Kebun, Imaji Suci

Ilustrasi: google image

#YusmarYusuf

Tersebab lunaknya tampilan sebidang kebun, sejatinya tiada kisah kekerasan yang terhimpun di dalamnya. Tersebab hijau wajah bentangan kebun, maka kisah-kisah kedamaianlah yang jadi penghias kehidupan di dalamnya. 

 

Namun, kehidupan ini adalah sejumlah imajinasi dari tumpukan khayali. Khayali dari sejumlah orang yang berimpi tentang hidup damai, harmonis berbingkai ‘kejuwitaan langit’. Namun, di sisi lain ada pula di seberang sana, orang-orang yang berimaji dengan tumpukan khayali kerusakan, kemerosotan dan pembusukan sosial. Juga berlangsung di dalam bidang taman menawan: Tak terkecuali kebun dan kota-kota gemeretap.

Lantas, bagaimana imaji suci beroperasi dalam candra manusia? Apakah di dalam sebuah kota yang begemuruh atau di puncak gunung yang sunyi senyap, dalam bidang kebun yang teduh merimbun atau di tengah samudera yang tak bertepi? Dua nama yang amat disegani dalam domain telaah “suci” dan “kesucian” yang terdampar sepanjang ingatan kita: Rudolf Otto dan Mircea Eliade.

Kitab tua dari Otto, Das Heilige (Nan Kudus, terbit 1917) mencatat dengan sanggam bahwa “yang suci mewujud dalam pengalaman menakutkan dan irrasional. Gerun dan kengerian di hadapan nan suci inilah yang menyemburatkan daya sang misteri serba menggetar”. Oleh Otto, pengalaman ini disapa dengan “numinus” (ilahiah), sesuatu “yang maha-lain’, tiada tara” (ganz andere).

Lain, serba lain, kelainan adalah jantung ketakjuban religius dalam semua agama, kengerian akan numinus, ketakjuban, kekaguman dan kekerekan pada segala yang melampaui dimensi manusia (supra human). Dan Eliade pun melekatkan istilah khas ketika sesuatu “Nan Lain” yang dikagumi dan ditakjubi itu dengan istilah “hierofani”.

Pada era agama primal, ketakjuban terhadap sesuatu yang lain itu bisa dalam sangkaan terhadap sebongkah batu keramat, sebatang kayu raksasa dengan tampilan arkhaik. Walau batu dan pohon menjadi sesuatu ‘yang lain’ (alias liyan), namun dia tetap menjadi dirinya sendiri. Tersebab, dua obyek (batu dan pohon) merupakan wakil dari “hierofani”, maka kedua benda tadi tak sekedar pohon dan batu dalam gambaran biasa, mereka menampakkan sisi ‘nan kudus’ yang memikul dimensi ‘nan lain’, ‘tak-tertara’ (ganz andere).

Suci dan atau pun kudus adalah kualitas misterius atau daya supra human (mengatasi manusia). Semua ini bisa menempel dan melekat pada manusia, benda-benda, ruang-waktu; maka dikenallah lekatan itu menjadi ‘orang suci’, benda suci, titisan keramat, hari-hari suci, bulan suci, tanah suci, ruang kudus, air suci, ayat suci, kitab suci dan segala sesuatu ataupun ihwal dalam wujud ‘kelainan’ (ganz andere) hasil konstruksi antropologi-kreatif (imaji) dan realitas progresif: melalui hasil perenungan, cenung, permenungan jeluk dan pertapaan-semadi ataupun dalam wujud hikmah yang diterjunkan dari langit, alias persalinan samawi.

Seyyed Hossein Nasr, sebuah nama yang tegak di jazirah lain, menyempurnakan kegaguan Otto dan Eliade, terutama dalam kecerdasan progresif. Suci, terletak pada hakikat realitas itu sendiri. Manusia memiliki kepekaan ‘akan yang suci’, sekaligus digunakannya untuk membedakan antara ‘yang hakiki’ dan ‘yang niskala’.

Dengan begitu, bagi Nasr, mendefenisi yang suci, sama sajalah halnya membatasi ‘yang universal’. Secara tegas Nasr, menunjukkan bahwa memahami dan menafsir ‘yang suci’ sebagai ‘maha-lain’ (ganz andere) dan irrasional, setara pemahamannya dengan sudut pandang profane (duniawi).

Kebun-kebun yang dikonstruksi oleh manusia modern, apakah dalam ukuran mini, midi dan maksi (sebagaimana perkebunan besar), juga menghidang kisah suci atau nan kudus yang dikepung oleh jumlah manusia yang berjuta.

Kalau pada era agama primal, jumlah pengusung ‘nan suci’ itu dalam ukuran ratus dan ribu, maka hari ini kita berdepan dengan jumlah penyokong kesucian itu dalam ukuran juta dan bahkan milyar. Apakah tersisa kisah kesucian dalam sebidang kebun yang dimajeliskan oleh orang yang berjuta dalam ragam agama dan kepercayaan yang bergelora? Apakah kebun-kebun itu bermakna referensial/ alamat fisikal (sebagaimana kebun sawit, kebun coklat, getah dan seterusnya) atau malah kebun dalam makna simbolik bernama kampung dan kota-kota bergempita, termasuk kebun-kebun ide (kampus, laboratorium, silicon valley, algorithm hill, atau pusat-pusat kesenian dan kebudayaan).

Pandangan tasawuf, memposisikan suci dan kesucian pada al Quran bagi umat Islam, karena dia adalah kalam Allah (firman Tuhan) yang diturunkan melalui figur ‘seorang perawan’ (ummi, tak bisa baca dan menulis, Muhammad Suci).

Dilihat dari perbandingan agama (comparative religion), al Quran itu sebagai Firman Tuhan setara dengan Yesus (Almasiha Isa) selaku “Logos” yang juga dilahirkan melalui seorang “gadis perawan” (Maria, Siti Mariam).

Maka, dalam telaah “perbandingan agama” , ‘al Quran adalah Yesus dalam bentuk teks, dan Yesus adalah al Quran dalam maujud daging’. Sampai di sini hindari dulu tuduh-tuduhan zindiq… he he. Ini baru sepenggal atau malah sepenggalah perjalanan pemahaman “comparative religion” yang diseduh dalam pengelanaan batin dan intelektual di kampus-kampus yang rindukan makrifat dan hakikat.

Bertani di kebun-kebun ide adalah medan penuh gelombang, onak duri. Jalan berliku, kesat bebatuan, licin berlumut, bersua, bercanda dengan sejumlah gemulah (alam ruh dan arwah), yang tak semata menerbitkan liur ‘akal-Kemalaikatan’ (angelofany) yang serba takzim, namun sekaligus melumpuh cita dunia.

Bahwa berkebun dalam dimensi dan maujud apa pun, akan memberi efek terkayakan pada dimensi batin, ruhani. Walaupun di kebun-kebun dalam makna referensial, terjadi pembelokan mengharu-biru; penelarantaran kaum miskin, pelecehan dan kekerasan seksual, pembunuhan dan pembuangan mayat dalam gelimpangan yang mencengangkan akal sehat.

Kejahatan kemanusiaan, penyakit sosial, peredaran obat terlarang yang merangsang sejenis ekstase profane yang berseberangan dengan kerinduan akan ekstase langit…; ‘Nan Suci’, ‘Nan Kudus’, ‘Nan Lain’ dan serba Liyan yang menggetar itu, bersebelahan kamar yang amat ‘menakutkan’ hasil ciptaan semacam ‘terror’ duniawi hasil rempak ragam dan lelaku manusia dengan imaji liar di sebelah sana. Begitulah kehidupan…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.