernah” (jawab dalam gaya merendah)

Bak sang pengkhotbah di atas bukit, Profesor ulama ini meluncurkan kekesalannya: “Engkau telah menyia-nyiakan 2/3 usia mu, ayuhai tuan nan faqir”.

Begitulah dialog tak seimbang antara “penghayat” dengan “peneraju” bani Karnaval di atas geladak sebuah kapal membelah samudera.

Seketika, segara berubah sontak dalam gelagat yang tak tercandra oleh akal sehat, walau seafiat mungkin akal itu ditegakkan. Kapal secara pelahan mulai bergetar, terombang-ambing lambung-lambungan, oleng dan laut gelap bergolak, bergemuruh. Awan mengelopak pekat legam. Antara biru kehitam-hitaman (nir-warna). Ombak menggulung.

Semua isi di atas kapal, dalam palka, buritan, mulai berderit, goyang kian kencang, kuat dan bergempita. Para penumpang jamboree bermental karnaval itu saling tatap dalam wajah yang cemas seraya mendaras segala ayat-ayat suci, doa-doa keselamatan, surah Yaassin (tentunya) dalam wajah pucat pasi (lesi) dan serba panik.

Ketakutan, bimbang, galau, cemas, gemas, risau, serempak menyatu dalam igau yang tak kenal sudah. Pedih, perih dan sedih, pilu penuh gagu serba tak waham. Sejenak kemudian, sang Penghayat kusut nan faqir itu mendatangi kaum binar yang tengah redup seredup-redupnya itu.

Lalu dia bertanya kepada Bani teks hafalan itu: “Apakah tuan-tuan para alim dan ulama cerdik cendekia ini pernah belajar berenang”? Serempak bak lantun orkestrasi philharmonic keluar jawaban dari Bani Karnaval: “Tidaaaaaak, kami tak tahu berenaaang”.

Lantas, sang pengelana faqir itu berujar tegas: “Wahaiii… Tuan-tuan suci nan kudus, kalian telah menyia-nyiakan seluruh usia kalian”. Titik. Khatam.

Citra paling utama dalam sebuah karnaval adalah canda-tawa ujar Mikhail Bakhtin. Dia bukanlah simbol kesadaran modern. Canda-tawa dalam karnaval, tak memiliki obyek. Dia berpembawaan ambivalen: sang aktor merangkap sekaligus sebagai penonton. Bahkan orang-orang yang terlibat dalam karnaval, mereka juga berperan selaku penonton.

Malah canda-tawa itu direndahkan derajatnya, karena dia datang dari kelas rendahan, ruang murahan, gudang serba kodian. Sekilas, tampil berbinar. Dia memikil ‘energi rendah’ (karena sibuk mendaku dan mengambil dan tak pernah memberi). Dalam suasana duka, orang berpenampilan murung, lalu mendaraskan doa-doa demi mengumpul “energi tinggi” (mereka tengah melakukan itu).

Sebaliknya, perilaku bersenyap-senyap oleh seorang penghayat lusuh terkesan hodoh, sejatinya adalah lelaku pemikul “energi tinggi”. Dia tak tergoda oleh sejumlah hukum ekspos serba demosntratif dan tak terikat dengan kaidah formal serba kantoran.

Agama, bagi dia bukanlah jalan formal apatah lagi demonstratif. Nilai, ajaran agama apa pun bagi sang penghayat, bertugas menusuk “ke ruang dalam” (diri sendiri) bukan jadi “pengadil ke ruang luar”, lalu menghakimi orang-orang yang ada di sekitar…

Pertanyaan ulang: “Siapa yang pandai berenaaaang”?…***

 

 

 

50 thoughts on “Penghayat Kumal

  1. Pingback: Northwest Pharmacy
  2. Pingback: stromectol
  3. Pingback: stromectol rosacea
  4. Pingback: stromectol drug
  5. Pingback: canadian viagra

Leave a Reply

Your email address will not be published.